Bung RA yth. Pengetahuan hanifah tentang adat, kebanyakan hanifah dapat di 
milis. Ketika di kampung, kami jalani adat mengikuti pendahulu2 atau orang tua. 
Bagi kami perempuan rasanya nggak pernah di bahas ttg petatah petitih. 
Sepertinya petatah petitih tersebut untuk kaum lelaki yang sering di pakai pada 
upacara adat atau pasambahan? Di milis sering terlihat orang hafal petatah 
petitih tapi tidak tau memaknai, atau karna kami yang tak bisa memaknai jadi 
kadang pepatah dan petitih tersebut terasa aneh2. Ketahuan belum bisa memaknai 
Alquran he he he. Bung RA, hanifah hanya ingin di contohkan bagaimana cara bung 
RA mengupas salah satu petatah petitih hingga paham apa pesan yang sebenarnya 
dan pengen tau juga ke 9 pisau nya. Ambil contoh yang netral dan yang tidak 
menjadi simalakama. Tidak harus ttg ... Anak di pangku, kamanakan di bimbiang 
karena kita PNS yang merantau yg tdk memakai tanah ulayat. Tadi hanifah udah 
nanya ke uda boleh nggak ngupas adat di
 japri sama bung RA ? Uda nggak ngizinkan. Lagian urang2 nan suko jo tulisan 
bung RA tantu nio lo tau apo nan kito bahas. Katanya basilang kayu mako ka 
nyalo api. Ndak usah serius2 amat, di waktu senggang sen jadilah. Wass. Hanifah

ricky avenzora wrote: 
> Dear Rangkayo Hanifah da Dunsanak RN Yang Mulia, 1. Terima kasih banyak atas 
> perspektif Rankayo ka ambo. Bialah hamdalah ambo ucapkan dalam hati sajo, dan 
> mohon ijinkan saya utk berbagi pesan ibu saya pada puluhan tahun lalu yang 
> berbunyi "sabanyak urang sanang ka awak, mako ingeklah bahasonyo sabanyak itu 
> pula urang nan indak suko". Setelah puluhan tahun mengunyah pesan itu, maka 
> saat ini pada anak dan kemanakan pesan tersebut saya lengkapi menjadi " 
> sebanyak orang suka pada kita, maka ingatlah bahwa saat itu sebanyak itu pula 
> orang tidak suka pada kita,.....sehingga jangan bangga pada saat di puja dan 
> jangan merasa terhina pada saat di hina,.....kalau merasa bangga akan 
> sombong,....kalau merasa terhina akan timbul amarah,.......jika sombong dan 
> marah maka akan lupa diri,....kalau lupa diri maka binasa". 2. Seperti yang 
> pernah saya tuliskan pada posting terdahulu, ....dalam perjalanan saya 
> "disuruh" dan "mencoba" mengunyah adat, maka saya telah
 berkesimpulan bahwa setiap pepatah minang ternyata ibarat PISAU BERMATA 
SEMBILAN. Sampainya saya pada kesimpulan tersebut (untuk diri pribadi tentunya) 
saya fikir sangat dipengaruhi oleh cara DATUAK saya ( memang seorang PENGULU)  
dalam memperkenalkan adat kepada saya sejak kecil. Jika boleh saya sarikan, 
maka nampaknya sejak masih kecil beliau telah menuntun saya utk mengenal MAKNA 
dan RASA dari setiap elemen adat, .......termasuk kehebatan  PEPATAH 
.........yang secara pribadi saya simpulkan  sebagai PENGGANTI BUDAYA TULISAN. 
Saya yakin nenek moyang kita zaman dahulu bukan nya "bodoh" karena tidak 
mempunyai "budaya" tulisan,.....tetapi mereka secara sengaja untuk meninggalkan 
bekal pada anak cucunya dalam bentuk pepatah,.....sungguh suatu strategi 
pertahanan yang sangat cerdas.....ibarat bahasa sandi dalam era modern ini. 
Jika dalam era modern orang memakai bahasa sandi secara tersembunyi, maka nenek 
moyang orang minang memakai bahasa sandi secara
 terbuka,.........mereka tidak takut sandi mereka diketahui oleh musuh karena 
mereka sangat yakin bahwa hanya "darah" yang mengalir di dalam badan anak cucu 
nya saja lah yang betul-betul akan mengetahui secara pasti apa strategi yang 
tersimpan di dalam sandi. Sungguh suatu kecerdasan yang luar biasa bukan? Dari 
hal ini lah kemudian KEKAGUMAN saya pada ADAT MINANG semakin tumbuh dan 
tumbuh,...... sungguh luar biasa cerdasnya nenek moyang orang minang dalam 
menyiapkan anak cucu dan keturunan nya dalam menghadapi segala ancaman 
kehidupan yang terjadi sesuai perubahan jaman.  Dalam
>  konteks kepentingan TERITORI KOMUNAL  (bukan kepentingan pribadi dan 
> kelompok kecil) .........yg dlm tulisan terdahulu saya sebut sebagai 
> kepentingan berbangsa dan bernegara............maka saya sangat yakin untuk 
> mengatakan bahwa TIDAK ADA yang menandingi Adat Minang di dunia saat 
> ini.....demikian juga dlm hal komprehensifitas aspek dan elemen kehidupan 
> yang ditata......juga belum ada 
> tandingannya.....teliti....rapi.....berlapis.......kuat dan saling 
> menguatkan. 3. Berkaitan dengan permintaan Rangkayo ttg perspektif saya thd 
> pepatah "anak dipangku kemanakan dibimbiang", maka saya merasa seperti 
> mendapat buah SIMALAKAMA. Terlepas dari serius atau tidaknya Rangkayo meminta 
> itu pada saya (krn saya merasa tidak dlm posisi dan tidak merasa pantas utk 
> bercerita lebih panjang ttg hal di atas pada milis ini),......permintaan 
> Rangkayo adalah simalakama....... jika tidak saya penuhi maka ibaratnya saya 
> MENOLAK HAJAT,....sdgkan jika saya penuhi maka
>  milis ini akan menjadi terlalu serius nantinya.....yaitu karena "tidak bisa" 
> sepotong-sepotong. Kalau kita bercerita ttg adat sepotong-sepotong,....maka 
> BISA SESAT orang dibuatnya.....nanti kulit buah bisa disangka 
> biji,....sedangkan biji buah bisa disangka hanya tangkai busuk yang harus 
> dibuang. Silahkan Rangkayo maknai dan nilai sendiri berbagai cara dan pola 
> pemakaian pepatah oleh orang-orang selama ini. 4. Jika memang ada 
> ketertarikan Rangkayo ttg pengalamann pribadi saya tersebut dalam mengunyah 
> adat dan agama,....maka barangkali kita bisa berbagi melalui jalur pribadi 
> saja. Jika cara itupun yang Rangkayo akan tempuh, maka saya berharap kita 
> bisa sepakat bhw : bermula dari kawan maka minimal harus berakhir sebagai 
> kawan ( berarti kita menjunjung tinggi silaturahim) ,....... tidak ada 
> istilah guru dan murid (berarti kita
>  sederajad) , .......dan tidak boleh sakit hati (sebagai bukti sama-sama 
> berputih hati dalam diskusi) .  Dan, .....karena Rangkayo telah berkeluarga, 
> maka tentunya proses berbagi "cara mengunyah" adat dan agama tersebut 
> hendaknya atas sepengetahuan dan izin suami tercinta. 5. Mudah-mudahan 
> Rangkayo tidak berkecil hati, dan semoga segera pulih. Salam hormat dan kenal 
> untuk semua anggota keluarga. Salam, r.a. --- On Fri, 3/27/09, hanifah daman 
> <[email protected]> wrote: From: hanifah daman <[email protected]> Subject: 
> [...@ntau-net] Re: PESAN DATUKNYA BUNG RICKY AVENZORA (RA) To: 
> "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]"
>  <[email protected]> Date: Friday, March 27, 2009, 5:43 AM 
> Assalammualaikum WR WB bung RA dan dunsanak sapalanta yth. Bung RA, biar sama 
> ttg istilah panggilan datuk. Di bengkulu dan di beberapa daerah lain di ranah 
> DATUK adalah panggilan untukkakek atau kakek2. Di daerah kami DATUK adalah 
> panggilan untuk penghulu kalau ndak salah. Berarti DATUK nya bung RA adalah 
> penghulu nampaknya. Tulisan bung RA telah menyentak banyak orang walau tdk 
> kelihatan di permukaan. Kelihatan tiga tungku sejarangan menyatu jadi satu pd 
> bung RA sehingga bung RA sudah bisa merasakan keindahan jangka pendek dan 
> jangka panjang adat minang. Mungkin cara yang mudah dulu petatah petitih yang 
> diketahui para pemangku adat di coba di maknai dan di kaitkan dengan ayat2 
> Alquran. Contoh yang sederhana ttg petatah .. Anak di pangku kamanakan di 
> bimbiang ... Kan banyak orang ketika sudah mengurus negara, yang kecil seperti
>  ngurus RT sudah nggak mau lagi. Kami ingin tau kupasan pepatah tersebut di 
> tangan bung RA. Wass. Hanifah 
> 


      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke