Assalamu'alaykum Warahmatullahi wa barakatuh, Sedikit pandangan Buya terhadap kayu kelapa ini. Memang menjadi salah satu bahan bagi perdagangan kayu yang menjanjikan untuk semasa. Semestinya penebangannya di iringi dengan penanaman kembali. Jangan asal tebang tebas saja, Satu ketika Pariaman kehabisan kelapa. Untuk menungu kelapa berbuah atau batangnya dapat dijadikan kayu yang kuat itu, memerlukan waktu sampai sepuluh tahun. Menebangnya tidak terlalu memakan waktu panjang. Karena harga kayunya menggiurkan, maka petani karambie yang tradisional itu kadang-kadang lupa menanam kembali. Buya terkesan pesan Bupati Muslim Kasim, "JANGAN MUDAH MENEBANG KELAPA", Sosialisasikanlah kayu kelapa, tapi iringi dahulu dengan keinginan untuk menanamnya.
Wassalam BuyaHMA (L.74,Majo Kayo, Piliang, Kotogadang di Padang) --- On Fri, 4/3/09, andi jepe <[email protected]> wrote: From: andi jepe <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: SEKILAS KAYU KELAPA...by : Jepe To: [email protected] Date: Friday, April 3, 2009, 7:27 AM Waalaikumsalam Wr Wb Bu Dewi Betul sekali, harga kayu kelapa ini cukup mahal, karena hanya dipesan khusus terutama untuak interior hotel2 mewah atau resort yang bernuansa alami, jadi murah kayu kelapa tersebut jika diproduksi secara masal (banyak) dan pasarnya jelas, sementara pasar atau kebutuhan domestik dalam negeri sangat kecil sekali, karena masyarakat kita masih fanatik dengan kayu konvensional terutama untuk bahan bangunan, sekarang memang sudah dikembangkan terutama di Jawa kayu kelapa yang bermutu tinggi terutama untuk furniture Semoga ada investor yang tertarik untuk memproduksi secara besar-besaran kayu kelapa dari pohon kelapa masyarakat di pesisir pantai ranah minang yang berlimpah bahan bakunya, pasar eropa sangat terbuka sekali untuk memasarkan kayu kelapa ini jika merujuk pada isu lingkungan dan sosial. Wass-Jepe Pada tanggal 03/04/09, Dewi Mutiara <[email protected]> menulis: > Assalamu'alaikum wr.wb. > Saya lihat di Padang sdh banyak jg yg menggunakan kayu kelapa untuk lantai > rumah atau sofa, kursi makan dsb nya.Saya perhatikan kayu kelapa kalau > dipakai makin lama makin bagus dan halus, justru waktu msh baru agak kasar > ,makin lama makin bagus, sayangnya harganya agak mahal. > Kalau memang ada investor yang mau mengusahakan kayu kelapa, bagus sekali, > karena adik saya untuk mendapatkannya melalui petani kelapa di Pariaman yang > sdh pandai mengolahnya supaya tahan terhadap jamur dan rayap. Mungkin itu > masih jarang yg mengerti. > Semoga pak Jepe bisa menggerakan minat orang khususnya di Pariaman ber > Bisnis KAYU KELAPA. > > Wassalam. > Dewi Mutiara, suku Sikumbang. > > > --- On Fri, 4/3/09, Jupardi <[email protected]> wrote: > > From: Jupardi <[email protected]> > Subject: [...@ntau-net] SEKILAS KAYU KELAPA...by : Jepe > To: [email protected] > Date: Friday, April 3, 2009, 9:43 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > SEKILAS KAYU KELAPA > > Oleh : Jepe > > > > > > Kayu kelapa, ini sangat > menarik sekali jika ada investor yang berminat untuk mengusahakan kayu > kelapa > sebagai bahan bangunan (konstruksi), mebel, souvenir dan design interior > bagi > rumah, kantor dan lain sabagainya. Kayu kelapa unggul dalam segi estetika > dengan corak dekoratif yang unik (fancy wood) kelemahannya memang gampang > terserang jamur dan rayap (blue stain) tapi dengan adanya perlakuan > (treatment) > seperti pengeringan dan pengawetan maka kayu kelapa tidak kalah dengan kayu > konvesional yang selama ini kita kenal (kayu hutan tropis). > > > > Latar belakang > pendidikan saya yaitu Kehutanan (Forestry) lebih spesifik lagi jurusan saya > adalah > Teknologi Hasil Hutan, dulunya sedikit banyak saya mempelajari karakter > kayu > kelapa ini baik dari segi anatomi maupun konstruksi (kekuatan dan keawetan). > Daerah kita sangat berlimpah bahan baku > kayu pohon kelapa tua yang tidak produktif lagi dari segi buah yang selama > ini > dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama didaerah pesisir sepanjang pantai > barat > Ranah Minang. > > > > Jaman kita kecil dulu > sebenarnya kayu kelapa sudah dimanfaatkan oleh orang tua dan ninik kita > sebagai > bahan bangunan yang diolah secara tradisional, setelah ditebang pohon kelapa > yang tua lalu dibuat balok (kayu atau papan) dengan menggunakan kapak tajam > berbentuk cangkul kecil (beliung) lalu diawetkan dengan merendamkan atau > membenamkan dalam rawa yang berlumpur setelah itu dikering anginkan sebelum > digunakan dan itu terbukti cukup awet rumah-rumah kampung yang memakai kayu > kelapa ini “lah baruyuang” begitu kita dengar istilah kayu kelapa > yang kuat ini. > > > > Kayu kelapa yang sangat > bagus dimanfaatkan buat konstruksi dan interior rumah serta mebel adalah > kayu > kelapa yang berumur lebih dari 50 Tahun, tapi yang paling bagus adalah umur > 60 tahun > keatas intinya semakin tua semakin bagus dengan diameter rata-rata sekitar > 40 > Cm Up, kita hanya memanfaatkan sekitar 8-10 meter saja dari pangkal pohon > semakin keatas maka kayu terasnya (bagian luar) semakin lunak, sedangkan > kayu > gubal (inti) kurang bagus dimanfaatkan karena “ruyuang” nya tidak > banyak, ruyuang inilah sebenarnya kekuatan dari kayu kelapa. Bagian gubalnya > banyak mengandung zat gula (fruktosa), tentu kita pernah merasakan pucuk > kelapa yang manis tersebut bisa dimakan atau yang dikenal di Minang dengan > sebutan “Umbuik Karambia”. > > > > Kayu kelapa berbeda > seratnya dengan kayu konvesional yang kita kenal, seratnya (selulosa) > putus-putus dan tidak menyatu seperti serat kayu konvensional yang tidak > terputus dari pangkal sampai ke ujung, disini memang agak riskan jika memang > digunakan sebagai bahan konstruksi terutama untuk menahan beban yang cukup > berat ka seperti kuda-kuda dan plafon, tapi jika tidak menahan beban yang > tidak > terlalu berat seperti partisi, kusen pintu dan jendala, bilah pintu, lantai, > dinding kayu kelapa sangat artistic penampilannya jika dipoles atau > diplitur. > > > > Saya dulu berselancar di > dunia maya ternyata di Philipina sudah dimanfaatkan kayu kelapa tua > masyarakat > ini dan sudah ada pabriknya serta diekspor ke pasar Eropa begitu juga > disalah > satu negara Afrika, nah di Indonesia juga sudah ada pabrik kayu kelapa yaitu > di > Sulawesi (lupa namanya perusahaan dan di Sulawesi mana), produknya juga > diekspor ke Eropa, harganya cukup mahal dan menggiurkan sekitar 12-10 > Juta/M3 > (2006), malah saya dengar kabar Korea dan Jepang sedang mencari kayu kelapa > ini. > > > > Kayu Kelapa ini mendapat > apresiasi terutama masyarakat Uni Eropa apalagi isu lingkungan negara kita > yang > masih memanfaatkan kayu hutan tropis dengan menebang dan menggunduli hutan > tanpa diperbaharui dan lestari, mereka menolak memakai kayu tropis ini bukan > tidak sanggup beli tapi lebih kepada isu lingkungan apalagi negara > Skandinavia > isu lingkungan dan sosial sudah menjadi “Agama” bagi mereka, > maksudnya begini kira-kira produk-produk dari negara kita yang berbahan baku > kayu seperti kertas, mebel dan lain-lain yang diekspor harus lolos > sertifikasi > tiga aspek penting yaitu produksi, sosial dan lingkungan dengan segala > indikatornya yang sangat banyak bahasa sederhananya “Mereka tidak mau > membeli produk kayu yang dihasilkan dari merusak lingkungan dan social > masyarakat tempatan tempat kayu/pohon ditebang” > > > > Mereka sadar jika memakai > barang dari kayu/pohon yang merusak lingkungan maka mereka berpikir di hutan > sana hancur ekosistim dan masyarakat, mereka tidak mau santai-santai duduk > di > kursi goyang yang terbuat dari kayu hutan tropis kita sambil minum teh sore > tapi akibat kursi goyang yang didudukinya tersebut dibelahan dunia sana > (hutan > Tropis kita) telah gundul yang mengakibatkan banjir longsor dan rusaknya > ekosistim (flora dan fauna serta plasma nutfah) tentu berakibat sengsaranya > masyarakat. > > > > Mereka mau membeli mahal > produk yang berbahan dasar kayu yang dikelola ramah lingkungan dan social > dari > pada membeli produk yang murah berkualitas tapi menghancurkan hutan tropis, > jadi bukan mahal murah sebuah produk yang mereka lihat tapi lebih kepada isu > lingkungan dan social. > > > > Nah kayu kelapa tentunya > salah satu alternative untuk memenuhi pasar luar negri seperti Eropa, Jepang > dan Korea > jika sudah menyangkut isu lingkungan dan social. > > > > Satu tahun lebih saya > bekerja disebuah NGO German kenamaan yang berpusat di Bonn yaitu German > Agro > Action atau dalam bahasa jerman dikenal Welt Hunger Hilfe ikut berperan > serta > membantu korban gempa dan Tsunami yang dahsyat di NAD pada tanggal 26 > Desember > 2004 yang meluluh lantakan bangunan fisik dan mental psikologis masyarakat > Aceh > yang berada di sepanjang pantai barat sumatera itu termasuk di Kepulauan > Simeulue, disanalah saya bertugas satu tahun dengan program membangun 150 > Unit > rumah sederhana tahan gempa bagi masyarakat Simeulue yang rumahnya hancur > oleh > Gempa dan Tsunami. > > > > NGO GAA ini tidak mau > menggunakan kayu bagi konstruksi bangunan dari kayu konvesional tersebut > walau > ini sangat mudah didapat disana dan harga murah, maka alternatifnya adalah > kayu > kelapa dari pohon kelapa masyarakat yang sudah tua dan tidak produktif lagi > berbuah, Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya dengan jabatan > kala > itu “Timber Specialist” menyiapkan kayu kelapa, bahkan GAA rela mengeluarkan > biaya sangat besar untuk mendatangkan 6 Unit mesin gergaji buatan Australia > (Lucas Mill) dimana harga per Unitnya sekitar Rp 175. juta serta > mendatangkan 2 > Unit Unimog Built Up dari jerman lansung untuk menarik kayu kelapa > masyarakat > yang ditebang..luar biasa memang, tapi saya pikir ini bukan kepentingan > bisnis > lebih kepada bantuan jadi tidak berhitung biaya produksi serta rugi laba. > > > > Sistim yang saya terapkan > pada saat itu, GAA memberikan uang pengganti untuk menanamkan kembali pohon > nkelapa > (Replanting) sebesar Rp 40.000. Uang sebesar itu untuk penyediaan 2 bibit > kelapa siap tanam dan sekedar biaya penanaman bagi masyarakat pohonnya yang > ditumbang. Motto saya ketika itu TEBANG SATU TANAM DUA. > > > > Berdasarkan pengalaman > saya tersebut tidak ada salahnya dilirik peluang ini secara bisnis kayu > kelapa > di ranah minang dengan pohon kelapa tua yang jumlahnya sangat banyak lalu > diremajakan dengan kelapa hibrida. (Oh ya kayu kelapa yang berkualitas > dimanfaat adalah varietas local yang umurnya mencapai puluhan tahun, bukan > kelapa Hibrida). Saya pernah mendengar kabar dari kakak saya yang bekerja di > Dinas Kehutanan Sumbar bahwa dulu di Ranah Minang akan diusahakan membuat > pabrik penggergajian kayu kelapa di daerah Pariaman atas permintaan pasar > Korea > tapi entah kenapa tidak jalan lagi. > > > > > > Jika nanti ada kebijakan > pemerintah monotorium terhadap hutan tropis (penghentian segala aktivitas > bisnis terutama penebangan pohon hutan tropis kita) apalagi Indonesia telah > ikut > menandatangani pengurangan gas karbon serta isu-isu lingkungan seputar hutan > tropis > maka mau tidak mau Industri Kehutanan dari Hulu sampai ke Hilir harus > memanfaatkan kayu dari pohon yang ditanam serta bisa di perbarahui > (renewable) > dan lestari/berkelanjutan (Sustainable). > > > > Pku, 3 April 2009 > > > > > > > > > > > > > > Saya bersama jurnalis TV > dari Jerman yang > > Ingin meliput apa dan > bagaimana Kayu Kelapa > > Istirahat sejenak di camp > tempat pengolahan kayu kelapa > > Di Simeulue NAD > > > > > > > > Siap-siap diwawancarai > > > > > > > > Kameramen Televisi Jerman > lagi meliput > > Kegiatan seputar > pengolahan kayu kelapa > > > > > > > > Penolahan kayu kelapa tua > sebagai bahan > > bangunan > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
