Dear Rangkayo Hanifah dan Majelis RN Yang Mulia, 1. Permohonan saya utk membuat puisi bersama (dulu "lamersing" dan juga skrg "Menampung Air Hujan Bersama") semata-mata adalah untuk menciptakan suatu media sambung rasa saja (spt sdh saya tuliskan terdahulu)....jadi bukan "ngajarin" kaleeee.....hahaha.
2. Buat saya pribadi tulisan-tulisan Uni selama ini bersifat SANGAT INSPIRATIF, .....karena itulah maka tulisan Uni yg saya kategorikan berpola dasar termasuk prosa saya mohon utk diijinkan bisa kita tulis kembali bersama menjadi "puisi bersama". Melalui proses menulis "puisi bersama" maka saya berharap dpt melalui dua pulau dgn sekali mendayung, yaitu : belajar menggubah prosa menjadi pusi, dan sekaligus bisa menggali inspirasi lebih banyak atas hal yg Uni simpam dlm prosa Uni. 3. Dlm banyak penjurian utk sebuah karya sastra, maka variabel nilai yang dipakai bisa berubah ubah, ....kecuali untuk aspek ORIGINALITAS yg selalu menjadi variabel kunci penilaian yg tdk bisa diganti. Dgn sgala keterbatasan yg saya miliki, maka saya melihat tulisan Uni adalah ORISINAL, baik dalam konteks pilihan kata dan dalam konteks pola aliran rasa. 4. Bagi saya pribadi, pada titik itu Uni telah mencapai hal yg LUAR BIASA, tidak semua orang atau sastrawan bisa seperti itu. Banyak karya sastra yang "sepintas" terlihat sangat "menghanyutkan" krn indahnya susunan kata yg dipakai, ....tapi ketika kita masuk lebih jauh pada kriteria ORIGINALITAS, maka akan jelas terlihat mana yg orisinal dan mana yg hasil gubahan belaka. Yang terbaik selalu adalah yang orisinal. Sadar akan aspek originalitas tsb lah maka pada salah satu tulisan saya di RN ini saya pernah minta ijin memakai pola rasa dari frase Pak Suheimi ttg "senja di rantau menjadi sepi ketika engkau pulang". 6. Apapun itu, ....saya bukan sastrawan (melainkan hanya "panjago rimbo" yang alah jarang pulo masuak ka rimbo),....saya hanya pecinta puisi dan beberapa karya sastra belaka.....jadi juga berharap ada pencerahan dari para ahli dan pakar di majelis RN ini. Salam, r.a Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: hanifah daman <[email protected]> Date: Mon, 11 May 2009 18:52:35 To: [email protected]<[email protected]> Cc: [email protected]<[email protected]> Subject: RE: Sastera Re: [...@ntau-net] Re: Menampung Air Hujan (Bersama) Waalaikum salam WR WB bapak sinaro yth. Alhamdulillah bapak telah berkenan membaca tulisan2 hanifah dan telah bersedia memberi masukan2. Sebenarnya proses pembelajaran sedang berlangsung. Tidak mudah memilih kata2 biar tulisan jadi indah apalagi memilih kata yang bisa membawa orang berimajinasi sendiri. Sebenarnya hanifah tidak pandai menulis panjang2. Tidak pula suka membaca puisi yang umumnya rumit di pahami. Lalu hanifah nulis pakai gaya sendiri, apa yang terasa he he he. Tuh bung RA sedang ngajarin bgm hal yg sama di ungkap dg cara yg beda. Mudah2an ke depan bisa lebih baik hendaknya. Amin. Hanifah sekarang jg di FT. waktu belajar sastra di SMA, gurunya lupa nyuruh murid untuk praktek nulis puisi atau prosa. Jadi harap maklum kalau hasilnya baru begitu. Tulisan pertamapun baru tahun 2006. Yah orang tua lagi belajarnih ceritanya. Wass. Hanifah Sutan Sinaro wrote: > Assalaamu'alaikum. w.w. > .... Buk ... sudah lama saya menyilau-nyilau karya Ibuk. > Cuma karena saya bukan orang yang ahli sastera dan ndak pandai pula membuat > puisi, > apalagi kalau dibilang romantis, jelas ndak ada pada saya. > Cuma sekali ini ingin berkomentar, entah enak entah tidak pula komentar saya > ini, > mohon dimaafkan kalau ndak enak. > Dulu sewaktu SMP dan SMA dalam belajar sastera kami diajarkan bahwa ada > dua jenis > sastera dalam kesusateraan Melayu atau Indonesia. Yang pertama bernama puisi > yang > kedua prosa. Secara gamblang dan secara mudah dikatakan bahwa yang namanya > prosa > adalah bacaan seperti biasa, di dalamnya tidak terdapat nada yang harus > dirasakan karena > memang tujuannya bercerita atau berkhabar atau memberi informasi. Berbeda > dengan > Puisi yang katanya di dalamnya terdapat nada atau irama, walaupun hanya > dibaca sekilas > dan cepat, si pembaca akan terbawa oleh pengaruh iramanya, atau paling > tidak > situasinya. Situasi yang dalam dan dapat terbayangkan dan malah terasa > seolah-olah > sedang berada di dalamnya. > Maka kami diperkenalkan dengan yang namanya gurindam, seloka, pantun, > syair, > sebagai sasatera lama. Kemudian Soneta sebagai sastera yang baru. Dalam > Soneta > meskipun kadang-kadang tidak terlihat irama atau nadanya tapi kemudian dapat > memahami paling tidak situasinya yang digambarkan hanya dengan dua baris > kata-kata > atau kalimat. > Saya memang tidak mengikuti perkembangan ini sejak mulai terjun ke dunia > keteknikan, > akan tetapi kok sekarang sudah berubah jauh ya ?. Informasi yang seolah-olah > mirip atau > boleh dikatakan prosa tapi orang sekarang menyebutnya Puisi. Saya tidak tahu > mungkin > di sini lemahnya saya. Kalau dibaca sajak Khairil Anwar "Dari Krawang ke > Bekasi", mau > tidak mau ada nada dan irama di dalamnya sebelum situasinya terbaca. > Kemudian guru > saya di SMA dulu juga pernah megnajarkan bagaimana para sasterawan memilih > kata-kata > yang sangat singkat tapi menggambarkan situasi yang ada. Contoh yang > diberikannya > begini. Yang paling singkat. > "Malam sunyi" > "Seekor katak melompat - plong" > Lalau diterangkannya, coba kalian rasakan situasinya, sang sasterawan > dapat > memberikan gambaran yang tepat dan membawa kita pada keadaan seolah-olah > berada > di tepi kolam pada malam hari yang sunyi. > Kemudian contoh lainnya > "Beberapa dahan di tingkap merapuh" > "Di terpa angin yang terpendam" > Dapat dirasakan suasana apa yang terjadi di situ. > Contoh lain dari sastera Cina, satu ayat yang tepat > "Semoga dijumpai rumah kami yang berjendela putih itu saudara" > Begitu pandainya sang sasaterawan mencirikan suasana rumahnya di kampung > yang > berjendela putih. Sebuah kesan yang dalam. > Kembali kita ke karya-karya Ibuk. Entah karena saya kurang peka atau > memang zaman berubah, kok rasanya tidak terdapat nilai-nilai sebegitu baik > irama, > ataupun gambaran situasi yang tepat. Seolah-olah kita hanya membaca sebuah > prosa. > Prosa yang juga bukan porsa liris, karena tak terdapat lirik yang dapat > membawa suasana > hati dengan iramanya. > Maaf buk, ini dari orang yang ndak pandai sastera dan juga kurang > mengikuti sasatera. > Bila ada yang salah, sungguh datang dari saya dan mohon dimaafkan. Bila > benar, tentu > datangnya dari Allah swt. jua. > > Wassalam > > Dr. Eng. Khairi Yusuf MSME > Enginerring Design and Manufacturing laboratory > Andalas University, Campus Limau Manih > Padang, May 2009 > > > > --- On Mon, 5/11/09, hanifah daman <[email protected]> wrote: > From: hanifah daman <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: > Menampung Air Hujan (Bersama) To: [email protected] Date: Monday, > May 11, 2009, 9:30 AM > MENAMPUNG AIR HUJAN (BERSAMA) > > Seminggu ini di kotaku > Listrik hidup mati, hidup matiiii > Air ledeng juga enggan mengalir > Entah apa yang jadi penyebabnya > > Entah mengapa > Seminggu ini listrik di kota ku > hidup enggan mati tak mau > Entah m,engapa pula > Sang ledeng bertingkah > Dan berpolah pula seperti itu > Jika mati, maka matilah > Agar ku hidupkan kembali > Strongkeng dari masa lalu > Jika berhenti, maka teruslah berhenti > Agar aku tahu kemana air harus kucari dan > Tak perlu harus selalu menanti > > Kami sudah mulai gelisah > Apa yang akan dikerjakan ? > Tadi malam listrik mati cukup lama > Untung di luar terang bulan > Persediaan air di bak dan di kentongan > Sudah mulai menipis > Nggak cukup untuk mandi > Bagaimana kalau ada yang kebelet ? > > Tadi malam listrikpun kembali mati cukup lama > Membuat persediaan air di bak serta kentongan > menjadi menipis > Jangankan untuk mandi > Untuk pipispun sudah tidak bisa ditiris > Kami gelisah > Mengapa terang bulan di luar sana > Tidak mau menuntun apa yang harus kami kerjakan > > Menjelang jam sepuluh malam > Listrik menyala lagi > Sebelum tidur > Ku periksa lagi kran ledeng > Memastikan apa sudah dalam keadaan terbuka > Biar air bisa mengalir ke bak > Walau kami sedang tidur > Kebetulan hanya ada aku dan gadisku di rumah > > Jelang tidur, listrik kembali menyala > Namun ledeng tetap enggan mengalirkan air > Kubiarkan kran air terbuka > Berharap air akan mengalir > Ketika kami tertidur nanti > > Tak lama kemudian akupun tertidur > Satu jam kemudian aku tersentak > Di luar ku dengar rintik-rintik hujan > Aku sempat berfikir > Menunggu Ledeng mengalir ? atau > Bangun dan menanmpung air hujan ? > Andaikan ada suamiku > Aku pasti memilih tidur nyenyak > Akhirnya kuputuskan bangun sendirian > > Belum lama tertidur > Akupun tersentak > Rintik-rintik hujan di luar > Membuatku berfikir > Haruskah ku tunggu ledeng mengalir atau > Ku bangun menampung air hujan > Andaikan suamiku ada > Pastilah ku pilih tidur nyenyak > Tapi kuputuskan bangun sendirian > > Suasana di luar yang sunyi dan sepi > Serta keinginan punya persediaan air > Membuat rasa takutku hilang > Aku ingin mempunyai persediaan air > Meskipun di luar sunyi dan sepi > Rasa takutku tlah hilang… > > Ku ambil semua wadah > Yang bisa untuk menampung air > Ku jejer di halaman > Di bawah cucuran atap > Setelah itu aku kembali tidur > Ku dengar hujan semakin lebat > > Di bawah cucuran atap > Ku jejerkan ember, baskom dan periuk > Biar banyak air yang tertampung > Lalu aku kembali ke peraduan > Aku senang hujan makin deras ku dengar > > Jelang tidur > Aku teringat ketika di Bagan Si Api-Api > Hujan yang tak selalu hadir > Sementara tak ada sumber air lain > Ketika hujan datang > Air hujan tak dibiarkan kembali ke tanah > Mereka membuat tangki-tangki > Seperti tangkinya perusahaan minyak > Air hujan tersebut di alirkan masuk ke tangki > Pemakaian airpun di buat > Sehemat mungkin > > Kurebahkan kembali kepalaku di bantal > Mataku menerawang dan ingatanku melayang > Terbayang tangki-tangki air di Bagan Si Api-Api > Tempat menampung air hujan > Hanya air hujan sumber air bersih disana > Sementara hujanpun tak selalu turun setiap hari > > > > Beda sekali dengan di kampungku > Air mengalir dari gunung > Tak berhenti sepanjang waktu > Terbayang kecipak-kecipak air di Tabek Gadang > Ketika berkecimpung bersama teman sebaya > Lalu akupun kembali tertidur > > Aku terbangun ketika azan subuh berkumandang > Kulihat wadah-wadah penampung air > Penuh berisi air > Alhamdulillah kataku > Ada saja kemudahan yang diberikan Allah > > Sesore ini > Air ledeng masih tidak mengalir > Namun kulihat langit yang berawan > Memberikan harapan > Sebentar lagi akan turun hujan > > Ya Allah yang Maha Penyayang > KepadaMu kami memohon > Izinkanlah hujan turun > Biar kami tampung > Untuk berbagai keperluan > Kami juga memohon Ya Allah > Jangan turunkan hujan berlebihan > Yang akan menyebabkan kesengsaraan > > Bengkulu, 8 Mei 2009 > > > Hanifah Damanhuri > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
