Dear Bpk Epy Buchari Yang Mulia,

1). Mhn maaf baru reply, terlalu bnyak email kemaren dan krn sdg di lapangan

2). Pd dasarnya saya bisa sepakat dgn esensi posting Bpk, tapi mengapa ya kok 
saya sptnya mendapat kesan adanya hiperbolisme yg TERLALU berlebihan pada 
tulisan Bpk utk saya? 

3).  Jika boleh bharap, maka yg saya inginkan adalah saya bisa ibarat menjadi 
anak/kemanakan yg baik dan benar  bagi Bpk....dalam arti setidaknya dua 
generasi yg berbeda bisa berkomunikasi secara manis dan harmonis.

Kata pepatah, "tak kenal maka tak sayang", ...utk itu dalam rangka agar bisa 
lebih saling mengenal, tolong ijinkan saya utk secara jujur menyampaikan 
perspektif saya secara terbuka atas perspektif Bpk pd saya. 

4). Jika Bpk ijinkan saya utk jujur, maka nampaknya  kok ada kecenderungan 
logika linier yg hiperbolis pada dua posting Bpk kepada saya hari ini (27 
April). Dan, krn  hal tsb tidak saya lihat pd tulisan Bpk pada posting 
lain....maka saya bfikir ada keganjilan pola komunikasi  Bpk pada saya.  

Pertama, atas gurauan saya dgn JePe (+ DLL), Bapak "hakimi". kami berdua secara 
"berlebihan" tanpa Bpk melihat siapa yg memulai keluar dari konteks (hayo 
ngaku....kok belum ada yg ngaku...),....... siapa yg ikut arus keluar konteks 
(saya mengaku ikut arus keluar konteks,.....siapa lagi hayo ngaku)..... dan 
siapa yg mengubah/mperbaiki topik (pd round ke tiga maka JePe mengubah topik 
sesuai dgn judul diatas ....alias bukan utk Pak Naim lagi, shg saya tidak 
melihat alasan kuat utk Bpk bisa menghakimi saya dan JePe) .....dan ketika kami 
bergurau (pd saat  topik sudah berubah) tiba2 Bpk menjadi "hakim" yg hiperbolis 
dlm "menegur".

Kedua, demikian juga dgn postingan ini, tiba2 Bpk bertindak spt "hakim yang 
bijak", .... tapi bagi saya sang hakim spt emosional (tapi sok bijaksana) 
sehingga telah kehilangan logika dan kata-kata utk membacakan vonis. 

Pernyataan Bpk pada frase "....berpotensi menenggelamkan minang kembali"..... 
saya fikir terlalu CEPAT dan BELUM TENTU BISA Bpk TERIMA kalau pd dinamika yg 
sama  kalimat yg sama saya hadapkan pd Bpk. 

Bpk comot paragraf penutup tulisan saya tanpa Bpk melihat alur logika yg saya 
mulai alirkan sejak pd paragraf awal. Dan Bpk coba kuliti saya hingga leluhur 
(dan pendahulu) segala. WAH LUAR BIASA....saya masih belum menemukan alasan 
kenapa seperti terlalu enteng lidah Bpk menghakimi saya...hingga mempertanyakan 
pendahulu saya segala.  

5). Pada dasarnya yg Bpk sampaikan ttg pola dan kehebatan orang Minang adalah 
bukan hal baru bagi saya,....tapi dari cara Bpk menyampaikan dan dari  pola Bpk 
menggununakannya sptnya saya mendapat indikator bhw Bpk cenderung menggunakan 
filosofi tsb dgn pola "menghakimi" orang. 

Teori filosofi (termasuk filosofi Minang) adlh dpt diibaratkan spt bangunan 
rumah,....mulai dari pondasi hingga final-finishing. Ibarat membangun rumah, 
maka setelah itu  perlu kita sadari utk apa rumah itu dibangun,.....maka 
demikian juga dgn filosofi minang,.... utk apa filosofi itu ditegakan......bagi 
saya pribadi adalah untuk MENJAGA DAN MEMPERTAHANKAN segenap harkat dan 
martabat Orang Minang (termasuk pendahulu saya yg bapak sebut). 

Janganlah kita gunakan filosofi minang utk sekedar ber-JAIM (jaga image) ria 
belaka.....atau berpola "saya tahu, saya bisa,....anda bicara saya jawab, 
....anda menyerang saya tangkis etc....etc". Tapi marilah kita gunakan utk 
betul2 menjaga harkat dan martabat Minang.  

Untuk itu, ....maka keberanian berjuang dan berkorban (dlm segala bentuk) dlm 
menegakan kebenaran  (juga spt yg Bpk sebut militan) adalah salah satu 
indikator telah mendarah dagingnya suatu filosofi dlm diri seseorang (dlm hal 
ini adalah anak/kemanakan minang). 

Seperti itullah saya diajarkan oleh pendahulu saya. Saya tidak pernah di suruh 
menghapal, tapi saya dituntun utk berani dan teguh dalam mempertahankan adat 
dan agama. Utk bisa menjadi berani, maka semua syarat keberanian haruslah saya 
penuhi.....dan utk bisa menjadi teguh, maka semua niat keteguhan haruslah saya 
wujudkan. 

Sampai di situ, mohon ijinkan saya bertanya apakah sama kaji kita, Pak?

Adalah omong kosong utk mengatakan bhw hidup berfilosofi tapi takut berkorban 
utk menjaga dan mempertahankan filosofi tersebut. 

Jgnlah gunakan filosofi (dan juga agama) hanya utk sebagai perhiasan, tameng,  
ataupun gagah2an belaka,....dan jangan gunakan filosofi (atau agama) utk 
melindungi diri ketika salah,..... melainkan gunakanlah filosofi (dan agama) 
agar tidak berbuat salah.   

Berkaitan dengan salah, jangan lah pula kita "sok bijaksana"  ketika suatu 
perjuangan dan pengorbanan diperlukan utk menegakan kebenaran dan ke adilan.  
Di satu sisi, harus berani mengatakan salah, karena di sisi lain adalah hak si 
salah utk mendapatkan peringatan atas kesalahannya. 

Demikian pula dlm menyampaikan kebenaran,   ......nyatakanlah pula kebenaran pd 
si benar, karena si benar juga mempunyai hak mendengar bhw kebenaran yg telah 
dia coba tegakan adalah sudah dia laksanakan.  

6). Dalam konteks silang pendapat dlm menilai pihak2 yg terlibat dlm Tour,  
maka pada posting saya tsb saya cuatkan pemikiran perlunya kita adil thdp 
semua, yaitu melalui cara mencari data yg baik ttg perbedaan pendapat yg ada. 
Dgn demikian, kita tidak hanya menyalah-nyalahkan jajaran PEMDA Sumbar 
membabi-buta, atau sebaliknya menyalah-nyalahkan MenBudPar....atau diam saja 
saat diancam MenBudPar. 

Jika dari data yg ada mmg kita yg salah, maka mari kita mengaku jujur dan 
terima konsekuensi. Jika ternyata sebaliknya, maka saya sepakat kita TIDAK 
PERLU TAKUT atas ancaman mentri tsb...dan sebaliknya kita harus berani utk 
menuntut sang menteri memperbaiki pernyataannya (inilah yg saya hiperboliskan 
ke dalam istilah boikot) 

Ungkapan Bpk yg ibaratnya hanya sampai pada kata "kita tergopoh-gopoh dlm 
melaksanakan event tsb" bagi saya bukanlah solusi dan pembelajaran yg baik. 
Kata GOPOH hanyalah simpton, belum menggambarkan akar permasalahan. Banyak 
audien (peserta milis) yg brgkali membutuhkan pencerahan yg detail mengapa 
terjadi GOPOH tersebut, ....shg wisdom yg terdapat dlm suatu tatanan filosofi 
perlu diejawantahkan ke dalam usaha nyata berupa mencari berbagai dinamika 
empiris yg mudah dimengerti. 
 
Mari kita  bayangkan berapa kemungkinan kecelakaan pd event tsb? Plz hitung 
jumlah pelintasan jalan, dan mulut gang yg ada di sepanjang rute, dan coba 
banyangkan berapa tenaga yg harus disediakan oleh pemda sumbar utk menjaga 
semua mulut gang tsb? 

Bisa di bayangkan jika tiba2 seekor anjing berlari keluar dr mulut gang ketika 
pembalap sdg sprint? 

Jika hanya anjing yg keluar, maka pembalab dan anjing menjadi berpotensi 
celaka, sdgkan jika yg keluar adalah anak kemanakan kita.....silahkan bayangkan 
sendiri apa yg terjadi. 

Terlalu banyak hal yg detail perlu jadi pembelajaran, ...dan itu belumlah 
diulas secara cukup dlm majelis kita ini. Yang ada selama ini hanyalah ungkapan 
general yg cenderung menghakimi secara tidak adil dan sangat subjektif.
  
7). Sampai pada butir 6, saya fikir saya telah coba utk membuka komunikasi 
panjang dgn Bpk, dengan tujuan agar kita bisa saling mengenal pola bahasa dan 
komunikasi kita masing2,....shg akhirnya kita bisa saling menyayangi seperti 
"bpk dan anak" atau "mamak dan kemanakan",....setulus hati guna masa depan 
generasi Minang kita.  

Mudah2an Bpk tidak kaget, dan juga tidak tersinggung. 

8). Jika Bapak tidak keberatan, maka tolong ijinkan saya untuk sedikit  
meneruskan tulisan ini dgn membuka diskusi baru tentang Quo Vadis Generasi Baru 
Minang, sesuai dgn perspektif dan sinyalemen yg Bapak ungkapkan.

Kriteria apa yg Bpk pakai utk "menghakimi" saya (dlm hal ini brgkali bisa 
sebagai sampel generasi berumur 40-50 thn) seperti itu? 

Apakah krn saya masuk kriteria Bpk sbg "militan" kemudian generasi saya 
dianggap sbg quo vadis? Bukan di ranah minang dari dulu sdh diberlakukan  
penahapan "kebenaran tegak sandirinya"? 

Maaf ya Pak, lagi2 saya menemukan indikator emosional pd tulisan Bpk atas 
sinyalemen quo-vadis ini. 

Bagaimana kalau kita bangun kriteria nya dan lalu sama2 kita uji, generasi mana 
yg quo-vadis ? Generasi saya atau generasi Bpk, ....atau generasi lain?

9). Mohon maaf karena gaya bhs yg terlalu langsung saya pakai sekali ini. Hal 
ini bukan karena saya tidak menghormati Bpk atau juga ikut menghakimi Bpk, 
........tapi saya sengaja menunjukan gaya bahasa lain dlm berkomunikasi (dlm 
hal ini adalah kemerdekaan berkomunikasi antar generasi).

Salam,
r.a.
(L, 45-, sdg di Tanah Datar).
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: bandarost <[email protected]>

Date: Sun, 26 Apr 2009 18:09:21 
To: RantauNet<[email protected]>
Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi 
 dansusseskan.



Ck, ck, ck, ck, ck........luar biasa dan sangat "militan". Sabaaaar,
sabaaar  dong bung...kalau kuping tipis tidak bisa menerima kritik,
sekurangnya cerna dulu dong omongan orang...introspeksi...khan baru
minggu lalu milis ini memuat kekhawatiran bagaimana "tergopoh-
gopoh"nya kita dalam persiapan  event ini..."semangat" dan "harga
diri" beginilah yang berpotensi akan menenggelamkan Minang kembali.
Kelebihan dari para leluhur dan founding fathers asal Minang masa lalu
adalah kehebatan diplomasinya...bukan ancam mengancam sampai-sampai
"ganti-mengganti" seperti ini.....Gampang amat tersinggung sih...?
Quo Vadis generasi baru Minang...mana kematangan jiwa, keluasan
pandangan, kedalaman ilmu, kecerdasan, dan kearifan & kebijaksanaan
yang sudah dicontohkan para pendahulumu...??

Maaf dan Wassalam,

Epy Buchari (L-66)
Ciputat Timur

On 27 Apr, 07:23, [email protected] wrote:
> Hahaha....sapakat ambo jo Bpk, .....sekalian aja kita ganti Mentri kali 
> ya......hahaha...
>
> Salam,
> r.a
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: zul amri <[email protected]>
>
> Date: Mon, 27 Apr 2009 07:44:17
> To: <[email protected]>
> Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi dan
>
>  susseskan.
>
> Jangan takut dengan ancaman , toh tahun depan belum tentu menterinya sama 
> dengan yang sekarang ini . Atau ada wacana untuk memindahkan Tour ini ke Bali 
> ??
>
> zul amry piliang
>
>________________________________



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Muzirman --
    • ... Darul Makmur
    • ... avenzora19
      • ... zul amri
        • ... avenzora19
          • ... bandarost
            • ... avenzora19
              • ... Riri Chaidir
                • ... bandarost
                • ... avenzora19
        • ... Muzirman --
        • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
          • ... avenzora19
          • ... avenzora19
          • ... avenzora19
            • ... Dewis Natra

Kirim email ke