Sanak Suryadi yang baik, Saya setuju jika dikatakan bahwa sistem kekerabatan matrilineal itu mempunyai daya tahan. Namun jika hal itu dianggap sistem itu tidak berubah, rasanya juga tidak benar. Bukan hanya bukti kuantitatif yang menunjukkan hal itu, tetapi juga bukti kualitatif, antara lain seperti dapat dibaca dalam penerbitan LKAAM Sumbar, dalam demikian banyak buku kontemporer [ a.l Minangkabau yang Gelisah, Minangkabau di Tepi Jurang] bahkan dalam buku-bukunya pak Amir M.S. yang sangat banyak menulis mengenai adat Minangkabau. Sesekali bp Azmi Dt Bagindo -- yang sangat g igih membela adat Minangkabau -- juga mengeluh menurunnya wibawa ninik mamak. Lebih dari itu, yang agak jarang kita tanya, adalah pendapat kaum muda Minang, the silent majority yang akan menentukan masa depan adat Minangkabau itu. Saya yakin Hadler belum meneliti sejauh itu, seperti yang dilakukan Tsuyoshi Kato. Sewaktu masih menjadi Kepala TVRI Padang, bung Purnama Suwardi merencanakan akan mewawancarai kaum muda Minang tentang adat Minangkabau. Itulah sebabnya maka -- sebagai kompromi -- perlu diadakan kajian berlanjut mengenai adat Minangkabau ini. Bahwa adat memmpunyai daya tahan, ya, tetapi tak berubah, mustahil. Perubahan adalah suatu hukum alam yang abadi.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] --- On Sun, 4/19/09, Lies Suryadi <[email protected]> wrote: From: Lies Suryadi <[email protected]> Subject: Bls: [...@ntau-net] SEBUAH KAJIAN LAGI TENTANG SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL MINANGKABAU To: [email protected] Date: Sunday, April 19, 2009, 3:52 PM Pak Saaf yang baik dan dunsanak di lapau sekalian, Terima kasih atas postingan resensi itu dan juga comments yang sangat bermanfaat. Memang setting buku itu adalah Minangkabau pada akhir abad ke-18 sampai 1930-an, masa yang penuh gejolak itu. Yang menarik bagi saya argumen2 dalam buku itu yang berusaha menjelaskan kenapa di Minang martiarkat 'selamat' dari gempuran ideologi2 dari luar. Dan melalui 7 bab buku itu digambarkan bagaimana usaha2 ideologi dari luar itu menusuk ke dalam berbagai aspek kehidupan orang Minang selama hampir 1,5 abad, baik material maupun spiritual, baik ruang publik maupun domestik, sejak dari langkan rumah gadang sampai ka kungkungan dapua (sekedar untuk diketahui: Belanda pernah membuat peraturan untuk membuat dapur di luar rumah gadang, alasannya: sering terjadi kebakaran hebat di rumah gadang karena dapur di dalam rumah, dan akibat api di tungku lupa dimatikan di malam hari; bayangkan apa efeknya pada waktu itu?). Tampaknya Hadler tidak setuju dengan beberapa pendapat yang menyatakan bahwa berdasarkan beberapa indikator (cenderung kuantitatif)--seperti yang antara lain Pak Saaf sebutkan di bawah--adalah 'petunjuk' akan (atau telah?) berakhirnya sistem marilineal Minangkabau. Di halaman 7 ia menulis: "Since the eighteenth century, foreign observers and Muslim reformists have predicted that the scriptural authority of Islam would overhelm the fluid power of the matriarchate. This is not happened.Scholars and travelers have regularly pointed to the existence of single-family households and property acquired through individual male initiative (harato pancarian) as signs of the fragility and decay of tradition. Yet male acquisitiveness and even temporary patrilocal residence patterns are parts of a long-standing mechanism by which new property is incorporated into the holdings (harapo pusako) of an extended matrilineal family. Minangkabauist scholarship makes much of an essential clash, a "bloody dispute" between adat and Islam especially over the issue of inheritance [yang juga terefleksi sangat jelas dalam diskusi2 yang kadang2 penuh emosi di lapau kita ini; Suryadi]. Alathough debates framed as "adat versus Islam" occur perpetually in West Sumatra, their essence is not universal and they lack a transhistorical theme. Not only is the tension between custom and Islamic law always rooted in particular historical dynamics, but it almost always resolved dialogically and peacefully" (cetak tebal oleh Suryadi). Nah, yang terakhir itu toh juga terefleksi dalam ota2 kita di lapau ini, khususnya terkait dengan teman yang barusan Pak Saaf angkat, yaitu tentang konsep PUNAH dan RANJI ABS-BSK. Sapaneh2 utak, hati tatap dingin. Bana kato2 adat Minang: "Basilang kayu dalam tungku, baitu api mako iduik". Yang jelas, buku ini tentu akan sangat bermanfat bagi kita jika diterjemahkan ke bhs Indonesia. Soal setuju atau tidak, itu biasa dalam dunia akademik.. Justru hal itu yang memperkaya wawasan kita bersama. Wassalam, Suryadi --- Pada Ming, 19/4/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis: Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Topik: [...@ntau-net] SEBUAH KAJIAN LAGI TENTANG SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL MINANGKABAU Kepada: "Rantau Net" <[email protected]> Cc: "Komunitas Bambu" <[email protected]>, "Warni DARWIS" <[email protected]>, "Ir. Raja Ermansyah YAMIN" <[email protected]>, "MH Bachtiar Abna SH" <[email protected]>, "azmi datuk bagindo" <[email protected]>, "Drs Sjafnir Aboe NAIN" <[email protected]>, "Syafri SAIRIN" <[email protected]>, "Prof Dr Amri MARZALI" <[email protected]>, "Fasli JALAL" <[email protected]>, "Mas'oed ABIDIN" <[email protected]>, "Adrianus" <[email protected]>, "SH MMGamawan FAUZI" <[email protected]>, "Prof. Dr Azyumardi AZRA" <[email protected]>, "Prof Dr Djohermansyah DJOHAN" <[email protected]>, "FA Moeloek" <[email protected]>, "Prof.Dr Emil SALIM" <[email protected]>, "Dr. Gusti ASNAN" <[email protected]>, "Harian Singgalang" <[email protected]>, "Muchlis Hamid" <[email protected]> Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 12:10 PM Assalamualaikum w.w. Sanak Suryadi dan para sanak sapalanta, Saya ucapkan terima kasih atas tulisan Sanak mengenai buku Jeffrey Hadler -- yang berasal dari disertasinya -- tentang keuletan sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau, baik dalam menghadapi Islam maupun dalam menghadapi kolonialisme Belanda. Walaupun komentar Sanak sudah cukup jelas, namun tentu akan lebih 'afdhol' jika kita dapat membaca buku aslinya. Mudah-mudahan penerbit Komunitas Bambu bersedia menerjemahkan dan menerbitkannya. Berdasar komentar Sanak tersebut di atas, izinkan saya menyampaikan beberapa komentar kecil, sebagai berikut. Pertama, kandungan isi buku Hadler tersebut adalah mengenai sejarah masa lampau, dan belum di-update dengan perkembangan terkini. Secara formal memang sistem kekerabatan matrilineal masih ada, khususnya oleh karena terkait dengan sistem harato pusako tinggi dalam format tanah ulayat, dan adanya 68.000 ninik mamak [data LKAAM Sumbar] yang mengawalnya. Namun perlu kita perhatikan keluhan para ninik mamak ini sendiri, yang merasa kewibawaannya makin lama menurun dalam pandangan anak kemenakannya. Kedua, menurut penelitian Universitas Andalas`dalam tahun 1978, lebih dari 92% orang Minangkabau tidak lagi hidup konteks suku dan rumah gadang, tetapi sudah hidup dalam keluarganya sendiri-sendiri, dimana peranan bapak -- bukan mamak -- sudah jauh lebih mengemuka. Dengan kata lain, secara pelahan tetapi pasti format kehidupan berkeluarga yang dipimpin oleh seorang bapak dan seorang ibu akan semakin meluas digunakan oleh orang Minangkabau, bukan hanya di Rantau, tetapi juga di Ranah. Ketiga, sesuai dengan fatwa Buya Mas'oed Abidin, berdasar ajaran Islam, sesungguhnya orang Minangkabau tidak hanya menganut sistem kekerabatan matrilineal, tetapi juga menganut sistem bilateral atau dubbel unilateral, oleh karena bersuku ke Ibu, bernasab ke Bapak, dan bersako ke Mamak. Saya mengoperasionalkan fatwa Buya Mas'oed ini dalam format 'Ranji ABS SBK' yang kelihatannya bukan saja mulai bisa diterima masyarakat Minang, setidak-tidaknya oleh para anggota milis Rantau Net, dan tetapi sudah mulai digunakan dengan memakai software 'The Family Tree Maker'. Keempat, mau tidak mau kita memang harus mengakui kuatnya daya tahan sistem kekerabatan matrilineal ini, yang menurut penglihatan saya terletak pada kemampuannya untuk mengadakan akomodasi dan adaptasi terhadap perkembangan baru. Saya sendiri, yang secara habis-habisan mengeritik konsep 'punah' sebagai suatu derivatif dari sistem kekerabatan matrilineal ini, juga tidak ingin melihat runtuhnya sistem tersebut, oleh karena satu-satunya sistem sosial yang dikenal oleh orang Minangkabau adalah sistem kekerabatan matrilineal ini. Saya sudah nyaman sewaktu [sebagian] masyarakat Minangkabau bisa menerima gagasan saya tentang 'Ranji ABS SBK'. Kelima, secara pribadi saya berpendapat bahwa kajian terhadap Minangkabau ini perlu diadakan secara berlanjut. Dalam tahun 1971 saya ikut mendukung dibentuknya 'Center for Minangkabau Studies' oleh Dr Mochtar Naim, dan tahun lalu juga mendorong terbentuknya "Lembaga Kajian Gerakan Paderi' yang dipimpin oleh Bp Drs Sjafnir Aboe Nain Dt Kando Maradjo. Sekarang saya mengharapkan agar kajian berkelanjutan mengenai Minangkabau ini bisa dilanjutkan dan ditingkatkan olehFakultas Sastra Universitas Andalas. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] Resistensi Nasab Ibu Terbesar di Dunia Kompas, Minggu, 19 April 2009 | 04:16 WIB SURYADI • Judul: ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” • Penulis: Jeffrey Hadler • Penerbit: Cornell University Press, Ithaca, London, 2008 • Tebal: xii + 211 halaman. Buku ”Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia Through Jihad and Colonialism” adalah publikasi terbaru tentang sejarah lokal Indonesia, tepatnya mengenai masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Tilikan akademis Jeffrey tentang masyarakat Minangkabau baru benar-benar dapat diketahui publik 15 tahun kemudian ketika pada tahun 2000 ia berhasil mempertahankan disertasinya ”Places Like Home: Islam, Matriliny and the History of Family in Minangkabau” di Cornell University. Disertasi tersebut, setelah direvisi, akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku yang kita bicarakan ini. Dewasa ini mayoritas umat manusia menganut sistem patriarkat yang menempatkan kekuasaan di tangan laki-laki dan menarik hubungan keturunan Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
