dunsanak sadonyo, iko ado saketek tulisan yang terinspirasi dari kisah pertarungan kerbau, cerita rakyat minangkabau yg saya dengar waktu kecil di kampuang dulu
semoga bermanfaat HM malin sinaro --------- BERPIKIR DENGAN KEPALA ORANG LAIN Dalam cerita dongeng rakyat minang yg pernah saya dengar waktu kecil, ada diceritakan bahwa dalam peperangan antara tentara kerajaan minang saat itu melawan tentara kerajaan majapahit yang ingin memperluas kekuasaan nya sampai ke sumatera. Tentara kerajaan minang kalah jumlah secara kekuatan melawan tentara majapahit. Orang2 minang yg terkenal panjang akalnya setelah tahu tak bisa mengalahkan pasukan yg kuat tersebut, mengajak berunding lawan nya dan mengusulkan untuk mengadakan pertarungan binatang saja daripada banyak manusia yang mati karena nya, ide tersebut disetujui dengan syarat tentara majapahit ingin mengadu banteng ketaton nya yg gagah perkasa, banteng besar yg tak terkalahkan. Tentara minang pun tak kalah akal, tahu tak bisa mengalahkan banteng besar tersebut, akhirnya ia mencari anak kerbau kecil yg masih menyusu, namun telah beberapa waktu dijauhkan dari induk nya, sehingga ia dalam kondisi haus, ingin bertemu induknya. Akhirnya masuk lah ke gelanggang disaksikan ribuan tentara, banteng ketaton yg besar hitam dan dengus napas dan sorot mata nya menakutkan lawan. Tentara majapahit menunggu siapa lawan nya, ketika yg masuk adalah anak kerbau kecil, terbitlah gelak tawa orang2, mana mungkin mengalahkan banteng besar dengan anak kerbau kecil..ha...ha...ha....., “tapi ...ojo ngguyu rek.....” Banteng besar pun bingung dan diam saja melihat anak kerbau kecil tersebut berlari mendekati nya masuk ke bawah perutnya. Tak disangka ternyata tiba2 perut banteng tersebut berdarah darah, ia pun lari, darahpun tumpah ke mana2, anak kerbau pun kaget dan lari pula mengejarnya. Sampai akhir cerita banteng besar itu pun mati kehabisan darah, orang2 heran kenapa perut nya berdarah, ternyata anak kerbau tersebut pada kepala nya dipasangkan pisau tajam. Anak kerbau menyangka banteng besar itu adalah induknya, sehingga ia mencari susu2 di bawah perut nya, sambil mulutnya mencari2 pisau tajam pun merobek2 perut banteng besar tersebut tersebut. Hikmah dari cerita rakyat ini ialah bahwa lawan yg besar dan kuat pun bisa dikalahkan, namun harus dengan cara yg cerdik dan tidak umum seperti siasat anak kerbau dg pisau di kepala nya tersebut. Strategi pertarungan di antara kedua cerita tersebut esensi nya hampir sama, ialah bahwa dalam pertarungan kita harus memiliki strategi yg khas, tak diduga oleh lawan karena menggunakan cara yg tidak umum. Kita harus mengembangkan strategi tersendiri , strategi yg berasal dari keunggulan diri sendiri. Silakan baca selengkapnya ; http://hdmessa.wordpress.com/2009/04/28/berpikir-dengan-kepala-orang-lain/ ------------ Alexander the great, mahadiraja dari macedonia kuno, yg berhasil menguasai hampir 2/3 peradaban dunia pada masa nya, tak pernah terkalahkan pada berbagai peperangan nya. Mulai dari Eropa, timur tengah, sampai benua Asia. Saat sampai di Asia tengah, ia berniat terus melanjutkan pengembaraan sampai bertemu lagi dengan laut ( pantai pasifik di negeri China). Namun akhirnya ia menemui batu sandungan nya waktu ingin melebarkan kekuasaan nya sampai ke daerah India. Pasukan Alexander mengalami kekalahan waktu berperang melawan pasukan gajah raja Asoka dari India. Pasukan gajah adalah lawan yg tak pernah mereka hadapi selama ini. Hikmah nya ialah pasukan Alexander tak akan bisa dikalahkan dengan cara perang yg biasa, seperti pasukan kuda atau pertempuran infantri, namun dengan cara yg tak biasa seperti pasukan gajah lah mereka bisa dikalahkan. Dalam cerita dongeng rakyat minang yg pernah saya dengar waktu kecil, ada diceritakan bahwa dalam peperangan antara tentara kerajaan minang saat itu melawan tentara kerajaan majapahit yang ingin memperluas kekuasaan nya sampai ke sumatera. Tentara kerajaan minang kalah jumlah secara kekuatan melawan tentara majapahit. Orang2 minang yg terkenal panjang akalnya setelah tahu tak bisa mengalahkan pasukan yg kuat tersebut, mengajak berunding lawan nya dan mengusulkan untuk mengadakan pertarungan binatang saja daripada banyak manusia yang mati karena nya, ide tersebut disetujui dengan syarat tentara majapahit ingin mengadu banteng ketaton nya yg gagah perkasa, banteng besar yg tak terkalahkan. Tentara minang pun tak kalah akal, tahu tak bisa mengalahkan banteng besar tersebut, akhirnya ia mencari anak kerbau kecil yg masih menyusu, namun telah beberapa waktu dijauhkan dari induk nya, sehingga ia dalam kondisi haus, ingin bertemu induknya. Akhirnya masuk lah ke gelanggang disaksikan ribuan tentara, banteng ketaton yg besar hitam dan dengus napas dan sorot mata nya menakutkan lawan. Tentara majapahit menunggu siapa lawan nya, ketika yg masuk adalah anak kerbau kecil, terbitlah gelak tawa orang2, mana mungkin mengalahkan banteng besar dengan anak kerbau kecil..ha...ha...ha....., “tapi ...ojo ngguyu rek.....” Banteng besar pun bingung dan diam saja melihat anak kerbau kecil tersebut berlari mendekati nya masuk ke bawah perutnya. Tak disangka ternyata tiba2 perut banteng tersebut berdarah darah, ia pun lari, darahpun tumpah ke mana2, anak kerbau pun kaget dan lari pula mengejarnya. Sampai akhir cerita banteng besar itu pun mati kehabisan darah, orang2 heran kenapa perut nya berdarah, ternyata anak kerbau tersebut pada kepala nya dipasangkan pisau tajam. Anak kerbau menyangka banteng besar itu adalah induknya, sehingga ia mencari susu2 di bawah perut nya, sambil mulutnya mencari2 pisau tajam pun merobek2 perut banteng besar tersebut tersebut. ( note : cerita rakyat ini ada tercatat pula dalam catatan kuno rakyat Bali, konon kabarnya, karena baik raja majapahit maupun raja pagaruyung/minang, dulunya memiliki akar sejarah yang sama pada raja kuno tanah jawa yang berpindah ke pulau Bali ) Hikmah dari cerita rakyat ini ialah bahwa lawan yg besar dan kuat pun bisa dikalahkan, namun harus dengan cara yg cerdik dan tidak umum seperti siasat anak kerbau dg pisau di kepala nya tersebut. Strategi pertarungan di antara kedua cerita tersebut esensi nya hampir sama, ialah bahwa dalam pertarungan kita harus memiliki strategi yg khas, tak diduga oleh lawan karena menggunakan cara yg tidak umum. Kita harus mengembangkan strategi tersendiri , strategi yg berasal dari keunggulan diri sendiri. Dalam cerita dunia persilatan sering kita dengar istilah , “satu guru satu ilmu jangan saling ganggu”, maknanya ialah para pesilat dari satu perguruan memiliki ilmu yg sama, tahu taktik dan rahasia jurus2 nya. Karena itu biasanya para pesilat yg senior kemudian mengembangkan jurus2 tersendiri yg tak didapat dari guru nya, ia berguru ke tempat lain dan meramu berbagai jurus2 silat menjadi jurus2 baru. Sehingga ia bisa menjadi pesilat yang jagoan tak terkalahkan, bahkan suatu saat bisa mengalahkan guru nya sendiri dan mengembangkan perguruan tersendiri atau melanjutkan kepemimpinan perguruan silat dari gurunya. Prinsip nya sama dengan cerita sejarah di atas, bahwa prestasi atau kemenangan diraih bila kita memiliki suatu kelebihan yg tak dimiliki orang lain.Kalau istilah silat ia memiliki senjata dan jurus rahasia yg tak terkalahkan. Itulah juga keunggulan pasukan gajah asoka dan juga siasat anak kerbau dalam cerita di atas, mereka memiliki keunggulan yg dikembangkan sendiri. Dalam bentuk pertarungan lain di dunia modern, seperti persaingan bisnis, persaingan antar negara atau bentuk2 kompetisi lain nya yang menjadi sebuah logika umum pada dunia modern yang berdasarkan kaidah kapitalisme. Dimana kompetisi dan persaingan adalah proses dasar untuk mencapai keberhasilan. Logika tersebut didasari pula oleh kaidah survival of the fittest dari teori Darwin. Kalau kita lihat kondisi aktual saat ini, bangsa dan negara indonesia, termasuk dalam kategori looser ( pihak yg terkalahkan ) dalam berbagai bidang. Secara kekuatan ekonomi kita lemah, bahkan dengan negara tetangga saja kita kalah, begitu pula hal nya dalam bidang persaingan bisnis, perusahaan2 indonesia kalah bersaing dengan perusahaan luar negeri, bahkan di dalam negeri sekalipun. Saat ini jarang sekali kita saksikan ada perusahaan Indonesia yg berkelas dunia, sangat jarang ada produk asli Indonesia yg berkualitas dunia. Bahkan untuk level di dalam negeri sekalipun, kita tak bisa menjadi tuan rumah yg berkuasa, di dalam pun kita kalah. Dalam hal bagaimana kita mengelola Negara, politik, kita pun meniru cara2 negara2 lain seperti demokrasi liberal dll, yang malah banyak membawa kesengsaraan, bukan nya kemakmuran. Praktek demokrasi kita telah menjadi begitu mahal dan rumit, padahal kalau kita melihat hasil dari praktek demokrasi tersebut, tak juga bisa membuat rakyat hidup makmur, aman, tentram. Tak hanya dalam bidang ekonomi, dalam bidang lain nya pun kita kalah, semisal ; politik, budaya, ilmu, hukum, olahraga dll. Bagaimana anak2 muda berkelakuan, bermusik atau ber aktivitas seni, sebagian besar mengacu ke negara2 maju juga, karena telinga mereka banyak mendengar lagu2 barat, mata mereka banyak menonton film2 dari barat pula. Bahkan banyak orang2 pintar pula yang malah berpikir dengan pola pikir barat pula, dimana mereka dulu menuntut ilmu. Intinya kebanyakan kita selalu mengikuti orang lain / negara lain / bangsa lain, kita selalu menjadi pengekor ( follower ) dan ada ada kaidah mengatakan bahwa the follower is the looser ( mereka yg selalu mengikuti/meniru akan terkalahkan ) Dulu pernah ngobrol2 dg Lendo Novo, teman yg mengembangkan sekolah alam di selatan Jakarta, ia bilang bahwa orang2 pintar yg merancang pendidikan di negeri kita, selalu berkiblat ke Negara barat, mulai dari kurikulum sampai bentuk bangunan sekolah. Kurikulum tersebut belum tentu cocok pula dengan kondisi orang Indonesia, bangunan sekolah model barat yg beriklim sub tropis, belum tentu sesuai dengan kondisi alam Indonesia yg berada di Negara tropis. Itulah salah satu ide dasar beliau mendirikan sekolah alam dg pola pendidikan dan juga bangunan khas Indonesia. Orang2 pintar yang merancang pendidikan di negeri inipun , merancang pendidikan seperti apa yg mereka pelajari dari dunia barat, sehingga mulai dari sekolah pun anak2 indonesia sudah diajar berpikir dengan pola pikir yang tak aseli Indonesia. Cobalah tengok materi2 pelajaran dari SD sampai kuliah, banyak dari kurikulum luar negeri, coba lihat buku textbook mahasiswa di perguruan tinggi, kebanyakan adalah terjemahan dari buku2 di Negara barat. Jarang sekali rasanya ada muatan pendidikan yg benar2 mendidik anak didik di sekolah untuk berpikir dengan pola pikir Indonesia. Coba Tanya anak2 kita di sekolah yg belajar ilmu pengetahuan alam, ia akan hapal para penemu2 dari luar negeri, tapi sedikit sekali yg tahu mengenai pak Mujahir yg menemukan ikan mujair atau pak mukibat yg mengembangkan singkong mukibat dan berbagai penemuan spesifik orang Indonesia lain nya Kita terdidik jadi pengikut, antara lain melalui proses pendidikan yg kita lalui bertahun2 lama nya di bangku sekolah, tak memberi banyak kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai potensi alamiahnya sebagai orang Indonesia. Kita tak diajar menjadi diri sendiri, mengembangkan kemampuan sendiri, tapi anak didik sejak kecil bagaikan dijajalkan pengetahuan2 dari luar, cobalah tengok pelajaran spt sains atau ekonomi. Sejak smp sampai kuliah, kebanyakan materi ajar, didasarkan pada buku2 dari barat , khususnya amerika, cobalah lihat buku2 text book kuliah, sebagian besar adalah buku2 dari amerika, eropa atau buku2 dalam negeri dg referensi dari negara2 barat tsb. Memang banyak hal berharga yang bisa kita pelajari dari barat, tapi tak selalu harus dengan menghilangkan apa yg ada pada diri kita dan alam Indonesia. Bukan hanya dari sekarang, sejak perguruan tinggi dikenalkan di Indonesia oleh belanda awal abad 20 , semisal Techische Hogeschool ( yg kemudian jadi ITB ), orang2 indonesia diajarkan ilmu yang berhubungan dengan keperluan belanda spt jalan utk pabrik2 gula, ilmu pengairan utk mengairi perkebunan2 besar belanda, bukan irigasi utk sawah2 org Indonesia,ilmu bangunan utk membangun bangunan2 besar keperluan belanda,bukan nya ilmu membuat rumah2 org Indonesia. Demikian keluhan bung Karno saat ia sekolah di TH saat itu, yang langsung ia sampaikan pada dosen2 nya, sebagaimana tertulis pada buku biografinya. Apa yang dikhawatirkan bung Karno hampir seabad yang lampau ternyata sampai sekarang tak banyak berubah. Malahan tambah menyedihkan betapa pendidikan saat ini, bagaikan mengabdi kepentingan kapitalis liberal, orang bersekolah adalah demi mendapatkan materi pada satu sisi, dan pada sisi lain, adalah sumber pasokan sumber daya, untuk memutar roda2 usaha bisnis kapitalis. Bahwa pola pendidikan di Indonesia cenderung membuat kita menjadi pengikut, tak bisa jadi diri sendiri, tak bisa bebas mengemukakan pendapatnya sendiri, terasa sekali saat saya bekerja di luar negeri, secara teknik orang2 indonesia ahli dalam berbagai bidang, tapi kita kalah dengan bangsa lain karena kita tak bisa mengemukakan pendapat /berargumen dengan baik , kita bisa bekerja dengan baik dan patuh pada aturan, tapi saat diminta mengembangkan ide sendiri atau menyampaikan pendapatnya sendiri, susah sekali. Hal itu terjadi karena dalam pendidikan kita memang sejak kecil kita tak diajar untuk berkembang menjadi diri kita sendiri dan menyampaikan pendapatnya. Pendidikan kita cenderung mendidik kita jadi pekerja yang patuh. Salah satu contoh bagus, mengenai pola pendidikan yang dikembangkan berdasarkan jati diri bangsa dan mengembangkan metode yang khas pula, ialah Santiniketan, lembaga pendidikan di India, yg dikembangkan oleh Rabindranat Tagore, salah seorang tokoh besar negara India. Dan terbukti kemudian, lulusan lembaga pendidikan menjadi orang2 yg berhasil di berbagai bidang, mulai dari seniman,pengusaha, politisi sampai ilmuwan peraih nobel. Para arsitek /ahli bangunan kita yg menuntut ilmu dengan ilmu bangunan dari negara2 maju, yg beriklim sub tropis, mereka akan membuat bangunan/gedung dg pola pikir org2 yg hidup di negara sub tropis pula , sehingga akhirnya banyak kita temui pola2 bangunan yg sebenarnya tak begitu nyaman/sesuai dengan tempat beriklim tropis spt Indonesia . Analogi tersebut banyak terjadi pada project2 pembangunan di negeri kita, yang pendanaan dan konsultan nya dari luar negeri. Seringkali apa yg dibuat, tak sesuai dengan apa yg sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat banyak, tapi lebih pada apa yg ada pada pikiran pembuat keputusan dan konsultan dari luar negeri tsb. Saya mengalami sendiri saat dulu banyak mengerjakan project2 pemerintah yang berasalkan dari program bantuan luar negeri. Para ahli ekonomi yang merancang kerangka makro ekonomi negara kita, terjebak pula dalam pola pikir orang lain ( Negara lain ) bahwa membangun negara harus dengan berhutang, sesuai kaedah ekonomi makro yang dipelajari di bangku2 kuliah di negara2 maju. Akhirnya sampai sekarang negara kita bagaikan negara yang tertawan dalam belitan hutang negara2 maju. kita tak bisa bebas merdeka mengatur urusan rumah kita sendiri Bukan hanya dari skala makro seperti negara, dalam skala mikro bagaimana kita mengatur keluarga rumah tangga kita sendiri saja, kita pun sering tak bisa bebas bertindak pula sesuai apa keinginan kita. Misal di rumah, acara2 televisi atau internet, bagaikan telah “merampas” anak2 dari didikan orang tuanya. Anak2 berperilaku berdasarkan apa yg dilihatnya dari TV, bukan berdasar didikan orang tuanya ( yah bagaimana mau mendidik anak2nya, kalau orangtuanya juga nonton TV yg sama ) Jebakan konsumerisme yang kita temui di mana2, mulai dari tengah jalan sampai ke tengah rumah kita ( lewat TV) juga telah meracuni sampai alam bawah sadar kita, telah membuat banyak dari kita ( terutama wanita dan anak2 ) bagaikan menjadi tawanan pula karena terbujuk membeli barang2 yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan atau membeli barang2 secara berlebih2an. (baca http://hdmessa.wordpress.com/2008/02/25/jebakan-candu-konsumerisme/) Kalau mau kita telusuri, kita akan banyak menemukan hal2 seperti itu dalam berbagai hal lain nya, yang bisa dianalogikan pula dengan orang yang baju nya bolong compang camping, tapi malahan membeli dasi mahal, bukan nya menambal bolong baju nya. Hal itu semua terjadi antara lain karena kita seolah terlena untuk tidak mengembangkan keunggulan berdasar potensi diri kita sendiri, kita sulit untuk bisa menjadi diri kita sendiri, akhirnya kita hanya menjadi pengikut belaka, kita tak bisa berpikir sendiri , kita berpikir dengan cara pikir orang lain. dan hukum alam banyak menunjukkan bahwa orang2 yg hanya ikut2an hanya akan menjadi orang yg terkalahkah , follower is usually the looser Kesimpulan nya kita bagaikan orang yang tak bisa menjadi diri kita sendiri, kita bagaikan orang yang berpikir dengan menggunakan kepala orang lain. Bagaimana solusinya, ubahlah cara pikir anda, jadilah diri anda sendiri, merdeka kan lah pikiran kita, mudah diucapkan, tapi tak mudah dilakukan. Karena telah tertanam pada alam bawah sadar kita, dalam waktu yg lama, sejak masa sekolah dan dalam kehidupan sehari hari. Tapi tak ada kata terlambat, kita bisa memulainya dari sekarang, dari diri kita sendiri dan keluarga kita. Selama mentari pagi bersinar kembali, harapan masih terbentang.Karena pikiran adalah salah satu anugerah terbesar dari Tuhan untuk menjalani kehidupan ini. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
