Wisata ke Taman
Nasional Gunung Halimun Salakoleh : Evy Nizhamul
Saya tidak menyangka bahwa ketika kami
berwisata ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak pada 2 tahun yang lalu sangat
berbeda
dengan lingkungan Taman Nasional lain– semisal Cibodas atau Gunung Pangrango.
Berdasarkan referensi dari seorang keponakan yang
masih duduk di bangku SMA, maka Kakak saya mendaftarkan diri untuk berkunjung
ke Taman Nasional itu dan memperoleh persetujuan 3 minggu sebelum kunjungan
kami. Segala
sesuatu tata cara untuk memasuki Kawasan, telah dijelaskan secara rinci oleh
pihak staf Balai – termasuk persedian makanan disana. Mereka akan menyediakan
juru masuk – apabila kami menginnginkannya.
Apa yang kami rasakan kala itu
sungguh luar biasa, karena kami tidak menyangka bahwa kami benar – benar masuk
hutan rimba. Kami berangkat menuju lokasi pada jam 08.00 pagi
dari masing-masing kediaman kami. Perjalanan dari Jakarta menempuh waktu
3 jam dengan jarak 125 km melalui rute perjalanan
Jakarta-Bogor-Parungkuda-Kabandungan. Akan tetapi karena masih ada satu
rombongan yang masih tersisa, maka
kami berkumpul di Parung Kuda hingga pukul 11.00. Di Parung Kuda
belok kanan menuju Kabandungan. Perjalanan
ketika mendekati Kabandungan, kami disuguhi suasana perbukitan dan kebun teh
sepanjang mata memandang.
Di Kabandungan
kami harus melakukan regristrasi dulu di Kantor TNGH, disana kami bertemu
dengan Pak Sartono seorang pegawai TNGH yang selalu memandu pengunjung ketika
melakukan trecking. Pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan ke
Stasiun Penelitian TNGH di Cikaniki, tempat Istirahat dan penginapan kami
nantinya.
Sebelum itu, kami
pun sudah memperoleh informasi bahwa sebaiknya tidak menggunakan kendaraan
jenis sedan, karena yang akan kami lalui sangat buruk. Semula saya masih
membayangkan bahwa jalan yang akan kami lalui seperti
jalanan di jalur lintasan Taman Nasional Hutan Seblat – Bengkulu.
Paling-paling jalannya sempit dan dipinggir jalan ada jurang yang menunggu.
apabila
pengemudi kendaraan tidak hati-hati..
Jarak
antara Kabandungan Cikaniki k.l
20 km, dan waktu
tempuhnya 2.5 jam. Pada
mulanya jalanan yang kami lalui beraspal tapi rusak berat, kemudian melintasi
area
perumahan penduduk, sawah-sawah yang hijau, sungai dll. Setelah itu, kami
melalui jalanan berbatu-batu. Si Apan terguncang hebat ketika roda menghantam
batu. Si blazer gagah perkasa jalannya. Si kijang mengangguk-angguk walau
kelihatan pengemudinya sangat lincah membelok – belokkan kemudi. Mitra saya
kelihatannya juga bernafsu
sekali dalam mengemudikannya
si Apan ini. Perjalanan selama 2,5 jam itu kami melalui tanjakan dan
kelokan berbatu yang besar-besar.
Kami membuka jendela mobil agar
dapat menikmati dedaunan di
hutan rimba itu dan menyerap kesegaran udara Halimun.
Jika kita tidak
menggunakan pemandu, lebih baik kita mempelajari dahulu peta jalur lokasi yang
akan dituju mengingat tidak ada petunjuk jalan, seperti rambu-rambu yang kita
temui pada jalanan umum. Bahkan ada jalanan yang tidak tentu arah karena berupa
tanah kosong atau lahan yang ditumbuhi semak belukar. Keadaan ini memang
disengaja, agar masyarakat
pendatang tidak menganggap jalan menuju kesana seperti kita berwisata ke Puncak
saja. Saya tidak perlu menyebutkan berapa lama – kami berkendaraan kesana,
namun yang kami rasakan bahwa badan kami sungguh pegal dan linu diguncang
mobil.
Bolehlah saya membayangkannya bahwa
dalam rombongan kami, ada sepasang orang tua yang sudah sepuh dan setiap saat
menanyakan jarak dan lama perjalanan. Bagi kami dan para anak remaja/ABG, terasa
nuansa adventure didalam perjalanan kami kala itu.
Perlu
saya ceritakan disini bahwa TNGHS berawal dari kawasan Cagar Alam
Gunung Halimun (CAGH) 40.000 ha. Sejak tahun 1935, kawasan ini pertama kali
ditetapkan menjadi
salah satu taman nasional, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.
282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari 1992 dengan luas 40.000 ha. di bawah
pengelolaan sementara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman
Nasional Gunung Halimun (TNGH).
Kami tiba di Stasiun Cikaniki
pukul 14.30, setelah perjalanan off road
yang melelahkan dan membuat poros
tengah alias perut rombongan berkeruyuk minta di isi. Sudah menjadi tugas utama
dikeluarga
besar kami – si bungsu yang mengatur urusan logistic. Saya tidak menyangka
bahwa keluarga kakak saya tercinta tidak ada yang membawa bekal makanan selain
diri saya. Mereka menyangka bahwa perjalanan menuju Kawasan Hutan ini, mereka
akan menemukan warung – warung nasi yang untuk dijadikan tempat mengisi poros
tengah itu.
Alhasil logistic yang saya siapkan
berupa : rending, ayan, ikan asin balado patai, dan lain-lain menjadi menipis.
Saat itu yang terfikir oleh saya – kenyangkan perut – dan mari kita isi
kegiatan yang menarik di Kawasan Hutan ini.
Pengurus di Stasiun Cikaniki menceritakan bahawa ada air
terjun Cikudapae. Namun
jarak tempuh 4.5 km sekali jalan.
Pulang pergi sekitar 9 km.
Anak-anak ingin sekali untuk melakukan trecking masuk hutan. Dengan
perhitungan waktu yang sangat terbatas
kala itu, keinginan para remaja/ABG terpaksa dihalangi orang tua, termasuk
pemandu yang di Stasiun itu. Keinginan tinggalah keinginan, cuacanya
tidak mendukung. Untuk menuntaskan hasrat
yang menggebu, kami diantar
oleh petugas Curug Macan.
Jaraknya cukup
dekat, cuman 800 m, tapi jalannya lumayan berat.
Terus terang saya kalah bersaing
dengan kakak ipar yang sudah sepuh – yang tanpa dengusan napas berjalan santai –
menapaki jalan berbatuan tajam menuju Curug Macan itu. * Curug = Air terjun.
Suara air deras – bunyi binatang halus berupa serangga – bagi saya suasana itu
seperti dentingan harpa yang dipetik oleh seorang wanita cantik.
Disinilah suasana alam yang masih
asli – yang belum saya jumpai seumur hidup, kecuali orang “ Hutan” .. eh
kehutanan. Semua kami berbasah – basah. Berkuyup – kuyup – dingin – menggigil –
gigil karena kedinginan.
Sulit kami melupakan keharmonisan
keluarga besar kami – ada anak – anak kemenakan – ada ninik mamak – ada etek
–etek
yang terjalin dalam kebersamaan yang direnda dalam warisan hati nurani.
Selepas magrib, pemandu menjadwalkan
kami untuk berkunjung ke Jembatan
Tajuk (Canopy Trail). Jembatan gantung yang
menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, lebar 0,6 m dengan ketinggian
20–25 m dari atas tanah dilengkapi dengan tangga naik. Jembatan ini terletak
sekitar 200 m dari Stasiun Penelitian Cikaniki.
Pemandu menyatakan bahwa lokasi kami
berada adalah benar- benar hutan. Oleh karena itu sebelum menuju Jembatan
Tajuk, para pengunjung diwajibkan berdoa agar tidak mendapat marabahaya menuju
lokasi itu, walau jaraknya terbilang dekat.
Demikianlah, anak-anak
berpegang-pegang tangan menuju kesana. Jalan setapak yang kami injak basah.
Begitu juga bau daun – daun ditengah hutan itu. Disinilah surprise yang
diciptakan ketika kami menemukan beribu – ribu kunang-kunang bertebaran di
seputar kami. Benarkah ini seekor makhluk ? Saya tidak bisa menjelaskan lebih
detail – bahwa sesungguhnya kunang – kunang yang bertebaran itu hanyalah cahaya
yang berasal dari ranting-ranting yang bertebaran di seputar lokasi yang kami
kunjungi. Tentunya kalangan ahli biologi yang lebih lanjut akan menjelaskannya.
Bagaimana pengaruh pencahayaan dimalam hari yang terkesan gelap itu bisa memberi
penerangan dalam wujud kunang-kungan.
Hal inilah yang tidak habis –
habisnya saya berpikir hingga kami kembali lagi ke penginapan guna melanjutkan
kegiatan di malam itu.
Malam hari, saya kembali menjadi petugas logistic. Sisa rendang
tinggal 8 potong. Ayam 5 potong. Ikan asin petai balado – yang semula untuk
masakan
penyedap bagi para orang tua – juga sudah ludes. Untung masih ada mie instan 1
kardus. Saya mengupayakan kami tetap makan-makan besar dengan sisa rendang dan
ayam goreng
sisa siang hari. Akhirnya suasana “ dinner party” ditengah hutan belantara itu
tetap ada.
Mengisi kegiatan dimalam itu, anak-anak
bermain kartu, ngobrol. Tak terasa kami bangun hingga larut malam. Pada pukul
01.00
malam itu kami harus tidur, karena besoknya aka nada perjalanan yang
mengasyikkan yang akan kami lakukan. (bersambung…)
Terima kasih bagi yang sudah membaca. Ini sekedar perintang waktu . Barangkali
ada yang berminat kesana ?
Wassalam,
Evy Nizhamul
http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---