Bung RA yth. Huuuuhhh, agak sasak angok mambaco tulisan iko. Nampakno itu alah
abih puncak kasabaran sang ibu nan manahan ragam. Mulai agak jaleh asal mu asal
pangka bala yaitu keretakan rumah tangga dan pai no ayah. Kali ayah alah babini
pulo. Takana pulo carito ajo suryadi nan ditingga ayah sajak bayi merah.
Hanifah yakin, doa urang tuo salalu manyertai sang anak, tak peduli nakalnya
minta ampun. Buktinya di sekolah tetap sukses. Ini rupanya yang dimaksud,
cahaya hati berkurang jernihnya karena pengaruh kota jakarta. Mulai terkuak apa
maksudnya ketika mau masuk tutuplah pintu ... ??? . Bung RA, nanti terjemahin
juga puisi tsb ya. Maaf kalau salah tebakan uni. Wass. Hanifah
ricky avenzora wrote:
> Dear Rangkayo Hanifah serta Majelis RN Yang Mulia, Sebagaimana telah saya
> sampaikan pada bagian 1 terdahulu, maka cerita berbagi pengalaman ini
> adalah TIDAK UNTUK MENGHAKIMI . " Ibu Indak Paralu Baranak Waang Doh!" Pada
> tahun 92, dalam perjalanan dinas ke suatu daerah, suatu hari saya mampir ke
> rumah seorang kawan. Saat itu ternyata di rumah kawan tersebut sedang terjadi
> persiapan pesta pernikan salah seorang anggota keluarganya. Banyak orang
> berkumpul, termasuk para bundo kanduang yang dari usia beliau-beliau
> nampaknya setidak-tidaknya tergambar ada 4 generasi. Ketika para bundo
> kanduang sedang MAOTA sambil bekerja, tiba-tiba datang seorang laki-laki
> dewasa berpakain parlente lengkap dengan dasi yang masih tergantung rapi di
> leher. Lelaki parlente tersebut adalah anak dari salah seorang bundo kanduang
> yang sedang maota sambil bekerja
> bersama tersebut. Sang anak lelaki masuk dari luar, dan kira-kira 3 langkah
> setelah memasuki pintu, maka terjadi percakapan berikut. Sang anak : "Kok
> lama sekali Ibu di rumah orang, ....kan Ibu gak boleh terlalu capek
> (lelah),.....ngapain Ibu bekerja di sini". Suara laki-laki parlente
> tersebut seperti petir ditengah hari bolong yang membuat semua orang
> terperangah dan bermerah muka. Satu-dua orang seperti hampir lepas kendali
> mendengar suara yang tanpa basa-basi dan sangat dominan tersebut. Ibu : "Apo
> kecek waang, nak?" Sang Anak : "Mangaa Ibu karajo di tampek urang ko?".
> Rupanya sang anak masih sangat fasih berbahasa Minang, dan semua yang hadir
> semakin
> jengah dan tampak susah menahan diri atas sikap sang lelaki parlente
> tersebut. Ibu : "Astagfirullah,.......ruponyo alah indak batulang lidah
> waang yo". "Tagak waang di sinan, jaan manggarik,....dan dangakan
> apo yang akan ibu sabuikan,.....bia lah tadanga dek urang sadonyo"
> Sang Ibu berdiri, menghadap lurus pada anaknya sambil menatap tajam mata sang
> anak dan menunjuk anaknya dengan telunjuk yang sangat lurus ke arah anak
> lelaki nya tersebut. Ibu : "Ba puluah tahun sorang sajo Ibu manggadangkan
> waang sadonyo sasudah bapisah jo ayah waang adolah untuak waang
> bisa jadi urang" "Jo dasi di lihia waang tuh nampaknyo
> sampai kini alun jadi urang juo waang yo". "Iko indak rumah urang
> bagai ko doh, iko rumah dunsanak den ko mah, ...Ibu dan niniak den
> sadang ado pulo di siko" "Dulu den jadi anak Ibu den, dan dulu pulo
> den badunsanak den dari pado aden punyo waang" "Pulang
> lah waang nak, indak usah waang japuik-japuik den di siko, Ibu indak
> paralu baranak waang doh....." Suara sang Ibu mulai melemah dan pingsan.
> Singkat cerita, semua orang yang tadinya sangat terlihat geram menjadi sibuk
> menolong sang ibu yang pingsan. Demikian untuk sementara lanjutan tulisan
> pengalaman ini, berikutnya akan saya lanjutkan
> dengan pengalaman lain. Sedangkan kesimpulan pribadi saya akan saya
> sampaikan pada akhir tulisan nanti. Salam,
> r.a
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---