Ass. Kalau boleh tahu, sumbernya darimana? Soal masyarakat belum tahu, memang 
Pak JK tidak terlalu suka, Ada banyak cerita dibalik Helsinki. Saya juga 
mengikuti dari dekat. Pak JK punya banyak sekali surat pribadi untuk 
menyelesaikan masalah Aceh ini. Pada saatnya akan dikeluarkan. Ini hanya 
menyankut kebenaran sejarah. Wass
 
IJP 

--- On Sun, 5/24/09, Y. Napilus <[email protected]> wrote:


From: Y. Napilus <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Kisah Di Balik Layar “Damai ACEH”
To: [email protected]
Date: Sunday, May 24, 2009, 1:21 AM






Alaikumsalam ww

Maaf, tergelitik juga dg pertanyaan Kanda Masrur: "Kenapa baru sekarang 
terungkap atau di ungkap...?".

Menurut ambo, bagi yg jeli membaca peta politik, "ada waktunya" utk 
mengungkapkan sesuatu...:) Ada waktunya utk menyampaikan The Real Story 
behind... Dlm skala yg lebih kecil pun juga demikian kok...;) Apakah itu 
berdaya guna atau tidak, hanya waktu yang akan membuktikannya nanti. Insya 
allah...

Wassalam,
Nofrins/49





From: masrursiddik masrursiddik <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 24, 2009 9:49:25 AM
Subject: [...@ntau-net] Re: Kisah Di Balik Layar “Damai ACEH”

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rky Evy Nizhamul na mulie sarato Dunsanak Sapalanta,

Sungguh menarik Kisah dari Pak Jusuf Kala, nan salamo ko samar-samar tadanga
Pertanyaannya: Kenapa baru sekarang terungkap atau di ungkap ?
Dapek dijawab , Betapa JK bak harimau ma andokkan kuku, dengan kata lain ndak 
ingin manonjolkan diri...... islami
Sementara itu ndak ado nan manulihkan kisah macam iko......... sangajo atau 
ngak sajo ado sajo nan ingin manutuik- nutuki
Hal saropo ko banyak kajadian...... sajarah nan sabananyo sirna.... lalu muncul 
versi nan katuju jo panguasa

Banyak conto nan bisa awak simak.......saparti perjuangan Tan Malaka, Sutan 
Syahrir.......  antah lah

Oyo seketek  tanpa mengurangi makna tulisan ko, rasonyo parlu 
klarifikasi........ bahwa 1 batalion = 800-1000 orang
 sedangkan 1 kompi = -150-200 orang.

Kironyo kisah-kisah saupoko paralu disebar luaskan, apalagi ditulis oleh pelaku 
sejarah serta masih hidup

Terimakasih

Wassalam dan salamm kenal

Masrur Siddik
L / .67, asa Sasak, suku Jambak,
Gadang di KikTingggi, kini di Bandung





2009/5/24 Evy Nizhamul <[email protected]>






Kisah Di Balik Layar “Damai ACEH”


Oleh Jusuf Kalla - 23 Mei 2009 




Sebenarnya keterlibatan saya dalam menyelesaikan Konflik Aceh itu hanya 
kebetulan belaka. Meski sebenarnya sebelum mendamaikan Aceh, saya sudah 
memiliki pengalaman dalam mendamaikan Ambon dan Poso. Bagi anda yang belum 
begitu mengetahui bagaimana cerita di balik layar tentang proses perdamaian 
Aceh, maka saya akan menceritakan kepada anda semua. 




Pada Zaman Ibu Mega menjabat sebagai presiden saat itu saya dipercayakan 
sebagai MENKOKESRA. Nah salah satu tugas daripada MENKOKESRA adalah mengurusi 
pengungsi, dan salah satu pengungsi terbesar itu ada di ACEH. Sebenarnya urusan 
untuk mendamaikan atau pun meredam konflik Aceh itu sebenarnya tugas dari 
MENKOPOLKAM yang saat itu sedang dijabat oleh pak SBY. Saya pertama kali 
mengunjungi pengungsi Aceh di ajak oleh beliau (Pak SBY). Saat itu sudah ada 
2,5 juta orang. Maka saya mengambil kesimpulan, urusan pengungsi ini, tidak 
bisa diselesaikan tanpa adanya perdamaian. Mengingat sebelumnya saya sudah 
punya pengalaman dalam hal mendamaikan Aceh, Poso maka saya berinisitif dan 
meminta izin kepada Presiden untuk membantu mendamaikan Aceh tanpa bermaksud 
untuk memotong tugas dan wewenang dari seorang MENKOPOLKAM. Presiden memberi 
izin, dan saya mulai mengumpulkan tim yang terdiri atas saudara Hamid Awaluddin 
dan dr. Farid serta beberapa teman lainnya.
 Sementara untuk bendahara Tim saya mengangkat istri saya, karena memang ada 
biaya perdamaian ini yang diambil dari kocek pribadi saya, (saya tidak akan 
mengatakan berapa jumlahnya).- (yang ini di edit oleh Evy...)




Langkah pertama yang saya lakukan ialah mencari tahu apa persoalannya. datangi 
persoalannya, ketahui persoalannya, tanpa mengetahui persoalannya dan 
mendatangi persoalannya. Karena itu yang pertama ialah mempelajari apa masalah 
sebenarnya. Sering orang salah mengira masalah yang terjadi di Aceh. Banyak 
yang menyangka bahwa itu murni masalah syariah. Padahal bukan! inti masalahnya 
adalah ketidakadilan. 



Pada waktu diadakan perundingan, tepatnya selama 17 hari, saya sampai bosan, 
karena semua buku di meja saya, semua buku tentang Maluku, buku di kamar, di 
mobil semua tentang Maluku, sehingga saya merasa orang Maluku. 
Ketika perjanjian damai ditanda tangani, banyak pihak yang sangsi, kalau damai 
di Aceh akan benar-benar terwujud. Banyak yang menganggap bahwa itu hanya 
bagian dari strategi GAM untuk mengumpulkan kembali kekuatan yang sempat porak 
poranda akibat tsunami pada 2004 akhir.

 Termasuk panglima TNI waktu itu, dia bilang ke saya “wah pak bagaimana, 
seandainya GAM maupun TNI tetap mengangkat senjata, meski perjanjian damai 
sudah ditanda tangani ? Saya bilang, “Pak Panglima, saya yakin ini selesai!”, 
siapa sih yang enak tinggal di hutan, digigitin nyamuk, makan seadanya ubi 
kayu, apa enak?”, mending pulang ke kota ketemu keluarga, anak istri,. Hal yang 
sama juga dengan tentara kita emang enak itu TNI tinggal di Aceh, uang makannya 
hanya 17 ribu, makan supermi, selalu dihantui oleh perasaan ditembak, dan tidak 
tahu perang melawan siapa, bahan bias dikata perang melawan saudara sendiri, 
apa enak itu?”. 
Jadi yakinlah bahwa begitu damai maka langsunglah teman-teman (TNI) bisa 
pulang. Itulah jaminan saya, dan jaminan itu juga saya minta kepada Presiden 
untuk memberi jaminan yang sama. 


Apabila GAM meletakkan senjata, maka TNI pulang. Ini disebut sebagai sistem 
cash and carry, yang merupakan sistem pertama yang diterapkan di dunia, dalam 
upaya melakukan perdamian antara dua pihak yang bertikai. Teknisnya setiap 300 
pucuk senjata GAM yang diserahkan maka 10 Batalyon pasukan TNI yang ditarik 
pulang. 
Kemudian masalah muncul lagi, GAM tidak mau menyerahkan senjata ke TNI, karena 
yang ditanda tangani di Helsinky itu adalah surat perjanjian damai, bukan 
menyerah. Artinya apabila GAM menyerahkan senjata ke TNI itu berarti dia 
mengaku kalah. Jadi harus kita cari jalan tengah lagi, akhirnya mucul ide, agar 
GAM tidak merasa harga dirinya diinjak injak maka diambil keputusan bahwa GAM 
tidak perlu menyerahkan senjata. Tapi memotong sendiri senjatanya, di tengah 
lapangan, dan disaksikan oleh seluruh pihak,



Tahap awal 300 pucuk senjata dipotong di tengah tanah lapang. Setiap senjata 
dibelah dan dipotong 3, dan setiap pihak menyimpan salah satu bagian sebagai 
kenang-kenangan. Jadi kalau di media ada yang memberitakan GAM menyerahkan 
senjata kepada TNI, itu salah !!. GAM tidak pernah menyerahkan senjatanya, tapi 
ia sendiri yang memotongnya menjadi 3 bagian. Jadi itu strategi yang saya ambil 
waktu itu sebagai jalan untuk Win-Win Solution. 300 senjata dipotong, 10 
batalyon TNI naik kapal di pelabuhan untuk pulang ke daerah masing-masing. Jadi 
ini yang saya namakan sistem ”Cash and Carry” yang adil, karena 10 Batalyon itu 
sama dengan 300 Pasukan sesuai dengan jumlah senjata GAM yang dipotong pada 
tahap awal damai.



Kemudian tahap selanjutnya, barulah proses resmi di samping doa bersama-sama. 
Dan yang paling sulit adalah soal partai politik lokal sesuai dengan syarat 
yang diminta oleh GAM. Waktu itu ada yang menganggap Partai lokal itu, 
melanggar Undang-undang, tapi saya bilang tidak, ada juga contoh partai politik 
lokal, contoh pada tahun 1955, ada partai lokal dan contoh Undang-undang 
Kedudukan Partai, di situ ada peluang mendirikan partai lokal,. Tetapi tetap 
saja rumit sekali mencarikan jalan keluarnya. Padahal Ini perundingan terakhir, 
perundingan satu malam, ada rumusan yang tidak sesuai, perundingan damai 
terancam dead lock. 



Saya kebetulan malam itu hanya berdua dengan istri. Kemudian salah seorang Kyai 
yang juga sahabat saya menelepon ”saya tahu pak jusuf lagi kesulitan, ada 
baiknya baca Yassin 10 kali, insya allah selesai persoalan. Akhirnya saran itu 
saya jalankan, berhubung membaca Yassin 10 kali itu memakan waktu yang lamabisa 
2 jam untuk saya. Jadi saya minta istri saya untuk bantu, dia baca 5 kali dan 
saya juga baca 5 kali, jadi 10 kan ? Habis membaca Yassin langsung ada telepon, 
dari Helsinki, yang menyatakan bahwa perundingan bisa dilanjutkan. 



Pak Presiden tidak jadi masalah, akhirnya draft atas izin presiden saya tanda 
tangani lagi jam 1 malam. Saudara Malik paraf juga biar. Sepuluh menit kemudian 
datang paraf, beliau paraf, baru saya tidur, alhamdulillah, karena itulah 
perundingan terakhir sebelum penandatanganan. Jadi yakin 10 kali, dan ini 
penting. Saya pada waktu itu bertanya kepada Saudara Saman, kata Pak Saman di 
hutan di Aceh, dia berhubungan terus dengan Pak Malik. Saya tanya waktu itu, 
Pak, pada malam terakhir itu, you bikin apa? Kami bingung juga kapan selesainya 
ini, bagaimana. 




Jadi kami berdua shalat tahajud di masjid, dan alhamdulillah selesai, rupanya 
antara kedua belah piahk sama sama ingin damai. Salah satunya Pak Malik juga 
ingin damai, dan dengan doa semuanya, apapun upaya itu, tanpa upaya dan doa itu 
tidak akan selesai.



saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak 
ada anggarannya, dari Negara. Istri saya yang menjadi bendahara . dr. Farid 
merangkap segala macam, karena dia yang paling muda. dan saudara Hamid yang 
akan tercatat dalam sejarah, karena fotonya ada di situ waktu penandatangan 
perjanjian damai.
Pertanyaan saya : bagaimana komentar Anda.....

Wassalam,



  Evy Nizhamul
(Tangerang, suku Tanjung, asal : Kota Padang)

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 















      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke