Ambo memang bukan tim sukses. SBY-Boediono. Tapi membaca tanggapan sanak, paliang indak sapaham dgn beliau.
Semen Padang dan semen gresik yg sedang menguntungkan bisa dijual murah kepada asing. Coba lihat atau tunjukkan, mana ada asing mau beli BUMN yang tak sehat dan tak effisien? Jangan lupa sanak, yg dijual ke asing pasti yag sehat2 atau disehatkan dulu. Sesungguhnya asing tu ndak lo talalu cadiak bana doh, cuma awak se nan pandia. Tks n banyak maaf. Syafruddin AL 46 th tinggal di bogor Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: chauft <[email protected]> Date: Mon, 18 May 2009 15:05:53 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Boediono, Ekonomi Pasar dan Paham Neoliberalisme Kalo boleh ikut menjawab (sepengetahuan ambo): * " Dalam kaidah ekonomi Neo Liberalisme menginginkan berkurang nya atau tidak ada lagi intervensi pemerintah dalam ekonomi suatu negara. Neo Liberalisme menyerahkan mekanisme ekonomi kepada Mekanisme pasar dan pasar bebas adalah tujuannya."* Sebagaimana aliran utilitarian yang lain, tujuan akhir dari semua aliran termasuk neoklasik (ambo lebih suka pake istilah iko daripada neolibneralisme) adalah maksimisasi kemakmuran masyarakat. Yang berbeda antara aliran neoklasik dan aliran lainnya adalah bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Aliran neoklasik percaya bahwa semua individu adalah rasional, mereka berusaha untuk memaksimisasi utilitasnya dia masing masing. Kalo semua individu berprilaku seperti ini, maka hasil yang di peroleh dari mekanisme pasar adalah hasil yang paling optimum dan efisien. *Jadi market itu cuma tujuan tengah kok :-)* Intervensi pemeintah masih dibutuhkan untuk menjamin bahwa mekanisme pasar ini dapat berjalan dengan benar dan melalukan intervensi langsung di hal hal yang pasar tidak bisa bekerja dengan baik (masalah distribusi, lalu masalah polusi, etc). Salah satu intervensi dari pemerintah adalah kepastian hukum dan kelembagaan lainnya. *Jadi intervensi pemerintah masih perlu kok * * "Privatisasi dan menyerahkan kebijakan ekonomi pada pasar dalah ciri khas dari paham ini. Paham Neo Liberalisme yang sekarang sedang sakit dan hampir mencapai kehancurannya dianut oleh negara negara pasar bebas dunia." * Banyak BUMN (bekas BUMN) yang tidak efisien. Alih-alih dapat dijadikan sumber pemasukan negara, negara harus terus melakukan subsidi agar perusahaan ini masih tetap ada (tidak merugi). Pada saat yang bersamaan, karena mereka tidak efisien dan produktif, banyak project pemerintah yang di lakukan oleh BUMN (bekas BUMN) dengan nilai proyek yang terlalu tinggi (kalo diabndingkan dengan proyek yang dikasih ke swasta. Put corrupsion and bribe aside). Yang terjadi adalah kita, masyarakat indonesia, yang pada akhrinya harus "mengsubsidi" BUMN yang tidak efisien ini (salah satu sumber uang pemerintah adalah pajak kan? ) Sedangkan BUMN yang produktif (baca pertamina) malah selalu jadi sapi perahan pemerintah. Akhirnya mereka malah menjadi makin tidak efisien. (masih ingat kan hutang yang di lakukan oleh Ibu Sutowo ketika menjadi dirut pertamina tahun 70-an). Pemerintah akhirnya bayarin hutang itu beserta bunganya (kalo ndak salah,utangnya pertaminan ini baru lunas sekitar tahun 1999 atau 200 awal. Butuh literatur lainnya) Didalam dunia akademis. beberapa riset empiris membuktikan bahwa setelah privatisasi, perusahaan tersebut menjadi lebih efisien dan produktif. Profit dari perusahaan itu menjadi lebih besar. (contoh : *Konings, Joseph. ; Van Cayseele, Patrick. and Warzynski**,** Frederic* "The Effects of Privatization and Competitive Pressure on A firm' Price-Cost Margins: Micro Evidence from Emerging Economies.” *Review of Economics and Statistics*, 87 (2005), 124-134 " ) Pertanyaannya adalah : Buat apa pemerintah mengsubsidi/menalangi BUMN BUMN yang tidak sehat ini? Selama perusahaan itu bukan perusahaan strategis, kenapa tidak di privatisasi? .Kenapa pemerintah tidak fokus di penanggulangan kemiskinan, subdisi buat orang miskin? Biarkan itu dimiliki oleh swasta, biarkan mereka menjadi lebih efisien dan produktif. Ketika mereka menjadi lebih efisien atau produktif, negara juga akan mendapatkan untung dari pajak atau dari dividen dari kepemilikan saham negara yang masih tersisa (kalo ada). *"Boediono mungkin berhasil membayar seluruh hutang indonesia pada IMF dengan membuat hutang baru di dalam negri dan luar negri sehingga rasio hutang dalam negri indonesia trus bertambah secara tidak rasional. *Kalo penerimaan negara melebihi semua pengeluaran negara sih, utang ndak bakal ada. Utang itu adalah implikasi logis dari defisit negara ini. Sebenarnya ada alternatif lain untuk membiayai defisit ini : SUN (surat utang negara) atau cetak uang. SUN itu adalah Surat Utang negara yang di jual ke pasar obligasi. Suka bunganya harus kompetitif di pasar. Kalo suku bunganya kecil, tidak ada yang mau untuk beli SUN. Sedangkan alternatif cetak uang sudah tidak mungkin karena dua alasan. Yang pertama karena Bi sudah independent dan yang kedua efek inflasi dari cetak uang. Akhirnya alternatif pembiayaan defisit cuma : SUN atau utang ke WB atau lembaga internasional lainnya. Dua duanya utang. Yang berbeda adalah besar bunganya dan siapa krediturnya. Utang ke WB biasanya bunganya lebih kecil dan temponya kebih panjang (soft loan) dibandingkan dnegan utang ke swasta. Jadinya pilihan utang ke WB atau lembaga internasional itu adalah pilihan yang paling rasional. *"Bagi Paham Neo Liberalisme Hutang parameter sebuah negara akuntable dan bankable."* Ambo ndak tau, iko sumbernya darimana> :-). Bisa kasih referensi, kayak buku atau apa lah? * "Saat harga BBM melambung tinggi, maka mekanisme pasarnya adalah "Menghapus subsidi dan membiarkan harga BBM mengikuti harga spot international" Sehingga daya beli masyarakat yang yang rendah ini dipaksa kan untuk membeli."* Hmm. Kalo soal kenaikan harga BBM, udah banyak yang ngasih penjelasan kan yah. Subsidi itu sebaiknya cuma buat orang miskin. Bukan buat orang kaya yang punya 2 atau3 mobil. Nah pengguna BBM itu kebanyakan sapa sih? Apa orang yang memiliki motor yang bensinnya 1 : 20 atau mobil yang bensinnya 1: 10 atau 1 :5? Ndak mungkin jumlah subsidi yang diterima oleh orang yang punya mobil (yang boros), 1 : 10 atau 1:5 lebih besar daripada orang yang punya motor buntut 1 : 20. Kalo pake logika ini, yang banyak nerima subsidi adalah orang kaya yang punya banyak mobil boros. Jadi adalah masalah target yang salah dalam subsidi BBM ini. Makanya, ketika BBM subsidinya dikurangi, pemerintah punya dana yang lebih buat dialokasikan ke subsidi yang langsung dinikmati oleh orang orang yang memang berhak untuk menerimanya. Kalo ada permasalahan dalam pemberian subsidi baik langsung ke individu atau melalui program lainnya, yang disalahkan bukan subsidinya dunk. tapi administrasi pelaksanaannya. * " Saat hasil bumi indonesia yang kaya ini perlu di olah dengan baik, maka mekanisme pasarnya adalah "Undang asing yang lebih mampu untuk mengelola dengan baik dan biarkan lokal trus menjadi pembantu di negri sendiri" Sehingga tidak aneh dari hampir 900rb barel produksi minyak kita per hari yang mampu diproduksi oleh pertamina tidak sampai 200rb barel perhari. Bagaimana kemandirian bangsa ini bisa terjadi ?"* Kalo soal Freeport emang ada masalah. Kalo masalah KK emang ada masalah. Itu harus dirundingkan lagi. Kalo masalah kenapa ndak diserahkan ke Pertamina. Hmm. Pertaminannya efisien dan produktif ndak? Jangan sampai jumlah pendapatan pemerintah berkurang dari potensinya cuma karena proyek diberikan ke pertamina yang tidak efisien. Kalo pertaminan efisien, kan pertaminan bisa bidding ketika ada lelang sumber minyak. Kalo yang menang adalah shell atau petronas, selama ini lelangnya jujur, berarti ada yang salah di pertamina. :-). Kembali, subsidi lah yang orang yang tepat. Bukan perusahaan besar kayak pertamina :-) *"Karena Nationalisme dan Kemandirian suatu bangsa adalah harga mati demi terciptanya masyarakat indonesia yang mandiri."* kalo masalah mandiri sepakat. Ambo sepakat bahwa kita harus mandiri dan bisa bersaing dengan duani internasional. Bukan mandiri dan cuma bisa menang di rumah sendiri (itu pun karena dibantu ama wasit) :-). Bagi ambo nasionalisme bukan masalah tolak asing, atau tolak pasar. Itu (nasionalisme) adalah implikasi logis dari keberhasilan negara menjamin kesejahteraan semua orang. :-). Menjamin kebebasan bagi siapapun utnuk berusaha dan menjamin adanya jaminan sosial bagi orang yang tidak mampu berusaha atau kalah dalam persaingan itu (orang miskin). Mohon di koreksi kalo ada salah Wassalam Aufa NB : Ambo bukan tim sukses SBY-Boediono atau Kalla-Wiranto ataupun Mega-Prabowo --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
