FYI as requested by Pak Ricky... Saya cc lg ke RN agar bisa reply sekaligus...:)



----- Forwarded Message ----
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, March 18, 2009 9:40:20 PM
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Dua

Dear Pak Riri, Pak Kurnia dan Dunsanak RN Yang Mulia,

1. Terima kasih atas berbagai perspektif yg telah disampaikan utk merespon 
pandangan saya ttg perlunya kehati-hatian dan ketelitian dlm mempromosikan dan 
membesarkan pariwisata di Ranah Minang. 

2. Sesungguhnya saya SANGAT SEPAKAT utk kita bersama-sama mempromosikan (dari 
berbagai sisi dan dgn berbagai cara yang tentunya HARUS BAIK dan BENAR).  Saya 
juga SANGAT SEPAKAT bahwa SEMUA PIHAK adalah mempunyai HAK BERPARTISIPASI 
sesuai dengan kemampuan masing-masing.

3. Pertanyaan yg muncul dlm fikiran saya adalah akan KEMANA ARAH PEMBANGUNAN 
PARIWISATA SUMBAR sesungguhnya akan dibawa....yg dlm bhs Pak Nofrins beliau 
sebut "bgmana GRAND DESIGN" nya. 

4. Mohon ijinkan saya utk mencuatkan beberapa fakta yg ada dlm beberapa minggu 
terakhir ini tentang usaha kita bersama utk mempromosikan pariwisata SUMBAR, 
yaitu ;

a. Setelah kawan2 MPKAS berhasil menaikkan berbagai foto ttg seorang CHRISTNE 
HAKIM (sbg salah seorang ASET nasional dlm perfileman) di SIKUAI, maka beberapa 
hari kemudian naik pula foto2 ttg artis lain di Sikuai. Foto ttg CH menunjukan 
totalitas dan citra tersendiri,...sdgkan foto artis lain menunjukan 3/4 PAHA yg 
terbuka krn pakain BIKINI.  Pertanyaannya adalah APAKAH BENAR bhw CITRA PAHA 
BERBUKINI yang akan juga kita tampilkan (meskipun itu dilokasi pantai dan di 
pulau pula). JIKA IYA, apakah kita semua SIAP utk MELIHAT ANAK dan KEMANAKAN 
kita dlm 10 tahun mendatang sudah BERBIKINI RIA PULA disepanjang pantai di 
Sumbar? Mhn maaf, secara pribadi saya TIDAK MAU anak dan kemanakan kita 
BERBIKINI RIA di pantai manapun,....apa lagi di SUMBAR. 

b. Contoh lain, saya anggap contoh berikut adalah sebagai SALAH SATU 
KETERLANJURAN, ....yaitu tolong kumpulkan data ttg berapa WATERBOOM yang sdh 
ada di SUMBAR saat ini, dimana saja,...dan berapa lagi yg sedang dibangun. Jika 
tdk salah, saat ini SUMBAR sdh mempunyai EMPAT WATERBOOM dan masih akan 
membangun SATU LAGI WATERBOOM. Jika data itu benar, maka mari sama2 kita lihat 
SEBARAN GEIGRAFINYA, lalu kita sama-sama hitung GOLDEN DISTANCE AREA 
nya,...lalu mari pula sama-sama kita prediksi POTENTIAL DEMAND dari setiap 
waterboom yg ada. Sampai disini,...mohon maaf, saya menyimpulkan bahwa TELAH 
TERJADI PERSAINGAN YG TDK SEHAT antar kabupaten/kota. 

Lebih lanjut, coba pula lihat lokasi2 yg dipilih utk membangun TAMAN REKREASI 
TEMATIS (water boom, taman safari, kebun binatang dll),.....maaf saya 
menyimpulkan bahwa pemilihan lokasi TAMAN TEMATIS DI SUMBAR adalah CENDERUNG 
UTK MENGEKSPLOITASI KEINDAHAN ALAM,....sdgkan sesungguhnya salah satu TUJUAN 
PEMBANGUNAN TAMAN REKREASI TEMATIS adalah UTK MENINGKATKAN KUALITAS BENTANG 
ALAM (natural landscape) yg buruk agar menjadi baik, bermanfaat dan mempunyai 
added value melalui cara investasi pembangunan yg mempunyai nilai ekonomi 
cepat. Mari kita bayangkan jika itu semua kita biarkan,......apakah sekian 
tahun mendatang kira2 kita masih akan bisa melihat hamparan sawah dan bukit yg 
indah di sepanjang jalan di Sumbar? 

c. Jika saya masih boleh memberi contoh lain,...maka ijinkan saya utk 
mencuatkan isu ttg TAGLINE Pariwisata Sumbar yg dlm beberapa hari terakhir 
sama2 kita kumandangkan. Mohon maaf, saya ingin jujur mengatakan bhw dlm 
pandangan saya masalah TAGLINE adalah bukan masalah yg sederhana,...yaitu 
karena TAGLINE adalah salah satu ALAT dan MEDIA bagi  kita semua utk melakukan 
BRANDING. Pertanyaannya adalah,....jika Malaysia yg kecil itu saja bisa 
melakukan klaim sepihak sebagai THE TRULY ASIA,...maka apakah kita tidak pantas 
utk melakukan yg lebih besar dan mendalam dari itu? Dlm perspektif lain, jika 
seorang anak terlalu banyak nama panggilannya (sbg analogi dr 
tagline),.....kira2 apa kesan kita thd anak itu? Jika hal tsb kita anggap 
sepele,...maka saya khawatir jangan2 kita hanya melakukan teriakan2 spt  
pedagang kaki lima....sedangkan yg kita miliki sesungguhnya adalah sangat 
berharga dan bernilai sangat tinggi.

5. Saya sepakat dgn apa yg disampaikan Pak Nofrin bahwa kita semua perlu 
menerjunkan para ahli dan pakar yg berkualitas dlm mewujudkan mimpi kita 
semua,...seperti yg diinfokan Pak Nofrin bhw SUMSEL telah menerjunkan HERMAWAN 
KERTAJAYA-cs utk mempersiapkan dsan mempromosikan Tahun Kunjungan Wisata ke 
Sumsel. Namun demikian,... saya mohon maaf ingin mengajak kita semua untuk 
melihat BILBOARD TAHUN KUNJUNGAN WISATA KE SUMSEL,...dan juga melihat iklan2nya 
di TV. Pertanyaan saya adalah,...apakah hanya seperti itu kualitas hasil kerja 
Hermawan-cs di Sumsel? Hermawan-cs yg separo hati (shg dimata saya 
bilboard....dan iklan tsb saya anggap ....maaf....SANGAT BURUK),....atau ada 
hal lain (misalnya keterbatasan kualitas SDM yg menjadi decision maker) yg 
menjadi penyebab sesungguhnya? Secara PRIBADI,....maaf ....saya memberanikan 
diri utk mengatakan bhw hal tsb adalah SETALI MATA UANG,....para pakarnya 
separo hati...dan decision makernya pun hanya "segitu". Sungguh
 bnyk PAKAR  yg separo hati dan jualan dgn cara HIT AND RUN,....dan sangat 
banyak DECISION MAKER yg TIDAK TAHU apa yg harus dikontrol ...apa lagi gimana 
cara mengontrolnya. Dengan demikian Pak Nofrin,....siapa pakar yg kita 
butuhkan,...dan siapa yg sanggup mengontrol hasil kerja dan kualitas pakar tsb 
juga adalah suatu persoalan tersendiri. Mudah2an TIDAK ADA anak RANAH MINANG 
dimanapun berada yg oleh masyarakat telah diGOLONGkan sebagai PAKAR yg IKUT 
MERUSAK RANAH MINANG. 

7. Saya mohon maaf utk kembali telah menulis dgn pola hiperbolis ini. Saya tdk 
bermaksud utk mematahkan semangat, melainkan hanya mengajak kita semua utk 
melakukan usaha bersama secara totalitas, hati2 dan teliti. 
Salam,
ricky a.
L, 45-, JKT.

NB: Pak Nofrins, jika tdk keberatan saya minta   tolong fwd kan posting ini ke 
WSTB, karena saya mengalami kesulitan utk melakukan itu via BB di Tanah Datar 
saat ini. Salam.


Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From:  Riri Chaidir 
Date: Wed, 18 Mar 2009 18:49:42 +0700
To: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: MARI KITA HATI-HATI dan TELITI Bagian Satu

2009/3/18 Kurnia Chalik [email protected]

 
Menurut hemat saya rasanya kurang bijaksana ya kalau kita terlalu cepat 
memblow-up "dampak2 negatif" dari Pariwisata Bali yang sebetulnya masih 
memerlukan kajian2 lebih jauh dengan data yang lengkap untuk membuktikannya,di 
saat kita semua lagi berusaha untuk memajukan sektor Pariwisata Sumatera 
Barat,yang diharapkan akan dapat menjadi salah satu sumber income daerah.
 
Sanak Kurnia,
 
Sebaiknya juga, kita jangan terlalu cepat untuk menunjukkan resistensi jika ada 
yang menunjukkan "sisi lain dari pariwisata" (untuk tidak mengatakan: dampak 
buruk). 
 
Saya tidak tahu apakah yang disampaikan sanak Ricky itu sudah memenuhi kriteria 
"kajian2 lebih jauh"  sebagaimana yang Sanak Kurnia maksudkan (kalau saya 
pribadi yakin dengan kompetensinya Ricky yang  "memang disitu). 
 
Tetapi yang jelas, ini - menurut saya - jangan diartikan sebaga "terlalu cepat 
mem blow up ..." 
 
Bulan Pebruari 2008 (setahun yll) ada sederetan tulisan di Kompas. Dua 
diantaranya masih bisa ditemukan di internet yaitu : "Surga Terakhir" yang 
Hilang danSurga untuk Siapa? Kedua link ke artikel ini pernah saya "bawa" ke 
milis MAPPAS pada waktu itu. Jadi tidak terlalu cepat juga kan tuh? 
 
Juga, apakah memang "tidak cocok untuk membandingkan masyarakat Minangkabau 
dengan Bali?". Entahlah, saya kira itu pendapat pribadi yang bisa berbeda untuk 
setiap orang. Tetapi yang jelas, kedua artikel itu saya bawa ke milis MAPPAS 
justru karena waktu itu kita diangankan untuk "meniru Bali". (Link diskusi itu 
masih ada di http://groups.yahoo.com/group/mappas/message/1719 , 1722 dan 1725).
 
Bahwa pariwisata bisa menghasilkan income untuk daerah, itu harus diakui. 
Tetapi dari dulu - kebetulan - saya termasuk orang yang tidak percaya dengan 
"multiplier effect" yang menyederhanakan seluruh aspek positif (saja) kedalam 
konstanta2 yang disederhanakan.
 
Di bawah saya copykan salah satu artikel Kompas yang masih disimpan di 
http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=25281   Yang satu 
lagi ada di http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=25280 
.  
 
Riri
Bekasi, L 46
 
 
"Surga Terakhir" yang Hilang

Tanggal :  22 Feb 2008 
Sumber :  Kompas 
Prakarsa Rakyat,
Jumat, 22 Februari 2008 | 01:59 WIB

Oleh: Khairina dan Ahmad Arif

”Museum hidup” atas eksotisme dunia Timur yang menjadi impian para pelancong 
dari Barat selama berpuluh tahun itu sudah berubah. Bali tak lagi seperti yang 
diinginkan oleh GP Rouffaer, Direktur Bali Insitut yang mendapat tugas oleh 
Belanda pada tahun 1915-an untuk mengoptimalkan potensi wisata pulau ini. Siapa 
paling kehilangan atas perubahan wajah Bali?

Pada periode awal eksploitasi Bali sebagai obyek wisata, GP Rouffer 
merekomendasikan agar pemerintah kolonial Belanda jangan mengusik pola 
kehidupan masyarakat Bali. Pertanian, kehidupan pedesaan, aneka pemujaan, 
kesenian religius, dan kesusasteraan harus dijaga. Tak boleh ada jalur rel 
kereta api, perkebunan kopi Barat, dan terutama tak boleh ada pabrik gula. 
”...Bali sebagai suatu permata langka yang wajib dilindungi dan yang 
keperawanannya harus dijaga utuh,” sebut Rouffer.

Sebagai bagian dari program melestarikan Bali sebagai ”museum hidup” agar laku 
dijual dalam bursa wisata, pada tahun 1920-an Belanda menerapkan Baliseering 
atau Balinisasi Bali.

Bali kemudian dikenal sebagai Pulau Dada Telanjang—mengacu pada kebiasaan 
perempuan Bali yang tidak menutup dadanya— yang menurut penulis Perancis, 
Michel Picard (1992), sebagai salah satu daya tarik utama dunia Barat pada Bali 
masa lampau. Bali juga disebut sebagai surga terakhir karena keindahan sawah 
dengan subaknya.

Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, yang memiliki ribuan pura, yang sengaja 
dilindungi dari pengaruh budaya dan agama lain oleh kolonial Belanda.

Namun, Bali kini, bukan lagi ”museum hidup” yang perawan. Hampir semua sudutnya 
sudah dijamah dan berubah. Perubahan yang paling mudah dilihat adalah tata 
ruang.

Tanah sawah dengan sistem subaknya yang menawan, dan pantai-pantai yang menjadi 
tempat melasti (rangkaian perayaan nyepi yang bermakna mengambil air suci dari 
laut) telah berubah menjadi hotel berbintang, vila mewah, kafe, rumah makan, 
dan kios cenderamata. ”Tata ruang Bali sudah disetir pasar,” kata Popo Danes, 
arsitek Bali.

N Gelebed, pakar tata ruang dari Universitas Udayana, Denpasar, mengatakan, 
kehancuran tata ruang Bali disebabkan pemerintah tidak konsisten menerapkan 
rancangan yang sudah dibuat.

Tiga puluh tahun lalu, Gelebed ikut merencanakan pengembangan tiga kawasan 
wisata di Bali, yakni Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Dari tiga kawasan itu, Kuta 
adalah kawasan yang perkembangannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

Kuta ketika itu direncanakan sebagai wisata desa. Di tempat itu seharusnya yang 
cocok dibangun adalah rumah penginapan atau homestay. Sebab, desa di Kuta 
berada tepat di pinggir pantai.

”Tapi, sekarang yang terjadi justru di Kuta dibangun hotel berbintang dan 
bertingkat. Konsep desa wisata justru tidak lagi kelihatan,” kata Gelebed.

Salah satu ciri hilangnya desa di Kuta adalah hilangnya bale banjar sebagai 
penanda desa. Pura memang masih ada, tetapi tenggelam oleh bangunan-bangunan 
lain yang lebih megah.

Kuta bagian utara, yang direncanakan tetap sebagai areal pertanian juga tidak 
lepas dari perubahan. Daerah Renon dan Kerobokan yang dulu penghasil beras kini 
diubah menjadi daerah wisata, berupa vila dan rumah tinggal.

Membunuh ”angsa”

”Padahal, pembangunan Bali tanpa perencanaan tak ubahnya membunuh angsa 
bertelur emas,” kata N Gelebed.

Contoh nyata dari dampak hancurnya tata ruang adalah terjadinya banjir yang 
melanda Kota Denpasar di penghujung tahun lalu. ”Tidak ada ceritanya Denpasar 
banjir karena letaknya yang datar. Perubahan peruntukan lahan mengakibatkan 
Denpasar kebanjiran,” kata Gelebed.

Dalam kacamata pelancong dari dunia Barat, perubahan tata ruang Bali menjadi 
seperti ”kota-kota” modern lainnya tentunya akan menghilangkan daya tarik pulau 
ini. ”Eksotisme alam, tata ruang, dan budaya masyarakat adalah daya tarik utama 
wisata Bali,” kata Popo Danes.

Michael R White, warga Australia yang menetap di Bali sejak 1973, menyesalkan 
perubahan tata ruang itu. Menurut White, pada era 1970-1980-an vila hanya 
dibangun di daerah gersang dan bukan sentra pertanian seperti Sanur. Kala itu, 
vila-vila juga selalu dibangun dengan konsep rumah Bali yang terbuka, tidak 
bertingkat, dan ramah lingkungan.

”Tapi sekarang lihatlah, arsitek-arsitek membangun vila atau rumah tak 
memedulikan lagi adat dan budaya Bali. Seenaknya membangun rumah tingkat dan 
beton di tengah sawah,” kata White, yang kini menetap di Sanur dan mengubah 
namanya menjadi I Made Wijaya.

Adakah vila-vila yang tumbuh di atas sawah itu sebuah pertanda kemajuan?

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Denpasar, setiap tahun lahan pertanian 
berkurang dua sampai tiga persen. Padahal, pertanian menyumbang pendapatan asli 
daerah (PAD) hingga 20 persen. Kendati menyumbang PAD hingga 32 persen, 
pariwisata ternyata tidak serta-merta mengurangi kemiskinan. Bahkan, ada tren 
baru, pengangguran semakin banyak terjadi di desa.

”Warga yang tidak mendapat pekerjaan di kota akhirnya kembali lagi ke desa. Di 
sana pun mereka tidak bisa lagi bertani. Akhirnya, pengangguran justru lebih 
banyak terjadi di pedesaan,” kata Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Viraguna 
Bagoes Oka.

Desain ulang

Ruang sebenarnya adalah wujud dari ekspresi terdalam masyarakat. Maka, 
perubahan tata ruang Bali, menurut I Ketut Sumarta, budayawan Bali, menunjukkan 
adanya perubahan cara pandang orang Bali.

Upacara keagamaan di Bali saat ini memang makin meriah. ”Namun, ruhnya 
sebenarnya sudah mulai luntur karena adanya perubahan orientasi masyarakat,” 
kata I Ketut Sumarta, budayawan Bali.

Dulu orientasi masyarakat Bali ke pusat air di gunung, sekarang masyarakat 
berorientasi ke pantai. Dulu, air di hulu dan hilir tidak diganggu. Di hulu ada 
sekaa, kelompok-kelompok yang mengamankan danau dan di hilir ada bandega. Di 
bagian tengah ada subak, yang mengatur ke mana alur air dan mengatur 
pemanfaatan air.

”Dulu, air peranannya untuk keagamaan, untuk digunakan masyarakat banyak, dan 
untuk kepentingan ekonomi. Karena itu, air selalu dijaga oleh adat,” kata 
Sumarta.

Sekarang, dengan penyewaan dan penjualan tanah besar-besaran, peran pemuka adat 
tak lagi diperhitungkan. Untuk membeli tanah di atas aliran subak, misalnya, 
tak lagi diperlukan tanda tangan kelian subak atau kelian adat. Konflik di 
masyarakat pun meluas. Tertutupnya saluran air, misalnya, akan mengakibatkan 
saluran irigasi ke sawah tidak lancar.

Konflik lain juga terjadi apabila tanah yang disewakan atau dijual adalah tanah 
warisan. Padahal, di Bali, seperti air, tanah juga sesuatu yang sakral.

Menurut Smarta, peran pemuka adat dalam menjaga kelestarian alam dan budaya 
Bali memang telah tergerus. Dulu, konsep hidup masyarakat Bali adalah puri, 
pura, dan pasar. Puri maksudnya raja, pura artinya hubungan dengan Tuhan, dan 
pasar adalah hubungan agraris.

Belakangan, peran raja tergantikan oleh partai politik, pura digantikan 
hiburan, dan fungsi pasar digantikan pemodal besar yang ekspansif.

Untuk mengatasi berbagai permasalahan adat dan hukum adat, Sumarta mengusulkan 
adanya redesain yang mendasar bagi Bali, yang dimulai dari kelompok masyarakat 
terkecil, yakni desa. Sumarta dan beberapa orang lainnya membentuk Majelis 
Utama Desa Pakraman (MDP) pada 2004.

MDP menyusun konsensus-konsensus yang mengatur berbagai hal penting, seperti 
masalah investasi di wilayah desa pakraman. ”Yang penting itu perencanaan yang 
ditaati. Bali ke depan ini mau dibawa ke mana. Pemerintah jangan hanya mengejar 
mass tourism. Bali ini dijual terlalu murah,” kata Made Wijaya geram.

Gelebed memiliki solusi lain untuk mengatasi masalah kependudukan dan alih 
fungsi lahan di Bali. Menurut Gelebed, sudah saatnya pembangunan difokuskan ke 
wilayah Bali bagian utara yang selama ini terkesan terabaikan. ”Padahal, 
Belanda sudah merancang pelabuhan untuk menyeberang ke Lombok. Dari sana, 
penyeberangan ke Lombok hanya dua jam dibandingkan dari Padang Bai yang empat 
jam,” katanya.

Perubahan memang suatu niscaya. Mencegah Bali berubah sama sekali dan tetap 
menjadikannya ”museum hidup” sebagaimana ditawarkan GP Rouffer tentu tidak adil 
bagi masyarakat Bali. Tetapi, perubahan yang bagaimana yang cocok bagi Bali? 
(BEN)


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke