Assalamualaikum sanak palanta, Sato ciek, setiap indvidu berbeda begitu juga cara kerja alam fikirannya... kemudian datang adat budaya dan agama serta lingkungan tempat dia tumbuh dan berkembang datang memberi warna terbentuklah character si manusia tadi yang tak akan jauh berbeda dengan kelompok lingkungannya, sopan santun penuh tenggang rasa dan sebagainya itu dari segi baiknya tapi dunia ini juga tak lepas dari sisi yang kurang baik.... Tidak mungkin bagi si Minang yang 100 persen Islamnya bila tiba waktu sholat. langsung menggelar tikar tak perduli diterminal atau jalan raya langsung sholat. Tapi bagi bangsa lain yang juga umat ciptaan Tuhan dan beragama yang sama dengan kita bisa saja mereka tak perduli dengan orang lain. Tak pula saya ingin beragumentasi dengan dunsanak palanta ini... saya hanya ingin menambah kaya wacana ini...kalau kita tidak pernah tahu kelemahan kita, kita tak akan pernah maju... tak perlu perbaikan everything is perfect. padahal yang benar itu adalah Allah Saya hanya mengajak janganlah kalau buruak itu personal, kalau rancak itu awak sadonyo...yang buruak diperbaiki yang rancak di parancak.. sadonyo awak happy... Wassalam
Zulkarnain Kahar 50+th seharusnya bukan itu yang saya lakukan kemarin...kalau saya tahu ini kemarin --- On Tue, 4/14/09, Evy Nizhamul <[email protected]> wrote: From: Evy Nizhamul <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Merantau ke Deli: Lelaki Minang dalam Memori... Baa ? To: [email protected] Date: Tuesday, April 14, 2009, 10:11 PM Assalamualaikum, wr. wb Saya sangat setuju dengan pendapat Sanak Arnoldison, bahwa dalam kisah roman yang nyata atau fiksi sekalipun yang terjadi adalah disebabkan perilaku personal individu yang bersangkutan. Memang tidak kita pungkiri bahwasanya setting dari ceritanya dikaitkan dengan lingkungan dimana pelaku itu berada. Tentulah seorang penulis - akan menitipkan ajaran moral bagaimana selayaknya seseorang betindak sesuai dengan faham atau tidak dikatakan falsafah yang dianutnya. Kita memang tengah mengamati ragam dunia saat kini - bahwa didalam kehidupan moderen (kata mereka ...), bahwa unsur materi lebih berkuasa dari pada adat dan agama. Sehingga sering kita melihat - bahwa kita orang minang - termasuk juga etnis lainnya, melihat kejanggalan yang terjadi. Mereka melakukan perbuatan diluar ke - pakem - an (aturan adat atau tradisi) dan bahkan bertentangan dengan adat dan agama. Bagi saya -kedudukan dan peran lelaki minang - tidaklah mesti dipertentangkan dalam sistem matrilinial. Barangkali saja, bila terjadi kisah-kisah ketidak harmonisan didalam kedudukan dan peran lelaki minang, sesungguhnya dikarenakan ketidak mampuan lelaki minang dalam menjaga keseimbangan dalam kehidupannya sebagai seorang lelaki, yaitu : sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai ninik mamak di keluarga bahkan orang yang berada diluar keluarga suaminya (sumando). Bagi yang bisa menjaga keseimbangan itu - dijamin bahwa lelaki minanglah yang paling unggul dalam segala hal. Suaranya didengar - jauh dari berkeluh kesah. Tulisan ini adalah hasil diskusi saya dengan suami.. Terlebih dan terkurangnya - mohon dimaafkan. Wassalam, Evy Nizhamul bt Djamaludin (Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang) http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On Tue, 4/14/09, Arnoldison <[email protected]> wrote: From: Arnoldison <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Merantau ke Deli: Lelaki Minang dalam Memori... Baa ? To: "Sutan Sinaro" <[email protected]> Date: Tuesday, April 14, 2009, 9:03 PM Maaf ambo pakai bahasa Indonesia, Kalau membaca roman-roman yang berlatar belakang adat, tak jarang menimbulkan salah tafsir tentang adat, terkesan penyebabnya adalah adat, contoh yang paling popular kisah Siti Nurbaya, hampir dipastikan pembacanya mengambil kesimpulan bahwa penyebabnya adalah adat, dan lupa bahwa nasib tragis Siti Nurbaya adalah akibat kekalahan dalam persaingan bisnis dari orang tuanya, semata-mata problem ekonomi bukan persoalan adat. Sekarang ini pernikahan berlatar belakang kepentingan bisnis sering terjadi tanpa menimbulkan tragedi 'Siti Nurbaya'. Begitupula dalam roman merantau ke Deli, letak permasalahannya adalah 'personal character' yakni akhlak Marihatun, yang menyebabkan rusaknya harmonisasi hubungan rumah tangga. Kalau setting cerita dirubah dengan merubah kharakter Marihatun yang kooperatif, hemat, faham posisi suami, mungkin akhir cerita akan lain. Apakah ajaran adat itu yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan bertentangan dengan ajaran agama, atau hanyalah disebabkan oleh perilaku personal individu yang menyimpang yang sebetulnya tidaklah ada adat yang mengajarkan demikian Kalau sekarang berkembang budaya diluar agama dan adat, artinya agama dan adat itu yang 'kalah' sehingga tidak dipakai lagi sebagai alat ukur perilaku, bukan disebabkan karena pertentangan antara adat dengan agama. Kalau boleh saya katakan, bahwa novel novel hamka berhubungan dengan akhlak manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya dalam latar belakang budayanya. Arnodison Tuesday, April 14, 2009, 3:15:56 PM, you wrote: SS> Jadi baa kesimpulannyo Son ?. SS> Baa urang kilaki Minang ko mustinyo ?. SS> Nan ma nan ka dituruik ?. SS> Adaik ? atau Islam ?. SS> Kalau diambo, adaik ko kok indak disandakan ka Islam, ...nyo lapuak. SS> Caliak se lah kini ?, baa kurenah rang Minang, ... nan paralu pitih, SS> Bak kecek Elly kasim jo Tiar Ramon,... iko ragam duya... SS> nan dek pitih sagalo jadi, SS> kok tibo di tanah lakuang,... dek aia indak tatimbuni.. SS> Adaik nan ndak lakang dek paneh ndak lapuah dek ujan, SS> Kini lah lakang dek paneh, lah lapuak dek ujan,... SS> Ujan tarian streptease jo organ tunggal... SS> Paneh dek indonesian idol dan segala macamnya... SS> Bakaja-kaja jadi caleg... SS> Kanai galodo dek musik seronok... SS> Nan ma jalan ka ditampuah ?... SS> SS> NB: Maaf Da Syamsir (Mak ngah) di santa kuruih, jo sidang palanta kasadonyo, SS> ... indak mambelokkan carito lamak tantang urang bunian ko doh... SS> eh.. nan ambo suko pulo tun, curito urang bunian tun. :) SS> SS> Wassalam SS> SS> St. Sinaro SS> SS> --- On Mon, 4/13/09, Arnoldison <[email protected]> wrote: SS> Merantau ke Deli: SS> Lelaki Minang dalam Memori SS> Oleh Nelson Alwi SS> Sabtu, 5 Juli 2008 SS> DALAM roman-roman yang ditulis Hamka (1908-1981) selalu mengemuka SS> seluk-beluk "adat" dan "kebiasaan yang diadatkan", SS> yang pada SS> prinsipnya dipandang menghambat gerak langkah individu maupun SS> masyarakat, menuju kemajuan. Seperti dalam Merantau ke Deli (MkD), SS> yang secara tuntas menyorot seorang lelaki Minang yang ditakdirkan SS> menganut paham matrilineal (garis keturunan menurut ibu) dengan segala SS> kosekuensinya. SS> -- Best regards, Arnoldison mailto:[email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
