Dari: boedhihartono <boedhihartono2004@ yahoo.fr>
Kepada: AlumniPrancis@ yahoogroups. com
Terkirim: Senin, 18 Mei, 2009 13:46:25
Topik: Re : [AlumniPrancis] Boediono: Siapa dia ini?


KAyaknya bekampanye tak ada larangan,
Cuma orang pinter juga banyak, orang lurus sedikit mungkin
kebetulan Boediono termasuk yang lurus. Boediono itu orang Blitar, SBY
orang PAcitan..... tidakjauh.
Kebetulan dia deket SBY dan SBY nasibnya baik, kalau dia gagal ya
nasibnya kembali seperti Kwik Kian Gie yang sebenarnya juga orang
pandai.
Oke silahkan  pilih sesuai preferensi !
Salam.

--- En date de : Sam 16.5.09, ayang utriza <ayang_utriza@ yahoo.com> a écrit :


De: ayang utriza <ayang_utriza@ yahoo.com>
Objet: [AlumniPrancis] Boediono: Siapa dia ini?
À: "ppi prancis" <ppipran...@yahoogro ups.com>, "alumni prancis" 
<AlumniPrancis@ yahoogroups. com>
Date: Samedi 16 Mai 2009, 9h07


Maaf kalau sudah ada yang baca. Ini sama sekali bukan kampanye. Hanya 
memberikan selintas sosok seseorang.
Ternyata
rendah hati, sederhana, dan tidak mencari muka (licik) menjadikan sang
pemilik hati berbinar dan bersinar. Seperti Boediono...
Menyentuh...


Jumat, 15 Mei 2009 | 10:22 WIB
Sisi Lain Pak Boed Yang Saya Kenal

Oleh Faisal Basri

Saya
pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya
yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak
salah, judul-judul bukunya selalu diawali dengan kata ”sinopsis”, ada
Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter,
dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu
ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu
kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi
buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius
sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh.. Kala itu saya
menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan
menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi
berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya
selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintahan Ibu Megawati.

Pak
Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian)
bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di
bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan
ekonomi mengalami peningkatan terus-menerus. 
Di tengah ingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega
ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum
Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua
ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup
menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai
6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua
tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami
kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet,
sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah
membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak
SBY memintanya. Agar lebih afdol, kolega-kolega saya ini juga mengajak
Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan
pengharapan mereka.
Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin
sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak
Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang
giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih
ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib
Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau
jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak
Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya
ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya
adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani
Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan
sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi
sekretaris DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri walau ia
sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah
yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang
bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet ,” jawabannya cuma
dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan
orang lain, bahkan sekadar mengkritik sekalipun.

Tak
berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di
Kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika
hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang
terkatung-katung.
Suatu waktu menjelang Lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta,
kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur
bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh
pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang telah mereka buat.
Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang 
konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah… Keesokan
harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang
pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa
komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula
yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan
DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada
dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak
Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed
masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed
dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri
mobil tua mereka.

Kedua, saya dan istri sekali waktu bertemu Pak
Boed dan Ibu di supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak
Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana
tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak
lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di
Bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang
tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika
bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam
keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari
lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia
mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang
memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret
banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed
juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku
sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan
deputi senior lebih mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau
tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang
Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan
Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu
tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia
menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan
lusuh.

Bagaimana
sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol
Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring
lainnya? Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi
Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok
Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, 
bagi kemajuan Bangsa. 
 Zorion_Anas 
(53+)
http://minangmaimbau.blogspot.com
http://zorionanas.blogspot.com
[email protected], [email protected], 
Cel./HP No. : 0816857939




________________________________


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke