LUBUAK TEMPURUNG
SAYA tersentak terbangun dari tidur lelap. Nyenyak sekali tidur saya saat
itu, tidur yang sangat nyenyak itu terusik oleh sebuah daun yang terbang
melayang ke pipi. Saya tersentak dan saya terkejut lalu terjaga. Anak saya
Irsyad tertawa-tawa karena dialah yang melemparkan daun kayu untuk
membangunkan saya. Teman-teman yang lain pun ikut terkekeh. "Dengkur Bapak
hampir sama kerasnya dengan suara air sungai. Dari tadi kami perhatikan Bapak
tidur sangat nyenyak," kata Buyung, melihat saya terkejut terbangun, di tepi
sungai di atas sebuah batu besar yang licin.
Semua batu di tempat itu licin dan sangat besar. Oh, betapa nyenyaknya tidur
saya tadi. Betapa tidak, di tengah hutan lebat, di bawah pohon, di tepi aliran
sungai. Mendengar gemericik air, merasakan tiupan semilir angin
di dedaunan, mendengar kicauan burung dan menikmati uir-uir rimba yang
bernyanyi, semua itu menyebabkan saya terlena tertidur dengan lelapnya.
Apalagi tadi baru saja kami selesai berolah raga yang meletihkan.
Bermula dari GOR H. Agus Salim, selesai olah raga aerobik, lalu Armijn
Raymon dan Sulaiman Saleh punya ide untuk pergi ke Lubuak Tempurung di Tampak
Guo Belimbing kecamatan Kuranji. Mulai dari kepala bandar kami telusuri
jalan setapak menuju Tampak Guo, di mana orang sering melaksanakan "kaul"nya di
bawah pohon beringin yang besar dan rimbun. Dari sana kami daki bukit selama
30 menit perjalanan, lalu sampai ke Lubuak Tempurung, lubuk yang benar-benar
seperti tempurung. Banyak lubuk yang pernah saya kunjungi. Lubuak Paraku,
Lubuak Minturun, Lubuak Puti, Lubuak Bonta, Lubuak Mata Kucing, Lubuak
Selasih, Lubuak Bagalung, Lubuak Alung, Lubuak Basung dan Pincuran Lubuak.
Namun lubuk yang satu ini Lubuak Tempurung
bukan main, membikin saya berdecah kagum.
Air terjun yang tercurah deras membentuk sebuah lekuk seperti tempurung,
dia bergaung dan bagaikan goa. Dalam lengkung itulah terdapat lubuk yang
biru, dalam, dengan air yang sangat bening dan jernih. Menyaksikan tempat
yang demikian indahnya kami tidak tahan. Segera membuka baju dan berhamburan
ke dalam lubuk itu. Adalah Irsyad yang pertama mencemplungkan dirinya ke
dalam lubuk, diikuti Amin Leo, Ayub, Nasrul, Piyan, Buyung, Armijn Raymon
dan Sulaiman Saleh. Sedangkan Ucu dan Elmaneti menjaga pakaian di pinggir,
takut kalau-kalau pakaian ini dicuri oleh Bidadari. Karena kalau Bidadari
yang mandi, Malin Deman mencuri pakaian, tetapi jika Malin Deman yang mandi,
tentu Bidadari pula yang akan mencuri pakaian. Ternyata Sulaiman ingkar
janji, dia ndak kuat berenang dan ndak tahan berendam, dia keluar.
Dia bertugas menunggu pakaian sambil mengintip, jika ada
Bidadari yang datang mencuri. Dia ditugaskan untuk menangkap Bidadari itu.
Saya selami lubuk itu, ternyata di dasarnya ada pemandangan yang sangat
bagus, bagaikan kawah gunung yang dihiasai oleh aneka batu yang
berubah-ubah warnanya. Berulang kali saya menyelam, sambil melatih kemampuan
dan daya tahan paru-paru. Dari kecil memang saya suka menyelam dan
bertanding, siapa yang paling tahan nafas dan paru-parunya. Dan dengan
menyelam pula saya tembus curahan air terjun yang deras, karena dari bawah
air yang dalam ini hempasan dan terpaan air terjun tidak begitu terasa.
Masuklah saya ke balik air terjun, dari balik ini saya seakan terkurung
oleh gemuruhnya air terjun. Saya nikmati betapa enaknya dikurung oleh air
terjun.
Kemudian kami naik ke pinggir tempurung, dari sana enak terjun. Dulu
saya senang terjun loncat indah, tetapi kini badan sudah gemuk. Saya coba
menghayunkan badan tinggi-tinggi lalu terjun kepala,
dengan tangan dikembangkan, dengan gaya terbang saya terjun, dengan jurus
elang menyambar ayam. Tetapi karena sudah tua dan badan sudah gemuk, manuever
loncat indah yang saya lakukan justru mengundang kelucuan, teman-teman
tergelak ketawa karena lucu menyaksikan orang gemuk bergaya loncat indah.
Kami terkekeh-kekeh. Ah, berenang yang sangat mengasyikan di Lubuak
Tempurung.
Kemudian semua teman mulai mendaki menelusuri dinding batu yang terjal di
samping air terjun. Saya pun tidak mau ketinggalan, tetapi saya tidak biasa
mendaki di batu yang licin dan tidak punya pegangan. Karena takut, saya
memanjat tebing itu dengan hati-hati sekali. Tetapi karena terlalu hati-hati,
justru terpicak batu licin berair serta berlumut, tidak ayal lagi saya
terluncur, saya terguling-guling jatuh, teman-teman berteriak. "Hati-hati,"
kata Armijn Raymon. Bagaimana mau hati-hati, orangnya sudah jatuh kok. Di batu
licin itu saya coba menggapai,
namun tidak satu pun tempat berpegang. Saya takut, ngeri, pasti luka-luka
atau patah. Untunglah jatuhnya langsung masuk sungai sehingga tubuh ini
selamat.
Andaikan saya jatuh terhempas ke atas batu yang menganga di bawah, tentu
saya sudah luka-luka atau patah-patah. Teman-teman berteriak kecemasan. "Ada
yang patah atau luka?" kata Sulaiman Saleh. Untunglah Tuhan masih melindungi,
saya hanya terbanting ke sungai. Kami tidak putus semangat. Memanjat terus
dilakukan. Ternyata pemandangan yang lebih indah dan asyik, justru di atas dan
di hulu Lubuak Tempurung. Lubuk-lubuk kecil yang indah berwarna, hijau dan
merah, karena dedaunan dan bunga yang larut dalam air yang bening dan jernih
itu.
Karena sudah letih memanjat, kemudian terjatuh dan terguling di tebing
yang terjal, ditambah dengan suasana yang sangat nyaman, asri dengan semilir
angin di dedaunan, diikuti desah air sungai di celah batu-batu besar, di
tengah hutan
lebat itu, menyebabkan saya terlena dalam tidur yang nyenyak. Ternyata
tidur nyenyak tidak hanya di atas Alga Sring Bed, tetapi di atas batu tanpa
kasur dan bantal, juga sangat enak. Sehingga saya baru terbangun, ketika
Irsyad anak saya yang bungsu melempari saya dengan dedaunan. Dia terkekeh dan
teman-teman pun tertawa terbahak-bahak.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, kami harus pulang, dengan kenangan
yang tidak kunjung hilang dari ingatan. Bahwa Lubuak Tempurung, bukanlah
sembarang lubuk, dia telah mengalahkan lubuk-lubuk yang lain. Dari dalam lubuk
hati yang terdalam saya kagum dan bersyukur pada Allah, karena di lubuk itu
terbayang tangan-tangan dan tanda kebesaran Allah dalam ciptaannya ini.
"Allahu Akbar, Maha Besar Engkau Ya Allah yang telah menciptakan tempat yang
seindah ini." Di satu hari saya akan kembali dan saya akan terjun dan
berenang lagi, seperti nikmatnya hari ini. Minggu 10 Februari
1996.
Untuk semua itu saya panjatkan puji syukur kepada-Nya dan saya teringat akan
sebuah firman sucinya: "Kemudian hatimu telah menjadi keras seperti batu,
malah lebih keras (dari pada batu). Padahal di antara batu-batu itu, sungguh
ada yang mengalir sungai-sungai, ada yang terbelah-belah, maka memancurlah
air, dan ada pula yang turun karena takut kepada Allah. Dan Allah tiada
lalai dari perbuatan-perbuatan yang kamu lakukan." (Surat Al Baqarah ayat 74).
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---