Assalamualaikum w.w. Sanak R.A. dan para sanak sa palanta,Saya ucapkan terima 
kasih yang sebesar-besarnya dengan kesediaan Sanak untuk ikut mempelopori 
pembentukan sebuah lembaga pemeduli bencana di Sumatera Barat, apapun namanya 
yang akan kita pilih kelak. Dasar hukumnya jelas, tinggal 'action'-nya..Sesuai 
dengan pengalaman pak Nof dengan MPKAS, kita jangan terlalu terpaku pada 
formalitas -- seperti harus membuat anggaran dasar dan mengadakan rapat-rapat 
formal dahulu -- tetapi harus langsung terjun ke lapangan dan melakukan 
kegiatan yang tak henti-hentinya mengajak seluruh kalangan terkait, sampai 
timbul kesadaran yang meluas mengenai masalah bencana ini di Sumatera 
Barat. Saya sarankan agar Sanak R.A. segera mencari teman-teman sefaham dan mau 
menjadi ujung tombak untuk kegiatan yang sangat kita perlukan ini.Saya bantu 
dengan doa dari jauh.

Wassalam,
Saafroedin Bahar(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, 
Kampuang Dalam, Pariaman.)"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail address: [email protected];[email protected]


--- On Sat, 4/11/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Salah satu penyebab GALODO - mari 
bantusosialisasinya...
To: [email protected]
Date: Saturday, April 11, 2009, 4:24 PM

Dear Pak Nofrins serta Majelis RN Yang Mulia,

1. Berkaitan dgn perlunya kita MENCEGAH PENEBANGAN LIAR yg terjadi di hulu 
sungai dan/atau daerah tangkapan air pada suatu DAS (daerah aliran sungai) 
adalah SANGAT BENAR dan PERLU. Namun demikian, perihal "gagasan" utk 
"membersihkan lantai hutan" dari berbagai serasah ataupun sisa tebangan 
BARANGKALI kita perlu berhati-hati. 

2. Secara "awam" bnyk yg berfikir bhw tanah hutan di wilayah tropika adalah 
sangat subur (kaya unsur hara), namun demikian kenyataan yg ada adalah tanah 
hutan tropika sesungguhnya tergolong MISKIN. Beberapa penyebabnya adalah:

a). Simpanan hara terbesar adalah terletak pada MASSA TEGAKAN HUTAN  yg tumbuh 
di atasnya. 

b). Tingginya intensitas dan periode hujan di wilayah tropika menyebabkan tanah 
hutan tropika mengalami PENCUCIAN dengan intensitas yg tinggi pula. 
c). "Pencucian" pada wilayah hutan tropika tidaklah hanya terjadi secara 
horizontal melalui proses RUN OFF (seperti yg Bpk ilustrasikan), tetapi juga 
secara vertikal melalu proses POROSITAS lapisan tanah yg berujung pada "aliran 
sungai dalam" di permukaan batuan induk (mother-rock) dan bahkan menembus 
batuan induk itu sendiri (contoh pd lapisan urat batu bara).

3. Atas kondisi itu, maka sesungguhnya berbagai serasah (dedaunan mati hingga 
sisa tebangan) adalah sumber hara yang penting dalam SIKLUS UNSUR HARA di 
hutan. Tanpa itu, maka siklus akan terputus dan hutan tropika akan mengalami 
gangguan SUKSESI alami nya. 

4. Saya SANGAT SETUJU dengan himbau dari Pak Saaf utk membentuk masyarakat 
pemerhati bencana alam Sumbar, ....dan sebagai wujud rasa setuju maka sayapun 
siap utk BERBAKTI. 

Dengan suksesnya MPKAS di tangan Pak Nofrin hingga kini, maka barangkali 
gerakan yg diusulkan Pak Saaf kiranya juga perlu Pak Nofrins bidani agar lahir 
dan terwujud. 

Salam,
r.a. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "Y. Napilus" 
Date: Fri, 10 Apr 2009 21:49:48 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Salah satu penyebab GALODO - mari bantu  
sosialisasinya...
Mak Ngah dan Dunsanak Kasadonyo, Sato nimbrung nan ciek iko. Utk Peta sungai2 
iko sabananyo bisa lgs ke Direktorat Geologi di Bdg. Ada utk seluruh Indonesia. 
Bisa minta dlm berbagai skala, bantu administrasi utk ongkos lichdruk nya. Dg 
karateh transparan, tingga kito ikuik'i sajo aliran2 sungai tsb sehingga akan 
kalua pola aliran sungai2 tsb. Dan biasonyo banyak urang nan akan taloncek dan 
cameh mancaliek banyaknyo aliran sungai dikampuangnyo, khususnya di Sumbar... 
Krn sehari-hari yang diliek cuman batang aie nan ciek nan lalu dimuko rumahnyo 
sajo nyo...:) Padahal, satu sungai tsb berasal dari BELASAN bahkan PULUHAN hulu 
sungai di perbukitan sana...  Sepuluh tahun lalu, ambo pernah lakukan utk Kec. 
Sungai Pagu, Solok Selatan. Ambo walaupun sdh tidak konsentrasi lagi sbg 
geologist tetap "tagalinjek" melihat kenyataan yg seolah-olah ada didepan mata. 
Ternyata Batang Suliti yg melalui Jeram Ambaian tsb berasal dr puluhan sungai2 
dihulunya. Kalaulah
 Ambaian tsb di "pakok" alias di DAM, hilang kampuang ambo tarandam jadi 
Jatiluhur...:) Bisa-bisa jadi transmigran urang kampuang ambo... Kembali ke isu 
Galodo. SALAH SATU penyebab lain dari Galodo tsb adalah penebangan pohon dan 
penebangan liar di perbukitan2 di hulu-hulu sungai. Biasanya pada lupa dan 
TIDAK BERSIH dlm melakukannya sehingga ranting2 dan bahkan bbrp bagian pohon2 
tsb dibiarkan saja tergeletak begitu saja. Atau menggelinding ke bawah lereng 
ketika hujan deras... Kontur kita di Sumbar berbukit-bukit dan 
bergunung-gunung, membentuk PERBUKITAN BERLAPIS yg membentuk celah "V". Bisa 
dipastikan sebagian besar dicelah V tsb akan SELALU menjadi tempat terbaik 
utk aliran air, baik kecil maupun besar... Celakanya, di bbrp lokasi terjadi 
penyempitan2 atau bottle neck... Bekas2 tebangan pohon, cepat atau lambat akan 
masuk ke celah V, hanyut dan tersangkut pd titik2 penyempitan. Lalu menumpuk dg 
hanyutan berikutnya. Kalau semakin lama
 semakin banyak yang nyangkut dan menumpuk, akan terjadi penghambatan aliran 
air. Debit air yg tertahan dicelah sempit tsb, bisa besar atau kecil saja 
tergantung kekuatan "kotoran pohon" dan berbagai "bahan hanyutan" lainnya yg jd 
penghalang. Satu sungai saja dari arah puncak bukit, bisa terjadi penumpukan 
ini di banyak celah-celah sempit di bbrp lokasi yg potensil utk itu.  Nah, jika 
terjadi curah hujan yang agak besar atau hujan biasa2 saja, pada TITIK 
TERTENTU, "hambatan kotoran" atau "sumbatan" itu tadi tidak bisa bertahan. Jika 
satu jebol, akan terjadi EFEK DOMINO kebawah. Bayangkan jumlah debit air yang 
akan "mahondoh" kabawah. Kalau jumlahnya luar biasa besar akan melimpah keluar 
jalur aliran sungai krn sungai tsb terlalu kecil menampung debit air TIBA2 tsb. 
Itulah yang dinamakan GALODO di Sumbar. AIR BAH ditempat lain... Bencana SITU 
GINTUNG di Jakarta... Nah, kalau kita sudah mendapat peta dan melihat pola 
aliran sungai utk kampung kita
 sendiri, ambo khawatir banyak dunsanak awak di Ranah nan indak akan bisa lalok 
tanang. Krn penebangan liar di Sumbar, KATANYA cukup banyak dan agak 
mengkhawatirkan... 
Salah satu cara utk antisipasi agar jangan terjadi penumpukan ini, harus ada 
yang RAJIN memonitor ke hulu-hulu sungai yang biasanya dicurigai dan berpotensi 
utk terjadinya penumpukan2 air di celah-celah sempit tsb. Tidak mudah 
emang...:) "Peladang" atau penduduk yang suka ke hutan, biasanya tahu tuh 
status "situ-situ" kecil tsb diatas sana. Krn tanpa penebangan liar pun, 
peluang terjadinya penumpukan air ini di hulu-hulu sungai, tetap ada. Dan itu 
yg berpotensi jadi siklus sekian tahunan. Tp kok lah banyak bana nan maliang 
kayu, gak ada lagi tuh yg namanya siklus2 itu tadi. "Nan diateh" nan 
makin berang dan menghukum daerah tsb: "Kenapa kalian tidak bisa merawat, 
memanfaatkan dan mengawasi dg baik karunia alam yang telah aku berikan...." 
kata Allah SWT...  Suka atau tidak, kita di Sumbar, hidup diatas RIBUAN PATAHAN 
kecil dan besar yg SELALU BERGERAK TERUS, setiap hari, sejak JUTAAN tahun lalu. 
Dan tidak akan pernah berhenti selama Bumi masih
 berputar...! Itulah yg akhirnya membentuk kontur2 KEINDAHAN ALAM Ranah 
Minangkabau. Daerah yg aman dan resiko rendah seperti Kalimantan, bagian timur 
Sumatera atau bagian utara pulau Jawa, cenderung rata saja. Viewnya biasa-biasa 
saja. Itulah bukti lain bahwa Tuhan tsb memang MAHA ADIL... Mohon maaf jika ada 
yg kurang tepat. Kawan2 pemeduli lingkungan dan para geologist lebih tahu lah 
ttg ini. Kurnia, mungkin bisa nambahin sharingnya jg. Setidaknya membantu 
memberi kesadaran terus menerus kepada masyarakat. Mohon bantuan kawan2 media 
di Sumbar utk selalu menghimbau masyarakat ttg hal ini. Utk selalu mengedukasi 
masyarakat dg harapan mengurangi resiko Galodo. Di Padang bisa kontak Pak Ade 
Edward, Kepala Pusdalopsp Sumbar utk lebih jelasnya (ambo bcc jg sobat ambo 
itu disini). Beliau mestinya punya peta tingkat resiko tsb di Sumbar. Mari kita 
bantu sosialisasikan pemahaman isu Galodo ini ke komunitas2 kampung kita 
sendiri. Apakah ada hasil atau
 tidak, urusan ntar lah...Semoga berkenan. Terima 
kasih. Wassalam,Nofrinswww.4r5lb.west-sumatra.com NB: Salam dari Cirebon. Lg 
"study banding" nih sembari menemani istri belanja Batik Trusmi Cirebon. 2 
minggu lalu kita jg hunting Batik ke Pasar Beringharjo, Yogya. Maksud saya, 
kita di Sumbar jg punya Batik Tanah Liat dan Batik Arang, kenapa kok masih 
eksklusif ya...? Knp kok gak didorong utk diproduksi massal utk perekonomian 
rakyat dan Pariwisata...? Knp klo hanya Pejabat yg pake dan cuman bbrp org 
saja, kita sudah happy sih...:) Kapan di Sumbar ada Pasar Batik Tanah Liat..? 
Pasar Batik Arang..? Kalau eksklusif dan mahal terus, kapan awak sbg rakyat 
sanggup belinya ya...;)) Kapan "wisatawan hemat" yg jumlahnya besar sekali bisa 
membawa pulang sbg oleh-oleh dari Ranah Minang...? Aah udah ah, nanya mulu nih 
ah...;) 
 From: sjamsir_sjarif <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, April 10, 2009 5:07:13 PM
Subject: [...@ntau-net] Surau Rambun dan Batang Selo


Kalau ambo pantau-pantau di siko, Angku Abraham Ilyas dari Tanjuang Sungayang, 
Angku Avenzora dari Sumaniak, Angku Jepe dari Tanjuang Barulak, barangkali, 
mangko  subyek Daerah Aliran Sungai-sungai di Bagian Timur Tanah Datar ko 
rancak distudi terinci. Kok dapek usahokan mambuek peta batang-batang aia tu, 
dima ulunyo kama mailianyo dan kampuang-kampuang nan maa nan dilaluinyo. 
Datanyo  dapek diambiak dari peta kabupaten, atau kalau indak mendetail dapek 
ditempe-tempekan dari peta-peta Kecamatan-kecamatan di daerah sakitar tu.

Kok Batang Selo memang malalui  Sumaniak, apokoh Batang Selo nan kito tamui 
jambatannyo dakek Bungo Satangkai (nan lah acok ambo lalui) marupokan Batang 
Selo nan samo? Mungkinkoh Batang Selo nan dakek Bungo Satangkai ko basuo pulo 
jo Sungai Ameh dan Umbilin (dima batamunyo?) manuju ka Muaro atau langsuang 
manuju surang ka Batang Sinama/Kuantan? Rancak ditalusua.

Peta aliran sungai-sungai ko akan manjadi bahan nan baguno dalam pangatauan 
untuak daerah tu.

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], avenzor...@... wrote:
>
> Dear Pak Ilyas Yang Mulia,
> 
> 
> 1. Salam hormat dan salam kenal ambo utk Bapak. 
> 
> 2. Mengenai Batang. Selo Tangah, barangkali iyo itu nan sampai ka Sumaniak. 
> Sedangkan mengenai penyebab Galodo, saat ini ambo masih mancubo mangumpuakan 
> data. 
> 
> 3. Untuak samantaro,  manganai Galodo ko kesmpulan Ambo barulah sampai pada 
> TEORI BANJIR 30 TAHUNAN. Mengacu pada teori itu, maka jika  GALODO terakhir 
> (sblm yg thn 2009) ini adalah memang thn 79, maka berarti DINAMIKA EKOLOGI 30 
> TAHUNAN adalah masih berjalan secara natural di wilayah tersebut,.......dalam 
> arti dinamika 30 tahunan BELUM BERGESER menjadi dinamika 10 tahunan atau 
> dinamika 10 tahunan. 
> 
> 4. Atas fakta tersebut, maka dalam pendekatan ekologi masih BISA DISIMPULKAN 
> bahwa wilayah rersebut MASIH ALAMI dan belum TERLALU mengalami gangguan 
> ekologi.  
> 
> Dinamika banjir 30 tahunan adalah merupakan resultante antara kondisi 
> klimatologi (sbg faktor utama) dan kondisi edafis (jenis tanah dan batuan 
> induj) serta penutupan lahan di suatu permukaan bumi. Dinamika ini terjadi 
> pada semua wilayah di permukaan bumi....baik pada wilayah tropika, wilayah 
> sub tropika ataupun pada wilayah 4 musim. 
> 
> Mudah2an data yg sedang saya  cari bisa cepat terkumpul dan bisa kita 
> diskusikan pada milis kita ini. 
> 
> 5. Mengenai penembakan di Balai Okoak (Pasa) Sumaniak pd thn 60/61,......onde 
> mande....iyo alun bisa ambo ikuik bacarito doch Pak. Wakatu itu ambo alun 
> lahia lai doch. Ambo lahia tahun 64, Pak. Kok basuo awak, mako ambo akan 
> maimbau UDO mah ka Bapak (salah satu ciri khas sebutan di Sumaniak dan Tnh 
> Datar),......tapi dek awak sdg di milis...brgkali berang pulo beko Bpk ka 
> Ambo.
> 
> Namun baitu, rasonyo ambo lai pernah mandanga carito jaman "urang pai ijok" 
> itu di Sumaniak. Rumah Gadang kami saat itu caritonyo jadi tampek urang 
> bakumpua. Kalau indak salah, pado tahun itu  kakek ambo (Ibrahim Maddun) pai 
> ijok pulo sahinggo akhirnyo wafat dan dimakamkan di Sumpur Kudus.  Ambo akan 
> manamui Ibu ambo dan mamintak carito baliak dari beliau.
> 
> Sanag bana hati ambo mandapek salam dari Bapak, ....tarimo kasih banyak ateh 
> salam Bapak,.....  dan sakali lai salam hormat dan salam kenal pulo dari Ambo 
> utk Bapak dan keluarga.
> 
> 
> Salam,
> r.a.  
> 
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> From: Abraham Ilyas <abrahamil...@...>
> 
> Date: Fri, 10 Apr 2009 13:45:35 
> To: <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Re: Surau Rambun dan Batang Selo
> 
> 
> Assalamulaikum Dinda Avenzora.
> Salam kenal.
> 
> Iyo ambo nak batanyo tantangan Batang Selo di Sumaniak sarato babagi
> pertanyaan nan indak bajawek.
> 
> Limo hari sabalum tajadinyo galodo di Pasia Laweh, ambo pulang kampuang
> meghadiri pelantikan wali nagari Tanjuang.
> Iseng-iseng ambo kodak batu-batu gadang nan ado di Selo Tongah dan  hasil
> kodak ambo tampilkan di homepage www.nagari.or.id nan mungkin bisa dijadikan
> sebagai salah satu analisa penyebab terjadinyo galodo.
> 
> Nan manjadi pertanyaan ambo kini, apakah Batang Selo Tongah nan ambo kodak
> itu adalah Batang Selo nan melewati nagari Sumaniak.
> 
> Saketek kenangan ambo tantang nagari Sumaniak iyolah peristiwa sangek
> membekas dalam ingatan, adolah kajadian tahun 1960 atau 1961.
> Dari Tanjuang  (nagari ambo) tampak  pos  tantara  Pusek barado di puncak
> bukik (entah namonyo bukik Sumbatak ? minta dikoreksi kalau salah).
> Saat itu tantara pusek membangun pos-pos pertahanan di puncak-puncak bukik
> Kasumbo, bukik Tongah (Sungayang) dan hampir di seluruh bukit-bukit yang
> menghubungkan kota-kota besar di SB.
> 
> Suatu hari Ahad (hari pasa Sumaniak), ketiko  sedang bakarajo di sawah (di
> Tanjuang) sekitar pk. 10  ambo malayangkan pandangan ka pos tantara di
> puncak bukik tsb. tibo-tibo sajo tampak asap mengepul disertai dentuman yang
> sangat hebat.
> 
> Ketiko pulang dari sawah, lk. 2 jam kemudian diperjalanan ambo berpapasan jo
> orang-orang mengusung jenazah yang dibawa ke arah nagari Andaleh.
> Kaba nan ditarimo kemudian, mengatokan tantara pusek menembak ka pasa
> Sumaniak dan menimbulkan korban-korban.
> 
> Sampai kini ambo indak habih batanyo dalam hati, meskipun kejadian itu sudah
> hampia 50 tahun nan lalu.
> Kok dibolehkan tantara tsb. menembak ka pasa nan sadang rami.
> Bukankah ketiko itu nagari Sumaniak tamasuak nagari nan alah "dibebaskan"
> (istilah APRI).
> 
> Demikianlah dari ambo
> 
> Wassalam
> 
> Abraham Ilyas, 63 th.
>  www.nagari.or.id



       
 




  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke