Dear JePe,
 
1. Iyo, lai takana juo soal langan si Toni yang patah tu. Rasonyo terakhir 
basuo jo si Toni tahun 1993. 
 
2. Alah lamo bana indak pernah ka si Ratna lai doch (awas,....jangan salah baca 
loe ya....maksud gue ke RM RATNA....bukan nyambangin si Ratna nya ....hahahaha).
 
3. Soal jo sia si Ratna jadi nyo,....iyo indak tahu saketek alah juo ambo 
doch...... itulah bedonyo awak baduo........dek angku sadonyo 
taparatikan......sadangkan ka ambo sadonyo mamparatikan (....hahaha.....dek 
ambo tukang bacakak taruih sajo dulu .....sahinggo persis sarupo yang angku 
sabuik sebagai satpan orkes dangdut).
 
4. Batanyo lah ambo ciek,.......ado juo ndak yo HUTANG awak di RM RATNA atau 
di RM ASKIL.....atau ka Mamang dan BIBIK di 
ASRAMA......hahahahahaha.........Kok masih ado juo....tolong angku baia kan 
sakalian utang ambo dih.
 
Salam,
r,a 
 
 
 


--- On Sat, 4/11/09, Jupardi <[email protected]> wrote:

From: Jupardi <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] PELAJARAN MORAL DI RUMAH MAKAN RATNA... By : Jepe
To: [email protected]
Date: Saturday, April 11, 2009, 12:05 PM








Assalamualaikum wr Wb
Dunsanaka Palanta RN yang berbahagia
 
Ini sebuah kisah ketika saya di kampus dulu, semoga menarik dari berbagai 
pilihan diantara diskusi di Palanta RN sebagai bacaan diakhir pekan yang 
panjang,  libur sehabis nyontreng...silahkan sambil "leyeh-leyeh" membacanya 
sambil menunggu hasil defenitif Pemilu 9 April 2009.Khusus buat Ricky yang suka 
ngeledekin si Toni di kampus....salam buat pambayannya Ky...kolega ente yang 
jadi Dosen di Fahutan IPB, Dr Naresworo.
 
Wass-Jepe
------------------
 
 
 
 
PELAJARAN MORAL DI RUMAH MAKAN RATNA
 
By : Jepe
 
 
Sebuah kisah ketika saya dan  salah satu sobat saya satu alumni ketika menempuh 
pendidikan dasar di Padang mulai dari SMP sampai SMA dan akhirnya kami sama 
kuliah di Bogor, Sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum saya pindah ke Asrama 
Sylvalestari saya satu kos dan sekamar dengan teman saya ini. Sebuah rumah 
makan mahasiswa di kampus IPB Dermaga yang ..berjarak sekitar 100 meter dari 
tempat kosan kami namanya “Wisma Harapan”. Rumah makan masakan Sunda tersebut 
disamping menunya yang bervariasi lumayan enakdan murah untuk ukuran kantong 
mahasiswa saat itu tentunya masakan tersebut punya magnet lebih dengan “bumbu”, 
“mmmm”….anak yang punya rumah makan seusia kami  yang manis bernama Ratna
 
Saat kami menjambangi Warung  Ratna (begitu kami sebut), entah itu makan siang, 
tapi rata-rata makan malam, pengennya dilayani oleh Ratna..sambil kami 
memberikan senyum manis . Selepas magrib saya dengan kawan-kawan   satu kos 
lainnya seperti itik  pulang petang beriringan menuju warung Ratna untuk makan 
malam….
 
Ketika kami selesai makan di sebuah pojok meja warung Ratna, entah siapa yang 
mulai, entah siapa yang mengompori, hati teman kami  Zainul Mutaqin dan 
Ismartono yang akrab dipanggil Toni terbakar dan panas. Beginilah kata-kata 
nyala kompor yang semakin panas di meja makan tempat kami berkumpul selesai 
santap malam itu.
 
“Ton…tunjukin tu..kekuatan otot elu ama Zainul..ayo adu panco”
 
“Nul..tantang tuh Toni…ayo Nul” begitu teriakan kami.
 
 
Kelihatan  kedua teman kami  ini dengan senang hati “pamer otot” apalagi Ratna 
memberikan perhatian dan senyum pada laga dadakan ini. Ratna sambil melayani 
pelanggan lain, lirikan mata dan senyumnya sekali-kali dilemparkan ke meja yang 
berada di pojok tempat kami berkumpul dan menggelar laga  adu panco ini.. Jika 
tolak ukurnya postur tubuh, Toni lebih unggul dibanding Zainul, lingkar otot 
lengannya .jelas lebih besar dari Zainul dipandang dari sisi manapun.
Zainul kerempeng dan sepertinya  “walah habis nih..sekali hentakan pasti Zainul 
KO sama Toni, tapi Zainul  mempunyai nyali..bertarung.
 
Toni dan Zainul telah mengambil posisi untuk segera adu otot, sementara kami 
mengamati posisi tubuh masing-masing jangan ada bantuan tenaga lain, misalnya 
bertumpu pada injakan kaki di meja, intinya..dalam posisi berdiri yang sama dan 
adil
 
Kedua telapak  tangan Toni dan Zainul telah disatukan diatas meja , salah 
seorang teman memegang kepalan tangan tersebut agar posisinya tegak lurus 
dengan bidang datar meja makan, lalu aba-aba kami teriakan
 
“Satu…dua..tiga….yaaakk!!!
 
 
Awalnya kami semua berpikir..paling dalam hitungan detik selesai dengan 
tumbangnya Zainul lalu kami segera bubar dan bayar makan masing-masing dan  
balik ke tempat kos bersama-sama. Tapi diluar dugaan adu panco semakin  
menarik. Zainul yang kerempeng memberikan perlawanan  yang tangguh sangat nyata 
kelihatan Toni kewalahan menumbangkan Zainul . Miring ke kanan. dan .ke kiri 
lalu berdiri lagi kedua tangan yang beradu panco ini
 
Suguhan adu otot yang alot ini membuat suasana jadi heboh
 
 
“Ayo..Ton…gitu aja kalah…mana …tunjukin otot elu…”
“Payah lu Ton..Otot aja digedein”
“Nul…terus..nul…ayo..ayo..dikit lagi nul, teriak yang lain  ketika lengan Toni 
hampir menyentuh meja…”
 
Toni bersusah payah membalikan keadaan, dengan sekuat tenaga berusaha merubah 
kemiringan arah pergelangan tangan Zainul, agar dia tidak KO.
tiba-tiba..Toni menjerit
 
“Ahhhhhh..!!!!!!” , sambil melepaskan genggaman tangan Zainul  dan mengakhiri 
adu ponco ini. Apa yang terjadi..semula kami yang bersemangat…menyaksikan adu 
panco ini terkejut dengan jeritan Toni.  Toni masih meringis sambil memegang 
pergelangan ototnya.
 
Ya..ampun pergelangan tangan Toni Patah…begitu teriakan salah seoran teman saya.
 
Toni kami dudukan dikursi dan Zainul memberikan segelas air putih, kami 
berdiskusi kemana Toni mau dilarikan  untuk memberikan pertolongan terhadap 
lengannya yang patah.Kesimpulannya,  kami sepakat dan Toni menyetujui untuk 
membawanya ke spesialis tukang urut atau tulang patah Cimande didaerah Ciawi 
Puncak.
 
Sementara Ratna kali ini  tidak tersenyum manis lagi entah apa yang dipikirnya  
akibat ulah sekelompok mahasiswa ini yang selesai makan bukannya lansung pulang 
tapi sempat-sempat adu panco di warungnya , Apakah ada “Faktor senyum 
manisku”…bisa jadi Ratna berpikir begitu
 
Toni malam itu kami larikan ke Ciawi dengan mencarter angkot, aturannya..saya 
pulang ke tempat kos seperti itik pulang petang dengan teman yang lain, malam 
itu saya dengan beberapa teman menemani Toni di sebuah rumah tempat ahli urut 
Cimande. Toni “Arek Suroboyo” ini termasuk teman akrab saya juga.  Ditingkat I  
saya dan dia sekelompok ,  NRP dia dan saya angkanya nggak beda jauh. Kami 
memilih Fakultas yang sama yaitu Fahutan, lagi-lagi dipemilihan jurusan kami 
tetap bersama yaitu Teknologi Hasil Hutan.
 
Karena NRP kami angkanya berdekatan tentunya saat buat laporan, pratikum, 
praktek lapangan, KKN dan lain sebagainya aktivitas perkuliahan dimana ada Toni 
ada Saya. Sampai saat ini saya masih memonitor dimana Toni dan sebaliknya, bagi 
Toni sendiri inilah sebuah “Sejarah yang Pahit” dalam  hidupnya. Nostalgia dia 
ketika menjadi Mahasiswa. Kenangan masa kuliah di IPB yang memberikan sentuhan 
warna yang berbeda dan itu akan selalu di kenangnya.
 
Berita yang cukup heboh ini, gaungnya sampai ketelinga Mahasiswa Fahutan 
lainnya dan ini kadang-kadang menjadi sebuah  ledekan (“ngekick) dari teman 
yang lain (termasuk si Ricky Miun yang paling santer ngeledikin si Toni 
dikampus he..he..he bukannya apa-apa si Ricky belain Zainul yang akrab 
dipanggil Pailul ini teman se Asrama kami….Oiiii Ricky masih ingat elu tragedy 
Panco di Warung Ratna). Toni hanya bisa tersipu malu..dan tersenyum pahit jika 
temannya ngekick
 
 “Ehhh payah lu Ton…ama Zainul aja KO”
 
Parahnya lagi Zainul seangkatan dengan Toni, Saya dan Ricky  sama-sama Fahutan
 
Dari kisah diatas dapatlah kiranya kita mengambil pelajaran Moral, 
kadang-kadang kita terlalu mudah “Mencibir dan Memandang Remeh” seseorang yang 
menurut kita lemah dari segi Fisik, Mental, Pendidikan, Ekonomi dan lain 
sebagainya, tapi faktanya dibalik kelemahannya tersimpan sebuah kekuatan yang 
tidak pernah sebelumnya kita duga.
 
KEKUATAN YANG MEMBUAT KITA LEMAH DIHADAPANNYA
 
***
 
Pekanbaru, 11 April 2009 (Gara-gara Ricky Miun cerita kisah lama dikampus, jadi 
ingin menulis sebuah kisah diatas)
 
 
Pesan lagi, Buat Pak Dosen Fahutan IPB,  Dr Ricky Avenzora :
 
Masih ingat lu Ky Rumah Makan Ratna di Bara berapa ?..ha..ha..lu jambangin gih 
kesono, gimana kabar Ratna, mungkin udah punya cucu kali ya…siapa sih yang 
ngedapatin Ratna, anak Fahutan juga atau …..?
 
 




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke