Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Dalam saat-saat kritis seperti sekarang ini, demi kesinambungan 
pemerintahan, rasanya akan lebih baik jika duet SBY-JK dipertahankan, karena 
akan menggabungkan sisi positif SBY dengan sisi positif JK.
Namun kita harus mengakui bahwa masalah  kurang pasnya  'chemistry' antara 
pribadi SBY dan JK harus turut diperhitungkan. Kelihatannya sudah lama SBY 
menyimpan uneg-uneg terhadap JK -- yang amat gesit itu -- tetapi dipendamnya 
saja diam-diam.Pada momen yang menentukan seperti sekarang ini seluruhnya 
itu sudah terbuka, walau tetap dikemukakan dengan secara santun, namun secara 
pribadi tetap menyakitkan bagi JK. 
Lima kriteria cawapres diiringi dengan pernyataan SBY bahwa beliau 
belum menemukan tokoh yang memenuhi persyaratan tersebut, tentunya termasuk JK. 
Lebih dari itu, SBY juga juga meminta Golkar agar mengajukan lebih dari 
satu calon, tentunya ditujukan terhadap JK sebagai satu-satunya calon Golkar.
Secara pribadi saya setuju dengan komentar Panda Nababan di bawah ini, yang 
mengatakan bahwa seyogyanya SBY mengakui prestasi JK yang setidak-tidaknya 
telah merupakan tokoh yang memegang peranan  penting dalam penyelesaian kasus 
Ambon, Poso, dan Aceh, yang dipandang sebagai salah satu prestasi besar duet 
SBY-JK.
Keengganan SBY terhadap JK mengingatkan saya kembali kepada keengganan Jawa 
terhadap adanya srengenge kembar. Kelihatannya bagi SBY, JK sudah jadi 
srengenge. 
Sekarang nasi sudah jadi bubur. Bagi orang Bugis, dipermalukan di depan umum 
itu sungguh berat.Dan jajaran Golkar kelihatannya solid dibelakang JK. Saya 
ikut menundukkan kepala terhadap tragedi politik nasional pasca Reformasi ini.
[Saya jadi bertanya dalam hati: dalam konflik politik yang bernuansa personal 
dan kultural ini, bagaimana posisi bung Andi Mallarangeng, yang sekaligus 
menjadi salah satu staf terdekat SBY dan Ketua Partai Demokrat, tetapi juga 
Bugis?].

 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" 
Alternate e-mail addresses: 
[email protected];
SBY-JK Bercerai
Kamis, 23 April 2009 | 03:13 WIB 
Jakarta, Kompas - Duet pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla 
harus berakhir pada 20 Oktober 2009. Baik Partai Demokrat maupun Partai Golkar 
tidak mencapai titik temu untuk membangun koalisi. Kedua partai itu kini siap 
bertarung di pemilu presiden.
Baik Partai Golkar maupun Demokrat langsung melakukan gerakan cepat untuk 
menerapkan strategi pascakeputusan di atas.
Kubu Jusuf Kalla segera merancang pertemuan dengan partai politik lain, seperti 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang dijadwalkan berlangsung Kamis 
(23/4) ini.
Kalla juga melakukan pertemuan dengan sejumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) 
Provinsi Tingkat I. Langkah ini krusial karena Jusuf Kalla membutuhkan dukungan 
mereka dalam rapat pimpinan nasional khusus yang berlangsung Kamis ini.
Seusai pertemuan semalam, sejumlah ketua DPD I menyatakan dukungan terhadap 
keputusan DPP Partai Golkar yang dinilai tepat untuk menunjukkan martabat 
partai. ”Karena itu, kami solid untuk mendukung keputusan DPP di rapimnasus. 
Apalagi kita ingin Pak Kalla menjadi calon presiden. Meski kalah, tetapi itu di 
pemilu legislatif. Di pemilu presiden dan wapres belum tentu,” ujar Ketua DPD 
Sumatera Utara Ali Umri.
Hal senada dinyatakan Ketua DPD Maluku Utara Ahmad Hidayat Mus, Ketua DPD 
Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh, dan Ketua DPD Jawa Barat Uu Rukmana. Di 
Manado, Ketua DPD Sulawesi Utara Max Lumintang juga mengaku konsisten mengusung 
Kalla sebagai capres.
Sedangkan sumber Kompas menyebutkan, tim Demokrat semalam bertemu dengan Ketua 
Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir.
Soal JK
Sikap DPP Partai Golkar disampaikan oleh Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono 
dan Ketua DPP Syamsul Muarif.
Menurut Soemarsono, DPP Partai Golkar memberikan mandat penuh kepada Ketua Umum 
membuka komunikasi dengan parpol lain untuk membangun pemerintahan yang kuat 
dan efektif. Diharapkan dalam rapimnasus Kalla sudah bisa melaporkan hasil 
komunikasi politiknya itu untuk dibahas menjadi keputusan Partai Golkar. Forum 
ini juga akan membahas kepastian Kalla sebagai capres.
Menurut Syamsul, buntunya pembicaraan Demokrat-Golkar karena Partai Demokrat 
tetap meminta lebih dari satu nama calon wapres. Padahal, berdasarkan keputusan 
rapimnasus tahun lalu, Partai Golkar sudah menyepakati satu nama untuk cawapres.
Di Cikeas, Bogor, Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Politik Anas Urbaningrum 
dalam jumpa pers mengatakan tidak menduga penghentian pembicaraan dilakukan 
sepihak. ”Demokrat tidak menduga Golkar menyatakan telah terjadi kebuntuan 
pembicaraan tentang koalisi. Kami juga tidak menduga penghentian pembicaraan 
dilakukan sepihak. Tidak benar jika ada kesan Demokrat bertindak semena-mena 
dalam proses pembicaraan tentang koalisi,” ujarnya.
Anas kemudian menjelaskan kronologi pembicaraan Golkar-Demokrat, termasuk 
pengajuan draf kesepakatan koalisi, pada Selasa lalu.. Golkar diwakili Andi 
Mattalatta, Muladi, dan Soemarsono. Demokrat diwakili Hadi Utomo, Marzuki Alie, 
dan Anas.
Prinsipnya, semua butir draf koalisi disepakati kecuali jumlah cawapres. 
”Harapan kami tidak satu nama agar capres (Yudhoyono) punya kesempatan 
menentukan yang terbaik sesuai lima kriteria,” ujar Anas.
Meski pembicaraan koalisi dengan Golkar telah dinyatakan buntu, Demokrat 
berpendapat, kerja sama dalam bentuk apa pun tetap dimungkinkan. ”Kami 
menjalankan politik pintu terbuka kepada Golkar dan partai lain,” ujar Anas.
Menanggapi pernyataan Anas tentang pemutusan sepihak, Sekjen Golkar Soemarsono 
berkomentar, ”Pembicaraan selama seminggu lebih tidak mencapai mufakat, kami 
keburu waktu, ada rapimnasus. Karena tidak ada keputusan dari Partai Demokrat, 
berarti tidak ada kesepahaman. Sederhana saja alasannya.”
Bukan sikap partai
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, Rabu di Gedung MPR/DPR, 
menyebutkan, keputusan DPP Partai Golkar untuk berpisah dari Partai Demokrat 
belum lagi menjadi sikap final Partai Golkar sebagai institusi. Sikap resmi 
bakal diputuskan dalam rapimnasus, termasuk pilihan mitra-koalisi serta siapa 
dan berapa calon yang bakal diajukan.
Agung mengharapkan pihak masing-masing menahan diri. Ia mengakui, selama ini 
Partai Golkar memang cenderung berkoalisi dengan Partai Demokrat. Sebelumnya, 
pilihan itu dinilai sangat beralasan dan dipandang yang terbaik.
Hal senada disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso. Menurut dia, 
Golkar juga tidak menutup rapat pintunya untuk Demokrat. Bila saat ini belum 
ada kesamaan pandangan, bisa jadi pada waktu mendatang terjadi perubahan. 
”Pintu masih terbuka, tetapi sekarang tipis. Ini politik, setiap hitungan 
detik, menit, jam, atau hari bisa berubah. Siapa tahu ada sinyal lain dari 
Cikeas,” katanya.
Secara terpisah, Ketua Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Siddiq menyebutkan, 
sikap PKS yang disampaikan kepada Yudhoyono bukanlah penyebab utama terputusnya 
koalisi Partai Demokrat dengan Partai Golkar.
Jika benar Partai Golkar memilih tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat, tidak 
berarti kader PKS berpeluang lebih besar mengisi posisi calon wapres. Dalam 
koalisi, PKS tidak dalam posisi menawar-nawarkan calon wapres. Soal pembagian 
kekuasaan, hal itu juga belum dibahas bersama Yudhoyono.
Pro dan kontra
Berakhirnya koalisi Golkar-Demokrat disambut beragam. Ketua Dewan Perwakilan 
Daerah Ginandjar Kartasasmita tidak menyetujui keputusan itu. Menurut 
Ginandjar, para petinggi Golkar seharusnya dapat menahan diri. Kepentingan 
partai tidak boleh tunduk pada kepentingan seseorang, termasuk Ketua Umum 
Golkar.
Ketua DPP PDI-P Panda Nababan berpandangan, seharusnya Presiden Yudhoyono tidak 
mengabaikan Jusuf Kalla, tetapi justru berterima kasih karena Kalla banyak 
berperan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. ”Sudah sewajarnya SBY 
berterima kasih kepada JK karena banyak kelemahan yang ada pada SBY ditutupi 
oleh kecepatan dan kelincahan JK mengatasi berbagai persoalan dan cepat 
mengambil keputusan,” katanya.(HAR/SIE/DIK/ZAL/MAM/INU/SUT)
[email protected]
[email protected]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke