Dear Rangtkayo Hanifah dan Dunsanak RN Yang Mulia, 1. Onde mande.........beraaaaaatttttt,.........ibaraiknyo yo bana dikaja taruih dek Rangkayo....hehehe....hehe...
2. Ginilah aja lah ya,........mohon ijinkan saya memakai contoh pepatah "Iyo kan nan dek urang, lalu kan nan dek awak" sebagai bahan diskusi. 3. Cara sederhana mencari 9 mata pisau dari pepatah tersebut yang saya dapat dulu dan skrg biasa saya tularkan pada anak dan kemanakan saya adalah dengan cara membangun serangkaian pertanyaan berikut, yaitu : a. Iyo kan ==> Apa yang kita IYA kan, mengapa kita IYA kan, kapan sesuatu itu kita IYA kan, dan dimana sesuatu itu kita IYA kan. Pertanyaan2 tsb saya anggap sebagai telaah partial. b. NAN dek URANG ==> Siapa ORANG itu, siapa keluarga ORANG itu, dari mana ORANG itu, apa sesungguhnya "NAN" pada ORANG tersebut, dimana NAN tersebut, dan kapan NAN tersebut.==> masih telaah partial dan terjadi proses check and recheck dgn butir a. c. LALU kan ==> apa yg akan di-LALU-kan, siapa yang akan me-LALU-kan, dimana akan di-LALU-kan, kapan akan di-LALU-kan, bagaimana cara me-LaLU-kan. ==> masih telaah partial. d. NAN dek AWAK ==>Siapa AWAK, siapa keluarga AWAK, dimana AWAK, apa sesungguhnya NAN pada AWAK, dimana NAN tersebut, dan kapan NAN tersebut. ==> masih telaah partial dan juga terjadi proses check and rechek. e. Iyo kan nan dek urang, lalu kan nan dek awak ==> Kapan pepatah ini kita gunakan, kepada siapa kita gunakan, untuk apa pepatah ini kita gunakan. 4. Dalam perspektif saya (untuk diri saya pribadi tentunya), jika kita salah-salah dalam menggunakan pepatah yang (seperti) sederhana itu, maka barangkali kita bisa dianggap orang lain sebagai licik, culas, tidak berpendirian alias plin-plan, .....dst...dst dan bahkan barangkali juga akan dianggap bodoh serta tidak beriman (setidaknya karena menunjukan indikator orang munafik). Sedangkan jika kita "salah-salah" dalam menularkan pepatah tsb pada anak-kemanakan dan cucu kita, maka sudah barang tentu anak-kemanakan dan cucu kita pun nantinya bisa dianggap seperti itu oleh orang lain. Na'udzubillahi mindzaliq. 5. Demikian lah kira-kira cara saya dituntun oleh Datuak serta Nenek dan Kakek saya dahulu dalam mengunyah adat dan agama secara bersamaan,.....melalui cerita pengantar tidur dan senda gurau yang lucu. Jika proses tersebut di transfer ke masa modern ini, barangkali cara itu lah yang disebut oleh Pak Saaf sebagai kerangka berfikir dan metodologi, atau dalam bahasa buku-buku yang sedang gencar di baca Angku Suryadi sebagai logical frame work. 6. Mudah2an "sembilan mata pisau" nya sudah bisa Rangkayo temukan,.....dan semoga ALLAH menuntun Rangkayo untuk bisa menggunakan nya dengan baik dan benar. Saya yakin bahwa cara berfikir yg sama bisa kita pakai untuk mengunyah pepatah yang lebih panjang, berkias dan bersampiran. Salam, r.a --- On Sat, 3/28/09, hanifah daman <[email protected]> wrote: From: hanifah daman <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: SIMALAKAMA Re: PESAN DATUKNYA BUNG RICKY AVENZORA (RA) To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: "[email protected]" <[email protected]> Date: Saturday, March 28, 2009, 8:15 AM Bung RA yth. Pengetahuan hanifah tentang adat, kebanyakan hanifah dapat di milis. Ketika di kampung, kami jalani adat mengikuti pendahulu2 atau orang tua. Bagi kami perempuan rasanya nggak pernah di bahas ttg petatah petitih. Sepertinya petatah petitih tersebut untuk kaum lelaki yang sering di pakai pada upacara adat atau pasambahan? Di milis sering terlihat orang hafal petatah petitih tapi tidak tau memaknai, atau karna kami yang tak bisa memaknai jadi kadang pepatah dan petitih tersebut terasa aneh2. Ketahuan belum bisa memaknai Alquran he he he. Bung RA, hanifah hanya ingin di contohkan bagaimana cara bung RA mengupas salah satu petatah petitih hingga paham apa pesan yang sebenarnya dan pengen tau juga ke 9 pisau nya. Ambil contoh yang netral dan yang tidak menjadi simalakama. Tidak harus ttg ... Anak di pangku, kamanakan di bimbiang karena kita PNS yang merantau yg tdk memakai tanah ulayat. Tadi hanifah udah nanya ke uda boleh nggak ngupas adat di japri sama bung RA ? Uda nggak ngizinkan. Lagian urang2 nan suko jo tulisan bung RA tantu nio lo tau apo nan kito bahas. Katanya basilang kayu mako ka nyalo api. Ndak usah serius2 amat, di waktu senggang sen jadilah. Wass. Hanifah --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
