Mungkin salah satu langkah adakah benchmarking par apemuda di kampung yang punya skill dan prestasi ke lokasi yang bis amemberi mereka inspirasi untuk bekerja lebih baik. Misalhnya; pemuda di daerah wisata di puncak lawang atau di danau kembar, bisa di ajak melihat bagaimana pemuda di tanah Lot bisa ikut serta membenahi objek wisata dan memnciptakan berbabagi kesempatan sehingga bisa menangguk rupiah lebih banyak daripada sekedar membuka loker/karcis, uang parkir dan uang wc yang tidak jelas, seperti membuat sanggar kesenian, dan pengelolaan ruko/toko secara komunal. Rasanya ini lebih bermanfaat dan l;angsung memberikan para pemuda kreatif di kampung sana untuk lebih kreatif dan terpacu untuk membangun kampung halamannya.
Sekedar Saran Salam Bot SP Bot Sosani Piliang Just an Ordinary Man with Extra Ordinary Dream www.botsosani.wordpress.com Hp. 08123885300 --- On Fri, 5/22/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] India dan Ranah Minang To: [email protected] Date: Friday, May 22, 2009, 12:27 PM Saya banyak bertemu dengan ekspat-ekspat india. Atasan langsung saya juga pernah orang india. Teman nongkrong juga pernah orang india. Pacar aja yang tidak pernah. Saat ini dunia menaruh perhatian besar pada india. Friedman dengan sengaja membahas india dalam cerita world is flat nya. Holywood juga banyak membahas cerita tentang benturan budaya barat dan india, dalam bermacam sudut pandang. India tumbuh begitu pesatnya. Selain china, india lah potensi raksasa. Pengamatan saya terhadap orang india membuat saya sampai pada kesimpulan mereka pada beberapa hal punya kemiripan dengan karakter minangkabau. Mereka suka berdebat. Apa saja mereka debatkan ketika bertemu sesama mereka. Akibatnya mereka jadi pintar "ngeles". Bersilat lidah adalah keahlian mereka. Sifat lainnya, adalah super irit. Penuh hitungan. Makan siang bagi mereka, hanyalah sekadar penambah energi untuk bekerja hari itu. Hitung-hitungan mereka sangat dahsyat. Mereka juga etnis yang keras kepala. Walaupun masih berkasta-kasta, mereka cenderung merasa hebat secara individu. Susah untuk diberi masukan, dan selalu berjuang untuk gagasan yang mereka punya. Kesan sok tau sangat dekat dengan orang India. Melihat india, saya seperti melihat karakter minang. Dan saya merasa, Orang minang punya potensi hebat seperti india. Kita sama-sama punya kecenderungan merantau. Dulu india juga seperti kita. Overseasnya berjuang dari dasar, lalu hebat. Pulang kampung menjemput isteri. Sedikit malagak, dan kembali ke rantau. Tapi sekarang India tak begitu. Overseas-overseas suksesnya kembali pulang dengan membangun kampung. You name it! Mittal, sang juragan baja. Alex baba, sang juragan kaya pemilik team Force India. Dan banyak nama-nama lain orang India. Semua pulang dan membangun kampung. Mereka tak memulainya dengan sebatas slogan-slogan atau komitmen sekadar seperti Gebu Minang. Mereka pulang membawa sesuatu yang dikerjakan. Tak sekadar melagak hilir mudik pamer keberhasilan. Ketika mereka menguasai tenaga-tenaga IT di Amerika, mereka pulang dan membuat pusat IT sendiri di tanah halaman. Para minang pedagang tanah abang, menjahit baju dilakukan di tasikmalaya. Satu toko kecil tanah abang telah menciptakan 6-10 lapangan kerja konveksi di priangan sana. Alasan yang sama pernah dipakai India overseas zaman dulu, kenapa tak diambil dari tanah hindustan. Orang yang di kampung malas. Terlalu banyak acara dan ritual keagamaan. Tapi itu dulu. Lambat laun, orang yang india menjadi produktif kok. Mereka sudah bisa mengatur ritme beribadat, berguyub, dan bergoyang tanpa menurunkan produktifitas. Seharusnya orang minang bisa seperti itu. Kita tak semalas yang kita bayangkan kok. Buktinya, pemuda yang di kampung hanya pamadek labuah, di rantau mereka rela bangun pagi, berhadang sinar matahari dan berpeluh untuk sekadar mengumpul receh. Yang kita butuhkan adalah keberanian plus langkah strategi yang pas meningkatkan produktifitas warga kampung. Cuma dengan syarat, perantau jangan lagi pulang sekadar untuk balagak. Tak lagi hanya untuk berteriak untuk membeli lelang singgang untuk menyumbang semen mushola. Kita harus lebih dari itu. Tanamkan uang di kampung! India bisa. Kenapa kita tidak? Piss Powered by Telkomsel BlackBerry® --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
