Pak Saaf yang baik, Memang menarik untuk melihat perubahan2 di seputar matrilineal Minangkabau sejak kemerdekaan sampai sekarang. Unsur2 inti apa dari sistem itu yg masih bertahan dan yg yg mana yang sudah bergeser atau hilang. Buku Peggy Reeves Sandai, Women at the Center: Life in a Modern Matriarchy (Ithaca: Cornell University Press, 2002) adalah salah satu yg terbaru di bidang ini. Setahu saya belum ada lagi disertasi yang membahas fenomena Minangkabau kinship selepas itu (atau mungkin pengamatan saya terbatas?). Tapi mudah2an akan ada lagi penelitian mutakhir tentang sistem kekeluargaan urang awak ini berserta berbagai aspek di seputarnya. Yang jelas, Minangkabau, dengan segala perubahannya, tampaknya tetap menarik untuk diteliti. Wassalam, Suryadi
--- Pada Ming, 19/4/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis: Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Topik: Re: Bls: [...@ntau-net] SEBUAH KAJIAN LAGI TENTANG SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL MINANGKABAU Kepada: [email protected] Tanggal: Minggu, 19 April, 2009, 4:17 PM Sanak Suryadi yang baik, Saya setuju jika dikatakan bahwa sistem kekerabatan matrilineal itu mempunyai daya tahan. Namun jika hal itu dianggap sistem itu tidak berubah, rasanya juga tidak benar. Bukan hanya bukti kuantitatif yang menunjukkan hal itu, tetapi juga bukti kualitatif, antara lain seperti dapat dibaca dalam penerbitan LKAAM Sumbar, dalam demikian banyak buku kontemporer [ a.l Minangkabau yang Gelisah, Minangkabau di Tepi Jurang] bahkan dalam buku-bukunya pak Amir M..S. yang sangat banyak menulis mengenai adat Minangkabau. Sesekali bp Azmi Dt Bagindo -- yang sangat g igih membela adat Minangkabau -- juga mengeluh menurunnya wibawa ninik mamak. Lebih dari itu, yang agak jarang kita tanya, adalah pendapat kaum muda Minang, the silent majority yang akan menentukan masa depan adat Minangkabau itu. Saya yakin Hadler belum meneliti sejauh itu, seperti yang dilakukan Tsuyoshi Kato. Sewaktu masih menjadi Kepala TVRI Padang, bung Purnama Suwardi merencanakan akan mewawancarai kaum muda Minang tentang adat Minangkabau. Itulah sebabnya maka -- sebagai kompromi -- perlu diadakan kajian berlanjut mengenai adat Minangkabau ini. Bahwa adat memmpunyai daya tahan, ya, tetapi tak berubah, mustahil. Perubahan adalah suatu hukum alam yang abadi. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
