Assalaamu'alaikum. w.w. 

.... Buk ... sudah lama saya menyilau-nyilau karya Ibuk.
Cuma karena saya bukan orang yang ahli sastera dan ndak pandai pula membuat 
puisi,
apalagi kalau dibilang romantis, jelas ndak ada pada saya.
Cuma sekali ini ingin berkomentar, entah enak entah tidak pula komentar saya 
ini,
mohon dimaafkan kalau ndak enak.
  Dulu sewaktu SMP dan SMA dalam belajar sastera kami diajarkan bahwa ada dua 
jenis
sastera dalam kesusateraan Melayu atau Indonesia. Yang pertama bernama puisi 
yang
kedua prosa. Secara gamblang dan secara mudah dikatakan bahwa yang namanya 
prosa 
adalah bacaan seperti biasa, di dalamnya tidak terdapat nada yang harus 
dirasakan karena
memang tujuannya bercerita atau berkhabar atau memberi informasi. Berbeda 
dengan 
Puisi yang katanya di dalamnya terdapat nada atau irama, walaupun hanya dibaca 
sekilas
 dan cepat, si pembaca akan terbawa oleh pengaruh iramanya, atau paling tidak 
situasinya. Situasi yang dalam dan dapat terbayangkan dan malah terasa 
seolah-olah 
sedang berada di dalamnya. 
  Maka kami diperkenalkan dengan yang namanya gurindam, seloka, pantun, syair, 
sebagai sasatera lama. Kemudian Soneta sebagai sastera yang baru. Dalam Soneta 
meskipun kadang-kadang tidak terlihat irama atau nadanya tapi kemudian dapat 
memahami paling tidak situasinya yang digambarkan hanya dengan dua baris 
kata-kata 
atau kalimat.
  Saya memang tidak mengikuti perkembangan ini sejak mulai terjun ke dunia 
keteknikan,
akan tetapi kok sekarang sudah berubah jauh ya ?. Informasi yang seolah-olah 
mirip atau 
boleh dikatakan prosa tapi orang sekarang menyebutnya Puisi. Saya tidak tahu 
mungkin 
di sini lemahnya saya. Kalau dibaca sajak Khairil Anwar "Dari Krawang ke 
Bekasi", mau
tidak mau ada nada dan irama di dalamnya sebelum situasinya terbaca. Kemudian 
guru 
saya di SMA dulu juga pernah megnajarkan bagaimana para sasterawan memilih 
kata-kata
yang sangat singkat tapi menggambarkan situasi yang ada. Contoh yang 
diberikannya 
begini. Yang paling singkat.
"Malam sunyi"
"Seekor katak melompat - plong"
  Lalau diterangkannya, coba kalian rasakan situasinya, sang sasterawan dapat 
memberikan gambaran yang tepat dan membawa kita pada keadaan seolah-olah berada 
di tepi kolam pada malam hari yang sunyi. 
Kemudian contoh lainnya
  "Beberapa dahan di tingkap merapuh"
  "Di terpa angin yang terpendam"
Dapat dirasakan suasana apa yang terjadi di situ.
 Contoh lain dari sastera Cina, satu ayat yang tepat
"Semoga dijumpai rumah kami yang berjendela putih itu saudara"
Begitu pandainya sang sasaterawan mencirikan suasana rumahnya di kampung yang
berjendela putih. Sebuah kesan yang dalam.
  Kembali kita ke karya-karya Ibuk. Entah karena saya kurang peka atau
memang zaman berubah, kok rasanya tidak terdapat nilai-nilai sebegitu baik 
irama,
ataupun gambaran situasi yang tepat. Seolah-olah kita hanya membaca sebuah 
prosa.
Prosa yang juga bukan porsa liris, karena tak terdapat lirik yang dapat membawa 
suasana
hati dengan iramanya.
  Maaf buk, ini dari orang yang ndak pandai sastera dan juga kurang mengikuti 
sasatera.
Bila ada yang salah, sungguh datang dari saya dan mohon dimaafkan. Bila benar, 
tentu
datangnya dari Allah swt. jua.
 
Wassalam
 
Dr. Eng. Khairi Yusuf MSME
Enginerring Design and Manufacturing laboratory
Andalas University, Campus Limau Manih
Padang, May 2009
 
  
 

--- On Mon, 5/11/09, hanifah daman <[email protected]> wrote:


From: hanifah daman <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Menampung Air Hujan (Bersama)
To: [email protected]
Date: Monday, May 11, 2009, 9:30 AM







MENAMPUNG AIR HUJAN (BERSAMA) 
  
Seminggu ini di kotaku 
Listrik hidup mati, hidup matiiii 
Air ledeng juga enggan mengalir 
Entah apa yang jadi penyebabnya 
  
Entah mengapa 
Seminggu ini listrik di kota ku 
hidup enggan mati tak mau 
Entah m,engapa pula 
Sang ledeng bertingkah 
Dan berpolah pula seperti itu 
Jika mati, maka matilah 
Agar ku hidupkan kembali 
Strongkeng dari masa lalu 
Jika berhenti, maka teruslah berhenti 
Agar aku tahu kemana air harus kucari dan 
Tak perlu harus selalu menanti 
  
Kami sudah mulai gelisah 
Apa yang akan dikerjakan ? 
Tadi malam listrik mati cukup lama 
Untung di luar terang bulan 
Persediaan air di bak dan di kentongan 
Sudah mulai menipis 
Nggak cukup untuk mandi 
Bagaimana kalau ada yang kebelet ? 
  
Tadi malam listrikpun kembali mati cukup lama 
Membuat persediaan air di bak serta kentongan 
menjadi menipis 
Jangankan untuk mandi 
Untuk pipispun sudah tidak bisa ditiris 
Kami gelisah 
Mengapa terang bulan di luar sana 
Tidak mau menuntun apa yang harus kami kerjakan 
  
Menjelang jam sepuluh malam 
Listrik menyala lagi 
Sebelum tidur 
Ku periksa lagi kran ledeng 
Memastikan apa sudah dalam keadaan terbuka 
Biar air bisa mengalir ke bak 
Walau kami sedang tidur 
Kebetulan hanya ada aku dan gadisku di rumah 
  
Jelang tidur, listrik kembali menyala 
Namun ledeng tetap enggan mengalirkan air 
Kubiarkan kran air terbuka 
Berharap air akan mengalir 
Ketika kami tertidur nanti 
  
Tak lama kemudian akupun tertidur 
Satu jam kemudian aku tersentak 
Di luar ku dengar rintik-rintik hujan 
Aku sempat berfikir 
Menunggu Ledeng mengalir ? atau 
Bangun dan menanmpung air hujan ? 
Andaikan ada suamiku 
Aku pasti memilih tidur nyenyak 
Akhirnya kuputuskan bangun sendirian 
  
          Belum lama tertidur 
          Akupun tersentak 
          Rintik-rintik hujan di luar 
Membuatku berfikir 
Haruskah ku tunggu ledeng mengalir atau 
Ku bangun menampung air hujan 
Andaikan suamiku ada 
Pastilah ku pilih tidur nyenyak 
Tapi kuputuskan bangun sendirian 
  
Suasana di luar yang sunyi dan sepi 
Serta keinginan punya persediaan air 
Membuat rasa takutku hilang 
          Aku ingin mempunyai persediaan air 
          Meskipun di luar sunyi dan sepi 
          Rasa takutku tlah hilang… 
  
Ku ambil semua wadah 
Yang bisa untuk menampung air 
Ku jejer di halaman 
Di bawah cucuran atap 
Setelah itu aku kembali tidur 
Ku dengar hujan semakin lebat 
  
Di bawah cucuran atap 
          Ku jejerkan ember, baskom dan periuk 
Biar banyak air yang tertampung 
Lalu aku kembali ke peraduan 
Aku senang hujan makin deras ku dengar 
  
Jelang tidur 
Aku teringat ketika di Bagan Si Api-Api 
Hujan yang tak selalu hadir 
Sementara tak ada sumber air lain 
Ketika hujan datang 
Air hujan tak dibiarkan kembali ke tanah 
Mereka membuat tangki-tangki 
Seperti tangkinya perusahaan minyak 
Air hujan tersebut di alirkan masuk ke tangki 
Pemakaian airpun di buat 
Sehemat mungkin 
  
          Kurebahkan kembali kepalaku di bantal 
Mataku menerawang dan ingatanku melayang 
          Terbayang tangki-tangki air di Bagan Si Api-Api 
          Tempat menampung air hujan 
          Hanya air hujan sumber air bersih disana 
          Sementara hujanpun tak selalu turun setiap hari 
          
                    
  
Beda sekali dengan di kampungku 
Air mengalir dari gunung 
Tak berhenti sepanjang waktu 
Terbayang kecipak-kecipak air di Tabek Gadang 
Ketika berkecimpung bersama teman sebaya 
Lalu akupun kembali tertidur 
  
Aku terbangun ketika azan subuh berkumandang 
Kulihat wadah-wadah penampung air 
Penuh berisi air 
Alhamdulillah kataku 
Ada saja kemudahan yang diberikan Allah 
  
Sesore ini 
Air ledeng masih tidak mengalir 
Namun kulihat langit yang berawan 
Memberikan harapan 
Sebentar lagi akan turun hujan 
  
Ya Allah yang Maha Penyayang 
KepadaMu kami memohon 
Izinkanlah hujan turun 
Biar kami tampung 
Untuk berbagai keperluan 
Kami juga memohon Ya Allah 
Jangan turunkan hujan berlebihan 
Yang akan menyebabkan kesengsaraan 
  
Bengkulu, 8 Mei 2009 
  
  
Hanifah Damanhuri


 





      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke