*Dikutip dari Harian Republika.

Rabu, 06 Mei 2009 pukul 23:14:00*
Natsir, Hamka, dan Etika Berpolitik

Seorang teman dari Malaysia, yang baru saja bertugas di Jakarta, mengaku
sulit memahami karakter politik Indonesia. Tokoh yang dahulu bermusuhan,
tiba-tiba bersahabat. Dulu, bersahabat, tiba-tiba seperti bermusuhan. Tidak
itu saja. Ia mengamati sejumlah partai berkoalisi bukan karena kesamaan *
platform*, melainkan karena alasan sangat personal, sangat pribadi, dan
bertemu lawan bersama.

Kepada teman Malaysia itu, saya mengatakan bahwa bangsa ini sesungguhnya
memiliki tradisi politik yang hebat. Warisan masa lalu, yang pantas menjadi
contoh bagi siapa pun: politik yang indah, beretika, dewasa, dan tanpa
dendam.
Mohammad Natsir contoh dari keindahan etika berpolitik itu. Sebagai pemimpin
Masyumi, partai yang kemudian dibubarkan Soekarno, Pak Natsir biasa berdebat
sengit dengan DN Aidit, ketua PKI. Ideologi keduanya  berlawanan. Setelah
bersitegang mempertahankan prinsip, keduanya minum teh bersama. ''Sebagai
tokoh Masyumi, saya biasa minum teh bersama tokoh-tokoh PKI. Kami memusatkan
diri kepada masalah, bukan kepada *person*,'' kata Pak Natsir kepada *Editor
*, 23 Juli 1988.

Orde Baru membebaskan Pak Natsir dari tahanan rezim Soekarno. Namun, Pak
Natsir tidak mendapatkan kebebasan politik. Masyumi tetap juga dilarang.
Bahkan, ulama dan cendekiawan santun itu dicekal Soeharto. Meski begitu, Pak
Natsir tetap membantu Soeharto memulihkan hubungan dengan Malaysia, lewat
suratnya kepada PM Malaysia, Tengku Abdurrahman.

Ketika pemerintah Soeharto kesulitan mendapatkan modal dari Jepang, Pak
Natsir menulis surat kepada sahabatnya, Takeo Fukuda, perdana menteri Jepang
saat itu. Atas saran Pak Natsir, Fukuda bersedia membantu Indonesia. "Beliau
(Natsir) meyakinkan kami tentang masa depan Indonesia," tulis Fukuda dalam
surat belasungkawa atas wafatnya Pak Natsir, 1993.

Keindahan lain dapat diteladani dari Buya Hamka. Rezim Soekarno memenjarakan
Buya Hamka pada 1964-1966. Hamka difitnah, dituduh pro- Malaysia. Sastrawan
besar dan tokoh Masyumi ini tidak dendam pada Soekarno. Bahkan, Buya
mengambil hikmahnya. Selama di penjara, ulama besar bersuara lembut ini
justru berhasil menyelesaikan karya besar, *Tafsir Al-Azhar*.

Ketika Soekarno meninggal pada 21 Juni 1970, Buya Hamka berdiri di depan dan
menjadi imam shalat jenazah Soekarno. ''Saya telah memaafkannya. Soekarno
banyak jasanya,'' kata Buya ketika itu dengan suaranya yang lembut. Kedua
tokoh besar itu telah mewariskan etika dan keindahan berpolitik. Mereka
berbeda pandangan dengan lawan politiknya, namun tidak membawanya ke wilayah
pribadi, tidak menyimpan dendam, bahkan tetap membina silaturahim. Mereka
merendahkan suara ketika berdebat keras. Mereka tidak menghujat dan
merendahkan lawan politiknya.

Kedua tokoh tersebut mewariskan keindahan kepada kita. Warisan itu ibarat
ribuan kuntum bunga di taman hati yang indah dan menyejukkan. Namun, ribuan
kuntum bunga itu kita biarkan kering dan mati karena hati kita adalah tanah
yang keras. Bahkan, sekuntum bunga sekalipun tidak dapat tumbuh, kecuali
perseteruan dan kebencian.




>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke