Pak Saaf, Da Nof, Ricky dan Dunsanak Sapalanta RN

Ini sekedar tambahan-tambahan pendapat saya saja ketika pernah
sosialisasi atau terjun kelapangan lansung membina masyarakat di
sekitar Hutan atau/dan DAS saat menjalankan tugas dan  disaat pulang
kampung tentunya saya juga sedikit “berbijak-bijak” juga sama Datuk,
Penghulu, Mamak-Mamak, Uo2 dan tetua se kaum atau saparuik saya,
sambil sedikit bersenandung lagu Minang yang mendapatkan penghargaan
dari Meneg KLH waktu itu dijabat oleh Pak Emil Salim yang dipopulerkan
oleh Tiar Ramon “Pasan Buruang”
www.youtube.com/watch?v=MKG_Fj-6Bag (silahkan dengar lagunya di Youtube)

Mari kita ke hulu terutama daerah tangkapan air diseputar
pegunungan/hutan (daerah yang tinggi)…ada apa disana..ada apa dengan
ekosistem disana.Secara sederhana dapat dijelaskan seperti ini

Ketika kita di SMP dulu pernah mempelajari tentang erosi atau fenomena
banjir (Jika banjir bandang di Minang diistilahkan dengan galodo),
praktek yang kita lakukan adalah dua gundukan tanah, yang satunya
adalah tanah tanpa vegetasi yang satunya lagi tanah dengan vegetasi
(rumput atau tanaman lainnya), lalu kita tuangkan air (seperti
hujan)…apa yang terjadi

Gundukan tanah tanpa vegetasi air meluncur dengan deras kebawah
membawa lumpur atau tanah bagian atas yang hanyut (erosi), kita catat
kecepatannya serta volume air.Hal yang sama kita lakukan pada tanah
yang bervegetasi tentunya kecepatannya mengalir lebih rendah karena
ada tahanan oleh vegetasi yang tumbuh diatas gundukan tersebut
sedangkan lapisan tanah atasnya (top soil) tidak terbawa sedangkan
airnya yang kita tampung lebih sedikit karena diserap oleh vegetasi
dan karena kecepatan alir air ini lebih lambat ada kesempatan air
untuk menyerap kedalam tanah.


Ketika kawasan Gunung dan bukit yang berhutan, konservasi/lindung,
daerah aliran sungai,  areal tangkapan air seperti danau-danau
kecil,areal yang kemiringan /topografinya diatas 15 %) masih relatif
terjaga dengan baik artinya masih dapat mengimbangi curah hujan disaat
kondisi ekstrim sekalipun.

Adapun cara kerja alam ini adalah ketika hujan datang energi potensial
(maaf Ky energi hujan yang jatuh energi potensial atau energi kinetic
ya..he..he ..lupo den miangg) hujan yang jatuh kebumi sebelum sampai
ketanah diuraikan mulai tajuk (canopy) pohon yang paling tinggi lalu
dibagi lagi ditingkat yang paling rendah semak dan vegetasi dilantai
hutan.

Air akan mengalir secara perlahan mulai dari daun terus ke batang
pohon (steam flow) terus jatuh kelantai hutan, sampai disinipun masih
ada hambatan oleh vegetasi lantai hutan serta serasah.

Sebelum air mengalir (surface rain off)  ke sungai terus ke hilir
(muara pantai), dan ditampung di situ, danau-danau kecil atau areal
tangkapan lain karena kecepatan yang pelan (energi potensialnya sudah
berkurang) masih ada waktu air diserap dan disimpan didalam tanah
sampai mencapai titik jenuh sebelum mengalir/bergerak sesuai dengan
gaya grafitasi.Ya kita sama tahu air akan mengalir dari tempat yang
tinggi ke tempat yang rendah secara alami karena gaya grafitasi tanpa
input energi. Rata-rata perkampungan penduduk di ranah minang terletak
dilereng dan lembah sepanjang Gunung atau bukit yang mengelilinginya
dan tentunya adalah tempat yang rendah ,  dimana air yang bermuara di
pantai sungai-sungai yang membelah perkampungan  masih sanggup atau
masih mampu mengimbanginya pada saat itu .

Ketika musim kemarau dating,  secara otomatis karena grafitasi tadi
air yang tersimpan dihulu akan mengalir dan ini bisa dimanfaatkan oleh
manusia dihilir.Sedangkan daerah tangkapan air berfungsi sebagai
penjaga keseimbangan  disaat musim hujan dan musim kemarau serta musim
peralihan (pancaroba).Ini sebuah keseimbangan ekosistem (lebih dalam
lagi tentu Ricky ahlinya)


Lalu apa yang terjadi jika dikawasan hulu (Bukit/Pegunungan) hutannya
dibabat secara liar terbuka malah terkoaknya lantai hutan (tanpa
vegetasi berupa pohon2 besar yang bertajuk dan berdaun lebar)
Logikanya hampir sama dengan praktek dengan gundukan tanah tanpa
vegetasi.Hujan yang jatuh tidak ada kesempatan lagi untuk mengurangi
energi potensialnya lansung menghujam  kebumi (Top Soil) atau
menghantam  lantai hutan yang terbuka tadi.

Tanpa ampun energi potensial hujan akan mengelupas lapisan tanah atas
dan terus mengalir begitu deras ke hilir tanpa sempat disimpan lagi di
dalam tanah.Sementara di hilir sungai-sungai telah menyempit (seperti
kata Ricky Botlle neck) sehingga daya dukungnya tidak mampu lagi
mengimbangi air yang datang begitu derasnya..dan khirnya meluap
terjadilah banjir..air bah (galodo) disertai hanyutnya tanah berupa
Lumpur, bebatuan, serasah,ranting-ranting seperti yang dijelaskan
Ricky.

Nah ketika musim kemarau (curah hujan minim) tidak ada lagi persediaan
air yang berujung kepada musim kemarau yang kering
kerontang.Keseimbangan alam telah terganggu, siklus ekosistem tidak
berjalan secara alami.


Dari hal diatas jika kita mengambil hikmah dari kejadian Galado di
ranah minang perlu kiranya kita merenung sejenak, perlu kiranya kita
lebih arif lagi untuk memberlakukan alam secara bijaksana.Perlu dikaji
lebih dalam lagi kebijakan arah pembangunan yang lebih berpihak pada
lingkungan.

Bencana ini telah menyadarkan kita  tanpa mencari siapapun “kambing
hitam” yang selalu kita ributkan. Kiranya kita  perlu melakukan
tindakan-tindakan yang pro terhadap lingkungan/ekosistem dan  belajar
kepada alam bukan kita yang memberikan “pelajaran”

Seperti pesan Pak Saaf

“harus langsung terjun ke lapangan dan melakukan kegiatan yang tak
henti-hentinya mengajak seluruh kalangan terkait, sampai timbul
kesadaran yang meluas mengenai masalah bencana ini di Sumatera Barat”

Ya intinya terjun kelapangan, saya sendiri memang belum banyak berbuat
dengan terjun ke lapangan tapi paling tidak  jika saya (kita) pulang
ke kampung disetiap kesempatan bicarakanlah atau sosialisasikan sama
orang kampung tentang kesadaran menjaga alam.

Wass-Jepe
Ky..kalau sekira uraian saya ada yang “meleset” yo dipelok-pelok i stek.




Pada tanggal 12/04/09, ricky avenzora <[email protected]> menulis:
> Dear Pak Gifari Yang Mulia,
>
> Iya benar, hal tersebut yang perlu kita jaga bersama,...agar siklusnya tidak
> berubah menjadi lebih cepat.
>
> Salam,
> r.a
> --- On Sun, 4/12/09, Muhammad Gifari <[email protected]> wrote:
>
> From: Muhammad Gifari <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Re: Salah satu penyebab GALODO - mari
> bantusosialisasinya...
> To: [email protected]
> Date: Sunday, April 12, 2009, 5:32 PM
>
>
>
>
>
>
> Assalamu'alaikum Bapak Avenzora,
> Terimakasih atas penjelasan Bapak.
> Memang sebaiknya teori 30 tahunan tersebut dapat menjadi pengetahuan yang
> disosialikasikan kepada Pemda dan warga nagari .. Yang perlu diwaspadai
> adalah bila siklus tersebut menurun menjadi 10 tahun atau 5 tahunan,seperti
> halnya siklus banjir besar di jakarta.
>
> Wassalam
> M. Gifari S. (27)
>
> --- On Sat, 4/11/09, [email protected] <[email protected]> wrote:
>
>
> From: [email protected] <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Re: Salah satu penyebab GALODO - mari
> bantusosialisasinya...
> To: [email protected]
> Date: Saturday, April 11, 2009, 9:24 AM
>
>
>
>
> Dear Pak Nofrins serta Majelis RN Yang Mulia,
>
> 1. Berkaitan dgn perlunya kita MENCEGAH PENEBANGAN LIAR yg terjadi di hulu
> sungai dan/atau daerah tangkapan air pada suatu DAS (daerah aliran sungai)
> adalah SANGAT BENAR dan PERLU. Namun demikian, perihal "gagasan" utk
> "membersihkan lantai hutan" dari berbagai serasah ataupun sisa tebangan
> BARANGKALI kita perlu berhati-hati.
>
> 2. Secara "awam" bnyk yg berfikir bhw tanah hutan di wilayah tropika adalah
> sangat subur (kaya unsur hara), namun demikian kenyataan yg ada adalah tanah
> hutan tropika sesungguhnya tergolong MISKIN. Beberapa penyebabnya adalah:
>
> a). Simpanan hara terbesar adalah terletak pada MASSA TEGAKAN HUTAN yg
> tumbuh di atasnya.
>
> b). Tingginya intensitas dan periode hujan di wilayah tropika menyebabkan
> tanah hutan tropika mengalami PENCUCIAN dengan intensitas yg tinggi pula.
> c).. "Pencucian" pada wilayah hutan tropika tidaklah hanya terjadi secara
> horizontal melalui proses RUN OFF (seperti yg Bpk ilustrasikan), tetapi juga
> secara vertikal melalu proses POROSITAS lapisan tanah yg berujung pada
> "aliran sungai dalam" di permukaan batuan induk (mother-rock) dan bahkan
> menembus batuan induk itu sendiri (contoh pd lapisan urat batu bara).
>
> 3. Atas kondisi itu, maka sesungguhnya berbagai serasah (dedaunan mati
> hingga sisa tebangan) adalah sumber hara yang penting dalam SIKLUS UNSUR
> HARA di hutan. Tanpa itu, maka siklus akan terputus dan hutan tropika akan
> mengalami gangguan SUKSESI alami nya.
>
> 4. Saya SANGAT SETUJU dengan himbau dari Pak Saaf utk membentuk masyarakat
> pemerhati bencana alam Sumbar, ....dan sebagai wujud rasa setuju maka
> sayapun siap utk BERBAKTI.
>
> Dengan suksesnya MPKAS di tangan Pak Nofrin hingga kini, maka barangkali
> gerakan yg diusulkan Pak Saaf kiranya juga perlu Pak Nofrins bidani agar
> lahir dan terwujud.
>
> Salam,
> r.a.
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
>
> From: "Y. Napilus"
> Date: Fri, 10 Apr 2009 21:49:48 -0700 (PDT)
> To: <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Salah satu penyebab GALODO - mari bantu
> sosialisasinya...
>
>
>
> Mak Ngah dan Dunsanak Kasadonyo,
>
> Sato nimbrung nan ciek iko. Utk Peta sungai2 iko sabananyo bisa lgs ke
> Direktorat Geologi di Bdg. Ada utk seluruh Indonesia. Bisa minta dlm
> berbagai skala, bantu administrasi utk ongkos lichdruk nya. Dg karateh
> transparan, tingga kito ikuik'i sajo aliran2 sungai tsb sehingga akan kalua
> pola aliran sungai2 tsb. Dan biasonyo banyak urang nan akan taloncek dan
> cameh mancaliek banyaknyo aliran sungai dikampuangnyo, khususnya di
> Sumbar... Krn sehari-hari yang diliek cuman batang aie nan ciek nan lalu
> dimuko rumahnyo sajo nyo...:) Padahal, satu sungai tsb berasal dari BELASAN
> bahkan PULUHAN hulu sungai di perbukitan sana...
>
> Sepuluh tahun lalu, ambo pernah lakukan utk Kec. Sungai Pagu, Solok Selatan.
> Ambo walaupun sdh tidak konsentrasi lagi sbg geologist tetap "tagalinjek"
> melihat kenyataan yg seolah-olah ada didepan mata. Ternyata Batang Suliti yg
> melalui Jeram Ambaian tsb berasal dr puluhan sungai2 dihulunya. Kalaulah
> Ambaian tsb di "pakok" alias di DAM, hilang kampuang ambo tarandam jadi
> Jatiluhur...:) Bisa-bisa jadi transmigran urang kampuang ambo....
>
> Kembali ke isu Galodo. SALAH SATU penyebab lain dari Galodo tsb adalah
> penebangan pohon dan penebangan liar di perbukitan2 di hulu-hulu sungai.
> Biasanya pada lupa dan TIDAK BERSIH dlm melakukannya sehingga ranting2 dan
> bahkan bbrp bagian pohon2 tsb dibiarkan saja tergeletak begitu saja. Atau
> menggelinding ke bawah lereng ketika hujan deras...
>
> Kontur kita di Sumbar berbukit-bukit dan bergunung-gunung,
> membentuk PERBUKITAN BERLAPIS yg membentuk celah "V". Bisa dipastikan
> sebagian besar dicelah V tsb akan SELALU menjadi tempat terbaik utk aliran
> air, baik kecil maupun besar... Celakanya, di bbrp lokasi terjadi
> penyempitan2 atau bottle neck...
>
> Bekas2 tebangan pohon, cepat atau lambat akan masuk ke celah V, hanyut dan
> tersangkut pd titik2 penyempitan. Lalu menumpuk dg hanyutan berikutnya.
> Kalau semakin lama semakin banyak yang nyangkut dan menumpuk, akan terjadi
> penghambatan aliran air. Debit air yg tertahan dicelah sempit tsb, bisa
> besar atau kecil saja tergantung kekuatan "kotoran pohon" dan berbagai
> "bahan hanyutan" lainnya yg jd penghalang. Satu sungai saja dari arah puncak
> bukit, bisa terjadi penumpukan ini di banyak celah-celah sempit di bbrp
> lokasi yg potensil utk itu.
>
> Nah, jika terjadi curah hujan yang agak besar atau hujan biasa2 saja, pada
> TITIK TERTENTU, "hambatan kotoran" atau "sumbatan" itu tadi tidak bisa
> bertahan. Jika satu jebol, akan terjadi EFEK DOMINO kebawah. Bayangkan
> jumlah debit air yang akan "mahondoh" kabawah. Kalau jumlahnya luar biasa
> besar akan melimpah keluar jalur aliran sungai krn sungai tsb terlalu kecil
> menampung debit air TIBA2 tsb. Itulah yang dinamakan GALODO di Sumbar. AIR
> BAH ditempat lain... Bencana SITU GINTUNG di Jakarta...
>
> Nah, kalau kita sudah mendapat peta dan melihat pola aliran sungai utk
> kampung kita sendiri, ambo khawatir banyak dunsanak awak di Ranah nan indak
> akan bisa lalok tanang. Krn penebangan liar di Sumbar, KATANYA cukup banyak
> dan agak mengkhawatirkan...
>
> Salah satu cara utk antisipasi agar jangan terjadi penumpukan ini, harus ada
> yang RAJIN memonitor ke hulu-hulu sungai yang biasanya dicurigai dan
> berpotensi utk terjadinya penumpukan2 air di celah-celah sempit tsb. Tidak
> mudah emang...:) "Peladang" atau penduduk yang suka ke hutan, biasanya tahu
> tuh status "situ-situ" kecil tsb diatas sana. Krn tanpa penebangan liar pun,
> peluang terjadinya penumpukan air ini di hulu-hulu sungai, tetap ada. Dan
> itu yg berpotensi jadi siklus sekian tahunan. Tp kok lah banyak bana nan
> maliang kayu, gak ada lagi tuh yg namanya siklus2 itu tadi. "Nan diateh" nan
> makin berang dan menghukum daerah tsb: "Kenapa kalian tidak bisa merawat,
> memanfaatkan dan mengawasi dg baik karunia alam yang telah aku berikan..."
> kata Allah SWT...
>
> Suka atau tidak, kita di Sumbar, hidup diatas RIBUAN PATAHAN kecil dan besar
> yg SELALU BERGERAK TERUS, setiap hari, sejak JUTAAN tahun lalu. Dan tidak
> akan pernah berhenti selama Bumi masih berputar...! Itulah yg
> akhirnya membentuk kontur2 KEINDAHAN ALAM Ranah Minangkabau. Daerah yg aman
> dan resiko rendah seperti Kalimantan, bagian timur Sumatera atau
> bagian utara pulau Jawa, cenderung rata saja. Viewnya biasa-biasa saja.
> Itulah bukti lain bahwa Tuhan tsb memang MAHA ADIL...
>
> Mohon maaf jika ada yg kurang tepat. Kawan2 pemeduli lingkungan dan para
> geologist lebih tahu lah ttg ini. Kurnia, mungkin bisa nambahin sharingnya
> jg. Setidaknya membantu memberi kesadaran terus menerus kepada masyarakat.
> Mohon bantuan kawan2 media di Sumbar utk selalu menghimbau masyarakat ttg
> hal ini. Utk selalu mengedukasi masyarakat dg harapan mengurangi resiko
> Galodo. Di Padang bisa kontak Pak Ade Edward, Kepala Pusdalopsp Sumbar utk
> lebih jelasnya (ambo bcc jg sobat ambo itu disini). Beliau mestinya punya
> peta tingkat resiko tsb di Sumbar. Mari kita bantu sosialisasikan pemahaman
> isu Galodo ini ke komunitas2 kampung kita sendiri. Apakah ada hasil atau
> tidak, urusan ntar lah...Semoga berkenan. Terima kasih.
>
> Wassalam,
> Nofrins
> www.4r5lb.west-sumatra.com
>
> NB: Salam dari Cirebon. Lg "study banding" nih sembari menemani istri
> belanja Batik Trusmi Cirebon. 2 minggu lalu kita jg hunting Batik ke Pasar
> Beringharjo, Yogya. Maksud saya, kita di Sumbar jg punya Batik Tanah Liat
> dan Batik Arang, kenapa kok masih eksklusif ya...? Knp kok gak didorong utk
> diproduksi massal utk perekonomian rakyat dan Pariwisata...? Knp klo hanya
> Pejabat yg pake dan cuman bbrp org saja, kita sudah happy sih...:) Kapan di
> Sumbar ada Pasar Batik Tanah Liat..? Pasar Batik Arang..? Kalau eksklusif
> dan mahal terus, kapan awak sbg rakyat sanggup belinya ya...;)) Kapan
> "wisatawan hemat" yg jumlahnya besar sekali bisa membawa pulang sbg
> oleh-oleh dari Ranah Minang...? Aah udah ah, nanya mulu nih ah...;)
>
>
>
>
> From: sjamsir_sjarif <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Friday, April 10, 2009 5:07:13 PM
> Subject: [...@ntau-net] Surau Rambun dan Batang Selo
>
>
> Kalau ambo pantau-pantau di siko, Angku Abraham Ilyas dari Tanjuang
> Sungayang, Angku Avenzora dari Sumaniak, Angku Jepe dari Tanjuang Barulak,
> barangkali, mangko  subyek Daerah Aliran Sungai-sungai di Bagian Timur Tanah
> Datar ko rancak distudi terinci. Kok dapek usahokan mambuek peta
> batang-batang aia tu, dima ulunyo kama mailianyo dan kampuang-kampuang nan
> maa nan dilaluinyo. Datanyo  dapek diambiak dari peta kabupaten, atau kalau
> indak mendetail dapek ditempe-tempekan dari peta-peta Kecamatan-kecamatan di
> daerah sakitar tu.
>
> Kok Batang Selo memang malalui Sumaniak, apokoh Batang Selo nan kito tamui
> jambatannyo dakek Bungo Satangkai (nan lah acok ambo lalui) marupokan Batang
> Selo nan samo? Mungkinkoh Batang Selo nan dakek Bungo Satangkai ko basuo
> pulo jo Sungai Ameh dan Umbilin (dima batamunyo?) manuju ka Muaro atau
> langsuang manuju surang ka Batang Sinama/Kuantan? Rancak ditalusua.
>
> Peta aliran sungai-sungai ko akan manjadi bahan nan baguno dalam pangatauan
> untuak daerah tu.
>
> Salam,
> --MakNgah
> Sjamsir Sjarif
>
> --- In [email protected], avenzor...@... wrote:
>>
>> Dear Pak Ilyas Yang Mulia,
>>
>>
>> 1. Salam hormat dan salam kenal ambo utk Bapak.
>>
>> 2. Mengenai Batang. Selo Tangah, barangkali iyo itu nan sampai ka
>> Sumaniak. Sedangkan mengenai penyebab Galodo, saat ini ambo masih mancubo
>> mangumpuakan data.
>>
>> 3. Untuak samantaro, manganai Galodo ko kesmpulan Ambo barulah sampai pada
>> TEORI BANJIR 30 TAHUNAN. Mengacu pada teori itu, maka jika  GALODO
>> terakhir (sblm yg thn 2009) ini adalah memang thn 79, maka berarti
>> DINAMIKA EKOLOGI 30 TAHUNAN adalah masih berjalan secara natural di
>> wilayah tersebut,......dalam arti dinamika 30 tahunan BELUM BERGESER
>> menjadi dinamika 10 tahunan atau dinamika 10 tahunan.
>>
>> 4. Atas fakta tersebut, maka dalam pendekatan ekologi masih BISA
>> DISIMPULKAN bahwa wilayah rersebut MASIH ALAMI dan belum TERLALU mengalami
>> gangguan ekologi.
>>
>> Dinamika banjir 30 tahunan adalah merupakan resultante antara kondisi
>> klimatologi (sbg faktor utama) dan kondisi edafis (jenis tanah dan batuan
>> induj) serta penutupan lahan di suatu permukaan bumi. Dinamika ini terjadi
>> pada semua wilayah di permukaan bumi....baik pada wilayah tropika, wilayah
>> sub tropika ataupun pada wilayah 4 musim.
>>
>> Mudah2an data yg sedang saya cari bisa cepat terkumpul dan bisa kita
>> diskusikan pada milis kita ini..
>>
>> 5. Mengenai penembakan di Balai Okoak (Pasa) Sumaniak pd thn
>> 60/61,......onde mande....iyo alun bisa ambo ikuik bacarito doch Pak.
>> Wakatu itu ambo alun lahia lai doch. Ambo lahia tahun 64, Pak. Kok basuo
>> awak, mako ambo akan maimbau UDO mah ka Bapak (salah satu ciri khas
>> sebutan di Sumaniak dan Tnh Datar),......tapi dek awak sdg di
>> milis...brgkali berang pulo beko Bpk ka Ambo.
>>
>> Namun baitu, rasonyo ambo lai pernah mandanga carito jaman "urang pai
>> ijok" itu di Sumaniak. Rumah Gadang kami saat itu caritonyo jadi tampek
>> urang bakumpua. Kalau indak salah, pado tahun itu  kakek ambo (Ibrahim
>> Maddun) pai ijok pulo sahinggo akhirnyo wafat dan dimakamkan di Sumpur
>> Kudus.  Ambo akan manamui Ibu ambo dan mamintak carito baliak dari beliau.
>>
>> Sanag bana hati ambo mandapek salam dari Bapak, ....tarimo kasih banyak
>> ateh salam Bapak,..... dan sakali lai salam hormat dan salam kenal pulo
>> dari Ambo utk Bapak dan keluarga.
>>
>>
>> Salam,
>> r.a.
>>
>>
>> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Abraham Ilyas <abrahamil...@...>
>>
>> Date: Fri, 10 Apr 2009 13:45:35
>> To: <[email protected]>
>> Subject: [...@ntau-net] Re: Surau Rambun dan Batang Selo
>>
>>
>> Assalamulaikum Dinda Avenzora.
>> Salam kenal.
>>
>> Iyo ambo nak batanyo tantangan Batang Selo di Sumaniak sarato babagi
>> pertanyaan nan indak bajawek.
>>
>> Limo hari sabalum tajadinyo galodo di Pasia Laweh, ambo pulang kampuang
>> meghadiri pelantikan wali nagari Tanjuang.
>> Iseng-iseng ambo kodak batu-batu gadang nan ado di Selo Tongah dan hasil
>> kodak ambo tampilkan di homepage www.nagari.or.id nan mungkin bisa
>> dijadikan
>> sebagai salah satu analisa penyebab terjadinyo galodo.
>>
>> Nan manjadi pertanyaan ambo kini, apakah Batang Selo Tongah nan ambo kodak
>> itu adalah Batang Selo nan melewati nagari Sumaniak.
>>
>> Saketek kenangan ambo tantang nagari Sumaniak iyolah peristiwa sangek
>> membekas dalam ingatan, adolah kajadian tahun 1960 atau 1961.
>> Dari Tanjuang  (nagari ambo) tampak  pos  tantara  Pusek barado di puncak
>> bukik (entah namonyo bukik Sumbatak ? minta dikoreksi kalau salah).
>> Saat itu tantara pusek membangun pos-pos pertahanan di puncak-puncak bukik
>> Kasumbo, bukik Tongah (Sungayang) dan hampir di seluruh bukit-bukit yang
>> menghubungkan kota-kota besar di SB.
>>
>> Suatu hari Ahad (hari pasa Sumaniak), ketiko sedang bakarajo di sawah (di
>> Tanjuang) sekitar pk. 10  ambo malayangkan pandangan ka pos tantara di
>> puncak bukik tsb. tibo-tibo sajo tampak asap mengepul disertai dentuman
>> yang
>> sangat hebat.
>>
>> Ketiko pulang dari sawah, lk. 2 jam kemudian diperjalanan ambo berpapasan
>> jo
>> orang-orang mengusung jenazah yang dibawa ke arah nagari Andaleh.
>> Kaba nan ditarimo kemudian, mengatokan tantara pusek menembak ka pasa
>> Sumaniak dan menimbulkan korban-korban.
>>
>> Sampai kini ambo indak habih batanyo dalam hati, meskipun kejadian itu
>> sudah
>> hampia 50 tahun nan lalu.
>> Kok dibolehkan tantara tsb. menembak ka pasa nan sadang rami.
>> Bukankah ketiko itu nagari Sumaniak tamasuak nagari nan alah "dibebaskan"
>> (istilah APRI).
>>
>> Demikianlah dari ambo
>>
>> Wassalam
>>
>> Abraham Ilyas, 63 th.
>> www.nagari.or.id
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke