Uni evi, rina dan dunsanak sapalanta yth. Makasih atas respon rina dan uni evi. Tapi menurut hanifah, pak sutan sinaro nggak salah tuh. Sebenarnya anak gadis hanifah sering dan hampir selalu mentertawakan tulisan hanifah. Dia berkomentar seperti komentar pak sutan sinaro. Begitu yg dia pelajari di sekolah. Itulah susahnya hanifah kadang2, lebih suka mengikuti kemauan sendiri. Hanifah yakin kritik dan saran yang di berikan tentu krn tanda sayang dan ingin tulisan hanifah jadi bermutu dan hanifahpun punya kesempatan bergelar seniman he he he. Tidak mudah ternyata jadi seniman sejati kecuali bagi yang di anugrahi bakat dilengkapi dg semangat yang tinggi. Oh ya rina, matikan kompor, entah kenapa otomatis ada, kali karna di awali nyalakan kompor. Uni sering ngomong gini di lab. Sebelum keluar jangan lupa matikan komputer he he he. Wass. Hanifah
Evy Nizhamul wrote: > Yth. Pak Sutan Sinaro, add Iffah serta dusanak sapalanta yang dirahmati > Allah. Alhamdulillah Iffah berbesar hati menerima kritikan dari Pak Sutan > Sinaro Semua kita pasti pernah berlajar membuat puisi dan mengenal produk > karya sastra yang banyak berasal dari semenanjung melayu. Bahkan khazanah > bertutur kata diciptakan oleh nenek moyang kita yang tercermin dari pepatah > petitih adalah gambaran perasaan yang paling dalam yang lahir pada masa itu. > Saya masih ingat ketika guru kami di SMA (SMA IV - Jakarta) yang bernama Ibu > Zumarlis - yang berasal dari Minang mengajarkan kami bagaimana membuat lirik > lirik puisi. Dia berkata : " Satukan hatimu pada alam dan bayangkanlah engkau > adalah bagian dari alam itu ". Sebuah puisi lahir dari perasaan hati dan > ungkapan > bahasa kalbu yang disampaikan atas suatu kejadian. Pembacanya diajak untuk > merenungi apa yang ingin disampaikan oleh si pemuisi itu. Jujur saja melalui > japri saya pernah menyampaikan saran kepada Add Iffah agar ia lebih mendalami > puisinya dengan menyatukan hatinya pada alam. Sehingga tulisan nya akan lebih > ber nas - seperti diberi penilaian oleh Pak Suhaemi. Bagi saya apa yang > disampaikan Add Iffah dimilist ini - tetap saya anggap sebagai ungkapan > hatinya yang tersusun dalam bait demi bait. Walaupun tidak mengikuti kaedah > kaedah yang dikenal di dunia sastra. Ternyata semua dusanak di Palanta ini > selalu memberikan apresiasi kepadanya karena itu lah ke khas annya dalam > menyampaikan sebuah informasi. Untuk membuat puisi itu sebenarnya mudah saja, > apabila kita mampu menyampaikan bahasa kalbu kita dengan menyatukan diri pada > alam. Kita adalah makhluk makhluk yang hidup sesuai dengan fitrahnya, > sehingga kita dapat belajar kepada alam - " alam takambang jadi guru". Kita > akan mempelajari sifat alam itu baik yang ada di bumi dan benda benda yang > ada di Antariksa. Makanya puisi yang terindah itu ada pada kandungan Al > Qur'an karena ia berisikan firman firman Tuhan, yang tidak ada bandingannya. > Tanggapan saya terhadap Pak Sutan Sinaro - bahwa komentar Anda mudah-mudahan > tidak mengundang polemik. Sebagai seorang akademisi - Anda tentu tidak saja > hanya sekedar kritik membangun namun hendaknya tetap memberi semangat atas > produktivitas tulisan seseorang. Demikianlah terlebih dan terkurangnya saya > mohon dimaafkan. Wassalam, > Evy Nizhamul (Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang) > http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On > Mon, 5/11/09, hanifah daman <[email protected]> wrote: From: hanifah daman > <[email protected]> Subject: RE: Sastera Re: [...@ntau-net] Re: Menampung Air > Hujan (Bersama) To: "[email protected]" <[email protected]> Cc: > "[email protected]" <[email protected]> Date: Monday, May > 11, 2009, 9:52 PM Waalaikum salam WR WB bapak sinaro yth. Alhamdulillah bapak > telah berkenan membaca tulisan2 hanifah dan telah bersedia memberi masukan2. > Sebenarnya proses pembelajaran sedang berlangsung. Tidak mudah memilih kata2 > biar tulisan jadi indah apalagi memilih kata yang bisa membawa orang > berimajinasi sendiri. Sebenarnya hanifah tidak pandai menulis panjang2. Tidak > pula suka membaca puisi yang umumnya rumit di pahami. Lalu hanifah nulis > pakai gaya sendiri, apa yang terasa he he he. Tuh bung RA sedang ngajarin bgm > hal yg sama di ungkap dg cara yg beda. Mudah2an > ke depan bisa lebih baik hendaknya. Amin. Hanifah sekarang jg di FT. waktu > belajar sastra di SMA, gurunya lupa nyuruh murid untuk praktek nulis puisi > atau prosa. Jadi harap maklum kalau hasilnya baru begitu. Tulisan pertamapun > baru tahun 2006. Yah orang tua lagi belajarnih ceritanya. Wass. Hanifah Sutan > Sinaro wrote: > Assalaamu'alaikum. w.w. > .... Buk ... sudah lama saya > menyilau-nyilau karya Ibuk. > Cuma karena saya bukan orang yang ahli sastera > dan ndak pandai pula membuat puisi, > apalagi kalau dibilang romantis, jelas > ndak ada pada saya. > Cuma sekali ini ingin berkomentar, entah enak entah > tidak pula komentar saya ini, > mohon dimaafkan kalau ndak enak. > Dulu > sewaktu SMP dan SMA dalam belajar sastera kami diajarkan bahwa ada dua jenis > > sastera dalam kesusateraan Melayu atau Indonesia. Yang pertama bernama > puisi yang > > kedua prosa. Secara gamblang dan secara mudah dikatakan bahwa yang namanya > prosa > adalah bacaan seperti biasa, di dalamnya tidak terdapat nada yang > harus dirasakan karena > memang tujuannya bercerita atau berkhabar atau > memberi informasi. Berbeda dengan > Puisi yang katanya di dalamnya terdapat > nada atau irama, walaupun hanya dibaca sekilas > dan cepat, si pembaca akan > terbawa oleh pengaruh iramanya, atau paling tidak > situasinya. Situasi yang > dalam dan dapat terbayangkan dan malah terasa seolah-olah > sedang berada di > dalamnya. > Maka kami diperkenalkan dengan yang namanya gurindam, seloka, > pantun, syair, > sebagai sasatera lama. Kemudian Soneta sebagai sastera yang > baru. Dalam Soneta > meskipun kadang-kadang tidak terlihat irama atau > nadanya tapi kemudian dapat > memahami paling tidak situasinya yang > digambarkan hanya dengan dua baris kata-kata > atau kalimat. > Saya > memang tidak mengikuti perkembangan ini sejak mulai terjun ke dunia > keteknikan, > akan tetapi kok sekarang sudah berubah jauh ya ?. Informasi > yang seolah-olah mirip atau > boleh dikatakan prosa tapi orang sekarang > menyebutnya Puisi. Saya tidak tahu mungkin > di sini lemahnya saya. Kalau > dibaca sajak Khairil Anwar "Dari Krawang ke Bekasi", mau > tidak mau ada > nada dan irama di dalamnya sebelum situasinya terbaca. Kemudian guru > saya > di SMA dulu juga pernah megnajarkan bagaimana para sasterawan memilih > kata-kata > yang sangat singkat tapi menggambarkan situasi yang ada. Contoh > yang diberikannya > begini. Yang paling singkat. > "Malam sunyi" > "Seekor > katak melompat - plong" > Lalau diterangkannya, coba kalian rasakan > situasinya, sang sasterawan dapat > memberikan gambaran yang tepat dan > membawa kita pada keadaan seolah-olah berada > di tepi kolam pada malam hari > yang sunyi. > Kemudian contoh lainnya > "Beberapa dahan di tingkap > merapuh" > "Di terpa angin yang terpendam" > Dapat dirasakan suasana apa > yang terjadi di situ. > Contoh lain dari sastera Cina, satu ayat yang tepat > > "Semoga dijumpai rumah kami yang berjendela putih itu saudara" > Begitu > pandainya sang sasaterawan mencirikan suasana rumahnya di kampung yang > > berjendela putih. Sebuah kesan yang dalam. > Kembali kita ke karya-karya > Ibuk. Entah karena saya kurang peka atau > memang zaman berubah, kok rasanya > tidak terdapat nilai-nilai sebegitu baik irama, > ataupun gambaran situasi > yang tepat. Seolah-olah kita hanya > membaca sebuah prosa. > Prosa yang juga bukan porsa liris, karena tak > terdapat lirik yang dapat membawa suasana > hati dengan iramanya. > Maaf > buk, ini dari orang yang ndak pandai sastera dan juga kurang mengikuti > sasatera. > Bila ada yang salah, sungguh datang dari saya dan mohon > dimaafkan. Bila benar, tentu > datangnya dari Allah swt. jua. > > > Wassalam > > Dr. Eng. Khairi Yusuf MSME > Enginerring Design and > Manufacturing laboratory > Andalas University, Campus Limau Manih > Padang, > May 2009 > > > > --- On Mon, 5/11/09, hanifah daman < > [email protected] > wrote: > From: hanifah daman < [email protected] > > Subject: [...@ntau-net] Re: Menampung Air Hujan (Bersama) To: > [email protected] Date: Monday, May 11, 2009, 9:30 AM > MENAMPUNG > AIR HUJAN (BERSAMA) > > Seminggu ini di kotaku > Listrik hidup mati, > hidup matiiii > Air ledeng juga enggan mengalir > Entah apa yang jadi penyebabnya > > Entah mengapa > Seminggu ini listrik di kota ku > hidup enggan mati tak mau > Entah m,engapa pula > Sang ledeng bertingkah > Dan berpolah pula seperti itu > Jika mati, maka matilah > Agar ku hidupkan kembali > Strongkeng dari masa lalu > > Jika berhenti, maka teruslah berhenti > Agar aku tahu kemana air harus > kucari dan > Tak perlu harus selalu menanti > > Kami sudah mulai gelisah > > Apa yang akan dikerjakan ? > Tadi malam listrik mati cukup lama > Untung > di luar terang bulan > Persediaan air di bak dan di kentongan > Sudah mulai > menipis > Nggak cukup untuk mandi > Bagaimana kalau ada yang kebelet ? > > > Tadi malam listrikpun kembali mati cukup lama > Membuat persediaan air di > bak serta kentongan > menjadi menipis > Jangankan untuk mandi > Untuk > pipispun sudah tidak bisa ditiris > Kami gelisah > Mengapa terang bulan di > luar sana > Tidak mau menuntun apa yang harus kami kerjakan > > > Menjelang jam sepuluh malam > Listrik menyala lagi > Sebelum tidur > Ku > periksa lagi kran ledeng > Memastikan apa sudah dalam keadaan terbuka > > Biar air bisa mengalir ke bak > Walau kami sedang tidur > Kebetulan hanya > ada aku dan gadisku di rumah > > Jelang tidur, listrik kembali menyala > > Namun ledeng tetap enggan mengalirkan air > Kubiarkan kran air terbuka > > Berharap air akan mengalir > Ketika kami tertidur nanti > > Tak lama > kemudian akupun tertidur > Satu jam kemudian aku tersentak > Di luar ku > dengar rintik-rintik hujan > Aku sempat berfikir > Menunggu Ledeng mengalir > ? atau > Bangun dan menanmpung air hujan ? > Andaikan ada suamiku > Aku > pasti memilih > tidur nyenyak > Akhirnya kuputuskan bangun sendirian > > > Belum lama tertidur > Akupun tersentak > Rintik-rintik > hujan di luar > Membuatku berfikir > Haruskah ku tunggu ledeng mengalir > atau > Ku bangun menampung air hujan > Andaikan suamiku ada > Pastilah ku > pilih tidur nyenyak > Tapi kuputuskan bangun sendirian > > Suasana di > luar yang sunyi dan sepi > Serta keinginan punya persediaan air > Membuat > rasa takutku hilang > Aku ingin mempunyai persediaan air > > Meskipun di luar sunyi dan sepi > Rasa takutku tlah > hilang… > > Ku ambil semua wadah > Yang bisa untuk menampung air > Ku > jejer di halaman > Di bawah cucuran atap > Setelah itu aku kembali tidur > > Ku dengar hujan semakin lebat > > Di bawah cucuran atap > Ku > jejerkan ember, baskom dan periuk > Biar banyak air yang tertampung > Lalu > aku kembali ke peraduan > Aku senang hujan makin deras ku dengar > > > Jelang tidur > Aku teringat ketika di Bagan Si Api-Api > Hujan yang tak > selalu hadir > Sementara tak ada sumber air lain > > Ketika hujan datang > Air hujan tak dibiarkan kembali ke tanah > Mereka > membuat tangki-tangki > Seperti tangkinya perusahaan minyak > Air hujan > tersebut di alirkan masuk ke tangki > Pemakaian airpun di buat > Sehemat > mungkin > > Kurebahkan kembali kepalaku di bantal > Mataku > menerawang dan ingatanku melayang > Terbayang tangki-tangki air di > Bagan Si Api-Api > Tempat menampung air hujan > Hanya > air hujan sumber air bersih disana > Sementara hujanpun tak selalu > turun setiap hari > > > > > Beda sekali dengan di kampungku > > Air mengalir dari gunung > Tak berhenti sepanjang waktu > Terbayang > kecipak-kecipak air di Tabek Gadang > Ketika berkecimpung bersama teman > sebaya > Lalu akupun kembali tertidur > > Aku terbangun ketika azan > subuh berkumandang > Kulihat wadah-wadah penampung air > Penuh berisi air > > Alhamdulillah kataku > Ada saja kemudahan yang diberikan Allah > > > Sesore ini > Air ledeng masih tidak mengalir > Namun kulihat langit yang > berawan > Memberikan harapan > Sebentar lagi akan turun > hujan > > Ya Allah yang Maha Penyayang > KepadaMu kami memohon > > Izinkanlah hujan turun > Biar kami tampung > Untuk berbagai keperluan > > Kami juga memohon Ya Allah > Jangan turunkan hujan berlebihan > Yang akan > menyebabkan kesengsaraan > > Bengkulu, 8 Mei 2009 > > > Hanifah > Damanhuri > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
