Bahaya Cinta Kekuasaan
Kamis, 30 Desember 04 
http://www.alsofwah.or.id/?pilih==lihatannur&id=09

Hubbur riyasah (cinta kekuasaan) adalah salah satu syahwat yang sering
menimpa  manusia.  Bagi  orang  yang  terkena penyakit ini, kekuasaan,
jabatan dan segala yang mengiringinya berupa popularitas dan ketenaran
merupakan tujuan hidupnya. Berkenaan dengan bahaya cinta kekuasaan ini
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda yang diriwayatkan
oleh Ka'ab bib Malik Radhiallaahu anhu ,

"Dua  ekor serigala yang dilepas kepada seekor domba tidak lebih parah
kerusakannya  bagi  domba  itu,  bila dibandingkan ketamakan seseorang
terhadap  harta  dan  kedudukan  dalam merusak agamanya." (dikeluarkan
oleh at-Tirmidzi dan mengatakan, "hadits hasan shahih")

Al-Hafidz  Ibnu  Rajab  tatkala  menjelaskan  hadits  ini  mengatakan,
"Rasulullah  Shalallaahu alaihi wasalam memberitahukan bahwa ketamakan
seseorang  terhadap  harta  dan  kedudukan  akan merusak agamanya, dan
kerusakan itu tidak lebih kecil daripada kerusakan akibat keberingasan
dua  serigala  terhadap  seekor  domba. Bisa jadi sepadan atau mungkin
lebih  besar.  Ini  mengisyarat  kan  bahwa  tidak  akan selamat agama
seseorang  jika  dia tamak terhadap harta dan kedudukan dunia, kecuali
sangat  sedikit  (yang  bisa selamat darinya). Sebagaimana pula halnya
seekor  domba  tidak  akan selamat dari keberingasan dua ekor serigala
yang sedang lapar, kecuali sangat sedikit sekali.

Perumpamaan  yang  agung  ini mengandung peringatan yang keras tentang
keburukan  sikap  rakus  terhadap  harta  dan  kedudukan dunia, hingga
beliau  mengatakan, "Adapun tamaknya seseorang terhadap kedudukan maka
itu  lebih  membinasa kan daripada ketamakannya terhadap harta. Karena
ambisi   mencari   kedudukan,  kekuasaan  dan  kemuliaan  dunia  untuk
mengungguli  (merasa  tinggi) di atas sekalian manusia lebih berbahaya
bagi  seseorang  daripada ambisi terhadap harta. Menahan diri dari hal
tersebut  sangatlah  lebih  sulit,  karena untuk mencari kedudukan dan
kekuasaan   biasanya  seseorang  rela  mengorbankan  harta  yang  amat
banyak."  (Syarah  hadits,  ma  dzi'baani  jaai'aani  hal  7,13 secara
ringkas)

Al  Imam  Ibnu  Rajab  kemudian  menyebutkan metode setiap orang dalam
meraih  kedudukan  dunia. Beliau mengatakan," Tamak terhadap kemuliaan
dunia ada dua macam;

Pertama,  mencari  kemuliaan  dunia dengan kekuasaan, sulthan (power),
dan  harta.  Ini  semua  sangat  berbahaya  karena  pada  umumnya akan
menghalangi  pelakunya  untuk  mendapatkan  kebaikan  dan kemuliaan di
akhirat. Allah  ¹ berfirman, artinya,

Negeri  akhirat  itu,  Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin
menyombongkan  diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan
(yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.?š (QS. 28:83)

Hingga beliau mengatakan, "Di antara bentuk cinta kedudukan dunia yang
jelas bahayanya adalah berupa tamak terhadap pemerintahan (yakni tamak
ingin  menjadi penguasa, red). Ini merupakan masalah yang sangat pelik
yang  tidak  diketahui kecuali oleh orang yang berilmu, mengenal Allah
Subhannahu  wa  Ta'ala dan mencintai-Nya. Perlu diketahuai bahwa cinta
kemuliaan  dengan  cara tamak terhadap kekuasaan agar dapat memerintah
dan  melarang serta mengatur urusan manusia (menurut kehedaknya), jika
hanya  dimaksudkan  semata-mata untuk tujuan memperoleh kedudukan yang
tinggi  di atas sekalian orang, merasa lebih besar daripada mereka dan
agar  orang  terlihat  membutuhkan  dirinya, selalu merendah kepadanya
serta  menghinakan  diri  ketika  ada hajat dan kebutuhan terhadapnya,
maka bentuk seperti ini telah mengusik rububiyah dan uluhiyah Allah .

Ke  dua;  Mencari  kemuliaan  dunia  dan kedudukan dengan hal-hal yang
terkait  dengan  agama,  seperti  ilmu, amal ibadah dan kezuhudan. Ini
lebih   buruk   dari   yang  pertama  serta  lebih  besar  bahaya  dan
kerusakannya.  Karena ilmu, amal dan semisalnya hanyalah untuk mencari
derajat  yang tinggi dan kenikmatan abadi di sisi Allah  ¹, juga untuk
bertaqarrub   dan   mendekatkan  diri  kepada-Nya.  (Syarh  hadits  ma
dzi'baani jaai'aani, hal 7, 13 secara ringkas)

Di  antara  yang  menambah  besar bahaya ini adalah bahwasanya manusia
memiliki  kecenderungan  dan  cinta  yang besar terhadap kekuasaan dan
popularitas. Sebagaimana yang ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
"Sesungguhnya  manusia  jika  merenungkan  dan  mengenali  dirinya dan
manusia  yang  lain,  maka seseorang akan melihat bahwa dirinya selalu
ingin  ditaati  dan ingin berada di atas sedapat mungkin. Dan jiwa itu
dipenuhi   dengan  rasa  cinta  terhadap  kedudukan  yang  tinggi  dan
kekuasaan  setinggi-tingginya.  Maka  anda  dapati dia akan memberikan
loyalitas  kepada  orang yang cocok dengan hawa nafsunya, dan memusuhi
orang  yang menyelisihi hawa nafsunya. Maka akhirnya dia menjadi hamba
hawa dan keinginannya."

Hingga  pada  ucapan  beliau,  "Dan  kalau dia ditaati, maka dia ingin
segala  yang  menjadi keinginannya terus ditaati, meskipun berupa dosa
dan kemaksiatan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Sehingga orang yang
taat kepadanya lebih dia cintai dan lebih mulia baginya daripada orang
yang  taat  kepada  Allah  dan menyelisihi keinginannya. Ini merupakan
bagian  dari  keadaan  Fir'aun  dan  seluruh  orang  yang  mendustakan
rasul-rasul.?š (majmu' al-Fatawa 8/18, secara ringkas)

Sesungguhnya   gila   kekuasaan  tidak  akan  terlepas  dari  berbagai
kerusakan  dan  bermacam-macam keburukan. Sebagiannya disampaikan oleh
al-Imam  Ibnu  Rajab, beliau berkata, "Ketahuilah bahwa tamak terhadap
kedudukan   akan  menyebabkan  kerusakan  yang  besar,  sebelum  orang
tersebut  meraihnya,  ketika  orang tersebut sedang berusaha meraihnya
dan  lebih-lebih  setelah berhasil mendapatkannya dengan penuh ambisi,
yakni   dapat  menjerumuskannya  ke  dalam  kezhaliman,  takabbur  dan
kerusakan-kerusakan yang lain.?š (syarh hadits ma dzi'baani jaai'aani)

Dan  dalam  kesempatan  yang  lain beliau berkata, "Sesungguhnya cinta
harta  dan  kedudukan,  serta  tamak  terhadapnya  akan  merusak agama
seseorang   sehingga   agama   itu  tidak  tersisa  kecuali  apa  yang
dikehendaki  Allah  Subhannahu wa Ta'ala. Hawa nafsu itu senang kepada
kedudukan yang tinggi di atas manusia lainnya, dan dari sinilah tumbuh
kesombongan dan kedengkian." (ibid, hal 29)

Telah  jelas  bagi  kita  bahaya  dan tercelanya cinta kekuasaan serta
penjelasan  kerusakan  yang  ditimbulkan  olehnya.  Namun ada hal lain
berkaitan  dengan  masalah  kekuasaan  ini, bahwa ada perbedaan antara
cinta  kekuasaan  dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk da'wah
kepada  Allah  Subhannahu  wa  Ta'ala  Tujuan seseorang dalam memegang
kekuasan  di  sini  adalah untuk mengangungkan Allah dan ajaran-ajaran
Nya,  sedangkan  tujuan  orang  yang cinta kekuasaan adalah agar orang
lain  mengagungkan dan menyanjung dirinya. Pemimpin pemimpin yang adil
dan  hakim  hakim  yang  lurus  tidak  akan  mengajak orang lain untuk
mengagungkan  diri  mereka  sama sekali, namun mereka mengajak manusia
agar   selalu  mengagungkan  Allah  semata  dan  mengesakan-Nya  dalam
beribadah.  Dan  di  antara mereka ada yang tidak menginginkan jabatan
kecuali  hanya  sekedar  sebagai  sarana  untuk  dakwah di jalan Allah
Subhannahu wa Ta'ala .

Maka  orang  yang memohon kepada Allah agar menjadikan dirinya sebagai
imam  yang  selalu  dijadikan  contoh  oleh orang-orang yang bertakwa,
sebagaimana dia juga mencontoh orang-orang yang bertakwa, maka hal ini
tidak  apa-apa.  Bahkan  layak  untuk  dipuji karena dia telah menjadi
penyeru  ke  jalan  Allah  Subhannahu  wa  Ta'ala,  senang  jika Allah
Subhannahu  wa  Ta'ala  diibadahi  dan ditaati. Maka dia menyintai apa
saja yang dapat menolong dan mengantarkan pada tujuan tersebut.

Merupakan  kewajiban  para ahli ilmu dan penunutut ilmu untuk menjauhi
dan  berhati-hati  dari  syahwat  jabatan,  kekuasaan dan popularitas,
karena  ia merupakan penyakit yang membahayakan. Selayaknya orang yang
terjangkit  penyakit  ini  segera berobat dengan cara bertaubat kepada
Allah  Subhannahu  wa  Ta'ala,  melakukan tazkiyatun nafs (pembersihan
jiwa) dan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya.

Sufyan  ats-Tsauri  rahimahullah  berkata,  "Riyasah (kekuasaan) lebih
disukai  oleh  para Qurra' (ahli ilmu) daripada emas merah." (kitab al
Wara', Imam Ahmad bin Hanbal, hal 91)

Abul  Farraj  Ibnul  Jauzi  juga  telah  memberikan nasehatnya, "Wahai
saudaraku  hendaklah  kalian  selalu perhatian terhadap lurusnya niat,
tinggalkan  berhias  (berbuat  kebaikan) karena ingin disanjung orang,
jadikan  tiang  penyanggamu  adalah istiqamah bersama yang haq. Dengan
itu  para  salaf  menjadi tinggi dan berbahagia." (Shaidul Khathir hal
227, periksa juga akhlaqul 'ulama' oleh al-Ajuri hal 157).

Diringkas  dari  buku Ubudiyatusy Syahwat hal 54-62, Dr.Abdul Aziz bin
Muhammad Ali al-Abdul Lathif. (Abu Ahmad)

Netter  Al-Sofwa  yang dimuliakan Allah Ta'ala, Menyampaikan Kebenaran
adalah  kewajiban  setiap  Muslim.  Kesempatan  kita  saat  ini  untuk
berdakwah    adalah    dengan    menyampaikan   buletin   ini   kepada
saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin

Waassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
---------------------------------------------------------------------
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 
Jakarta Selatan - Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. 
e-mail: info @alsofwah.or.id 
website: www.alsofwah.or.id 
Rekening Donasi : Bank Muamalat Indonesia - Cabang Fatmawati 
No.Rek. 304. 001.8515 
an. SIWAKZ - Yayasan Al-Sofwa (isi berita : Website)

Artikel  yang  dimuat  di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan
syarat mencantumkan sumber: alsofwah.or.id serta tidak untuk komersil.
"Bersama Al-Sofwah Menapak Jalan Dakwah Salafusshalih"




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke