Assalamualaikum w.w. Seri 'Nan di Lua Tampuruang' ini sengaja saya luncurkan untuk mengingatkan para sanak bahwa di luar keasyikan kita 'ber-minang-minang' -- seperti dikatakan pak Fasli Jalall -- di Rantau Net ini, masih ada demikian banyak masalah, tantangan, dan peluang yang harus kita selesaikan, kita jawab, dan kita manfaatkan sebag ai bangsa Indonesia. Apalagi kita orang Minangkabau adalah salah satu suku bangsa perantau yang hidup tersebar di Indonesia. Kali ini saya angkat dua masalah yang diulas oleh harian Kompas tanggal 1 Mei ini, yang saya pandang bermanfaat untuk kita renungkan, yaitu insiden Sentani dan penilaian terhadap 100 hari pemerintahan Obama di USA. Menurut penilaian saya secara pribadi, kondisi TNI kita parah: alutsista tidak layak untuk dipakai berperang, kesejahteraan prajurit buruk, dan sekarang ternyata [sebagian] komandan juga korup. Di negeri lain ini dapat menjadi alasan untuk pemberontakan. Ingat kasus pemberontakan militer di Timor Timur baru-baru ini? Sambil mengagumi kinerja cemerlang Presiden Obama dalam 100 hari pemerintahannya, saya jadi bertanya-tanya, apakah jika terpilih nanti, SBY, JK,Mega, Wiranto, Prabowo -- atau siapa pun juga -- sudah punya agenda yang tepat untuk 100 hari pemerintahannya, untuk menyelesaikan demikian banyak masalah Indonesia yang menghimpit kita selama sepuluh tahun ini ? Saya sama sekali tidak yakin. Ingatan mereka semua berjangka pendek: bagaimana mencari kekuasaan. Sesudah itu ? Kumana engke wae, dima tibonyo sajolah. Ampuuuun.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" When wealth is lost nothing is lost, when health is lost something is lost, but when character is lost everything is lost. Ein Volk ohne Geschichte is Ein Volk ohne Kultur. Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] TAJUK RENCANA Kompas, Jumat, 1 Mei 2009 | 04:25 WIB Cermati Pesan dari Insiden Papua Syukurlah insiden mengamuknya prajurit TNI AD dari Batalyon Infanteri 751/Berdiri Sendiri di Sentani, Jayapura, Papua, segera dapat diatasi. Namun, dari insiden yang terjadi pada hari Rabu (29/4) lalu kita harus memetik pelajaran, paling tidak supaya hal serupa tidak terulang. Selain menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat, kejadian seperti itu mengundang banyak tanda tanya. Seperti kita baca beritanya kemarin, kejadian di Sentani itu dipicu oleh kekecewaan prajurit terhadap kepemimpinan Komandan Yonif 751.. Untunglah amuk sekitar 100 prajurit reda setelah Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen AY Nasution turun ke lapangan. Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo kemarin juga berdialog dengan para perwira Yonif 751 di Jayapura. Kita hargai pimpinan TNI AD dan Kodam XVII yang tanpa berlama-lama segera terjun langsung ke lapangan meredam suasana. Kesigapan memang amat diperlukan dalam menyikapi insiden seperti yang terjadi di Sentani. Dari kejadian itu sendiri, kita harus bisa menangkap pesan, setidaknya mulai dari yang tersurat. Seperti dikutip di harian ini, di antara yang dikeluhkan para prajurit adalah Komandan Yonif yang kemarin dicopot dari jabatannya selalu mencari keuntungan atas jerih payah anak buah, seperti memotong uang lauk-pauk, jatah beras, dan tunjangan lain. Kekecewaan juga muncul karena Komandan Yonif tidak memerhatikan aspirasi bawahan, dalam hal ini yang terkait dengan sakit hingga meninggalnya Prajurit Satu Joko. Kita garis bawahi apa yang disampaikan para prajurit Yonif 751 bahwa urusan kebutuhan dasar manusia, seperti halnya yang menyangkut kesejahteraan pokok, bukanlah satu hal yang dapat dipermainkan. Justru sebaliknya, di tengah kehidupan yang semakin sulit dan serba mahal ini, hal itu perlu dipikirkan untuk terus diperbaiki. Pemerintah dan pimpinan TNI juga telah menangkap pesan ini karena porsi besar anggaran TNI untuk kesejahteraan prajurit. Pesan lain sebenarnya berupa pertanyaan, mengapa di lingkungan institusi TNI, yang menurut tradisinya kuat diwarnai kepatuhan, kini juga muncul keberanian melancarkan protes secara terbuka, dan dalam skala yang cukup signifikan, melibatkan 100 prajurit? Benarkah ada pengaruh era keterbukaan yang begitu besar sehingga mampu menimbulkan fenomena yang tidak lazim ini? Dalam perspektif lain, Papua—juga Aceh—tetap kita pandang sebagai provinsi yang sejauh ini masih mengandung potensi kerawanan. Oleh karena itu pula, dalam konteks NKRI, kita berharap segala perkembangan yang terjadi dapat dicermati oleh segenap pihak dengan kacamata yang tajam dan menerawang jauh. Sekali lagi, oleh sebab momennya, dan juga oleh sebab lokasinya, kita tidak dapat lagi berpikir simpel dan linier dalam memandang kejadian-kejadian yang berlangsung di Papua atau Aceh. *** Seratus Hari Penuh Arti Seratus hari lalu, Barack Obama mengawali masa kepresidenannya dengan mandat penuh dari rakyat AS. Kepercayaan dan harapan rakyat dipanggulnya. Setumpuk harapan ditaruh di atas bahu Obama. Bukan hanya harapan rakyat Amerika, tetapi juga harapan rakyat di negara lain. Dibayangkan sekaligus diharapkan bahwa Obama akan menjadi presiden yang mampu mengatasi berbagai persoalan dunia. Seperti tidak hendak mengecewakan rakyatnya—dan dunia—Obama, presiden kulit hitam pertama di AS, yang meraih 53 persen suara dalam pemilu lalu, segera bertindak. Ia berusaha menanamkan impresi, kesan memuaskan, melegakan, kepada para pemilihnya bahwa mereka tidak salah memilih dirinya. Obama juga berusaha mengatakan kepada para pemilihnya lewat tindakan nyata bahwa ia tidak hanya menebar janji, tetapi juga melaksanakan janjinya. Obama berusaha menyelamatkan perekonomian AS yang berada di ambang jurang kehancuran dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan ekonomi misalnya, paket stimulus, strategi penyelamatan bank-bank dan industri otomotif. Ia juga membabat para ”petualang ekonomi” yang hanya mementingkan kantong sendiri. Di panggung internasional, Obama berusaha membangun kembali reputasi AS yang tercabik-cabik karena pendahulunya yang cenderung menerapkan kebijakan luar negeri yang ”melukai” negara-negara lain atau menempatkan AS lebih tinggi daripada negara lain. Dengan berjanji akan menutup kamp di Teluk Guantanamo, sebuah kamp bagi mereka yang oleh AS dianggap sebagai teroris, wajah garang AS yang semula dianggap kurang manusiawi mulai sedikit terhapus. Obama juga menawarkan untuk membuka dialog dengan Iran dan Suriah yang sebelumnya selalu dianggap sebagai musuh AS. Bahkan, Obama dengan tanpa sungkan-sungkan berjabatan tangan dengan Presiden Venezuela Hugo Chavez, tokoh terdepan dari Amerika Selatan dalam kampanye menentang dan melawan AS. Obama juga berjanji akan menarik pulang tentara AS dari Irak, salah satu mandala perang terlama dan terkejam dalam sejarah AS. Afganistan pun mendapat perhatian, dengan berjanji menuntaskan misi militer di negeri itu. Memang, masih banyak persoalan yang belum disentuh atau bahkan ia terlihat seperti begitu ambisius. Obama mengakui hal itu. Ia menyadari begitu banyak persoalan yang menumpuk di depannya yang harus diselesaikan. Terlepas dari semua itu, apa yang dilakukan itu merupakan pemenuhan janji kampanyenya. Ia bertindak, tidak hanya bicara. Seorang pemimpin akan dinilai dari tindakannya yang berguna bagi masyarakat banyak ketimbang dari omongannya yang muluk-muluk. Omongan tanpa perbuatan adalah sia-sia. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
