wa'alaikum salam ww,
uni Evy, kalau boleh tolonlah kirinkan ke saya ikan asin petai belado
itu ni. pas belum pergi makan siang jadi naik turun juga jakun-jakun
jadinya. ijan lamo-lamo bana mangirin sambuangannyo ndak ni buliah mak
tau pulo kito baa serunyo gunuang Halimun go.
 
wassalam
Batuduang Ameh (42)

________________________________

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Evy Nizhamul
Sent: Thursday, April 16, 2009 12:18 PM
To: milist wanita; milis rang minang
Subject: [...@ntau-net] Wisata ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak (1)



Wisata ke Taman Nasional Gunung Halimun Salak

oleh : Evy Nizhamul


Saya tidak menyangka bahwa ketika kami berwisata ke Taman Nasional
Gunung Halimun Salak pada 2 tahun yang lalu sangat berbeda dengan
lingkungan Taman Nasional lain- semisal Cibodas atau Gunung Pangrango.
Berdasarkan referensi dari seorang keponakan yang masih duduk di bangku
SMA, maka Kakak saya mendaftarkan diri untuk berkunjung ke Taman
Nasional itu dan memperoleh persetujuan  3 minggu sebelum kunjungan
kami. Segala sesuatu tata cara untuk memasuki Kawasan, telah dijelaskan
secara rinci oleh pihak staf Balai - termasuk persedian makanan disana.
Mereka akan menyediakan juru masuk - apabila kami menginnginkannya.  





Apa yang kami rasakan kala itu sungguh luar biasa, karena kami tidak
menyangka bahwa kami benar - benar masuk hutan rimba. Kami berangkat
menuju lokasi pada jam 08.00 pagi dari masing-masing kediaman kami.
Perjalanan dari Jakarta menempuh waktu 3 jam dengan jarak 125 km melalui
rute perjalanan Jakarta-Bogor-Parungkuda-Kabandungan. Akan tetapi karena
masih ada satu rombongan yang masih tersisa, maka kami berkumpul di
Parung Kuda hingga pukul 11.00. Di Parung Kuda belok kanan menuju
Kabandungan. Perjalanan ketika mendekati Kabandungan, kami disuguhi
suasana perbukitan dan kebun teh sepanjang mata memandang. 

Di Kabandungan kami harus melakukan regristrasi dulu di Kantor TNGH,
disana kami bertemu dengan Pak Sartono seorang pegawai TNGH yang selalu
memandu pengunjung ketika melakukan trecking. Pukul 12.00 kami
melanjutkan perjalanan ke Stasiun Penelitian TNGH di Cikaniki, tempat
Istirahat dan penginapan kami nantinya.  

Sebelum itu, kami pun sudah memperoleh informasi bahwa sebaiknya tidak
menggunakan kendaraan jenis sedan, karena yang akan kami lalui sangat
buruk.  Semula saya masih membayangkan bahwa jalan yang akan kami lalui
seperti jalanan di jalur lintasan Taman Nasional Hutan Seblat -
Bengkulu. Paling-paling jalannya sempit dan dipinggir jalan ada jurang
yang menunggu. apabila pengemudi kendaraan tidak hati-hati.. 





 
<http://i187.photobucket.com/albums/x191/djokosantoso/ngoceh/halimun08/b
ukit-bukit.jpg> 

Jarak antara Kabandungan Cikaniki k.l 20 km, dan waktu tempuhnya 2.5
jam. Pada mulanya jalanan yang kami lalui beraspal tapi rusak berat,
kemudian melintasi area perumahan penduduk, sawah-sawah yang hijau,
sungai dll. Setelah itu, kami melalui jalanan berbatu-batu. Si Apan
terguncang hebat ketika roda menghantam batu. Si blazer gagah perkasa
jalannya. Si kijang mengangguk-angguk walau kelihatan pengemudinya
sangat lincah membelok - belokkan kemudi. Mitra saya kelihatannya juga
bernafsu sekali dalam mengemudikannya si Apan ini. Perjalanan selama 2,5
jam itu kami melalui tanjakan dan kelokan berbatu yang besar-besar.
Kami membuka jendela mobil agar dapat menikmati dedaunan di hutan rimba
itu dan menyerap kesegaran udara Halimun.




 
<http://i187.photobucket.com/albums/x191/djokosantoso/ngoceh/halimun08/j
embatan.jpg> 

Jika kita tidak menggunakan pemandu, lebih baik kita mempelajari dahulu
peta jalur lokasi yang akan dituju mengingat tidak ada petunjuk jalan,
seperti rambu-rambu yang kita temui pada jalanan umum. Bahkan ada
jalanan yang tidak tentu arah karena berupa tanah kosong atau lahan yang
ditumbuhi semak belukar. Keadaan ini memang disengaja, agar masyarakat
pendatang tidak menganggap jalan menuju kesana seperti kita berwisata ke
Puncak saja. Saya tidak perlu menyebutkan berapa lama - kami
berkendaraan kesana, namun yang kami rasakan bahwa badan kami sungguh
pegal dan linu diguncang mobil.

Bolehlah saya membayangkannya bahwa dalam rombongan kami, ada sepasang
orang tua yang sudah sepuh dan setiap saat menanyakan jarak dan lama
perjalanan. Bagi kami dan para anak remaja/ABG, terasa nuansa  adventure
didalam perjalanan kami kala itu.




Perlu saya ceritakan disini bahwa TNGHS berawal dari kawasan Cagar Alam
Gunung Halimun (CAGH) 40.000 ha. Sejak tahun 1935, kawasan ini pertama
kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional, sesuai dengan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Pebruari
1992 dengan luas 40.000 ha. di bawah pengelolaan sementara Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun
(TNGH). 





 wisata/cikaniki.jpg<http://www.tnhalimun.go.id/gambar/fileimages/19/>
Kami tiba di Stasiun Cikaniki pukul 14.30, setelah perjalanan off road
yang melelahkan dan membuat poros tengah alias perut rombongan
berkeruyuk minta di isi. Sudah menjadi tugas utama dikeluarga besar kami
- si bungsu yang mengatur urusan logistic. Saya tidak menyangka bahwa
keluarga kakak saya tercinta tidak ada yang membawa bekal makanan selain
diri saya. Mereka menyangka bahwa perjalanan menuju Kawasan Hutan ini,
mereka akan menemukan warung - warung nasi yang untuk dijadikan tempat
mengisi poros tengah itu. 

Alhasil logistic yang saya siapkan berupa : rending, ayan, ikan asin
balado patai, dan lain-lain menjadi menipis. Saat itu yang terfikir oleh
saya - kenyangkan perut - dan mari kita isi kegiatan yang menarik di
Kawasan Hutan ini.

Pengurus di Stasiun Cikaniki menceritakan bahawa ada air terjun
Cikudapae. Namun jarak tempuh 4.5 km sekali jalan. Pulang pergi sekitar
9 km. Anak-anak ingin sekali untuk melakukan  trecking masuk hutan.
Dengan perhitungan waktu yang sangat terbatas kala itu, keinginan para
remaja/ABG terpaksa dihalangi orang tua, termasuk pemandu yang di
Stasiun itu.  Keinginan tinggalah keinginan, cuacanya tidak mendukung.
Untuk menuntaskan hasrat yang menggebu, kami diantar oleh petugas Curug
Macan. Jaraknya cukup dekat, cuman 800 m, tapi jalannya lumayan berat. 

Terus terang saya kalah bersaing dengan kakak ipar yang sudah sepuh -
yang tanpa dengusan napas berjalan santai - menapaki jalan berbatuan
tajam menuju Curug Macan itu. * Curug = Air terjun. Suara air deras -
bunyi binatang halus berupa serangga - bagi saya suasana itu seperti
dentingan harpa yang dipetik oleh seorang wanita cantik.




Disinilah suasana alam yang masih asli - yang belum saya jumpai seumur
hidup, kecuali orang " Hutan" .. eh kehutanan. Semua kami berbasah -
basah. Berkuyup - kuyup - dingin - menggigil - gigil karena kedinginan.

Sulit kami melupakan keharmonisan keluarga besar kami - ada anak - anak
kemenakan - ada ninik mamak - ada etek -etek yang terjalin dalam
kebersamaan yang direnda dalam warisan hati nurani.

 
penelitian/penelitian.jpg<http://www.tnhalimun.go.id/gambar/fileimages/2
7/> 

Selepas magrib, pemandu menjadwalkan kami untuk berkunjung ke Jembatan
Tajuk (Canopy Trail). Jembatan gantung yang menghubungkan antara
pepohonan sepanjang 100 m, lebar 0,6 m dengan ketinggian 20-25 m dari
atas tanah dilengkapi dengan tangga naik. Jembatan ini terletak sekitar
200 m dari Stasiun Penelitian Cikaniki.

Pemandu menyatakan bahwa lokasi kami berada adalah benar- benar hutan.
Oleh karena itu sebelum menuju Jembatan Tajuk, para pengunjung
diwajibkan berdoa agar tidak mendapat marabahaya menuju lokasi itu,
walau jaraknya terbilang dekat. 





Demikianlah, anak-anak berpegang-pegang tangan menuju kesana. Jalan
setapak yang kami injak basah. Begitu juga bau daun - daun ditengah
hutan itu. Disinilah surprise yang diciptakan ketika kami menemukan
beribu - ribu kunang-kunang bertebaran di seputar kami. Benarkah ini
seekor makhluk ? Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail - bahwa
sesungguhnya kunang - kunang yang bertebaran itu hanyalah cahaya yang
berasal dari ranting-ranting yang bertebaran di seputar lokasi yang kami
kunjungi. Tentunya kalangan ahli biologi yang lebih lanjut akan
menjelaskannya. Bagaimana pengaruh pencahayaan dimalam hari yang
terkesan gelap itu bisa memberi penerangan dalam wujud kunang-kungan.

Hal inilah yang tidak habis - habisnya saya berpikir hingga kami kembali
lagi ke penginapan guna melanjutkan kegiatan di malam itu. 





Malam hari, saya kembali menjadi petugas logistic. Sisa rendang tinggal
8 potong. Ayam 5 potong. Ikan asin petai balado - yang semula untuk
masakan penyedap bagi para orang tua - juga sudah ludes. Untung masih
ada mie instan 1 kardus. Saya mengupayakan kami tetap makan-makan besar
dengan sisa rendang dan ayam goreng sisa siang hari. Akhirnya suasana "
dinner party" ditengah hutan belantara itu tetap ada.

Mengisi kegiatan dimalam itu, anak-anak bermain kartu, ngobrol. Tak
terasa kami bangun hingga larut malam. Pada pukul 01.00 malam itu kami
harus tidur, karena besoknya aka nada perjalanan yang mengasyikkan yang
akan kami lakukan. (bersambung...)










Terima kasih bagi yang sudah membaca. Ini sekedar perintang waktu .
Barangkali ada yang berminat kesana ? 





Wassalam,


 <http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/tsmileys2/40.gif>   Evy
Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 

<http://www.ranahati-hyvny.blogspot.com/> 

<http://www.tambo-hyvny.blogspot.com/> 




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke