Bung Salim, Sungguh menarik perhatian saya, bahwa sudah lama JK mengirim sinyal bahwa beliau ingin tetap berpasangan dengan SBY, tentu sebagai Wapres. Namun SBY tidak pernah menyambutnya secara positif, sehingga JK kemudian [terpaksa] menerima dorongan dari internal PG untuk maju sendiri sebagai capres. Beliau menerimanya, dengan tampil di depan umum dengan tema-tema kampanye yang banyak sedikitnya menghujat gaya kepemimpinan Jawa dari SBY, yang mungkin akan sukar dilupakannya. Masalah tentu timbul setelah ternyata perolehan suara PG jeblok, jauh di bawah harapan Golkar sebanyak 30%, yang sudah barang tentu pula menempatkan JK bagai di atas bara panas: dari SBY tak ada sinyal untuk menerima kembali JK sebagai cawapres, sedangkan dari internal PG ada dua aliran: 1) kaum romantika, yang masih dengan menggebu-gebu meminta beliau tetap nyapres dan 2) kaum realis, yang mendorong untuk mengakui kenyataan bahwa PG tak punya kemampuan untuk itu. Dengan kata lain, kisah JK adalah bagaikan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Akan sangat menarik untuk memperhatikan langkah apa yang akan diambil JK untuk menjaga kehormatan dirinya. Dalam suasana ketidakpastian itulah bermainnya Megawati, Wiranto, Prabowo, Rizal Ramli, Akbar Tanjung, dan lain-lain 'presidential hopefuls' lainnya. Sekarang bola memang di tangan SBY. Melihat kecenderungan pemilih, SBY akan terpilih kembali dengan suara mayoritas, mungkin tak jauh dari 62% seperti yang diperolehnya dalam tahun 2004. Bagaimana dengan Megawati ? Wallahualambissawab. Tapi rasanya SBY adalah lawan yang terlalu tangguh untuk dikalahkan Megawati. Lagi pula, dalam pandangan saya, Megawati punya beban sejarah sebagai presiden yang teramat rajin menjuali asset negara,khususnya Indosat dan Telkom, dibantu oleh Laksamana Sukardi. [ Jangan lupa, juga kasus penjualan PT Semen Padang ke PT Semen Gresik dan ke CEMEX,S.A.]. Secara pribadi saya akan kembali memilih SBY. Kepada para capres dan mantan capres lainnya saya harapkan agar legowo. Pentas politik yang mereka tampilkan akhir-akhir ini sungguh tidak lucu.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] --- On Fri, 4/17/09, Salim Said <[email protected]> wrote: From: Salim Said <[email protected]> Subject: Cawapres SBY Bukan Ketua Umum Golkar To: "abdillah toha" <[email protected]>, "Agus Abubakar Arsal" <[email protected]>, "alfian alfan" <[email protected]>, "Ambardi Ambardi" <[email protected]>, "Amir Santoso" <[email protected]>, "azyumardiazra azra" <[email protected]>, "B.J. Habibie" <[email protected]>, "Christianto Wibisono" <[email protected]>, "DJAYADI HANAN" <[email protected]>, "Djoko Suyanto" <[email protected]>, "Donald Emmerson" <[email protected]>, "Dr.Saafroedin BAHARsaafruddin" <[email protected]>, "Farid" <[email protected]>, "François RAILLON" <[email protected]>, "Herlina Kalla" <[email protected]>, "Indria Samego" <[email protected]>, "Jowono Sudarsono" <[email protected]>, "M. Ichsan Loulembah" <[email protected]>, "makmur makka" <[email protected]>, "mangadang mangadangnapitupulu" <[email protected]>, "MaxSopacua MaxSopacua" <[email protected]>, "Mohamad Cholid" <[email protected]>, "Mohtarmasud MohtarMas'ud" <[email protected]>, "Rahadi Ramelan" <[email protected]>, "Rizalmallarangerng Mallarangengrizal" <[email protected]>, "saiful mujani" <[email protected]>, "saleh mude saleh mude" <[email protected]>, "Theo sAMBUAGA" <[email protected]>, "toriq hadad" <[email protected]>, "William Liddle 3" <[email protected]>, "YohannesSulaiman SulaimanYohannes" <[email protected]>, "Yuddi Y.Chrisnandi" <[email protected]> Date: Friday, April 17, 2009, 2:22 PM #yiv1946687672 .hmmessage P { margin:0px;padding:0px;} #yiv1946687672 { font-size:10pt;font-family:Verdana;} Dear All, Dua puluh empat sebelumnya saya mendapat info dari Jakarta yang menyebutkan SBY dan JK sudah sampai pada kesepakatan untuk berpasangan kembali dalam Pilpres mendatang. Tiba-tiba, pagi ini, saya membaca pernyataan Ruhut Sitompul (lihat berita di bawah) yang dengan jelas menolak Ketua Umum Golkar menjadi cawapres buat SBY. Pertanyaan Ruhut tsb tidak menolak koalisi dengan Golkar, cuma calon wapres dari Golkar bukan ketua umum. Mengingat kebutuhan PD/SBY untuk mendapatkan dukungan Golkar, pernyataan Ruhut ini haruslah dibaca sebagai sikap jelas SBY yang menolak JK kendati akan tetap merangkul Golkar. Tapi siapa lalu dari Golkar yang akan dipilihnya? Pertanyaan ini amat penting, sebab hampir bisa dipastikan SBY tidak akan mencari wapres di luar Golkar, mengingat Golkar adalah partai terbesar setelah PD yang diharapkan ikut mendukung SBY dalam koalisi yang sedang digagas. Satu tafsiran terhadap pertanyaan Ruhut Sitompul tsb adalah bahwa SBY yang akan menentukan siapa orang Golkar yang dikehendakinya menjadi wapresnya. Mengingat popularitas (elektibilitas) SBY yang tinggi serta kemenangan PD dalam pileg 9 April lalu, SBY memang berada dalam posisi memilih siapa saja yang dikehendakinya jadi wapresnya. Yang justru menghadapi dilemma adalah Golkar. Apakah partai peninggalan Orde Baru itu rela menerima perlakuan demikian dari SBY? Bisa saja Golkar menerima perlakuan demikian karena itulah satu-satunya jalan bagi Golkar untuk ikut dalam pemerintahan, mengingat watak partai tsb yang tidak punya tradisi menjadi partai di luar pemerintahan. Tapi Golkar juga bisa saja menolak. Sikap yang terakhir ini bisa muncul jika Golkar sadar bahwa SBY sebenarnya sangat memerlukan Golkar mendukung pemerintahan SBY nantinya, terutama ketika Megawai makin sibuk membangun koalisi menghadapi SBY. Maka makin penting dan makin menariklah kita amati perkembangan dalam diri Golkar hari-hari ini. Sebagai catatan tambahan, bisa disimpulkan bahwa pernyataan Ruhut merupakan angin segar bagi sejumlah tokoh Golkar , selain Ketua Umum, yang beraspirasi menjadi cawapres bagi SBY.Salah satu tokoh itu adalah Akbar Tanjung (AT) yang mempunyai punya cukup pendukung baik di dalam Golkar maupun di dalam PD. Selain AT, masih ada Surya Paloh,Agung Laksono, Sultan Hamengkubuwono X dan barangkali juga Ginanjar Kartasasmita.*** Cawapres SBY Bukan Ketua Umum Golkar [JAKARTA] Partai Demokrat menghendaki figur yang mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai cawapres nanti, meskipun dari Partai Golkar, namun bukan Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar. Hal ini dimaksudkan agar presiden dan wapres mendatang bisa lebih fokus mengurus pemerintahan, tidak terpecah konsentrasinya dengan urusan parpol. Demikian diungkapkan anggota Tim Sembilan Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, kepada SP di Jakarta, Kamis (16/4). Tim Sembilan merupakan tim yang dibentuk untuk menyiapkan dan mengkoordinasi strategi Partai Demokrat menyongsong pilpres 8 Juli nanti. Tim itu pula yang ditugasi memberi penilaian terhadap parpol yang diajak berkoalisi serta kandidat cawapres, meskipun keputusan akhir ada di tangan SBY. Tim Sembilan itu diketuai Hadi Utomo (Ketua Umum DPP Partai Demokrat), dengan anggota , yaitu Anas Urbaningrum, Hayono Isman, Andi Mallarangeng, Jero Wacik, Syarif Hassan, Marzuki Alie, Ruhut Sitompul, dan Yahya Sacawirya. Lebih lanjut Ruhut menjelaskan, partainya tetap menginginkan Golkar sebagai koalisi, dan berharap salah satu kadernya menjadi cawapres mendampingi SBY. Namun, dia memastikan kader Golkar yang menjadi cawapres bukan ketua umum. Disinggung apakah kriteria yang sama juga diterapkan untuk menteri di kabinet SBY kelak, dia mengatakan, kemungkinan ketua umum parpol menjadi menteri masih terbuka. "Tetapi sebaiknya ketua umum parpol juga jangan menjadi menteri," ujarnya. Ketika ditanya siapa saja yang berpeluang mendampingi SBY, Ruhut mengungkapkan, sampai saat ini ada sejumlah nama yang muncul, seperti Akbar Tandjung, Agung Laksono, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, dan Muladi. Selain itu, beberapa kalangan di Golkar juga mendorong Jusuf Kalla (JK) kembali mendampingi SBY. "Soal cawapres, biarlah SBY yang menentukan siapa yang senapas dengannya," kata Ruhut. Pada kesempatan itu, dia berharap adanya pengertian dari parpol-parpol yang sudah merapat ke Demokrat, seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), untuk merelakan posisi cawapres diisi kader Golkar. "Kita menginginkan pemerintahan yang kuat, didukung parlemen yang kuat pula. Kawan-kawan parpol lain mohon mengerti soal posisi cawapres ini," pintanya. Syarat Cawapres Sementara itu, Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie menegaskan, cawapres yang akan mendampingi SBY haruslah orang yang sepaham, sejalan, sepikiran, dan satu semangat dengan SBY. Selain itu, orang yang akan mendampingi SBY haruslah orang yang memiliki loyalitas dan integritas. "Syarat lainnya, orang yang tidak mendahului kebijakan-kebijakan SBY sebagai presiden. Artinya, jangan sampai sebuah kebijakan diambil dulu baru dilaporkan kepada SBY. Padahal yang diambil itu seharusnya merupakan kebijakan presiden," tegasnya. Dia juga menegaskan, tidak boleh ada "matahari kembar" dalam kepemimpinan nasional mendatang. "Sistem presidensial harus sama-sama dihargai. Itu harus disepakati terlebih dahulu. Apakah yang menjadi cawapres JK atau bukan, tidak masalah," ujarnya. Marzuki memastikan, figur yang dinilai memenuhi kriteria tersebut menjadi cawapres, akan ditentukan oleh SBY sendiri. Sikap Golkar Secara terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Muarif menilai, keinginan Partai Demokrat agar cawapres bagi SBY bukan ketua umum parpol, adalah sah. "Itu hak Partai Demokrat," katanya. Dia menjelaskan, berdasarkan hasil survei internal, Golkar memiliki tujuh nama yang dinominasikan menjadi capres atau cawapres. "Berdasarkan realitas politik, Golkar paling mungkin maju di posisi cawapres saja," ujarnya. Senada dengan itu, Ketua DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai juga menilai sah kriteria seperti itu. "Boleh-boleh saja kriteria seperti itu. Kita realistis bahwa perolehan suara Golkar tidak sesuai target, sehingga sulit mencalonkan capres sendiri," ujarnya. Dia menjelaskan, dalam rapimnas khusus 23 April nanti, apabila disepakati Golkar kembali berkoalisi dengan Demokrat, ada dua kemungkinan mekanisme pengajuan cawapres. "Golkar mengajukan satu nama yang disepakati di internal partai, atau Golkar mengajukan beberapa nama hasil survei internal untuk dipilih oleh capres dari Demokrat," katanya. Disinggung kemungkinan munculnya aspirasi JK mundur dari kursi Ketua Umum Golkar agar bisa diajukan menjadi cawapres SBY, Yorrys menegaskan, "Golkar tidak menginginkan ada preseden buruk. Dengan tingkat kedewasaan politik tinggi diupayakan menghindari kepentingan pragmatis. Keputusan final tetap ada di rapimnas khusus," jelasnya. Yorrys menambahkan, pada Kamis malam, Golkar menggelar konsultasi nasional, yang dihadiri seluruh ketua DPD Golkar tingkat I. Rapat itu untuk menyamakan persepsi, menyikapi kondisi terkini pascapemilu legislatif. "Dalam pertemuan strategis ini tidak ada keputusan apapun yang mengikat. Segala pembahasan konsultasi akan diteruskan ke tingkat II (rapat pimpinan daerah) lalu ke rapimnas khusus 23 April mendatang," ungkapnya. [A-16/ASR/A-21/J-11] Rediscover Hotmail®: Get quick friend updates right in your inbox. Check it out. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
