Assalamualaikum w.w. Sanak Suryadi dan para sanak sapalanta, Saya ucapkan terima kasih atas tulisan Sanak mengenai buku Jeffrey Hadler -- yang berasal dari disertasinya -- tentang keuletan sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, baik dalam menghadapi Islam maupun dalam menghadapi kolonialisme Belanda. Walaupun komentar Sanak sudah cukup jelas, namun tentu akan lebih 'afdhol' jika kita dapat membaca buku aslinya. Mudah-mudahan penerbit Komunitas Bambu bersedia menerjemahkan dan menerbitkannya. Berdasar komentar Sanak tersebut di atas, izinkan saya menyampaikan beberapa komentar kecil, sebagai berikut. Pertama, kandungan isi buku Hadler tersebut adalah mengenai sejarah masa lampau, dan belum di-update dengan perkembangan terkini. Secara formal memang sistem kekerabatan matrilineal masih ada, khususnya oleh karena terkait dengan sistem harato pusako tinggi dalam format tanah ulayat, dan adanya 68.000 ninik mamak [data LKAAM Sumbar] yang mengawalnya. Namun perlu kita perhatikan keluhan para ninik mamak ini sendiri, yang merasa kewibawaannya makin lama menurun dalam pandangan anak kemenakannya. Kedua, menurut penelitian Universitas Andalas`dalam tahun 1978, lebih dari 92% orang Minangkabau tidak lagi hidup konteks suku dan rumah gadang, tetapi sudah hidup dalam keluarganya sendiri-sendiri, dimana peranan bapak -- bukan mamak -- sudah jauh lebih mengemuka. Dengan kata lain, secara pelahan tetapi pasti format kehidupan berkeluarga yang dipimpin oleh seorang bapak dan seorang ibu akan semakin meluas digunakan oleh orang Minangkabau, bukan hanya di Rantau, tetapi juga di Ranah. Ketiga, sesuai dengan fatwa Buya Mas'oed Abidin, berdasar ajaran Islam, sesungguhnya orang Minangkabau tidak hanya menganut sistem kekerabatan matrilineal, tetapi juga menganut sistem bilateral atau dubbel unilateral, oleh karena bersuku ke Ibu, bernasab ke Bapak, dan bersako ke Mamak. Saya mengoperasionalkan fatwa Buya Mas'oed ini dalam format 'Ranji ABS SBK' yang kelihatannya bukan saja mulai bisa diterima masyarakat Minang, setidak-tidaknya oleh para anggota milis Rantau Net, dan tetapi sudah mulai digunakan dengan memakai software 'The Family Tree Maker'. Keempat, mau tidak mau kita memang harus mengakui kuatnya daya tahan sistem kekerabatan matrilineal ini, yang menurut penglihatan saya terletak pada kemampuannya untuk mengadakan akomodasi dan adaptasi terhadap perkembangan baru. Saya sendiri, yang secara habis-habisan mengeritik konsep 'punah' sebagai suatu derivatif dari sistem kekerabatan matrilineal ini, juga tidak ingin melihat runtuhnya sistem tersebut, oleh karena satu-satunya sistem sosial yang dikenal oleh orang Minangkabau adalah sistem kekerabatan matrilineal ini. Saya sudah nyaman sewaktu [sebagian] masyarakat Minangkabau bisa menerima gagasan saya tentang 'Ranji ABS SBK'. Kelima, secara pribadi saya berpendapat bahwa kajian terhadap Minangkabau ini perlu diadakan secara berlanjut. Dalam tahun 1971 saya ikut mendukung dibentuknya 'Center for Minangkabau Studies' oleh Dr Mochtar Naim, dan tahun lalu juga mendorong terbentuknya "Lembaga Kajian Gerakan Paderi' yang dipimpin oleh Bp Drs Sjafnir Aboe Nain Dt Kando Maradjo. Sekarang saya mengharapkan agar kajian berkelanjutan mengenai Minangkabau ini bisa dilanjutkan dan ditingkatkan olehFakultas Sastra Universitas Andalas. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected] Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia Kompas, Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB SURYADI • Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” • Penulis: Jeffrey Hadler • Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 • Tebal: xii + 211 halaman. Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini. Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan dari garis bapak. Ini berbeda dari temuan arkeologis dan sumber tradisi lisan kuno yang masyarakatnya kebanyakan menganut sistem matriarkat (nasab ibu) yang menempatkan kekuasaan di tangan kaum perempuan dan menarik hubungan keturunan dari garis ibu. Kini satu-satunya kelompok masyarakat matriarkal beragama Islam terbesar di dunia yang masih tersisa adalah etnis Minangkabau. Seperti para peneliti lain, di antaranya PE de Josselin de Jong, Franz von Benda-Beckmann, Christine Dobbin, Elizabeth E Graves, Joel S Kahn, Tsuyoshi Kato, Jane A Drakard, Evelyn Blackwood, Joke van Reenen, Peggy Reeves Sanday, dan Marcell Vellinga, Jeffrey juga sangat tertarik kepada sistem kekeluargaan (kinship) masyarakat Minangkabau yang unik dan khas: mereka menganut sistem matriarkat sekaligus memeluk agama Islam yang patriarkal. Banyak kajian ilmiah yang telah dibuat mengenai dampak sosial dan psikologis penggabungan kedua sistem yang memiliki prinsip dasar bertentangan itu dalam kebudayaan Minangkabau. HHB Saanin Dt Tan Pariaman dalam Kepribadian Orang Minangkabau dan Psikopatologinya (1980) menyebut istilah ”keduaan” (split personality) untuk menggambarkan kepribadian Minangkabau yang menurut dia potensial menimbulkan penyakit jiwa tertentu, mulai dari rasa cemas sampai skizofrenia akibat berbagai paradoks yang dihadapi dan dipraktikkan orang Minangkabau. Mochtar Naim (1979) menunjukkan, dialektika antara sistem matriarkat dan Islam menjadi salah satu faktor pendorong munculnya budaya merantau yang kuat di kalangan orang Minangkabau. Jeffrey menganalisis bagaimana sistem matriarkat Minangkabau mampu melakukan resistensi terhadap serangan dua ideologi asing pada abad ke-19 dan ke-20: Islam dan kolonialisme (Belanda). Di tempat lain di dunia, sistem matriarkat punah karena serbuan berbagai ideologi dari luar dan pernah diramalkan akan terjadi juga di Minangkabau. Ternyata, sebaliknyalah yang terjadi: sistem matriarkat Minangkabau mampu bertahan. Jeffrey bertanya, Why does matriarchy persists?—has been dodged by scores of researchers who have been lured to Minangkabau by the seeming paradox of a matrilineal Muslim society (hal 8). Alih-alih melakukan studi kasus seperti dilakukan banyak peneliti lain (misalnya Kato 1982; Reenen 1996; dan Sanday 2002), Jeffrey menjawab pertanyaan di atas dengan membandingkan dinamika dan transformasi kebudayaan etnis Minangkabau dan masyarakat matriarkal lain yang juga pernah dikolonisasi Barat, khususnya Negeri Sembilan di Malaysia dan orang Kerala di India. Konsep rumah dan keluarga Jeffrey membongkar fakta di balik kolonialisme dan nasionalisme dengan memfokuskan pada tema kultural: perubahan konseptualisasi rumah (house) dan keluarga (family); gagasan modernitas yang berhubungan dengan budaya Minangkabau sendiri, agama Islam, dan kebudayaan Eropa; serta persaingan antara kekuasaan dan pendidikan. Dia menggunakan banyak sumber lokal: surat kabar, majalah, buku pelajaran, novel, pamflet, dan tumpukan teks schoolschriften peninggalan mantan siswa Sekolah Radja di Fort de Kock (Bukittinggi) koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden yang jarang dimanfaatkan peneliti lain. Bab 1 (”Contention Unending”) membahas sejarah ringkas Perang Paderi (1803-1837), yaitu usaha panglima Paderi yang kontroversial Tuanku Imam Bonjol (TIB) menggantikan sistem matriarkat di Minangkabau dengan model masyarakat Islam yang ketat merujuk pada Al Quran dan hadis. TIB berusaha mencari kompromi antara adat Minangkabau dan hukum Islam yang kemudian dikenal sebagai doktrin adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Keputusannya itu membentuk debat berterusan di Minangkabau sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Belanda keluar sebagai pemenang dan menggabungkan Sumatera Barat ke dalam Hindia Belanda. Bab 2-4 menguraikan perdebatan bentuk fisik rumah, konsep keluarga, dan pendidikan untuk anak-anak. Sepanjang abad ke-19 Minangkabau mengalami transformasi dari masyarakat agraris tradisional yang menempatkan perempuan sebagai pengontrol institusi rumah dan sawah (oleh karenanya mereka memiliki kekuasaan besar) ke masyarakat kolonial tempat negara partiarkal memberi otoritas kepada lelaki untuk berkuasa. Pemerintahan kolonial memaksakan kekuasaan patriarkal kepada masyarakat Minangkabau. Perempuan Minangkabau dipaksa mengikuti tradisi yang sekarang justru digunakan menentang kuasa mereka sendiri, ”mengikat” mereka di rumah gadang, membatasi akses meraih berbagai peluang baru, dan membatasi ruang gerak mereka. Bab 5 (”Intimate Contention”) menganalisis berbagai gagasan moral dan peran perempuan Minangkabau awal abad ke-20 ketika kata pergerakan menjadi tren dan partisipasi politik orang Minangkabau meluas di kancah lokal maupun nasional, tetapi sedikit konsensus yang diperoleh. Petisi wanita Koto Gadang untuk bebas memilih jodoh (Mei 1924) adalah contoh derasnya transformasi sosial di Sumatera Barat pada awal abad ke-20. Bab 6 (”Earthquake”) dan Bab 7 (”Families in Motion”) membahas politisasi budaya Minangkabau dalam dekade 1910-an dan 1920-an, masa ketika kontroversi publik mengenai matriarkat, ideologi Islam reformis, dan gagasan mengenai kemajuan mewarnai dunia pergerakan dan masyarakat Minangkabau. Perempuan Minangkabau pun terseret ke dalam gerakan yang disulut benturan ketiga ideologi itu. Mereka terjun ke dunia jurnalisme dan politik, berenggang dengan tradisi karena ikut ambil bagian dalam budaya migrasi kaum lelaki ke rantau, meninggalkan (dunia) rumah gadang yang menjadi simbol kuasa nasab ibu. Dalam kesimpulan akhir (”Victorious Buffalo: Resilient Matriarchate”) Jeffrey menulis, konflik dan interaksi antara sistem matriarkat, Islam reformis, dan negara kolonial telah membuat elemen paling esensial dalam kebudayaan Minangkabau mengalami destabilisasi, menyebabkan orang Minangkabau merasa kampung halaman sendiri bukan lagi tempat ”aman”. Kontribusi yang tidak sepadan dibandingkan jumlah mereka yang kecil yang telah diberikan etnis Minangkabau kepada politik nasional Indonesia adalah akibat langsung destabilisasi itu (hal 180). Pengalaman sejarah telah menempa hidup orang Minangkabau dalam dialektika kritis antara nilai adat, ide Islam reformis, dan gagasan pembaruan Barat. Berkaca pada konflik berdarah selama Perang Paderi dalam menghadapi ketiga ideologi yang bertentangan itu, masyarakat Minangkabau lebih sering menempuh jalur kompromi ketimbang memilih konflik berdarah lagi. Dalam paragraf terakhir, Jeffrey menulis: ”The history of West Sumatran politics is of recurring defeat. But the story of Minangkabau culture is one of survival” (hal 180). Agaknya kata-kata Jeffrey itu tidaklah berlebihan. Suryadi Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Faculteit Geesteswetenschappen, Universiteit Leiden, Belanda --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
