Dear Bpk HM Malin Sinaro dan Majelis RN Yang Mulia,

1. Terima kasih atas tulisan Bpk, sungguh sangat menggugah, penting dan perlu.

2. Jika Bpk izinkan saya untuk meminta diskusi, maka berkaitan dgn esensi 
tulisan Bpk tsb ada hal yg selama ini selalu menjadi pertanyaan dalam diri 
saya, yaitu : BAGAIMANA CARA nya agar kita  bisa menularkan esensi dr tulisan 
Bpk tsb secara efisien dan efektif dan masal kepada masyarakat dan  generasi 
penerus kita? 

3. Mohon kiranya Bpk dan Majelis Yang Mulia memberi pencerahan ataupun berbagi 
pengalaman. 

Salam,
r.a
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Hendra Messa <[email protected]>

Date: Wed, 29 Apr 2009 10:14:49 
To: rantaunet<[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] berpikir dengan kepala orang lain [alam takambang jadi
 guru]




dunsanak sadonyo, 
iko ado saketek tulisan yang terinspirasi dari kisah pertarungan kerbau, cerita 
rakyat minangkabau yg saya dengar waktu kecil di kampuang dulu

semoga bermanfaat

HM malin sinaro
---------


BERPIKIR DENGAN KEPALA ORANG LAIN

Dalam cerita dongeng rakyat minang yg pernah saya dengar waktu kecil, ada 
diceritakan bahwa dalam peperangan antara tentara kerajaan minang saat itu 
melawan tentara kerajaan majapahit yang ingin memperluas kekuasaan nya sampai 
ke sumatera. Tentara kerajaan minang kalah jumlah secara kekuatan melawan 
tentara majapahit. 

Orang2 minang yg terkenal panjang akalnya setelah tahu tak bisa mengalahkan 
pasukan yg kuat tersebut, mengajak berunding lawan nya dan mengusulkan untuk 
mengadakan pertarungan binatang saja daripada banyak manusia yang mati karena 
nya, ide tersebut disetujui dengan syarat tentara majapahit ingin mengadu 
banteng ketaton nya yg gagah perkasa, banteng besar yg tak terkalahkan. Tentara 
minang pun tak kalah akal, tahu tak bisa mengalahkan banteng besar tersebut, 
akhirnya ia mencari anak kerbau kecil yg masih menyusu, namun telah beberapa 
waktu dijauhkan dari induk nya, sehingga ia dalam kondisi haus, ingin bertemu 
induknya.

Akhirnya masuk lah ke gelanggang disaksikan ribuan tentara, banteng ketaton yg 
besar hitam dan dengus napas dan sorot mata nya menakutkan lawan. Tentara 
majapahit menunggu siapa lawan nya, ketika yg masuk adalah anak kerbau kecil, 
terbitlah gelak tawa orang2, mana mungkin mengalahkan banteng besar dengan anak 
kerbau kecil..ha...ha...ha....., “tapi ...ojo ngguyu rek.....”

Banteng besar pun bingung dan diam saja melihat anak kerbau kecil tersebut 
berlari mendekati nya masuk ke bawah perutnya. Tak disangka ternyata tiba2 
perut banteng tersebut berdarah darah, ia pun lari, darahpun tumpah ke mana2, 
anak kerbau pun kaget dan lari pula mengejarnya. Sampai akhir cerita banteng 
besar itu pun mati kehabisan darah, orang2 heran kenapa perut nya berdarah, 
ternyata anak kerbau tersebut pada kepala nya dipasangkan pisau tajam. Anak 
kerbau menyangka banteng besar itu adalah induknya, sehingga ia mencari susu2 
di bawah perut nya, sambil mulutnya mencari2 pisau tajam pun merobek2 perut 
banteng besar tersebut tersebut.

Hikmah dari cerita rakyat ini ialah bahwa lawan yg besar dan kuat pun bisa 
dikalahkan, namun harus dengan cara yg cerdik dan tidak umum seperti siasat 
anak kerbau dg pisau di kepala nya tersebut.

Strategi pertarungan di antara kedua cerita tersebut esensi nya hampir sama, 
ialah bahwa dalam pertarungan kita harus memiliki strategi yg khas, tak diduga 
oleh lawan karena menggunakan cara yg tidak umum. Kita harus mengembangkan 
strategi tersendiri , strategi yg berasal dari keunggulan diri sendiri.

Silakan baca selengkapnya ; 
http://hdmessa.wordpress.com/2009/04/28/berpikir-dengan-kepala-orang-lain/

------------

Alexander the great, mahadiraja dari macedonia kuno, yg berhasil menguasai 
hampir 2/3 peradaban dunia pada masa nya, tak pernah terkalahkan pada berbagai 
peperangan nya. Mulai dari Eropa, timur tengah,  sampai benua Asia. Saat sampai 
di Asia tengah, ia berniat terus melanjutkan pengembaraan sampai bertemu lagi 
dengan laut ( pantai pasifik di negeri China). Namun akhirnya ia menemui batu 
sandungan nya waktu ingin melebarkan kekuasaan nya sampai ke daerah India. 
Pasukan Alexander mengalami kekalahan waktu berperang melawan pasukan gajah 
raja Asoka dari India. Pasukan gajah adalah lawan yg tak pernah  mereka hadapi 
selama ini. Hikmah nya ialah pasukan Alexander tak akan bisa dikalahkan dengan 
cara perang yg biasa, seperti pasukan kuda atau pertempuran infantri, namun 
dengan cara yg tak biasa seperti pasukan gajah lah mereka bisa dikalahkan.

Dalam cerita dongeng rakyat minang yg pernah saya dengar waktu kecil, ada 
diceritakan bahwa dalam peperangan antara tentara kerajaan minang saat itu 
melawan tentara kerajaan majapahit yang ingin memperluas kekuasaan nya sampai 
ke sumatera. Tentara kerajaan minang kalah jumlah secara kekuatan melawan 
tentara majapahit. Orang2 minang yg terkenal panjang akalnya setelah tahu tak 
bisa mengalahkan pasukan yg kuat tersebut, mengajak berunding lawan nya dan 
mengusulkan untuk mengadakan pertarungan binatang saja daripada banyak manusia 
yang mati karena nya, ide tersebut disetujui dengan syarat tentara majapahit 
ingin mengadu banteng ketaton nya yg gagah perkasa, banteng besar yg tak 
terkalahkan. Tentara minang pun tak kalah akal, tahu tak bisa mengalahkan 
banteng besar tersebut, akhirnya ia mencari anak kerbau kecil yg masih menyusu, 
namun telah beberapa waktu dijauhkan dari induk nya, sehingga ia dalam kondisi 
haus, ingin bertemu induknya.

Akhirnya masuk lah ke gelanggang disaksikan ribuan tentara, banteng ketaton yg 
besar hitam dan dengus napas dan sorot mata nya menakutkan lawan. Tentara 
majapahit menunggu siapa lawan nya, ketika yg masuk adalah anak kerbau kecil, 
terbitlah gelak tawa orang2, mana mungkin mengalahkan banteng besar dengan anak 
kerbau kecil..ha...ha...ha....., “tapi ...ojo ngguyu rek.....”

Banteng besar pun bingung dan diam saja melihat anak kerbau kecil tersebut 
berlari mendekati nya masuk ke bawah perutnya. Tak disangka ternyata tiba2 
perut banteng tersebut berdarah darah, ia pun lari, darahpun tumpah ke mana2, 
anak kerbau pun kaget dan lari pula mengejarnya. Sampai akhir cerita banteng 
besar itu pun mati kehabisan darah, orang2 heran kenapa perut nya berdarah, 
ternyata anak kerbau tersebut pada kepala nya dipasangkan pisau tajam. Anak 
kerbau menyangka banteng besar itu adalah induknya, sehingga ia mencari susu2 
di bawah perut nya, sambil mulutnya mencari2 pisau tajam pun merobek2 perut 
banteng besar tersebut tersebut.

( note : cerita rakyat ini ada tercatat pula dalam catatan kuno rakyat Bali, 
konon kabarnya, karena baik raja majapahit maupun raja pagaruyung/minang, 
dulunya memiliki akar sejarah yang sama pada  raja kuno tanah jawa yang 
berpindah ke pulau Bali ) 

Hikmah dari cerita rakyat ini ialah bahwa lawan yg besar dan kuat pun bisa 
dikalahkan, namun harus dengan cara yg cerdik dan tidak umum seperti siasat 
anak kerbau dg pisau di kepala nya tersebut.

Strategi pertarungan di antara kedua cerita tersebut esensi nya hampir sama, 
ialah bahwa dalam pertarungan kita harus memiliki strategi yg khas, tak diduga 
oleh lawan karena menggunakan cara yg tidak umum. Kita harus mengembangkan 
strategi tersendiri , strategi yg berasal dari keunggulan diri sendiri.

Dalam cerita dunia persilatan sering kita dengar istilah , “satu guru satu ilmu 
jangan saling ganggu”, maknanya ialah para pesilat dari satu perguruan memiliki 
ilmu yg sama, tahu taktik dan rahasia jurus2 nya. Karena itu biasanya para 
pesilat yg senior kemudian mengembangkan jurus2 tersendiri yg tak didapat dari 
guru nya, ia berguru ke tempat lain dan meramu berbagai jurus2 silat menjadi 
jurus2 baru. Sehingga ia bisa menjadi pesilat yang  jagoan tak terkalahkan, 
bahkan suatu saat bisa mengalahkan guru nya sendiri dan mengembangkan perguruan 
tersendiri atau melanjutkan kepemimpinan perguruan silat dari gurunya.

Prinsip nya sama dengan cerita sejarah di atas, bahwa prestasi atau kemenangan 
diraih bila kita memiliki suatu kelebihan yg tak dimiliki orang lain.Kalau 
istilah silat ia memiliki senjata dan jurus rahasia yg tak terkalahkan.  Itulah 
juga keunggulan pasukan gajah asoka dan juga siasat anak kerbau dalam cerita di 
atas, mereka memiliki keunggulan yg dikembangkan sendiri.

Dalam bentuk pertarungan lain di dunia modern, seperti persaingan bisnis, 
persaingan antar negara atau bentuk2 kompetisi lain nya yang menjadi sebuah 
logika umum pada dunia modern yang berdasarkan kaidah kapitalisme. Dimana  
kompetisi dan persaingan adalah proses dasar untuk mencapai keberhasilan. 
Logika tersebut didasari pula oleh kaidah survival of the fittest dari teori 
Darwin.

Kalau kita lihat kondisi aktual saat ini, bangsa dan negara indonesia, termasuk 
dalam kategori looser ( pihak yg terkalahkan ) dalam berbagai bidang. Secara 
kekuatan ekonomi kita lemah, bahkan dengan negara tetangga saja kita kalah, 
begitu pula hal nya dalam bidang persaingan bisnis, perusahaan2 indonesia kalah 
bersaing dengan perusahaan luar negeri, bahkan di dalam negeri sekalipun. Saat 
ini jarang sekali kita saksikan ada perusahaan Indonesia yg berkelas dunia, 
sangat jarang ada produk asli Indonesia yg berkualitas dunia. Bahkan untuk 
level di dalam negeri sekalipun, kita tak bisa menjadi tuan rumah yg berkuasa, 
di dalam pun kita kalah. 

Dalam hal bagaimana kita mengelola Negara, politik, kita pun meniru cara2 
negara2 lain seperti demokrasi liberal dll, yang malah banyak membawa 
kesengsaraan, bukan nya kemakmuran. Praktek demokrasi kita telah menjadi begitu 
mahal dan rumit, padahal  kalau kita melihat hasil dari praktek demokrasi 
tersebut, tak juga bisa membuat rakyat hidup makmur, aman, tentram.

Tak hanya dalam bidang ekonomi, dalam bidang lain nya pun kita kalah, semisal ; 
politik, budaya, ilmu, hukum, olahraga dll.  Bagaimana anak2 muda berkelakuan, 
bermusik atau ber aktivitas seni, sebagian besar mengacu ke negara2 maju juga, 
karena telinga mereka banyak mendengar lagu2 barat, mata mereka banyak menonton 
film2 dari barat pula. Bahkan banyak orang2 pintar pula yang malah berpikir 
dengan pola pikir barat pula, dimana mereka dulu menuntut ilmu.

Intinya kebanyakan kita selalu mengikuti orang lain / negara lain / bangsa 
lain, kita selalu menjadi pengekor ( follower )  dan ada ada kaidah mengatakan 
bahwa the follower is the looser ( mereka yg selalu mengikuti/meniru akan 
terkalahkan ) 

Dulu pernah ngobrol2 dg Lendo Novo, teman yg mengembangkan sekolah alam di 
selatan Jakarta, ia bilang bahwa orang2 pintar yg merancang pendidikan di 
negeri kita, selalu berkiblat ke Negara barat, mulai dari kurikulum sampai 
bentuk bangunan sekolah. Kurikulum tersebut belum tentu cocok pula dengan 
kondisi orang Indonesia, bangunan sekolah model barat yg beriklim sub tropis, 
belum tentu sesuai dengan kondisi alam Indonesia yg berada di Negara tropis. 
Itulah salah satu ide dasar beliau mendirikan sekolah alam dg pola pendidikan 
dan juga bangunan khas Indonesia.

Orang2 pintar yang merancang pendidikan di negeri inipun , merancang pendidikan 
seperti apa yg mereka pelajari dari dunia barat, sehingga mulai dari sekolah 
pun anak2 indonesia sudah diajar berpikir dengan pola pikir yang tak aseli 
Indonesia. Cobalah tengok materi2 pelajaran dari SD sampai kuliah, banyak dari 
kurikulum luar negeri, coba lihat buku textbook mahasiswa di perguruan tinggi, 
kebanyakan adalah terjemahan dari buku2 di Negara barat. Jarang sekali rasanya 
ada muatan pendidikan yg  benar2 mendidik anak didik di sekolah untuk berpikir 
dengan pola pikir Indonesia.

Coba Tanya anak2 kita di sekolah yg belajar ilmu pengetahuan alam, ia akan 
hapal para penemu2 dari luar negeri, tapi sedikit sekali yg tahu mengenai pak 
Mujahir yg menemukan ikan mujair atau pak mukibat yg mengembangkan singkong 
mukibat dan berbagai penemuan spesifik orang Indonesia lain nya

Kita terdidik jadi pengikut, antara lain melalui proses pendidikan yg kita 
lalui bertahun2 lama nya di bangku sekolah, tak memberi banyak kesempatan pada 
anak didik untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai potensi alamiahnya 
sebagai orang Indonesia.

Kita tak diajar menjadi diri sendiri, mengembangkan kemampuan sendiri, tapi 
anak didik sejak kecil bagaikan dijajalkan pengetahuan2 dari luar, cobalah 
tengok pelajaran spt sains atau ekonomi. Sejak smp sampai kuliah, kebanyakan 
materi ajar, didasarkan pada buku2 dari barat , khususnya amerika, cobalah 
lihat buku2 text book kuliah, sebagian besar adalah buku2 dari amerika, eropa 
atau buku2 dalam negeri dg referensi dari negara2 barat tsb. Memang banyak hal 
berharga yang bisa kita pelajari dari barat, tapi tak selalu harus dengan 
menghilangkan apa yg ada pada diri kita dan alam Indonesia.

Bukan hanya dari sekarang, sejak perguruan tinggi dikenalkan di Indonesia oleh 
belanda awal abad 20 , semisal Techische Hogeschool ( yg kemudian jadi ITB ), 
orang2 indonesia diajarkan ilmu yang berhubungan dengan keperluan belanda spt 
jalan utk pabrik2 gula, ilmu pengairan utk mengairi perkebunan2 besar belanda, 
bukan irigasi utk sawah2 org Indonesia,ilmu bangunan utk membangun bangunan2 
besar keperluan belanda,bukan nya ilmu membuat rumah2 org Indonesia. Demikian 
keluhan bung Karno saat ia sekolah di  TH saat itu, yang langsung ia  sampaikan 
pada dosen2 nya, sebagaimana tertulis pada buku biografinya. Apa yang 
dikhawatirkan bung Karno hampir seabad yang lampau ternyata sampai sekarang tak 
banyak berubah. 
Malahan tambah menyedihkan betapa pendidikan saat ini, bagaikan mengabdi 
kepentingan kapitalis liberal, orang bersekolah adalah demi mendapatkan materi 
pada satu sisi, dan pada sisi lain, adalah sumber pasokan sumber daya, untuk 
memutar roda2 usaha bisnis kapitalis.

Bahwa pola pendidikan di Indonesia cenderung membuat kita menjadi pengikut, tak 
bisa jadi diri sendiri, tak bisa bebas mengemukakan pendapatnya sendiri, terasa 
sekali saat saya bekerja di luar negeri, secara teknik orang2 indonesia ahli 
dalam berbagai bidang, tapi kita kalah dengan bangsa lain karena kita tak bisa 
mengemukakan pendapat /berargumen dengan baik , kita bisa bekerja dengan baik 
dan patuh pada aturan, tapi saat diminta mengembangkan ide sendiri atau 
menyampaikan pendapatnya sendiri, susah sekali. Hal itu terjadi karena dalam 
pendidikan kita memang sejak kecil kita tak diajar untuk berkembang menjadi 
diri kita sendiri dan menyampaikan pendapatnya. Pendidikan kita cenderung 
mendidik kita jadi pekerja yang patuh.

Salah satu contoh bagus, mengenai pola pendidikan yang dikembangkan berdasarkan 
jati diri bangsa dan mengembangkan metode yang khas pula, ialah Santiniketan, 
lembaga pendidikan di India, yg dikembangkan oleh Rabindranat Tagore, salah 
seorang tokoh besar negara India. Dan terbukti kemudian, lulusan lembaga 
pendidikan menjadi orang2 yg berhasil di berbagai bidang, mulai dari 
seniman,pengusaha, politisi sampai ilmuwan peraih nobel. 
Para arsitek /ahli bangunan kita yg menuntut ilmu dengan ilmu bangunan dari 
negara2 maju, yg beriklim sub tropis, mereka akan membuat bangunan/gedung dg 
pola pikir org2 yg hidup di negara sub tropis pula , sehingga akhirnya banyak 
kita temui pola2 bangunan yg sebenarnya tak begitu nyaman/sesuai dengan tempat 
beriklim tropis spt Indonesia .
Analogi tersebut banyak terjadi pada project2 pembangunan di negeri kita, yang 
pendanaan dan konsultan nya dari luar negeri. Seringkali apa yg dibuat, tak 
sesuai dengan apa yg sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat banyak, tapi lebih pada 
apa yg ada pada pikiran pembuat keputusan dan konsultan dari luar negeri tsb. 
Saya mengalami sendiri saat dulu banyak mengerjakan project2 pemerintah yang 
berasalkan dari program bantuan luar negeri. 
Para ahli ekonomi yang merancang kerangka makro ekonomi negara kita, terjebak 
pula dalam pola pikir orang lain ( Negara lain ) bahwa membangun negara harus 
dengan berhutang, sesuai kaedah ekonomi makro yang dipelajari di bangku2 kuliah 
di negara2 maju. Akhirnya sampai sekarang negara kita bagaikan negara yang 
tertawan dalam belitan hutang negara2 maju. kita tak bisa bebas merdeka 
mengatur urusan rumah kita sendiri

Bukan hanya dari skala makro seperti negara, dalam skala mikro bagaimana kita 
mengatur keluarga rumah tangga kita sendiri saja, kita pun sering tak bisa 
bebas bertindak pula sesuai apa keinginan kita. Misal di rumah, acara2 televisi 
atau internet, bagaikan telah “merampas” anak2 dari didikan orang tuanya. Anak2 
berperilaku berdasarkan apa yg dilihatnya dari TV, bukan berdasar didikan orang 
tuanya ( yah bagaimana mau mendidik anak2nya, kalau orangtuanya juga nonton TV 
yg sama )
 
Jebakan konsumerisme yang kita temui di mana2, mulai dari tengah jalan sampai 
ke tengah rumah kita ( lewat TV) juga telah meracuni sampai alam bawah sadar 
kita, telah membuat banyak dari kita ( terutama wanita dan anak2 )  bagaikan 
menjadi tawanan pula karena terbujuk membeli barang2 yang sebenarnya tak begitu 
dibutuhkan atau membeli barang2 secara berlebih2an. (baca 
http://hdmessa.wordpress.com/2008/02/25/jebakan-candu-konsumerisme/)
Kalau mau kita telusuri, kita akan banyak menemukan hal2 seperti itu dalam 
berbagai hal lain nya, yang bisa dianalogikan pula dengan orang yang baju nya 
bolong compang camping, tapi malahan membeli dasi mahal, bukan nya menambal 
bolong baju nya. 
Hal itu semua terjadi antara lain karena kita seolah terlena untuk tidak 
mengembangkan keunggulan berdasar potensi diri kita sendiri, kita sulit untuk 
bisa menjadi diri kita sendiri, akhirnya kita hanya menjadi pengikut belaka, 
kita tak bisa berpikir sendiri , kita berpikir dengan cara pikir orang lain.

dan hukum alam banyak menunjukkan bahwa orang2 yg hanya ikut2an hanya akan 
menjadi orang yg terkalahkah , follower is usually the looser

Kesimpulan nya kita bagaikan orang yang tak bisa menjadi diri kita sendiri, 
kita bagaikan orang yang berpikir dengan menggunakan kepala orang lain.

Bagaimana solusinya, ubahlah cara pikir anda, jadilah diri anda sendiri, 
merdeka kan lah pikiran kita, mudah diucapkan, tapi tak mudah dilakukan. Karena 
telah tertanam pada alam bawah sadar kita,  dalam waktu yg lama, sejak masa 
sekolah dan dalam kehidupan sehari hari. Tapi tak ada kata terlambat, kita bisa 
memulainya dari sekarang, dari diri kita sendiri dan keluarga kita. Selama 
mentari pagi bersinar kembali, harapan masih terbentang.Karena pikiran adalah 
salah satu anugerah terbesar dari Tuhan untuk menjalani kehidupan ini.




      



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke