cerpen:
Peti Ayah dan Tiga Puluh Satu Tahun Setelah Itu
function Big(me)
{
me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;
}
function Small(me)
{
me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;
}
Karya Andi Cakra Abbas
Minggu, 29 Maret 2009 | 03:45 WIB
Farizal Sikumbang
Tiga puluh satu tahun silam, dari tahun kutulis cerita ini, aku memang ingat,
tanpa sengaja, ayah menemukan sebuah peti besi seukuran kardus mi instan. Kala
itu ayah menggali tanah di belakang rumah dengan hasrat menanam sebatang pohon
pisang batu. Ketika galian telah sedalam betis ayah, kami mendengar bunyi
berdentang keras ketika beliau mengayunkan cangkulnya. Dengan penuh heran ayah
mengurik tanah berlubang itu dengan sebelah tangannya. Ayah merasakan sebuah
benda keras. Di akhir cerita, ayah berhasil mengangkat peti dari tanah yang
digalinya itu. Peti besi itu telah berkarat, termasuk gemboknya. Kalau tak
salah, usiaku kala itu sebelas tahun. Aku menemani ayah menanam batang pisang
batu itu.
Tapi ayah tak membolehkan aku melihat di saat beliau membukanya. Hanya beberapa
kata yang terlontar dari mulut ayah, yang kuingat, ”Astaga. Tak salah.
Benar-benar tak punya perasaan,” demikian kata ayah dengan muka merah dan pucat.
”Jangan kau beri tahukan penemuan ini pada ibumu. Berjanjilah kau buyung? Kau
maukan?” kata ayah lagi.
”Tapi apa isinya, Ayah?”
”Tak bisa Ayah jelaskan. Berjanjilah. Berjanjilah!” Ayah mengguncang-guncang
bahuku.
Dengan cemas, aku mengangguk.
”Iya. Iya,” jawabku gugup.
Ayah lalu menggendong peti itu jauh ke luar pekarangan kami. Sekejap tubuhnya
lalu hilang di balik rimbun pohon-pohon.
Sebelum kutuntaskan isi cerita ini, baiklah, akan aku ceritakan dulu riwayat
keluarga kami. Ibu meninggal lima tahun yang lalu akibat sakit di perutnya yang
tak kunjung usai selama tiga hari. Sedangkan ayah meninggal dua minggu yang
lalu dengan tenang di tempat tidurnya. Aku memiliki seorang kakak laki-laki,
yang kelak menjadi masalah dalam cerita ini. Namanya Samsudin. Usianya terpaut
empat tahun. Tapi sebenarnya, sebelum Samsudin, sebenarnya aku punya kakak
perempuan. Namun sayang, di saat usianya baru sepuluh bulan, dia meninggal
karena muntah-muntah. Setelah meninggal, ayah dan ibu baru tahu bahwa dia kena
palasik. Ayah dan ibu lalu menyesali kematian kakak perempuanku itu sepanjang
hari. Tapi yang sangat terpukul atas kematian kakak perempuanku itu adalah ayah.
Sampai beliau meninggal, ayah masih sering menyebut nama kakak perempuanku itu.
Aku pun menyesali kematian kakak perempuanku itu. Sebab, dalam adat kami, harta
pusaka sebenarnya dicurahkan buat yang perempuan. Dan ayah mewarisi kami sawah
dan ladang yang berjumlah sepuluh petak. Tapi, bukan, bukan sawah ayah
sebenarnya. Sawah itu milik ibu yang diperolehnya dari pembagian harta dari
pihak nenek. Ayah hanya menggarapnya karena tak punya pekerjaan lain.
Sebenarnya, tak pernah terlintas di ingatanku kembali akan peristiwa tiga puluh
satu tahun yang lampau itu, yakni ketika ayah menemukan sebuah peti sebesar mi
instan itu. Tapi, kakakku, Samsudin, satu minggu setelah kepergian ayah,
mempertanyakan soal peti itu. Mulanya aku heran, bagaimana ia tahu?
Oh ya, sebelum kulanjutkan cerita ini, ada baiknya sedikit kujelaskan dulu
perihal kakak laki-lakiku itu. Dia kakakku satu-satunya. Kata ayah, dia
laki-laki pendosa. Sebab, sewaktu sekolah es-em-a, kerjanya suka menyabung
ayam, main domino, serta suka pulang tengah malam. Dia tidak suka dinasihati.
Setelah menikah, ia bekerja menjadi calo tiket bus angkutan kota. Sekarang
anaknya sudah lima. Tetapi, kata ayah, bulan-bulan belakangan sebelum beliau
meninggal, ia rajin minta uang pada ayah. Kata ayah lagi, yang membuat aku
kaget, dan tak pernah kusangka, ia telah menjadi anggota caleg sebuah partai.
”Semakin hari aku mengkhawatirkan keadaannya. Aku takut, jika aku meninggal,
akan dijualnya harta ini,” kata ayah.
”Berdoa sajalah, Yah. Mana tahu ia benar-benar dapat kursi di anggota dewan.
Itukan juga membuat kita senang, dan otomatis hidupnya akan sejahtera.”
”Tapi setiap ia kemari. Kerjanya minta uang saja. Pusing kepala ayah dibuatnya.
Katanya untuk upah poster fotonya biar bisa dipajang di sepanjang jalan. Buat
kalender yang ada fotonya untuk dibagikan pada orang sekampung. Stiker. Dan
entah apalagi. Aku heran, kenapa partai itu mau menjadikan ia anggota caleg.
Apa tak ada orang lain.”
”Entahlah Yah. Aku tak mengerti soal itu. Aku bukan orang partai. Politik pun
aku tak mengerti.”
”Ya, ya. Kau memang pantas jadi guru ngaji saja. Politik itu rumit. Ayah harap
kau tak mengikuti jejak kakakmu itu. Anak celaka.”
Mungkin memang benar kata ayah bahwa politik itu memang rumit, seperti kakakku
itu yang tiba-tiba saja seperti orang sakit. Betapa tidak, empat hari setelah
kepergian ayah, tanpa minta persetujuan dariku, ia menjual lima petak sawah
peninggalan orangtua kami.
”Mengapa Uda tak pernah minta persetujuan dariku,” tanyaku marah usai ia
beritahu soal itu.
”Aku rasa itu tak perlu Pak Guru Ngaji,” jawabnya tersenyum seperti mengejek.
”Yang lima petak itu bagianku. Dan lima petak yang masih tersisa itu kini
milikmu. Adil bukan?”
”Bukan soal itu. Ini masalah harta pusaka yang dijual.”
”Hei buyung,” katanya meninggi. ”Pasang otakmu. Itu lebih baik dijual. Pikirkan
olehmu, apa kita punya saudara perempuan, he. Kalau tidak dijual, kelak jika
kita berdua telah mati, siapa yang akan mewarisinya. Anak-anak kita? Ah, itu
tak mungkin. Orang sesuku kita tentu akan marah. Kalau tidak dijual tentu anak
etek atau cucunya yang nanti mengambilnya. Padahal, mereka kan sudah ada
pembagian dari etek. Kau mengerti maksudku?”
Mendengar penjelasan kakakku tentang itu, aku tak bisa membalasnya. Kalau
dipikir, memang begitulah jadinya. Harta pusaka akan menjadi petaka bila tak
punya saudara perempuan di negeri Minang ini.
Dan seperti yang telah kujelaskan tadi, satu minggu setelah kepergian ayah,
kakak laki-lakiku itu mendatangiku lagi. Ia menanyakan soal peti itu.
”Jadi, di mana peti itu. Kau harus membagi dua denganku. Aku tahu ayah teramat
sayang padamu hingga tentang peti itu aku tak diberitahunya.”
”Peti? Peti apa,” tanyaku heran pada mulanya.
”Jangan kau berlagak tak tahu. Kau ingin menguasai sendiri ya. Kau jangan
berdusta. Kau tahu sekarang aku butuh uang untuk kampanye. Aku ini anggota
caleg. Aku butuh biaya besar.”
”Uda kan baru saja menjual tanah? Apa uang itu sudah habis.”
”Hei uang lima puluh juta itu mana cukup. Aku harus memberi uang untuk tim
suksesku. Biaya sumbangan buat orang sekampung. Belum ini dan itu. Kuharap kau
pahamlah.”
”Tapi, aku tak tahu soal peti itu.”
”Hei, apa kujual saja rumah peninggalan pusaka itu, ha. Biar habis semuanya.
Biar peti itu buatmu dan rumah itu buatku.”
”Tunggu dulu,” kataku. ”Tolong Uda jelaskan, peti apa yang Uda maksud.”
”Kau ingat tiga puluh satu tahun yang lalu? Saat kau dan ayah menemukan sebuah
peti sebesar kardus mi instan di belakang rumah?”
”Tiga puluh satu tahun yang lalu?”
Aku mengerutkan kening.
”Ya, ya. Aku mulai ingat. Dari mana Uda tahu?”
”Aku melihat ayah melarikan peti itu. Ia bersamamu kan?”
”Lalu, untuk apa Uda tanyakan tentang peti itu?”
”Jangan berlagak tak tahu. Tentu peti itu banyak emasnyakan?”
”Emas?”
”Ya. Bukankah orang tua-tua dulu suka menyimpan emasnya dalam peti?”
”Tapi aku tak tahu soal peti itu,” kataku.
Hari itu Uda Samsudin memarahiku. Ia terus berulang kali menanyakan soal peti
itu di rumahku. Dan hari itu juga, setelah tiga puluh satu tahun lamanya, aku
harus mengingat kembali peristiwa itu.
Dengan rasa penasaran, besok paginya aku mendatangi rumah kami. Rumah pusaka
peninggalan ayah dan ibu. Aku penasaran tentang peti itu. Sungguh, aku tak tahu
di mana ayah menyimpannya. Apakah ayah menanamnya kembali atau disimpannya di
tempat lain? Aku memang tidak tahu pasti.
Sesampai di rumah, aku memeriksa tempat-tempat penyimpanan barang ayah. Dari
almari, tempat penyimpanan foto serta barang-barang kesukaan ayah. Dari semua
itu, aku tidak menemukan petunjuk tentang peti itu. Aku putus asa.
Tapi sewaktu aku memeriksa di bawah tempat tidur ayah, aku menemukan buku
agenda. Usianya mungkin sudah bertahun-tahun. Kertasnya sudah agak menguning.
Isinya pertama aku menemukan catatan tentang uang pengeluaran ayah. Uang beli
semen, pasir, belanja pupuk. Dan, entah kali ke berapanya aku membolak-balik
isi agenda itu, aku akhirnya menemukan petunjuk tentang peti itu. Begini isinya:
Sampai usiaku lima puluh tahun, aku masih sering meratapi kematian anak
perempuanku itu. Aku sangat menyayanginya. Mungkin karena aku tak punya saudara
perempuan. Aku telah menyiapkan barang-barang permainan buatnya, juga baju yang
indah. Tapi, Tuhan mengambilnya. Aku lalu mengemasi barang-barang itu dalam
sebuah peti. Biar barang itu akan abadi bersamanya. Tapi, istriku memang
keterlaluan. Ia membuang peti itu entah di mana. Ia tidak memberitahuku di mana
dibuangnya. Tapi suatu hari aku menemukannya, ia menguburnya di belakang rumah
rupanya.
Aku terus membolak-balik isi buku agenda itu. Tapi aku tak menemukan kalimat
lain tentang peti itu kecuali perihal tentang surat-surat uang masuk dan uang
pengeluaran ayah.
Dengan tersenyum, aku lalu melipat buku agenda ayah itu. Aku berjanji, siang
nanti aku akan menemui Uda Samsudin di rumah istrinya. Ya, aku akan memberikan
agenda itu padanya. Biar ia tahu tak ada emas di dalamnya.
Padang 2009
Keterangan
1. etek > adik ibu
2. palasik > penyakit yang biasanya menyerang anak-anak yang diakibatkan oleh
orang tertentu dengan cara mengisap darah anak-anak secara tidak langsung
3. caleg > calon anggota legislatif
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---