Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sesuai dengan postings saya terdahulu untuk meningkatkan peranan serta posisi
perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, saya ikut
bangga dengan Kapolda Banten ini, seorang perempuan. Sayangnya bukan perempuan
Minang.
Tapi kalau saya tak salah ingat, sekolah polisi wanita pertama di Indonesia
dahulu justru terletak di Bukit Tinggi.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam,
Pariaman.)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
Alternate e-mail addresses:
[email protected];
Rumiah, Keseimbangan sebagai Kepala Polda
Kompas, Kamis, 23 April 2009 | 03:53 WIB
Lewat caranya sendiri, Raden Adjeng Kartini berusaha mengangkat derajat
perempuan serta menghapus diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Setelah
105 tahun berselang, tidak sedikit perempuan yang berhasil menduduki jabatan
strategis di lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia. Satu di antara mereka
adalah Rumiah Kartoredjo. Anita Yossihara
Rumiah Kartoredjo adalah seorang brigadir jenderal di lingkungan Kepolisian
Negara Republik Indonesia (Polri). Prinsip keseimbangan dan kerja keras yang
dia yakini selama ini membawanya ke pucuk pimpinan tertinggi di Kepolisian
Daerah (Polda) Banten. Dia dilantik sebagai Kepala Polda Banten pada Januari
2008. Ini menjadikan dia sebagai perempuan pertama yang menjadi Kepala Polda di
Indonesia.
Perempuan kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, ini tidak pernah membayangkan akan
menjadi seorang polisi, apalagi bisa menjabat sebagai pimpinan di jajaran
kepolisian. Rumiah muda menggantungkan cita-citanya untuk menjadi guru. Sebuah
cita-cita ”sederhana” dari seorang gadis dari kota kecil.
Cita-cita itulah yang kemudian membawa Rumiah hijrah ke Surabaya untuk
melanjutkan kuliah di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya
(sekarang Universitas Negeri Surabaya) pada tahun 1975. Kesukaannya pada
olahraga membuat Rumiah memilih belajar di jurusan Pendidikan Olahraga.
Sebelum menamatkan kuliah, Rumiah memutuskan untuk mengikuti pendidikan di
Sekolah Perwira Militer Sukarelawan (Sepa Milsukwan) ABRI tahun 1978.
”Waktu itu saya masih tingkat lima, dan kuliah (di IKIP) tetap saya lanjutkan
sampai tamat,” ujar Rumiah.
Lingkungan keluargalah yang membawa Rumiah masuk ke dunia militer. Kakak Rumiah
adalah seorang marinir, sedangkan adiknya seorang perwira Angkatan Darat. Saat
pertama masuk militer, Rumiah mendapat dukungan penuh dari sang ayah,
Kartoredjo. Kebetulan, sang ayah bercita-cita menjadi polisi, tetapi dia gagal
karena dilarang orangtua.
Sekitar tahun 1990 Rumiah melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Perwira
(Selapa) Polri. Mantan atlet nasional sofbol ini kemudian terus mengembangkan
diri dengan mengikuti pendidikan pada Sekolah Staf Komando Angkatan Darat
(Seskoad) tahun 1995 dan Sekolah Staf Perwira Tinggi (Sespati) Polri pada 2003.
Kariernya di kepolisian dimulai dari ”bawah”. Sebelum dilantik menjadi Kepala
Polda Banten, Rumiah menduduki sejumlah posisi penting di kepolisian. Dia
antara lain pernah menjadi Komandan Peleton (Danton) Seba Polisi Wanita
(Polwan), Kepala Sekolah Polwan (1999), kemudian Sekretaris Lembaga Pendidikan
dan Pelatihan (Seslemdiklat) Polri.
Rumiah meraih sedikitnya lima tanda jasa, yakni Satya Lencana Kesetiaan 8
Tahun, Karya Bakti, Dwidya Sistha, Kesetiaan 16 Tahun, dan Bintang Bhayangkara
Naraya.
Keseimbangan
Selama hidupnya, Rumiah berusaha memegang teguh prinsip keseimbangan antara
tugas dan kewajiban sebagai manusia, sekaligus menjalani kodratnya sebagai
perempuan. Prinsip inilah yang terus dia terapkan dalam menjalani kewajiban
sebagai Kepala Polda Banten.
Sebagai pimpinan tertinggi di Polda Banten, Rumiah harus selalu siap
menjalankan tugas, memberikan pelayanan dan perlindungan terbaik bagi warga.
Dia tidak segan mengunjungi wilayah tugasnya sampai ke daerah-daerah pelosok
sekalipun jika menerima laporan tentang adanya gangguan ketertiban masyarakat.
Seperti pada saat terjadi ledakan bom ikan di Carita, Pandeglang, Rumiah turun
sendiri mengamati lokasi ledakan.
Bagi anak buahnya, Rumiah merupakan sosok atasan yang tidak terpaku pada aturan
protokoler dan selalu turun ke lapangan. Bahkan sering kali dia mendatangi
pusat-pusat keramaian, seperti pasar swalayan atau pasar tradisional, untuk
memantau situasi secara langsung.
Pada saat harga beras dan bahan pangan naik-turun, dia menyempatkan diri
berkeliling Pasar Induk Rau dengan menggunakan pakaian preman. Rumiah pun tak
segan mengajak bicara pedagang pasar hanya untuk mengetahui kondisi pasar.
Satu hal lain yang juga penting, ia selalu siap menerima laporan maupun
pengaduan dari anak buahnya melalui telepon seluler selama 24 jam penuh. Dia
tidak canggung turun ke lapangan bersama para anak buahnya. Sebagai penganut
agama Islam, Rumiah berusaha menjalankan kewajibannya. Sepadat apa pun jadwal
kerja, dia menyempatkan diri untuk shalat. ”Prinsip ini juga saya terapkan
kepada para anggota,” katanya.
Setiap hari Rumiah memberlakukan jadwal shalat dzuhur berjemaah di masjid Polda
bagi anggota Polda Banten yang beragama Islam. Selain itu, dia juga
menjadwalkan pengajian rutin setiap hari Kamis. Demikian juga kegiatan
keagamaan rutin bagi anggota polisi pemeluk agama lain.
Sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, dia menyempatkan diri untuk membuatkan
makanan kesukaan anaknya, Yudi Sulistiyanto dan Surya Dwi Adji Gemilang yang
duduk di kelas VI sekolah dasar. Bahkan, dia masih sempat meluangkan waktu
menemani Surya belajar. Putra pertamanya, Yudi, kini telah menjadi perwira
polisi dengan jabatan kepala kepolisian sektor di wilayah Polda Metro Jaya.
Selain prinsip keseimbangan, Rumiah punya enam kiat dalam melaksanakan tugasnya
di kepolisian. ”Pertama, bersikap simpatik,” kata anak pasangan Kartoredjo
(almarhum) dan Musinah ini. Maksudnya, dengan bersikap simpatik, polisi bisa
menjadi pengayom masyarakat, dan bukan sebaliknya.
Kiat berikutnya adalah usaha, yakni bekerja keras untuk menjalankan kewajiban,
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Selanjutnya adalah
kompetensi, yang berarti memanfaatkan kompetensi atau kemampuan yang dimiliki
untuk membantu organisasi (Polri).
”Lalu, semangat, yang intinya mencerminkan kepercayaan dan keberanian kita
bertindak untuk kebenaran,” ujarnya menambahkan.
Dua kiat Rumiah lainnya adalah efektivitas dan kesederhanaan. Menurut dia, pola
hidup sederhana harus diterapkan agar hidup menjadi lebih efisien.
”Hidup itu enggak usah neko-neko, seadanya saja. Kita cukup memanfaatkan dan
memaksimalkan potensi yang ada sehingga semua bisa dilakukan dengan tepat,
cepat, dan murah,” katanya.
Rumiah berpesan kepada para polisi wanita (polwan) untuk memanfaatkan peluang
dan meningkatkan kompetensi agar bisa memberikan prestasi yang terbaik bagi
Polri.
”Pimpinan Polri sudah memberikan peluang yang sama kepada polwan. Oleh karena
itu, kita yang harus bisa memanfaatkan peluang itu sebaik mungkin,” kata
perempuan bernomor registrasi prajurit atau Nrp 52030124 ini.
Bagi Rumiah, prestasi itu harus diwujudkan melalui kerja keras dan tanggung
jawab. Tanpa keduanya, niscaya kemuliaan itu tak akan bisa diraih.
[email protected]
[email protected]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---