Resensi buku dari Kanda Suryadi,

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/19/0416563/resistensi.nasab.ibu.terbesar.di.dunia

Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia
Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB

SURYADI

• Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through
Jihad and Colonialism” • Penulis: Jeffrey Hadler • Penerbit: Cornell
University Press, Ithaca, London, 2008 • Tebal: xii + 211 halaman. Buku
”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and
Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia,
tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar
dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil
mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the
History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut,
setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan
ini.

Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang
menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan
dari garis bapak.

Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang
masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang
menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan
keturunan dari garis ibu.

Kini satu-satunya kelompok masyarakat matriarkal beragama Islam terbesar di
dunia yang masih tersisa adalah etnis Minangkabau.

Seperti para peneliti lain, di antaranya PE de Josselin de Jong, Franz von
Benda-Beckmann, Christine Dobbin, Elizabeth E Graves, Joel S Kahn, Tsuyoshi
Kato, Jane A Drakard, Evelyn Blackwood, Joke van Reenen, Peggy Reeves
Sanday, dan Marcell Vellinga, Jeffrey juga sangat tertarik kepada sistem
kekeluargaan (kinship) masyarakat Minangkabau yang unik dan khas: mereka
menganut sistem matriarkat sekaligus memeluk agama Islam yang patriarkal.

Banyak kajian ilmiah yang telah dibuat mengenai dampak sosial dan psikologis
penggabungan kedua sistem yang memiliki prinsip dasar bertentangan itu dalam
kebudayaan Minangkabau. HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam Kepribadian Orang
Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) menyebut istilah ”keduaan” (split
personality) untuk menggambarkan kepribadian Minangkabau yang menurut dia
potensial menimbulkan penyakit jiwa tertentu, mulai dari rasa cemas sampai
skizofrenia akibat berbagai paradoks yang dihadapi dan dipraktikkan orang
Minangkabau. Mochtar Naim (1979) menunjukkan, dialektika antara sistem
matriarkat dan Islam menjadi salah satu faktor pendorong munculnya budaya
merantau yang kuat di kalangan orang Minangkabau.

Jeffrey menganalisis bagaimana sistem matriarkat Minangkabau mampu melakukan
resistensi terhadap serangan dua ideologi asing pada abad ke-19 dan ke-20:
Islam dan kolonialisme (Belanda).

Di tempat lain di dunia, sistem matriarkat punah karena serbuan berbagai
ideologi dari luar dan pernah diramalkan akan terjadi juga di Minangkabau.
Ternyata, sebaliknyalah yang terjadi: sistem matriarkat Minangkabau mampu
bertahan. Jeffrey bertanya, Why does matriarchy persists?—has been dodged by
scores of researchers who have been lured to Minangkabau by the seeming
paradox of a matrilineal Muslim society (hal 8).

Alih-alih melakukan studi kasus seperti dilakukan banyak peneliti lain
(misalnya Kato 1982; Reenen 1996; dan Sanday 2002), Jeffrey menjawab
pertanyaan di atas dengan membandingkan dinamika dan transformasi kebudayaan
etnis Minangkabau dan masyarakat matriarkal lain yang juga pernah
dikolonisasi Barat, khususnya Negeri Sembilan di Malaysia dan orang Kerala
di India.

Konsep rumah dan keluarga

Jeffrey membongkar fakta di balik kolonialisme dan nasionalisme dengan
memfokuskan pada tema kultural: perubahan konseptualisasi rumah (house) dan
keluarga (family); gagasan modernitas yang berhubungan dengan budaya
Minangkabau sendiri, agama Islam, dan kebudayaan Eropa; serta persaingan
antara kekuasaan dan pendidikan.

Dia menggunakan banyak sumber lokal: surat kabar, majalah, buku pelajaran,
novel, pamflet, dan tumpukan teks schoolschriften peninggalan mantan siswa
Sekolah Radja di Fort de Kock (Bukittinggi) koleksi Universiteitsbibliotheek
Leiden yang jarang dimanfaatkan peneliti lain.

Bab 1 (”Contention Unending”) membahas sejarah ringkas Perang Paderi
(1803-1837), yaitu usaha panglima Paderi yang kontroversial Tuanku Imam
Bonjol (TIB) menggantikan sistem matriarkat di Minangkabau dengan model
masyarakat Islam yang ketat merujuk pada Al Quran dan hadis.

TIB berusaha mencari kompromi antara adat Minangkabau dan hukum Islam yang
kemudian dikenal sebagai doktrin adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah. Keputusannya itu membentuk debat berterusan di Minangkabau
sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Belanda keluar sebagai pemenang dan
menggabungkan Sumatera Barat ke dalam Hindia Belanda.

Bab 2-4 menguraikan perdebatan bentuk fisik rumah, konsep keluarga, dan
pendidikan untuk anak-anak. Sepanjang abad ke-19 Minangkabau mengalami
transformasi dari masyarakat agraris tradisional yang menempatkan perempuan
sebagai pengontrol institusi rumah dan sawah (oleh karenanya mereka memiliki
kekuasaan besar) ke masyarakat kolonial tempat negara partiarkal memberi
otoritas kepada lelaki untuk berkuasa.

Pemerintahan kolonial memaksakan kekuasaan patriarkal kepada masyarakat
Minangkabau. Perempuan Minangkabau dipaksa mengikuti tradisi yang sekarang
justru digunakan menentang kuasa mereka sendiri, ”mengikat” mereka di rumah
gadang, membatasi akses meraih berbagai peluang baru, dan membatasi ruang
gerak mereka.

Bab 5 (”Intimate Contention”) menganalisis berbagai gagasan moral dan peran
perempuan Minangkabau awal abad ke-20 ketika kata pergerakan menjadi tren
dan partisipasi politik orang Minangkabau meluas di kancah lokal maupun
nasional, tetapi sedikit konsensus yang diperoleh. Petisi wanita Koto Gadang
untuk bebas memilih jodoh (Mei 1924) adalah contoh derasnya transformasi
sosial di Sumatera Barat pada awal abad ke-20.

Bab 6 (”Earthquake”) dan Bab 7 (”Families in Motion”) membahas politisasi
budaya Minangkabau dalam dekade 1910-an dan 1920-an, masa ketika kontroversi
publik mengenai matriarkat, ideologi Islam reformis, dan gagasan mengenai
kemajuan mewarnai dunia pergerakan dan masyarakat Minangkabau.

Perempuan Minangkabau pun terseret ke dalam gerakan yang disulut benturan
ketiga ideologi itu. Mereka terjun ke dunia jurnalisme dan politik,
berenggang dengan tradisi karena ikut ambil bagian dalam budaya migrasi kaum
lelaki ke rantau, meninggalkan (dunia) rumah gadang yang menjadi simbol
kuasa nasab ibu.

Dalam kesimpulan akhir (”Victorious Buffalo: Resilient Matriarchate”)
Jeffrey menulis, konflik dan interaksi antara sistem matriarkat, Islam
reformis, dan negara kolonial telah membuat elemen paling esensial dalam
kebudayaan Minangkabau mengalami destabilisasi, menyebabkan orang
Minangkabau merasa kampung halaman sendiri bukan lagi tempat ”aman”.
Kontribusi yang tidak sepadan dibandingkan jumlah mereka yang kecil yang
telah diberikan etnis Minangkabau kepada politik nasional Indonesia adalah
akibat langsung destabilisasi itu (hal 180).

Pengalaman sejarah telah menempa hidup orang Minangkabau dalam dialektika
kritis antara nilai adat, ide Islam reformis, dan gagasan pembaruan Barat.
Berkaca pada konflik berdarah selama Perang Paderi dalam menghadapi ketiga
ideologi yang bertentangan itu, masyarakat Minangkabau lebih sering menempuh
jalur kompromi ketimbang memilih konflik berdarah lagi.

Dalam paragraf terakhir, Jeffrey menulis: ”The history of West Sumatran
politics is of recurring defeat. But the story of Minangkabau culture is one
of survival” (hal 180). Agaknya kata-kata Jeffrey itu tidaklah berlebihan.

Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië,
Faculteit Geesteswetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda



-- 
http://www.cimbuak.net
Kampuang nan jauah dimato dakek dijari

http://urangminang.wordpress.com
http://palantaminang.wordpress.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke