Perempuan Minang ko cukuik 'bagak'. Dalam sejarah tacataik Siti Manggopoh, juo 
petisi kaum padusi Koto Gadang untuak bebas mamiliah jodoh sendiri (6 mei 
1924), ado aspiran komunis Upiak Hitam dari, ado kasus Ratok Si Kena nan 
digambarkan Hamka dalam bukunyo, kenang2an hidup. Di bilang politik, 
jurnalisme, pendidikan......ado, cukuik banyak. Sjarifah Nawawi lah masuak 
sikola Radjo di Fort de Kock sabalun generasi sebayanyo di banyak daerah lain 
masih 'takabek' dalam rumah. Dan...tantu ado tokoh "mitos" Sabai Nan Aluih.

Ambo kiro soal perempuan Minang kini indak lapeh pulo dari konteks nasional.. 
Toh Minangkabau ko lah sakian dekade bagian dari REPUBLIK INDONESIA. Kebijakan 
nasional soal perempuan bukan tak berimbas sampai ka pelosok daerah. Salamo 
Orde Baru kaum perempuan dininabobokkan dengan bermacam2 peran saumpamo peran 
sebagai ibu2 PE KEH KEH, Dharma Wanita, dll. Ado beberapa kajian nan lah dibuek 
bagaimana salamo Orde Baru kekuasaan negara yg patriarkis bausaho mamacik 
rusuak kaum padusi sahinggo mereka tak jadi macam2, aratinyo jadi samacam sajo. 
Nah...ambo kiro dampaknyo ka perempuan Minang jaleh ado.

Salam,
Suryadi
 

--- Pada Rab, 22/4/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis:

> Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
> Topik: [...@ntau-net] Re: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR. SRI MULYANI, 
> PROTOTIPE TOKOH  PEREMPUAN INDONESIA BARU
> Kepada: [email protected]
> Cc: [email protected]
> Tanggal: Rabu, 22 April, 2009, 9:49 AM
> Waalaikumsalam w.w. Dewi
> dan para sanak sa  palanta,
> Saya juga melihat bahwa belum banyak kesempatan
> diberikan kepada wanita-wanita Minang yang mempunyai
> kemampuan untuk memimpin, dan bahwa laki-laki mempunyai
> ruang gerak yang lebih luas dari wanita. Saya garis bawahi
> pernyataan Dewi bahwa perempuan Minang selain telah mendidik
> anak-anaknya dengan baik juga telah mendampingu
> suaminya dengan setia.
> Tentang pernyataan Dewi bahwa belum mengemukanya peranan
> perempuan antara lain karena ajaran Islam, saya masih
> bertanya-tanya. Mungkin Buya Mas'oed dapat memberi kita
> pencerahan. 
> Memang dahulu ada sebagian ulama N.U yang mengeluarkan
> fatwa bahwa perempuan tidak boleh menjadi presiden,
> sewaktu Megawati akan menggantikan Gus Dur. Tetapi kita tahu
> bahwa kemudian Ketua Umum NU Hasyim Muzadi malah bersedia
> menjadi cawapresnya Megawati, dan sekarang suara tersebut
> tak terdengar lagi.[Waktu saya bertemu dengan tokoh OPM
> Yustinus Murib di pergunungan Kwayawage di atas Wamena, dia
> juga marah-marah mengapa presiden Indonesia seorang
> perempuan. Di Papua semua kepala suku adalah
> laki-laki.]
> Jika Islam memang mengajarkan bahwa perempuan tidak
> boleh menjadi pemimpin, lantas bagaimana kita bisa
> membenarkan kebijakan Presiden Megawati dahulu dari
> segi  ajaran agama Islam? Apa Sri Mulyani perlu kita
> suruh mundur dari jabatannya? Dalam Pilpres 2009 mendatang,
> apa perlu dikeluarkan lagi fatwa bahwa pencalonan Megawati
> melanggar ajaran Islam? Bagaimana pula kita dapat
> menerangkan posisi Cut Nyak Din dan Laksamana Malahayati
> sebagai panglima perang di Aceh yang tak kurang Islamnya
> dari Minang?
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan
> Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam,
> Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka
> Bapak; basako ka Mamak"
> 
> Alternate e-mail addresses:
> 
> [email protected];
> 
> [email protected]
> [email protected]
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> From: Dewi
> Mutiara <[email protected]>
> To:
> [email protected]
> Sent:
> Wednesday, April 22, 2009 7:53:05 AM
> Subject:
> [...@ntau-net] Re: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR. SRI
> MULYANI, PROTOTIPE TOKOH PEREMPUAN INDONESIA BARU
> 
> 
> 
> 
> 
> Ass.Wr.Wb.
> 
> Pak Saaf yang terhormat .
> Saya bangga    dengan wanita2 INDONESIA 
> yang maju dan duduk dikursi pemerintahan 
> walaupun mereka bukan orang Minang,  saya yakin
> wanita2 minang banyak yang profesional untuk menduduki
> posisi tersebut , hanya belum mendapat kesempatan ,karena
> banyak faktor2salah satunya  yang boleh saya
> katakan  wanita Minang ,<orang Minang> 
> sedikit lebih berani mengemukakan pendapat yang kadang2
> kurang bisa diterima  oleh atasan sehingga karir mereka
> lebih sering terhambat.
> Sebagai wanita Minang diMinangkabau walaupun padusinya
> belum kelihatan menduduki jabatan dipemerintahan , mereka
> adalah ibu yang memberikan pendidikan yang paling baik
> sehingga anak2nya kelak bisa menjadi orang yang sangat
> dibanggakan , kita yakin pemimpin2 yang baik adalah dari
> keluarga yang ibunya mendidik dan mengarahkan dengan sangat
> baik.
> Kenapa LAKI-LAKI di Minangkabau yang
>  selalu jadi pimpinan , karena ,saya rasa semua juga tau
> gerakan laki2 jauh lebih leluasa dari pada padusi dan juga
> sesuai dengan ajaran ISLAM, 
> Saya tidak mengecilkan arti  seorang perempuan ,karena
> tugas perempuan jauh lebih berat dari pada laki-laki
> ,suksesnya bapak-bapak sekarang tidak lepas dari peranan
> ibu-ibu ,<WANITA >. Saya yakin suksesnya laki2
> kebanggaan wanita sebagai ibu ,sebagai pendamping yang
> sangat tidak bisa diabaikan.
> 
> Wassalam
> Dewi Mutiara .suku Sikumbang
> --- On Tue, 4/21/09, Dr.Saafroedin BAHAR
> <[email protected]> wrote:
> 
> 
> From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 68: DR.
> SRI MULYANI, PROTOTIPE TOKOH PEREMPUAN INDONESIA BARU
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, April 21, 2009, 11:42 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
> Ada suatu anomali -- keganjilan -- dalam posisi
> perempuan di Minangkabau. Secara normatif kita
> menghormati peran perempuan Minangkabau dalam
> masyarakat, yang disebut dengan istilah anggun:
> Bundo Kanduang.
> Namun jika kita telaah, peran tersebut lebih banyak
> hanya bersifat simbolik belaka, dan bukannya dalam
> realita. Peran perempuan Minangkabau
> mengemuka dalam penulisan ranji yang mencatat
> garis keturunan, dan seiring dengan itu secara formal
> dalam pencatatan harta pusaka tinggi. Namun
> kekuasaan riil dalam manajemen suku dan manajemen harta
> pusaka tinggi tidaklah  terletak dalam tangan
> perempuan, tetapi di tangan ninik mamak dan penghulu, yang
> seluruhnya harus dijabat oleh laki-laki. Mengapa harus
> demikian ? Apa perempuan dianggap tidak mampu untuk
> mengelola dan memimpin ?
> Sebaliknya dengan posisi perempuan di daerah lain di
> Indonesia, katakanlah di Jawa. Adat Jawa menempatkan
> perempuan sebagai 'konco wingking', teman yang
> berjalan di belakang. Namun dalam kenyataannya, di Jawa kita
> bisa menyaksikan adanya bupati, gubernur, bahkan kapolda
> yang berjenis kelamin perempuan, yang sampai sekarang sama
> sekali belum ada di Sumatera Barat.. 
> Perempuan Minang masih tetap dicitrakan sebagai
> limpapeh rumah nan gadang, dengan penekanan pada
> peranan tradisional domestik belaka, walaupun demikian
> banyak yang sudah bergelar profesor dan doktor, dengan
> potensi yang tidak kalah dengan laki-laki. Bagaimanapun,
> Minangkabau in concreto kelihatannya bukanlah
> 'negeri perempuan' seperti pernah disebut oleh
> Wisran Hadi (?), tetapi tetap adalah negeri laki-laki.
> 
> Saya cukup risau dengan anomali ini, khususnya jika
> diingat bahwa kualitas perempuan sebagai manusia tidak kalah
> dengan kualitas laki-laki. Dalam beberapa hal, misalnya
> dalam bidang pendidikan, kesehatan, -- bahkan dalam
> manajemen ekonomi -- terkesan para umumnya prestasi
> perempuan lebih unggul dari laki-laki.. 
> Dengan kata lain, walau secara formal menganut sistem
> kekerabatan matrilineal, namun Minangkabau tidaklah
> memberikan penghargaan, penghormatan, serta peran yang
> tinggi kepada kaum perempuannya. Perempuan  Minangkabau
> masih tetap berada di bawah perwalian -- curatele --
> dari kaum laki-laki.
> Cepat atau lambat, akan timbul pertanyaan: apakah
> belum saatnya kepada perempuan Minangkabau ini diberikan
> posisi yang lebih mengemuka, dimulai pada tataran suku
> dan masyarakat dan secara bertahap juga ke dalam bidang
> publik dan pemerintahan ? Apa belum waktunya manajemen
> suku juga melibatkan kaum perempuan ini secara riil dan
> efektif ? Juga timbul pertanyaan: mengapa tak satupun bupati
> dan walikota, atau asisten sekda perempuan, di Ranah
> Minang ini ? Apakah mereka belum siap, belum mampu, atau
> belum mau? 
> Mau tidak mau saya membandingkannya dengan kemajuan
> peran perempuan Indonesia lainnya. 
> Di tingkat nasional peran perempuan ini juga sudah
> jauh mengemuka. Sudah lama ada menteri perempuan dalam
> kabinet. Dalam Polri dan TNI sudah ada brigadir jenderal
> perempuan, sudah ada penerbang helikopter tempur perempuan.
> Di Amerika Serikat bahkan sudah ada jenderal bintang empat
> perempuan, yang bertanggung jawab dalam maslah logistik
> pertahanan.Demikianlah, di tingkat nasional dewasa ini
> secara pribadi saya mengagumi tokoh Dr Sri Mulyani, yang
> sekarang selain menjadi Menteri Keuangan juga menjabat
> sebagai Pelaksana Tugas Menteri Koordinator bidang
> Perekonomian, dan melaksanakan kedua tugasnya dengan mantap.
> Beliau bahkan dinilai sebagai menteri keuangan terbaik di
> tingkat regional dan internasional.
> Dalam pandangan saya, Dr Sri Mulyani dapat kita
> pandang sebagai prototipe tokoh perempuan Indonesia baru,
> termasuk untuk daerah Sumatera Barat.
> Bagaimana pendapat para sanak sekalian mengenai hal
> ini?
> 
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan
> Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam,
> Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak;
> basako ka Mamak" 
> Alternate
> e-mail addresses: 
> [email protected];
> 
> [email protected]
> [email protected]
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> > 
> 
> 
> 


      Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard 
Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke