Assalamualaikum ww
Maaf ambo sekedar nimbrung bahwa Basapa dan Suluk itu terletak dilahan yang 
berbeda, kalau Basapa adalah ritual zikir yang dilakukan oleh para pengikut 
Tharekat Satariyah yang kalau di Sumbar markaz da’wahnya di Tanjuang Medan 
Ulakan Pariaman sedangkan Suluk adalah ritual zikir yang dilakukan oleh para 
pengikut Tharekat Naqsabandiyah
Ulama Satariyah memakai gelar (tidak diwariskan) sesudah nama yang bersangkutan 
misal Arman Bahar Tuangku Manih Bungsu sementara Ulama Naqsabandiyah memakai 
gelar Khalifah didepan namanya misal Khalifah Arman Bahar 
Kita memang diminta kreatif untuk berda’wah sayangnya ada saja orang2 kreatif 
dan ber-susah2 mencari tuhan, malangnya adalah “nan dicari indak dapek” 
Nan dapek adolah “raso” yaitu raso2 lah ba-suo jo Tuhan melalui zikir2 kreatif 
yang mereka ciptakan dan praktek sendiri kemudian setelah dikembangkan dan 
dimodifikasi lalu ditularkan kepada orang lain sebagai murid2nya yang kemudian 
diperkenalkan kepada kita sebagai “jalan” atau thariqoh
Jin itu memang hobi bermain dalam rasa dan perasaan kita “Alladzii yuuwaswisu 
fii shuduurinnnaas yang mem-bisik2an kedalam dada (perasaan) manusia” kalau 
paralu dek jihin tadi supayo awak batambah yakin dipasalangkan kapandaian 
saketek misal pandai bajalan ateh aia, bisa balari ateh angin, jadi ahli 
pengobatan alternatif misal ma-ubek hepatitis jo aia putiah sajo, tahan 
ladiang, tahan api atau tahan piluru nan awak sangko mukjizat dek dakok jo 
tuhan pado hal awak lah kanai kicuah dek Jihin nan berperan se-olah2 tuhan
Kita memang diperintahkan selalu berzikir kepada Allah tentu saja dengan zikir2 
yang matsur atau zikir yang ada contohnya, kok indak ado contohnya dari Rasul 
SAW usahlah dakek2 bana, tagaliciak beko awak juo nan ka-sansai
Pernah juga sih Ibrahim AS waktu kecil men-cari2 Tuhan, memang gak ketemu kok, 
mula2 bintang disangko-nyo tuhan sudah bulan, terakhir matohari pulo nan 
dikironyo tuhan (lihat surat al An’am ayat 76 sampai 78 dan akhirnyo Ibrahim 
pasrah di ayat 79 “Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit 
dan bumi dengan mengikuti agama yang benar dan bukanlah aku termasuk orang2 
yang musyrik” ayat ini yang disunatkan kepada kita membacanya sebagai doa 
iftitah dalam setiap sholat
Satu2nya Rasul yang pernah ketemu Allah dan berbicara langsung adalah nabi Musa 
AS namun dia tersungkur pingsan ketika memaksakan diri untuk melihat Allah, 
jadi usah banalah awak sato2 pulo mancari tuhan, toh nanti kita juga akan 
menghadap-Nya juga, sabar2 aja lah yaa 
wasalam
abp-57

--- On Wed, 13/5/09, zul amri <[email protected]> wrote:


From: zul amri <[email protected]>
Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: Ba Sapa dan Buku Tarekat Sattariyah di 
Minangkabau
To: [email protected]
Date: Wednesday, 13 May, 2009, 5:04 AM






Ubu Evy Nizhamul dan Sanak Andiko Yth :
 
Untuk menambah referensi tentang Basapa , ambo copypastekan tulisan sdr . 
Azhari didalam blog beliau yang ditulis th 2008 yang lalu .
 
salam : zul amry piliang ( 61 th ) tinggal di denpasar bali.
 

BASAPA: AMALAN BID'AH TASAWUF
 
Oleh: Azhari
 
http://mafahim-azhari.blogspot.com/
 
Basapa diadakan setiap hari Rabu setelah 10 Safar ketika bulan mulai naik, 
dimana pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 Safar 1429 H atau 20 Februari 2008, 
puluhan ribu orang mengunjungi makam Syaikh Burhanuddin di Ulakan, Kabupaten 
Padang Pariaman, Sumbar (di kenal dengan Syaikh Burhanuddin Ulakan). Pada 
awalnya mereka mengunjungi makam Syaikh tidak terkoordinir, bisa dilakukan di 
bulan apa saja. Untuk menyatukan penziarah maka ditetapkan ziarah diadakan pada 
bulan Safar karena diyakini Syaikh meninggal pada tanggal 10 Safar 1111 H atau 
20 Juni 1704 M (sebagian menyatakan tahun 1104 H). Karena ziarah di bulan Safar 
ini munculnya istilah "BASAPA" (pergi Safar).
 
Syaikh Burhanuddin dikagumi dan dihormati oleh masyarakat Minang, bahkan 
seluruh Sumatera hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura dan Brunei 
Darussalam. Beliau di kenal sebagai penganut Tarekat Syattariyah (salah satu 
aliran Tasawuf), sementara di daerah Jawa sebagian besar masyarakatnya menganut 
Tarekat Naqsyabandiyah. Kejatuhan pamor Tarekat Syattariyah di Sumatera yang 
tidak lagi mu'tabarah (di terima) membuat pesatnya perkembangan Tarekat 
Naqsyabandiyah di Jawa.Lihat 2, hal 102
 
Nama asli dari Syaikh Burhanuddin adalah Pono, Bapaknya bernama Sampak dan 
Ibunya bernama Cukup yang beragama Budha. Beliau berasal dari Padang Panjang, 
kemudian merantau ke Lubuk Alung. Pada masa kecil Pono belajar agama kepada 
Syaikh Madinah, setelah gurunya meninggal Beliau belajar kepada Abdul Rauf di 
Singkil Aceh (di kenal dengan Syaikh Abdul Rauf Singkil), Pono kemudian 
berganti nama menjadi Burhanuddin. Setelah 30 tahun belajar di Aceh Beliau 
kembali ke Minangkabau dan menyebarkan Islam di Ulakan, dimana sebagian besar 
masyarakat Minang masih menganut agama Budha. 
 
Selama 30 tahun Beliau menyebarkan Islam di tanah Minang, murid-muridnya 
menyebar ke seantero Minang: Tuanku Bayang di Salido (pakar ilmu sharaf), 
Tuanku Kubung Tigobaleh di Tanah Datar (pakar ilmu nahwu), Tuanku Padang 
Ganting di Tanah Datar (pakar ilmu ushul fiqih) dan Tuanku Batu Hampa di Batu 
Hampa (pakar ilmu tafsir).  
 
Setibanya dari Aceh Beliau memancangkan pohon Cimpago Biru yang dibawanya dari 
Aceh, pohon ini diyakini tempat makamnya sekarang (Ulakan). Alkisah, ketika 
jenazah Syaikh selesai dimandikan, dikafani dan dishalatkan tiba-tiba jenazah 
menghilang. Kemudian terdengar suara shalawat di sekitar pohon Cimpago Biru 
ketika di lihat maka di bawah pohon telah ada makam lengkap dengan batu 
nisannya yang bertuliskan nama Syaikh. Makam ini kemudian dipagari dan diyakini 
sebagai makam Syaikh Burhanuddin.Lihat 1
 
Ritual Basapa
 
Ritual Basapa dimulai ba'da Dzuhur dan mencapai puncaknya menjelang Maghrib, 
semakin malam suasana semain larut dan syahdu dengan berbagai ritual seperti: 
dzikir, tahlilan, shalawat, yasinan, ratib saman, barzanji dan do'a-do'a 
dilantunkan. Masing-masing jama'ah melantunkan dzikir yang berbeda, tergantung 
dari surau mana mereka berasal. Para penziarah tetap/rutin dari masing-masing 
daerah, biasanya memiliki surau khusus di sekitar makam.
 
Kelompok jama'ah juga bisa memasuki makam secara bergiliran dengan didampingi 
oleh Khatib (penjaga makam), keluar dari makam jama'ah mengambil pasir dari 
makam yang diyakini membawa berkah.
 
Selain ritual di atas, ada juga jama'ah Tarekat Syattariyah yang melakukan 
"Suluk" yakni shalat selama 44 hari berturut-turut tanpa henti. Biasanya yang 
melakukan suluk adalah orang-orang tua yang datang jauh hari sebelum 10 Safar.
 
Tawassul
 
Berziarah ke makam Syaikh Burhanuddin dan makam-makam para Wali di Jawa 
bertujuan untuk memohon do'a melalui perantaraan Syaikh dan memperoleh syafaat 
darinya, hal ini di kenal dengan "Tawassul" 
 
Tawassul adalah menjadikan sesuatu sebagai perantara/sarana dikabulkannya 
sebuah keinginan. Tawassul biasanya dengan berbagai cara, melalui perantara 
amal shalih, orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal (kuburan). 
 
Tawassul melalui perantaraan amal shalih dibolehkan, misal: melalui shalat, 
puasa, membaca al-Qur'an, dzikir, membantu fakir miskin dan lain-lain. 
Misalnya, dengan mengatakan: "Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku rajin melakukan 
tahajjud maka ampunilah dosa-dosaku dengan tahajjudku" Lihat 6, hal 80; juga 7, 
hal 242 
 
Tawassul melalui perantaraan orang yang hidup juga dibolehkan, terutama kepada 
Nabi dan orang-orang shalih. Seseorang yang diketahui shalih, menjaga dirinya 
dari makan, minum dan pakaian yang haram, ahli ibadah, tawadhu' dan selalu 
bertaqwa kepada Allah swt, maka diharapkan dari do'anya keinginan kita bisa 
terkabul. Salah satu contoh kasus ketika saudara Nabi Yusuf memohon do'a kepada 
Bapaknya Nabi Ya'kub agar dosanya diampui oleh Allah swt.
 
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap 
dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). 
Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya 
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"  (Yusuf 97-98).
 
Tawassul melalui orang mati (kuburan) tidak dibolehkan karena orang mati tidak 
dapat lagi memberikan manfaat bagi orang hidup. Tawassul melalui kuburan Syaikh 
Burhanuddin saat Basapa adalah perbuatan sia-sia karena Syaikh Burhanuddin 
telah meninggal dan tidak dapat lagi memberikan manfaat kepada penziarah, 
bahkan bisa menjurus kepada kesyirikan. Manfaat yang bisa diperoleh dari Syaikh 
Burhanuddin adalah dari ilmu-ilmu yang Beliau sebarkan di tanah Minang.
 
Islam mengajarkan untuk langsung berdo'a kepada Allah swt, tidak dibutuhkan 
perantara ketika manusia berhubungan dengan Allah swt melalui kuburan para 
Wali, Syaikh dan orang-orang shalih. Manusia berdo'a dan Allah swt akan 
mengabulkannya, bahkan Allah swt lebih dekat dari urat leher manusia.
 
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), 
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa 
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala 
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada 
dalam kebenaran (Al-Baqara: 186).
 
Mendatangi kuburan, mendirikan tenda, bermalam (i'tikaf), makan dan minum, 
serta beribadah adalah perbuatan yang jahiliyah tidak di kenal di dalam 
Islam.Lihat 5, hal 62; juga 6 hal 114 Rasulullah saw melarang umat Islam 
mengadakan perayaan dan beribadah di atas kuburan.
 
Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan dan jangan jadikan 
kuburku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah atasku, sesungguhnya 
shalawat kalian sampai kepadaku bagaimanapun keadaan kalian (HR Tirmidzi, Abu 
Dawud dan Ibnu Majah).
 
Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi. Mereka menjadikan kubur para nabi 
mereka sebagai masjid (tempat ibadah) (HR Bukhari dan Muslim).
 
Mengambil pasir di makam Syaikh dan meyakini membawa berkah adalah perbuatan 
syirik, ini sama saja meyakini ada kekuatan selain Allah swt yang mampu merubah 
baik dan buruknya takdir manusia.
 
Begitu juga, membuat bangunan di atas kuburan perbuatan yang tidak ada 
sunnahnya, seharusnya kuburan diratakan atau sedikit ditinggikan sebagai tanda 
bahwa itu kuburan. 
 
Janganlah kamu meninggalkan gambar kecuali engkau telah menghancurkannya dan 
tidak pula kubur yang diagungkan melainkan engkau telah meratakannya (HR Imam 
Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).
 
Dzikir Bid'ah
 
Selain Tarekat Syattariyah di Ulakan Pariaman, banyak Tarekat-tarekat lain di 
Indonsia tergantung dari metode dzikir masing-masing guru sufi, antara lain: 
Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Sammaniyah, Alawiyah, Haddadiyah dan 
Tijaniyah.Lihat 2, hal 28 
 
Meskipun di klaim bahwa dzikir-dzikir yang diajarkan oleh para mursyid (guru) 
bersambung hingga Rasulullah saw (manqul). Kenyataannya, tidak satu hadits-pun 
yang menggambarkan Rasulullah saw dan para sahabat berdzikir dengan cara yang 
mereka amalkan. Dzikir yang dilakukan para pengamal Tarekat biasanya dengan 
merintih, mengerang, mencabik-cabik pakaian, bertepuk-tangan hingga menari, 
kemudian mengalami ekstase (mabuk).Lihat 3, hal 41 
 
Ketika mengalami ekstase (mabuk) mereka akan memperoleh bisikan-bisikan Ilahi 
yang di sebut kasyf (ilmu batin), kasyf ini diperoleh langsung dari Allah swt 
atau diperoleh melalui Rasulullah saw.Lihat 4, hal 155, 171-173 Padahal kasyf 
yang diperoleh suatu yang imajiner dan prasangka-prasangka yang tidak benar.
 
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak 
lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada 
berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran (An-Najm 28).
 
Tarekat mungkin sebagai bentuk pelarian (zuhud) terhadap kehidupan hedonisme, 
materialisme dan sekulerisme yang membelenggu kehidupan masyarakat modern, 
tetapi bagaimanapun Tarekat harus tetap mengacu kepada al-Quran dan assunnah, 
selain itu jelas tertolak.
 
Man 'amala 'amilan laysa 'alaihi amruna fahuwan raddun; Siapa saja yang 
melakukan perbuatan yang tidak termasuk perintah kami adalah tertolak (HR 
Bukhari dan Muslim).
 
Wallahua'lam.
 
Sumber bacaan:
 
1.  http://padangmedia.com/, 23 Februari 2008: "Basapa" ke Makam Syekh 
Burhanuddin.
2.  Gerakan Politik Kaum Tarekat, Ajid Thohir, Pustaka Hidayah, cetakan I, Mei 
2002.
3.  Menjadi Sufi Bimbingan untuk Para Pemula, Abu al-Najib al-Suhrawardi, 
Pustaka HIdayah, cetakan I, Agustus 1994
4.  Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, DR. Ibrahim Hilal, Pustaka Hidayah, 
cetakan I, Januari 2002
5.  Sekelumit Rahasia Al-Quran, Mustafa Mahmud, Pustaka Nasional Pte Ltd 
Singapura, cetakan I, 1990
6.  Mengungkap Kebenaran dan Kebatilan, Sa'ad Shodiq Muhammad, Pustaka Azzam, 
cetakan IV, 1978.
7.  Inilah Akidahku, 'Aidh Abdullah al-Qarni, Qisthi Press, cetakan I, November 
2002.
 
 


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke