Assalamu'lamualaikum dunsanak
Dari millis sabalah, ada carito yang mungkin bisa dijadi paranungan untuk awak 
basamo, zi minta maaf kalo ada doble posting.

Semoga bermanfaat
by
Zie,(female, 27, yogya)


Artikel: Kegundahan Kita Akan Masa Depan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Ketika kecil dulu, kita ditanya; `kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?' Dan 
setelah kita besar, kita menanyakan hal yang sama kepada para anak kecil. Namun 
sebenarnya, orang dewasa seperti kita ini pun masih mengajukan pertanyaan itu 
kepada diri sendiri. Hanya saja, dia sudah berubah bunyi menjadi; `besok saya 
akan menjadi apa?'. Mungkin kita merasa sudah memiliki jawaban itu. Mungkin 
juga tidak. Yang jelas, orang-orang yang rajin merenung tidak pernah berhenti 
menanyai diri sendiri dengan sejumlah pertanyaan seperti itu. Apakah Anda juga 
mengalami hal itu?  

Seyogyanya, memang pertanyaan-pertanyaan itu terus hidup dalam diri kita untuk 
memastikan bahwa proses pendewasaan diri ini tidak berhenti. Mengapa mesti 
begitu? Karena, kita percaya bahwa ciri hidup adalah terus berjalannya proses 
pendewasaan diri. Sehingga, kita tidak terburu-buru mengklaim diri sebagai 
manusia yang sudah mencapai kedewasaan yang sempurna.  

Akan tetapi, kadang-kadang pertanyaan itu lebih beraroma kegundahan daripada 
berirama perjalanan menuju kedewasaan. Kita sering merasa gundah dengan masa 
depan. Lantas bertanya-tanya; akan menjadi seperti apakah masa depan kita 
gerangan? Jika kita seorang karyawan, kita bertanya; "Apa yang akan terjadi 
setelah saya memasuki masa pensiun nanti?" Bahkan tak jarang pertanyaan itu 
bergegas menjadi;"Apakah saya bisa lolos dari gelombang PHK ini?" 

Para pengusaha dan pekerja mandiri pun tidak kurang gundah. Dan mereka 
bertanya;"Apakah masih ada peluang bagi usaha saya sepuluh tahun lagi?" Bahkan 
tak jarang pertanyaan itu bergegas menjadi; "Apakah bulan depan saya masih akan 
mendapatkan order lagi?". 

Pendek kata, semakin jauh kita memandang kedepan, semakin samar gambaran yang 
bisa kita temukan. Bahkan, dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini; 
masa depan yang dekat pun menjadi tidak terlampau jelas terlihat. 
 
Sore itu, layar pesawat televisi saya dirubungi begitu banyak semut. Sehingga, 
gambarnya menjadi tidak kelihatan. Setelah channel dan kabelnya diotak-atik pun 
semut-semut itu tidak hendak beranjak pergi. Namun, ketika saya melihat keatas 
genteng, ternyata posisi antenna TV itu sudah bergeser; hingga arahnya 
berlawanan dengan posisi selama ini. Ajaibnya, ketika arah antenna itu 
diperbaiki; seketika itu juga para semut elektronik itu kabur menyisakan 
tampilan layar kaca yang jelas, jernih, lagi bening.

Saya tercenung sejenak dan bertanya dalam hati; mungkinkah masa depan manusia 
juga memiliki sifat sedemikian? Maksud saya, mungkinkah kita bisa melihat masa 
depan dengan lebih jernih seperti gambar pada pesawat televisi itu kini? 
Antenna itu memberi saya inspirasi bahwa masa depan kita juga bisa menjadi 
lebih cerah dan lebih indah seandainya kita bisa memposisikan antenna diri kita 
kearah yang tepat. Hari itu, hati saya kembali lega. Karena ternyata; kesuraman 
gambaran masa depan ini disebabkan  karena kita tidak mengarahkan antenna jiwa 
kita kearah yang tepat. Seandainya kita mengarahkan antenna itu kearah yang 
seharusnya; mungkin kita bisa terhindar dari gambar samar itu. 

Pertanyaannya adalah; perangkat seperti apakah yang bisa kita gunakan untuk 
menjadi antenna bagi diri kita? Otak dengan daya pikir yang kita milikikah? 
Mungkin. Sebab, selama ini sudah terbukti otak mampu menyelamatkan kita dari 
berbagai krisis yang kita hadapi. Otak juga mempunyai kemampuan analisis yang 
begitu tinggi sehingga kita bisa memprediksi masa depan. Membuat 
rencana-rencana strategis jangka panjang. Dan, mengkalkulasikan resiko-resiko 
yang mungkin menghadang selama dalam perjalanan. 

Tapi hey, ada banyak bukti sifat destruktif ketika kita terlampau banyak 
mengandalkan otak. Hitung-hitungan matematis yang dihasilkannya sering 
melupakan aspek kemanusiaan dan keadilan. Bahkan, tak jarang otak menasihatkan 
untuk melakukan sesuatu `for whatever it takes…..'. Oleh karena itu, otak tidak 
terlampau peduli jika tindakan yang kita lakukan merugikan orang lain. Atau 
melanggar aturan. Atau mengesampingkan nilai-nilai kesusilaan. Kalau begitu, 
mungkin bukan otak yang bisa menjadi antenna kita.

Lantas apa? Adakah `sesuatu' yang bisa menyeimbangkan kinerja otak dalam diri 
kita? Mungkin kita ingat bahwa ketika otak mengatakan sesuatu, hati kita 
berkata; "tunggu dulu, itu bukan tindakan yang baik…."  Jika demikian, 
mungkinkah hati yang bisa menjadi antenna diri kita itu?  Yang jelas, kita 
mendengar bisikan-bisikan suci melalui telinga batin didalam hati. Bukan dengan 
telinga lahir kita. Sebab, sekalipun semua orang disekeliling kita menasihatkan 
kebenaran, jika telingan batin kita tertutupi; kita hanya menganggap seruan 
akan bebajikan sekedar angin lalu. Yang masuk dari telinga kanan, dan keluar 
lagi melalui telinga kiri. Sebaliknya, sekalipun disekeliling kita berseliweran 
panggilan-panggilan untuk melakukan beragam kebathilan, namun ketika telinga 
batin kita difungsikan; kita masih bisa menemukan bisik suci yang menjaga kita 
untuk tidak tergoda. 

Jadi, mungkin memang hatilah yang bisa digunakan untuk menjadi antenna diri itu 
ya? Sebab, ketika hati kita bisa menangkap gelombang penghiburan yang Tuhan 
kirimkan, sekujur tubuh kita kemudian bisa terbebas dari segala kegundahan akan 
masa depan. Lalu perasaan batin kita menjadi tenang. Persis seperti yang pernah 
dikatakan oleh Sang Utusan; "Wahai para pemilik jiwa yang tenang. Pergilah 
engkau keranah kasih sayang Tuhan. Maka jadilah engkau hamba-hamba Tuhan. Dan 
masuklah engkau kedalam tempat terbaik yang telah Tuhan janjikan……"  Semoga.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 
Business Administration & People Development 
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio 

Catatan Kaki: 
Tuhan tidak mungkin mengabaikan orang-orang yang bekerja dengan 
bersungguh-sungguh. Sehingga wajar, jika setelah semua upaya terbaik kita 
ditunaikan; kita menyerahkan segala urusan kepada Tuhan.

Jika Anda membutuhkan free artikel untuk MADING di Kantor, silakan hubungi kami 
japri dengan subjek: "Artikel Mading" ke dkadarus...@...

--- End forwarded message ---


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke