OPINI
22 Mei 2009 13:33
Estetika Sastra dalam Kaba Si Reno Gadih
Oleh Azwar : http://melayuonline.com

Minangkabau merupakan salah satu kebudayaan yang menghasilkan banyak karya
sastra. Secara umum, karya sastra yang dihasilkan oleh kebudayaan
Minangkabau terdiri dari puisi, prosa, dan drama. Kalau dipaparkan lebih
detail lagi, puisi terdiri dari mantera, pepatah-petitih, pantun, talibun,
dan syair. Sementara itu prosa terdiri dari curito (cerita) yang terbagi
pula pada hikayaik (hikayat), kaba, baik kaba lama maupun kaba baru, dan
tambo. Sementara itu drama merupakan drama tradisional yang terdiri dari
randai dan simarantang.

Semua karya sastra itu masih hidup dan terpelihara di tengah-tengah
masyarakat Minangkabau walau harus berhadapan dengan sastra atau kesenian
modern. Di antara karya sastra itu adalah Kaba Si Reno Gadih, karangan
Syamsudin Sutan Radjo Endah, yang diterbitkan oleh Pustaka Indah
Bukittinggi. Cerita ini merupakan suatu cerita yang diangkat dari kejadian
yang terjadi pada tahun 1908.

Cerita ini berawal dari keramaian di Ulakan ketika bersyafar. Ulakan waktu
itu bahkan sampai saat sekarang ini merupakan tempat berkaul bagi banyak
masyarakat di Sumatra. Saat itu Sutan Mareno dan keluarganya pergi ke Ulakan
untuk membayar kaul. Tetapi malangnya di saat keramaian itu anak bungsunya
Reno Gadih terpisah dari rombongan. Setelah lelah mencari anak kecil yang
belum berumur lima tahun itu, namun tidak juga bertemu, akhirnya Sutan
Mareno benar-benar kehilangan anaknya.

Sementara itu Reno diselamatkan oleh seorang kaya dari Padang yang juga
datang berkaul ke Ulakan. Sejak saat itu Reno dijadikan anak angkat oleh
keluarga Marah Udin dan Kasidah. Tidak lama di Padang keluarga Marah Udin
yang berprofesi sebagai ahli ukur, pindah tugas ke Aceh. Reno yang sudah
mereka anggab sebagai anak sendiri mereka bawa ke Aceh. Di Aceh, Reno tumbuh
dewasa dan disekolahkan oleh Marah Udin. Sementara itu di Pinang Pipik,
Luhak Agam, keluarga Sutan Mareno berusaha untuk mengikhlaskan kehilangan
anak mereka setelah sekian tahun mencarinya.

Untuk menghilangkan kesedihan dan penyesalan atas kehilangan anak gadis itu,
Sutan mareno pergi merantau ke Medan. Setelah cukup mapan dia membawa
istrinya dan Adnan cucunya (anak dari Si Saba kakak Reno Gadih). Singkat
cerita Sutan Mareno bisa menyekolahkan cucu satu-satunya hingga diterima
bekerja sebagai pegawai dan ditugaskan di Aceh.

Sementara itu seiring perjalanan waktu Reno Gadih sudah pula berkeluarga dan
mempunyai anak gadis yang beranjak remaja bernama Siti Nurani. Cukup lama
Adnan di Aceh, pada suatu waktu dia berkenalan dengan Siti Nurani. Setelah
perkenal berubah menjadi cinta, mereka sepakat untuk menikah. Setelah orang
tua Siti Nurani menyetujui hubungan mereka, Adnan menjemput kakek dan
neneknya ke Medan. Cerita berakhir dengan sangat membahagiakan sekali karena
Sutan Mareno berhasil menemukan anaknya Reno Gadih dan kedua cucunya yang
akhirnya menikah.

Cerita kaba itu seperti kebanyakan cerita lain di Minangkabau yang menggugah
perasaan pendengar atau pembaca. Saat membaca kaba itu rasa pembaca
disayat-sayat dengan kepedihan kehilangan. Sakitnya hidup terpisah dari
orang tua atau sebaliknya orang tua terpisah dengan anak yang disayangi,
menjadikan cerita penuh dengan sentuhan-sentuhan perasaan.

Luka dan air mata menghiasai kebanyakan cerita-cerita rakyat Minangkabau.
Termasuk Kaba Si Reno Gadih ini. Tetapi ending cerita yang berakhir bahagia
menjadikan cerita seperti mengikuti keinginan pembaca, yang menginginkan
tokoh utama tetap memenangkan konflik permasalahan. Dengan berakhir
bahagianya cerita ini mengukuhkan bahwa keindahan cerita benar-benar dengan
mengolah rasa manusia. Estetika rasa, walaupun sangat subyektif sekali
seperti yang dikemukakan oleh Probo Hindarto yang berpendapat bahwa nilai
keindahan (estetika) dipengaruhi oleh berbagai hal.

Pertama, subyektifitas diri sendiri. Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi
biologis tubuh kita yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam
keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran
dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan perasaan
dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan
sebuah obyek karya. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita
mengatakan sesuatu itu indah.

Kedua, pengaruh dari lingkungan/masyarakat tentang apa yang disebut indah.
Apa yang ditanamkan dunia pendidikan seseorang tentang keindahan, misalnya,
mungkin merupakan suatu pandangan yang ditekankan terus-menerus dan boleh
jadi mengakar pada diri kita, serta metode untuk mengapresiasi suatu obyek
juga merupakan suatu metode yang ditekankan secara terus-menerus.

Ketiga, opini yang berkembang di masyarakat. Kebanyakan melalui media,
estetika diperkenalkan sebagai konsensus dalam skala tertentu, apakah
regional, kolonial, dan disebarluaskan dengan berbagai cara. Estetika yang
merupakan ideal suatu teritorial berbasis tradisi juga dapat memberi
pengaruh teramat besar.

Berkaitan dengan ketiga hal yang mempengaruhi keindahan tersebut maka dalam
Kaba Si Reno Gadih, keindahan cerita itu tentulah dipengaruhi oleh diri
pembaca sendiri. Karena pada umum masyarakat menyukai hal-hal yang menggugah
emosi. Orang-orang akan bersimpati dengan penderitaan, kesedihan,
kehilangan, kemalangan, dan kesakitan yang diderita oleh tokoh cerita.

Sementara itu, berkaitan dengan pendidikan pembaca yang turut mempengaruhi
nilai rasa keindahan, pemihakan terhadap orang-orang yang berduka tentu saja
dominan di kalangan masyarakat Minangkabau. Norma adat Minangkabau yang
mengajarkan untuk saling bersimpati turut mempengaruhi keberpihakan pembaca
atas nasib tokoh dalam cerita. Opini masyarakat yang waktu itu masih
dipengaruhi oleh hal-hal yang tradisional, semakin mengukuhkan perasaan
pembaca untuk menyatakan bahwa karya tersebut adalah sesuatu yang indah
untuk dinikmati.

Kaba Si Reno Gadih yang disertai ratapan dan kisah duka atas kehilangan
memperlihatkan dengan jelas bahwa keindahan karya sastra tidak saja atas
sesuatu yang bersifar gelamor, huru-hara, dan penuh kemewahan. Keindahan
karya sastra bisa juga tercipta dari eksplorasi atas kesedihan yang dialami
oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Ratapan dan duka yang dapat dilihat dengan
jelas dalam cerita pada setiap peristiwa demi peristiwa.

Sama halnya dengan keindahan dalam lukisan, yang indah tidak hanya ketika
seorang pelukis melukis seorang perempuan yang cantik menawan atau indahnya
bunga-bunga yang sedang bermekaran, tetapi indahnya sebuah lukisan bisa
terjadi ketika seorang pelukis melukis seorang petani tua yang memakai baju
compang-camping. Indah dalam lukisan bisa juga terjadi ketika pelukis
melukiskan kotornya sampah-sampah di jalanan.

Dalam karya sastra khususnya kaba yang ada di tengah-tengah masyarakat
Minangkabau, keindahan tidak hanya dengan mencerita hal-hal yang indah,
tetapi keindahan karya juga bisa jadi atas cerita kegetiran hidup manusia,
keprihatinan, kepiluan yang mendalam bahkan sesuatu kondisi yang sangat
buruk dalam realita bisa jadi menjadi indah setelah menjadi sebuah karya
sastra.

___________
Azwar adalah Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, Sumatra
Barat.
http://melayuonline.com/opinion/?a=TG1zL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&l=estetika-sast
ra-dalam-kaba-si-reno-gadih



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke