Dear Rangkayo Hanifah serta Majelis RN Yang Mulia,

Sebagaimana telah saya sampaikan pada bagian 1 terdahulu, maka cerita berbagi   
pengalaman ini adalah TIDAK UNTUK MENGHAKIMI.


" Ibu Indak Paralu Baranak Waang Doh!"

Pada tahun 92, dalam perjalanan dinas ke suatu daerah, suatu hari saya mampir 
ke rumah seorang kawan. Saat itu ternyata di rumah kawan tersebut sedang 
terjadi persiapan pesta pernikan salah seorang anggota keluarganya. Banyak 
orang berkumpul, termasuk para bundo kanduang yang dari usia beliau-beliau 
nampaknya setidak-tidaknya tergambar ada 4 generasi. 

Ketika para bundo kanduang sedang MAOTA sambil bekerja, tiba-tiba datang 
seorang laki-laki dewasa berpakain parlente lengkap dengan dasi yang masih 
tergantung rapi di leher. Lelaki parlente tersebut adalah anak dari salah 
seorang bundo kanduang yang sedang maota sambil bekerja bersama tersebut. Sang 
anak lelaki masuk dari luar, dan kira-kira 3 langkah setelah memasuki pintu, 
maka terjadi percakapan berikut.

Sang anak : "Kok lama sekali Ibu di rumah orang, ....kan Ibu gak boleh terlalu 
capek 
                    (lelah),.....ngapain Ibu bekerja di sini". 

Suara laki-laki parlente tersebut seperti petir ditengah hari bolong yang 
membuat semua orang terperangah dan bermerah muka. Satu-dua orang seperti 
hampir lepas kendali mendengar suara yang tanpa basa-basi dan sangat dominan 
tersebut. 

Ibu  : "Apo kecek waang, nak?"

Sang Anak : "Mangaa Ibu karajo di tampek urang ko?".

Rupanya sang anak masih sangat fasih berbahasa Minang, dan semua yang hadir 
semakin jengah dan tampak susah menahan diri atas sikap sang lelaki parlente 
tersebut. 

Ibu  : "Astagfirullah,.......ruponyo alah indak batulang lidah waang yo".
         "Tagak waang di sinan, jaan manggarik,....dan dangakan apo yang akan 
ibu 
          sabuikan,.....bia lah tadanga dek urang sadonyo"

Sang Ibu berdiri, menghadap lurus pada anaknya sambil menatap tajam mata sang 
anak dan menunjuk anaknya dengan telunjuk yang sangat lurus ke arah anak lelaki 
nya tersebut.

Ibu  : "Ba puluah tahun sorang sajo Ibu manggadangkan waang sadonyo sasudah 
          bapisah jo ayah waang adolah untuak waang bisa jadi urang"
         "Jo dasi di lihia waang tuh nampaknyo sampai kini alun jadi urang juo 
waang yo".
         "Iko indak rumah urang bagai ko doh, iko rumah dunsanak den ko mah, 
...Ibu 
          dan niniak den sadang ado pulo di siko" 
         "Dulu den jadi anak Ibu den, dan dulu pulo den badunsanak den dari 
pado aden 
          punyo waang"
          "Pulang lah waang nak, indak usah waang japuik-japuik den di siko, 
Ibu indak   
          paralu baranak waang doh....."

Suara sang Ibu mulai melemah dan pingsan. 

Singkat cerita, semua orang yang tadinya sangat terlihat geram menjadi sibuk 
menolong sang ibu yang pingsan. 

Demikian untuk sementara  lanjutan tulisan pengalaman ini, berikutnya akan saya 
lanjutkan dengan pengalaman lain. Sedangkan kesimpulan pribadi saya akan saya 
sampaikan pada akhir tulisan nanti. 

Salam,
r.a


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke