Bagaimana kalau yang ini diteruskan di Japri saja?

 

(Rang Dapua, maaf, ambo one-liner)

 

Riri

Bekasi, L 46

 

 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of [email protected]
Sent: Tuesday, April 28, 2009 9:54 AM
To: [email protected]
Subject: QUO VADIS GENERASI BARU MINANG??? Re: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE
SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi dansusseskan.

 

Dear Bpk Epy Buchari Yang Mulia,

 

1). Mhn maaf baru reply, terlalu bnyak email kemaren dan krn sdg di lapangan

 

2). Pd dasarnya saya bisa sepakat dgn esensi posting Bpk, tapi mengapa ya
kok saya sptnya mendapat kesan adanya hiperbolisme yg TERLALU berlebihan
pada tulisan Bpk utk saya? 

 

3).  Jika boleh bharap, maka yg saya inginkan adalah saya bisa ibarat
menjadi anak/kemanakan yg baik dan benar  bagi Bpk....dalam arti setidaknya
dua generasi yg berbeda bisa berkomunikasi secara manis dan harmonis.

 

Kata pepatah, "tak kenal maka tak sayang", ...utk itu dalam rangka agar bisa
lebih saling mengenal, tolong ijinkan saya utk secara jujur menyampaikan
perspektif saya secara terbuka atas perspektif Bpk pd saya. 

 

4). Jika Bpk ijinkan saya utk jujur, maka nampaknya  kok ada kecenderungan
logika linier yg hiperbolis pada dua posting Bpk kepada saya hari ini (27
April). Dan, krn  hal tsb tidak saya lihat pd tulisan Bpk pada posting
lain....maka saya bfikir ada keganjilan pola komunikasi  Bpk pada saya.  

 

Pertama, atas gurauan saya dgn JePe (+ DLL), Bapak "hakimi". kami berdua
secara "berlebihan" tanpa Bpk melihat siapa yg memulai keluar dari konteks
(hayo ngaku....kok belum ada yg ngaku...),....... siapa yg ikut arus keluar
konteks (saya mengaku ikut arus keluar konteks,.....siapa lagi hayo
ngaku)..... dan siapa yg mengubah/mperbaiki topik (pd round ke tiga maka
JePe mengubah topik sesuai dgn judul diatas ....alias bukan utk Pak Naim
lagi, shg saya tidak melihat alasan kuat utk Bpk bisa menghakimi saya dan
JePe) .....dan ketika kami bergurau (pd saat  topik sudah berubah) tiba2 Bpk
menjadi "hakim" yg hiperbolis dlm "menegur".

 

Kedua, demikian juga dgn postingan ini, tiba2 Bpk bertindak spt "hakim yang
bijak", .... tapi bagi saya sang hakim spt emosional (tapi sok bijaksana)
sehingga telah kehilangan logika dan kata-kata utk membacakan vonis. 

 

Pernyataan Bpk pada frase "....berpotensi menenggelamkan minang
kembali"..... saya fikir terlalu CEPAT dan BELUM TENTU BISA Bpk TERIMA kalau
pd dinamika yg sama  kalimat yg sama saya hadapkan pd Bpk. 

 

Bpk comot paragraf penutup tulisan saya tanpa Bpk melihat alur logika yg
saya mulai alirkan sejak pd paragraf awal. Dan Bpk coba kuliti saya hingga
leluhur (dan pendahulu) segala. WAH LUAR BIASA....saya masih belum menemukan
alasan kenapa seperti terlalu enteng lidah Bpk menghakimi saya...hingga
mempertanyakan pendahulu saya segala.  

 

5). Pada dasarnya yg Bpk sampaikan ttg pola dan kehebatan orang Minang
adalah bukan hal baru bagi saya,....tapi dari cara Bpk menyampaikan dan dari
pola Bpk menggununakannya sptnya saya mendapat indikator bhw Bpk cenderung
menggunakan filosofi tsb dgn pola "menghakimi" orang. 

 

Teori filosofi (termasuk filosofi Minang) adlh dpt diibaratkan spt bangunan
rumah,....mulai dari pondasi hingga final-finishing. Ibarat membangun rumah,
maka setelah itu  perlu kita sadari utk apa rumah itu dibangun,.....maka
demikian juga dgn filosofi minang,.... utk apa filosofi itu
ditegakan......bagi saya pribadi adalah untuk MENJAGA DAN MEMPERTAHANKAN
segenap harkat dan martabat Orang Minang (termasuk pendahulu saya yg bapak
sebut). 

 

Janganlah kita gunakan filosofi minang utk sekedar ber-JAIM (jaga image) ria
belaka.....atau berpola "saya tahu, saya bisa,....anda bicara saya jawab,
....anda menyerang saya tangkis etc....etc". Tapi marilah kita gunakan utk
betul2 menjaga harkat dan martabat Minang.  

 

Untuk itu, ....maka keberanian berjuang dan berkorban (dlm segala bentuk)
dlm menegakan kebenaran  (juga spt yg Bpk sebut militan) adalah salah satu
indikator telah mendarah dagingnya suatu filosofi dlm diri seseorang (dlm
hal ini adalah anak/kemanakan minang). 

 

Seperti itullah saya diajarkan oleh pendahulu saya. Saya tidak pernah di
suruh menghapal, tapi saya dituntun utk berani dan teguh dalam
mempertahankan adat dan agama. Utk bisa menjadi berani, maka semua syarat
keberanian haruslah saya penuhi.....dan utk bisa menjadi teguh, maka semua
niat keteguhan haruslah saya wujudkan. 

 

Sampai di situ, mohon ijinkan saya bertanya apakah sama kaji kita, Pak?

 

Adalah omong kosong utk mengatakan bhw hidup berfilosofi tapi takut
berkorban utk menjaga dan mempertahankan filosofi tersebut. 

 

Jgnlah gunakan filosofi (dan juga agama) hanya utk sebagai perhiasan,
tameng,  ataupun gagah2an belaka,....dan jangan gunakan filosofi (atau
agama) utk melindungi diri ketika salah,..... melainkan gunakanlah filosofi
(dan agama) agar tidak berbuat salah.   

 

Berkaitan dengan salah, jangan lah pula kita "sok bijaksana"  ketika suatu
perjuangan dan pengorbanan diperlukan utk menegakan kebenaran dan ke adilan.
Di satu sisi, harus berani mengatakan salah, karena di sisi lain adalah hak
si salah utk mendapatkan peringatan atas kesalahannya. 

 

Demikian pula dlm menyampaikan kebenaran,   ......nyatakanlah pula kebenaran
pd si benar, karena si benar juga mempunyai hak mendengar bhw kebenaran yg
telah dia coba tegakan adalah sudah dia laksanakan.  

 

6). Dalam konteks silang pendapat dlm menilai pihak2 yg terlibat dlm Tour,
maka pada posting saya tsb saya cuatkan pemikiran perlunya kita adil thdp
semua, yaitu melalui cara mencari data yg baik ttg perbedaan pendapat yg
ada. Dgn demikian, kita tidak hanya menyalah-nyalahkan jajaran PEMDA Sumbar
membabi-buta, atau sebaliknya menyalah-nyalahkan MenBudPar....atau diam saja
saat diancam MenBudPar. 

 

Jika dari data yg ada mmg kita yg salah, maka mari kita mengaku jujur dan
terima konsekuensi. Jika ternyata sebaliknya, maka saya sepakat kita TIDAK
PERLU TAKUT atas ancaman mentri tsb...dan sebaliknya kita harus berani utk
menuntut sang menteri memperbaiki pernyataannya (inilah yg saya
hiperboliskan ke dalam istilah boikot) 

 

Ungkapan Bpk yg ibaratnya hanya sampai pada kata "kita tergopoh-gopoh dlm
melaksanakan event tsb" bagi saya bukanlah solusi dan pembelajaran yg baik.
Kata GOPOH hanyalah simpton, belum menggambarkan akar permasalahan. Banyak
audien (peserta milis) yg brgkali membutuhkan pencerahan yg detail mengapa
terjadi GOPOH tersebut, ....shg wisdom yg terdapat dlm suatu tatanan
filosofi perlu diejawantahkan ke dalam usaha nyata berupa mencari berbagai
dinamika empiris yg mudah dimengerti. 

 

Mari kita  bayangkan berapa kemungkinan kecelakaan pd event tsb? Plz hitung
jumlah pelintasan jalan, dan mulut gang yg ada di sepanjang rute, dan coba
banyangkan berapa tenaga yg harus disediakan oleh pemda sumbar utk menjaga
semua mulut gang tsb? 

 

Bisa di bayangkan jika tiba2 seekor anjing berlari keluar dr mulut gang
ketika pembalap sdg sprint? 

 

Jika hanya anjing yg keluar, maka pembalab dan anjing menjadi berpotensi
celaka, sdgkan jika yg keluar adalah anak kemanakan kita.....silahkan
bayangkan sendiri apa yg terjadi. 

 

Terlalu banyak hal yg detail perlu jadi pembelajaran, ...dan itu belumlah
diulas secara cukup dlm majelis kita ini. Yang ada selama ini hanyalah
ungkapan general yg cenderung menghakimi secara tidak adil dan sangat
subjektif.

  

7). Sampai pada butir 6, saya fikir saya telah coba utk membuka komunikasi
panjang dgn Bpk, dengan tujuan agar kita bisa saling mengenal pola bahasa
dan komunikasi kita masing2,....shg akhirnya kita bisa saling menyayangi
seperti "bpk dan anak" atau "mamak dan kemanakan",....setulus hati guna masa
depan generasi Minang kita.  

 

Mudah2an Bpk tidak kaget, dan juga tidak tersinggung. 

 

8). Jika Bapak tidak keberatan, maka tolong ijinkan saya untuk sedikit
meneruskan tulisan ini dgn membuka diskusi baru tentang Quo Vadis Generasi
Baru Minang, sesuai dgn perspektif dan sinyalemen yg Bapak ungkapkan.

 

Kriteria apa yg Bpk pakai utk "menghakimi" saya (dlm hal ini brgkali bisa
sebagai sampel generasi berumur 40-50 thn) seperti itu? 

 

Apakah krn saya masuk kriteria Bpk sbg "militan" kemudian generasi saya
dianggap sbg quo vadis? Bukan di ranah minang dari dulu sdh diberlakukan
penahapan "kebenaran tegak sandirinya"? 

 

Maaf ya Pak, lagi2 saya menemukan indikator emosional pd tulisan Bpk atas
sinyalemen quo-vadis ini. 

 

Bagaimana kalau kita bangun kriteria nya dan lalu sama2 kita uji, generasi
mana yg quo-vadis ? Generasi saya atau generasi Bpk, ....atau generasi lain?

 

9). Mohon maaf karena gaya bhs yg terlalu langsung saya pakai sekali ini.
Hal ini bukan karena saya tidak menghormati Bpk atau juga ikut menghakimi
Bpk, ........tapi saya sengaja menunjukan gaya bahasa lain dlm berkomunikasi
(dlm hal ini adalah kemerdekaan berkomunikasi antar generasi).

 

Salam,

r.a.

(L, 45-, sdg di Tanah Datar).

Powered by Telkomsel BlackBerryR

 

-----Original Message-----

From: bandarost <[email protected]>

 

Date: Sun, 26 Apr 2009 18:09:21 

To: RantauNet<[email protected]>

Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi


 dansusseskan.

 

 

 

Ck, ck, ck, ck, ck........luar biasa dan sangat "militan". Sabaaaar,

sabaaar  dong bung...kalau kuping tipis tidak bisa menerima kritik,

sekurangnya cerna dulu dong omongan orang...introspeksi...khan baru

minggu lalu milis ini memuat kekhawatiran bagaimana "tergopoh-

gopoh"nya kita dalam persiapan  event ini..."semangat" dan "harga

diri" beginilah yang berpotensi akan menenggelamkan Minang kembali.

Kelebihan dari para leluhur dan founding fathers asal Minang masa lalu

adalah kehebatan diplomasinya...bukan ancam mengancam sampai-sampai

"ganti-mengganti" seperti ini.....Gampang amat tersinggung sih...?

Quo Vadis generasi baru Minang...mana kematangan jiwa, keluasan

pandangan, kedalaman ilmu, kecerdasan, dan kearifan & kebijaksanaan

yang sudah dicontohkan para pendahulumu...??

 

Maaf dan Wassalam,

 

Epy Buchari (L-66)

Ciputat Timur

 

On 27 Apr, 07:23, [email protected] wrote:

> Hahaha....sapakat ambo jo Bpk, .....sekalian aja kita ganti Mentri kali
ya......hahaha...

> 

> Salam,

> r.a

> Powered by Telkomsel BlackBerryR

> 

> -----Original Message-----

> From: zul amri <[email protected]>

> 

> Date: Mon, 27 Apr 2009 07:44:17

> To: <[email protected]>

> Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: TOUR DE SINGKARAK.Mari kita berpatisipasi
dan

> 

>  susseskan.

> 

> Jangan takut dengan ancaman , toh tahun depan belum tentu menterinya sama
dengan yang sekarang ini . Atau ada wacana untuk memindahkan Tour ini ke
Bali ??

> 

> zul amry piliang

> 

>________________________________

 

 

 


 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

  • ... Muzirman --
    • ... Darul Makmur
    • ... avenzora19
      • ... zul amri
        • ... avenzora19
          • ... bandarost
            • ... avenzora19
              • ... Riri Chaidir
                • ... bandarost
                • ... avenzora19
        • ... Muzirman --
        • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang

Kirim email ke