Waalaikum Salam WR WB bapak masrur, bapak budiman dan dunsanak sapalanta yth. Alhamdulillah tidak menyangka banyak juga yang membaca tulisan2 hanifah. Iya memang, entah kemana kelompoknya, puisi kepanjangan, prosa kurang uraian. Kira2 di antara puisi dan prosa posisinya. Jadi jenis baru tapi untuk di konsumsi kita2 di palanta ini aja. Bagi hanifah jadi ajang palapeh nan takana atau nan taraso di hati. Mudah2an bagi pembaca ada gunanya juga. Terima kasih banyak atas respon bapak2. Hanifah tetap mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Wass. Hanifah
masrursiddik masrursiddik wrote: > Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh, Para Sahabat di palanta RN, > Saketek sato pulo ambo manyampaikan nan taraso > Sabana nou nan ditulih Rky Ifah lamak dibaco Baitu nan katuju jo saleronyo > Bagaikan mambuek randang sajo Dagiang, karambie sarato langkok samo Lado, > garam bacampua dibalango Sadonyo dimasak ba inok-inok > Proses nan indak sabanta jadinyo Karajo baulang-ulang makonyo samporono Lain > tangan lain cito raso nou Ta asin, ta padeh tagantuang nan mancubonyo Tiok > urang lain salero Tarpulang ka pambuek randang > Mamareso langkok nan mungkin talupo Urang sapalanta sanang, dan inyo pun > bahati gadang Sakitu se dari ambo nan sadang baraja ka.... Rky.Ifah, > St.Sinaro, Rky Evi, Rky Rina dan sanak Boediman, > kiranyo satuju bhw : Hidup ini Perjuangan bak untaian kata dari WS Rendra > sbb: > - > - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - > - > - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - > Hidup > tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh > Hidup > adalah untuk mengolah hidup, > bekerja > membalik tanah, > memasuki > rahasia langit dan samudra , > Serta > mencipta dan mengukir dunia > > Kita > menyandang tugas > kerna > tugas adalah tugas. > Bukannya > demi sorga atau neraka, > tetapi > demi kehormatan seorang manusia > > Rendra > Wassalam, Masrur Siddik- menikmati tulisan Rky Ifah dkk L /67, di Bandung > 2009/5/12 Boediman Moeslim < [email protected] > > Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh, Maaf, mungkin karena baru > membuka. jadilah awak manjadi "urang nan katinggalan kapa". Sabananyo kritik > adolah suatu cemeti yang berujung pada KENIKMATAN. Bagai seorang ibu yang mau > melahirkan, begitu beratnya menahan sakit. Tapi, hasilnya suatu nikmat. > Nikmat yang tiada tara. Bertatap dengan ANUGERAH ILLAHI yang manis dan > centil. Jangan dihadang, jangan ditutupi, dan jangan diprotes. Biarkan kritik > itu, biarkan ia mendamprat kita, karena dia akan menjadikan kita bisa berkata > bahwa ITULAH DIRI KITA. > Pada "postingku" di subjek yang sama tadi pagi. Kukatakan bahwa, pernahkan > ada yang membaca puisi dari seorang SUTARDJI C BAHRI berjudul DO'A SEORANG > MUSAFIR? Pada puisinya tidak ada satu pun kata-kata yang berisi do'a, hanya > kata terakhir yang ditulisnya dengan Amin. Puisi apa pula ini? Yah, seorang > SUTARDJI yang > salah seorang sastrawan yang tidak asing bagi lidah sastrawan di negara > tercinta untuk menyebutnya sebagai SASTRAWAN NASIONAL. Sekarang Bu > Ippah,.......begitu manisnya alunan kata-kata yang dihunjamkan pada setiap > tulisannya, bahkan kalau disambung bisa menjadi sebuah prosa yang lengkap. > Ini sebuah karya, karya anak bangsa, saya sebagai penyenang seni puisi, seni > prosa, turut menikmati setiap saya membaca untaian kata yang dirajut oleh Ibu > Ippah. Seni tidak bisa dimainkan oleh orang yang bukan seniman. Ia begitu > indah, begitu agung bagi orang yang menikmatinya. Berkreasilah anak bangsa, > banyak yang menunggu alunan kata-katamu sebagai minuman yang segar bagi > MUSAFIR di padang pasir. Silahkan menggoda, AKU akan tetap menjadi AKU. > Karena AKU adalah AKU. > Teriring salam buat rekan-rekan pencinta seni. Lembang, 12 Mei 2009 Pukul > 16.10 wib. Wassalam, Tan Lembang (L,52+) Lembang, Bandung --- On Tue, > 5/12/09, hanifah daman > < [email protected] > wrote: > From: hanifah daman < [email protected] > Subject: [...@ntau-net] Re: > Sastera - Menampung Air Hujan (Bersama) To: " [email protected] " < > [email protected] > > Cc: " [email protected] " < [email protected] > Date: > Tuesday, May 12, 2009, 4:52 AM > Uni evi, rina dan dunsanak sapalanta yth. Makasih atas respon rina dan uni > evi. Tapi menurut hanifah, pak sutan sinaro nggak salah tuh. Sebenarnya anak > gadis hanifah sering dan hampir selalu mentertawakan tulisan hanifah. Dia > berkomentar seperti komentar pak sutan sinaro. Begitu yg dia pelajari di > sekolah. Itulah susahnya hanifah kadang2, lebih suka mengikuti kemauan > sendiri. Hanifah yakin kritik dan saran yang di berikan tentu krn tanda > sayang dan ingin tulisan hanifah jadi bermutu dan hanifahpun > punya kesempatan bergelar seniman he he he. Tidak mudah ternyata jadi > seniman sejati kecuali bagi yang di anugrahi bakat dilengkapi dg semangat > yang tinggi. Oh ya rina, matikan kompor, entah kenapa otomatis ada, kali > karna di awali nyalakan kompor. Uni sering ngomong gini di lab. Sebelum > keluar jangan lupa matikan komputer he he he. Wass. Hanifah > Evy Nizhamul wrote: > Yth. Pak Sutan Sinaro, add Iffah serta dusanak > sapalanta yang dirahmati Allah. Alhamdulillah Iffah berbesar hati menerima > kritikan dari Pak Sutan Sinaro Semua kita pasti pernah berlajar membuat puisi > dan mengenal produk karya sastra yang banyak berasal dari semenanjung melayu. > Bahkan khazanah bertutur kata diciptakan oleh nenek moyang kita yang > tercermin dari pepatah petitih adalah gambaran perasaan yang paling dalam > yang lahir pada masa itu. Saya masih ingat ketika guru kami di SMA (SMA IV - > Jakarta) yang bernama Ibu Zumarlis - yang berasal dari Minang mengajarkan kami > bagaimana membuat lirik lirik puisi. Dia berkata : " Satukan hatimu pada > alam dan bayangkanlah engkau adalah bagian dari alam itu ". Sebuah puisi > lahir dari perasaan hati dan ungkapan > bahasa kalbu yang disampaikan atas > suatu kejadian. Pembacanya diajak untuk merenungi apa yang ingin disampaikan > oleh si pemuisi itu. Jujur saja melalui japri saya pernah menyampaikan saran > kepada Add Iffah agar ia lebih mendalami puisinya dengan menyatukan hatinya > pada alam. Sehingga tulisan nya akan lebih ber nas - seperti diberi penilaian > oleh Pak Suhaemi. Bagi saya apa yang disampaikan Add Iffah dimilist ini - > tetap saya anggap sebagai ungkapan hatinya yang tersusun dalam bait demi > bait. Walaupun tidak mengikuti kaedah kaedah yang dikenal di dunia sastra. > Ternyata semua dusanak di Palanta ini selalu memberikan apresiasi kepadanya > karena itu lah ke khas annya dalam menyampaikan sebuah informasi. Untuk > membuat puisi itu sebenarnya mudah saja, apabila kita > mampu menyampaikan bahasa kalbu kita dengan menyatukan diri pada alam. Kita > adalah makhluk makhluk yang hidup sesuai dengan fitrahnya, > sehingga kita > dapat belajar kepada alam - " alam takambang jadi guru". Kita akan > mempelajari sifat alam itu baik yang ada di bumi dan benda benda yang ada di > Antariksa. Makanya puisi yang terindah itu ada pada kandungan Al Qur'an > karena ia berisikan firman firman Tuhan, yang tidak ada bandingannya. > Tanggapan saya terhadap Pak Sutan Sinaro - bahwa komentar Anda mudah-mudahan > tidak mengundang polemik. Sebagai seorang akademisi - Anda tentu tidak saja > hanya sekedar kritik membangun namun hendaknya tetap memberi semangat atas > produktivitas tulisan seseorang. Demikianlah terlebih dan terkurangnya saya > mohon dimaafkan. Wassalam, >> Evy Nizhamul (Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang) >>http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On >>Mon, 5/11/09, hanifah daman < [email protected] > wrote: From: hanifah daman >>< [email protected] > Subject: RE: Sastera Re: [...@ntau-net] Re: Menampung >>Air Hujan (Bersama) To: " [email protected] " < [email protected] > Cc: " >>[email protected] " < [email protected] > Date: > Monday, May 11, 2009, 9:52 PM Waalaikum salam WR WB bapak sinaro yth. > Alhamdulillah bapak telah berkenan membaca tulisan2 hanifah dan telah > bersedia memberi masukan2. Sebenarnya proses pembelajaran sedang > berlangsung. Tidak mudah memilih kata2 biar tulisan jadi indah apalagi > memilih kata yang bisa membawa orang berimajinasi sendiri. Sebenarnya hanifah > tidak pandai menulis panjang2. Tidak pula suka membaca puisi yang umumnya > rumit di pahami. Lalu hanifah nulis pakai gaya sendiri, apa yang terasa he he > he. Tuh bung RA sedang ngajarin bgm hal > yg sama di ungkap dg cara yg beda. Mudah2an > ke depan bisa lebih baik > hendaknya. Amin. Hanifah sekarang jg di FT. waktu belajar sastra di SMA, > gurunya lupa nyuruh murid untuk praktek nulis puisi atau prosa. Jadi harap > maklum kalau hasilnya baru begitu. Tulisan pertamapun baru tahun 2006. Yah > orang tua lagi belajarnih ceritanya. Wass. Hanifah Sutan Sinaro wrote: > > Assalaamu'alaikum. w.w. > > .... Buk ... sudah lama saya menyilau-nyilau karya Ibuk. > Cuma karena > saya bukan orang yang ahli sastera dan ndak pandai pula membuat puisi, > > apalagi kalau dibilang romantis, jelas ndak ada pada saya. > Cuma sekali ini > ingin berkomentar, entah enak entah tidak pula komentar saya ini, > mohon > dimaafkan kalau ndak enak. > Dulu sewaktu SMP dan SMA dalam belajar > sastera kami diajarkan bahwa ada dua jenis > sastera dalam kesusateraan > Melayu atau Indonesia. Yang pertama bernama puisi yang > >> kedua prosa. Secara gamblang dan secara mudah dikatakan bahwa yang namanya >>prosa > adalah bacaan seperti biasa, di dalamnya tidak terdapat nada yang >>harus dirasakan karena > memang tujuannya bercerita atau berkhabar atau >>memberi informasi. Berbeda dengan > Puisi yang katanya di dalamnya terdapat >>nada atau irama, walaupun hanya dibaca sekilas > > dan cepat, si pembaca akan terbawa oleh pengaruh iramanya, atau paling > tidak > situasinya. Situasi yang dalam dan dapat terbayangkan dan malah > terasa seolah-olah > sedang berada di dalamnya. > Maka kami diperkenalkan > dengan yang namanya gurindam, seloka, pantun, syair, > sebagai sasatera > lama. Kemudian Soneta sebagai sastera yang baru. Dalam Soneta > meskipun > kadang-kadang tidak terlihat irama atau nadanya tapi kemudian dapat > > memahami paling tidak situasinya yang >> digambarkan hanya dengan dua baris kata-kata > atau kalimat. > Saya >>memang tidak mengikuti perkembangan ini sejak mulai terjun ke dunia >>keteknikan, > akan tetapi kok sekarang sudah berubah jauh ya ?. Informasi >>yang seolah-olah mirip atau > boleh dikatakan prosa tapi orang sekarang >>menyebutnya Puisi. Saya tidak tahu mungkin > di sini lemahnya saya. > Kalau dibaca sajak Khairil Anwar "Dari Krawang ke Bekasi", mau > tidak mau > ada nada dan irama di dalamnya sebelum situasinya terbaca. Kemudian guru > > saya di SMA dulu juga pernah megnajarkan bagaimana para sasterawan memilih > kata-kata > yang sangat singkat tapi menggambarkan situasi yang ada. Contoh > yang diberikannya > begini. Yang paling singkat. > "Malam sunyi" > "Seekor > katak melompat - plong" > Lalau diterangkannya, coba kalian rasakan >> situasinya, sang sasterawan dapat > memberikan gambaran yang tepat dan >>membawa kita pada keadaan seolah-olah berada > di tepi kolam pada malam hari >>yang sunyi. > Kemudian contoh lainnya > "Beberapa dahan di tingkap >>merapuh" > "Di terpa angin yang terpendam" > Dapat dirasakan suasana apa >>yang terjadi di situ. > Contoh lain dari sastera Cina, satu ayat > yang tepat > "Semoga dijumpai rumah kami yang berjendela putih itu saudara" > > Begitu pandainya sang sasaterawan mencirikan suasana rumahnya di kampung > yang > berjendela putih. Sebuah kesan yang dalam. > Kembali kita ke > karya-karya Ibuk. Entah karena saya kurang peka atau > memang zaman berubah, > kok rasanya tidak terdapat nilai-nilai sebegitu baik irama, > ataupun > gambaran situasi yang tepat. Seolah-olah kita hanya >> membaca sebuah prosa. > Prosa yang juga bukan porsa liris, karena tak >>terdapat lirik yang dapat membawa suasana > hati dengan iramanya. > Maaf >>buk, ini dari orang yang ndak pandai sastera dan juga kurang mengikuti >>sasatera. > Bila ada yang salah, sungguh datang dari saya dan mohon >>dimaafkan. Bila benar, tentu > datangnya dari Allah swt. jua. > > >>Wassalam > > Dr. Eng. > Khairi Yusuf MSME > Enginerring Design and Manufacturing laboratory > > Andalas University, Campus Limau Manih > Padang, May 2009 > > > > > --- On Mon, 5/11/09, hanifah daman < [email protected] > wrote: > From: > hanifah daman < [email protected] > Subject: [...@ntau-net] Re: Menampung Air > Hujan (Bersama) To: [email protected] Date: Monday, May 11, 2009, > 9:30 AM > MENAMPUNG AIR HUJAN (BERSAMA) > > Seminggu ini di kotaku > > Listrik hidup mati, hidup matiiii > Air ledeng juga enggan mengalir > Entah > apa yang jadi > penyebabnya > > > Entah mengapa > Seminggu ini listrik di kota ku > hidup enggan > mati tak mau > Entah m,engapa pula > Sang ledeng bertingkah > Dan berpolah > pula seperti itu > Jika mati, maka matilah > Agar ku hidupkan kembali > > Strongkeng dari masa lalu > >> Jika berhenti, maka teruslah berhenti > Agar aku tahu kemana air harus >>kucari dan > Tak perlu harus selalu menanti > > Kami sudah mulai gelisah >>> Apa yang akan dikerjakan ? > Tadi malam listrik mati cukup lama > Untung >>di luar terang bulan > Persediaan air di bak dan di kentongan > Sudah mulai >>menipis > Nggak cukup untuk mandi > Bagaimana kalau ada yang kebelet ? > >>> Tadi malam listrikpun kembali mati cukup lama > Membuat persediaan air di >>bak serta kentongan > > menjadi menipis > Jangankan untuk mandi > Untuk pipispun sudah tidak > bisa ditiris > Kami gelisah > Mengapa terang bulan di luar sana > Tidak > mau menuntun apa yang harus kami kerjakan > > >> Menjelang jam sepuluh malam > Listrik menyala lagi > Sebelum tidur > Ku >>periksa lagi kran ledeng > Memastikan apa sudah dalam keadaan terbuka > >>Biar air bisa mengalir ke bak > Walau kami sedang tidur > Kebetulan hanya >>ada aku dan gadisku di rumah > > Jelang tidur, listrik kembali menyala > >>Namun ledeng tetap enggan mengalirkan air > Kubiarkan kran air terbuka > >>Berharap air akan mengalir > Ketika kami tertidur nanti > > Tak lama >>kemudian akupun tertidur > Satu jam kemudian aku tersentak > Di luar ku >>dengar > rintik-rintik hujan > Aku sempat berfikir > Menunggu Ledeng mengalir ? > atau > Bangun dan menanmpung air hujan ? > Andaikan ada suamiku > Aku > pasti memilih > tidur nyenyak > Akhirnya kuputuskan bangun sendirian > > > Belum lama tertidur > Akupun tersentak > > Rintik-rintik hujan di luar > Membuatku berfikir > Haruskah ku tunggu > ledeng mengalir atau > Ku bangun menampung air hujan > Andaikan suamiku ada > > Pastilah ku pilih tidur nyenyak > Tapi kuputuskan bangun sendirian > > > Suasana di luar yang sunyi dan sepi > Serta keinginan punya persediaan > air > Membuat rasa takutku hilang > > Aku ingin mempunyai persediaan air > > Meskipun di > luar sunyi dan sepi > Rasa takutku tlah hilang… > > Ku ambil > semua wadah > Yang bisa untuk menampung air > Ku jejer di halaman > Di > bawah cucuran atap > Setelah itu aku kembali tidur > Ku dengar hujan > semakin lebat > > Di bawah cucuran atap > Ku jejerkan ember, > baskom dan periuk > Biar banyak air yang tertampung > Lalu aku kembali ke > peraduan > Aku senang hujan makin deras ku dengar > > Jelang tidur > > Aku teringat ketika di Bagan Si Api-Api > Hujan yang tak selalu hadir > > Sementara tak ada sumber air lain > > Ketika hujan datang > Air hujan tak > dibiarkan kembali ke tanah > Mereka membuat tangki-tangki > Seperti > tangkinya perusahaan minyak > Air hujan tersebut di alirkan masuk ke tangki > > Pemakaian airpun di buat > Sehemat mungkin > > Kurebahkan > kembali kepalaku di bantal > Mataku menerawang dan ingatanku melayang > > Terbayang tangki-tangki air di Bagan Si Api-Api > Tempat > menampung air hujan > Hanya air hujan sumber air bersih disana > > Sementara hujanpun tak selalu turun setiap hari > >> > > > > Beda sekali dengan di kampungku > > Air mengalir dari gunung > Tak berhenti sepanjang waktu > Terbayang > kecipak-kecipak air di Tabek Gadang > Ketika berkecimpung bersama teman > sebaya > Lalu akupun kembali tertidur > > Aku terbangun ketika azan > subuh berkumandang > Kulihat wadah-wadah penampung air > Penuh berisi air > > Alhamdulillah kataku > Ada saja kemudahan yang diberikan Allah > > > Sesore ini > Air ledeng masih tidak mengalir > Namun kulihat langit yang > berawan > Memberikan harapan > Sebentar lagi akan turun >> hujan > > Ya Allah yang Maha Penyayang > > KepadaMu kami memohon > Izinkanlah hujan turun > Biar kami tampung > > Untuk berbagai keperluan > Kami juga memohon Ya Allah > Jangan turunkan > hujan berlebihan > Yang akan menyebabkan kesengsaraan > > Bengkulu, 8 > Mei 2009 > > > Hanifah Damanhuri > > >> > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
