Jum'at, 15-05-09 | 11:28 | 304 Boediono Tak Bersih dari Skandal BLBI JAKARTA -- Anggota DPR dari Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (F-BPD), Ir H Nizar Dahlan, mengingatkan agar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat kembali mempertimbangkan keputusannya lagi untuk mengambil Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono sebagai cawapres SBY dalam Pilpres 2009 mendatang.
Saran agar SBY dan PD kembali mempertimbangkan keputusan tersebut dikarenakan reputasi dan track record Boediono sebagai ekonom yang tak sebaik seperti disebut-sebut selama ini . "Ingat kasus pengucuran Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 400 triliun, masing-masing Rp 144,8 triliun untuk bank swasta dan Rp 267 triliun untuk bank pemerintah, yang bermuara pada kesengsaraan rakyat Indonesia," kata Nizar Dahlan, 14 Mei 2009. Berpindah tangannya uang rakyat kepada segelintir pengusaha bank tersebut, kata Nizar Dahlan pula, bisa terjadi justru ketika Boediono menjadi Direktur BI urusan analisa kredit dari tahun 1997 hingga 1998. "Ketika BLBI itu menjadi masalah, bahkan dikemplang oleh para koruptor, ternyata Boediono lepas tanggung jawab," tambahnya. Lalu pada tahun 1998, ketika Boediono menjadi Kepala Bapenas di era Habibie, cawapres pilihan SBY itu, lanjut Nizar Dahlan, juga mengucurkan dana rekap perbankan sebesar Rp 600 triliun. Nyatanya, semua tidak bisa dikembalikan. "Konyolnya, kenapa harus rakyat yang menanggung akibat dari kecerobohan Boediono tersebut" Bayangkan, melalui APBN, rakyat harus menutupi sebesar Rp 80 triliun yang dicicil melalui APBN hingga tahun 2032 nanti," kata Nizar pula. Selain itu, lanjut anggota Komisi VII DPR RI itu, ketika Boediono menjadi Menteri Keuangan di era Presiden Megawati Soekarnoputri, Boediono adalah aktor di balik kebijakan privatisasi dan divestasi 'ugal-ugalan' yang ditandai dengan aksi menjual aset strategis bangsa. "Setelah itu para pengemplangnya justru diberikan release and discharger. Ini membuat mereka melenggang bebas dan rakyat yang menanggung hutang ratusan triliun rupiah," tandasnya. (fas/jpnn) --- On Mon, 5/25/09, Alec Sutaryo <[email protected]> wrote: From: Alec Sutaryo <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Boediono dan Laku Spiritual To: "RantauNet" <[email protected]> Date: Monday, May 25, 2009, 8:57 AM it's the best opinion i've ever wrote in this egroup bravo mr sutan mantari keep up good work, u r the best i like it alec On May 25, 8:38 am, Mantari Sutan <[email protected]> wrote: > Saya pernah menjalani sebuah laku. Di tahun 2003, saya pernah memutuskan cuti > selama satu bulan dari kantor. Lalu dompet lengkap dengan segala kartunya > saya tinggalkan ke pacar. Setelah itu saya mengarahkan perjalanan menuju > timur. Tujuan saya adalah Jogja atau Solo. Sebuah tempat yang diyakini oleh > Sultan Agung adalah area pusat kosmik tanah jawa. Tempat pertemuan kekuatan > gunung dan laut. Uang di kantong waktu itu hanya lima ribu rupiah. > Alhamdulillah, saya sampai juga di Jogja. Bertahan selama 24 hari. Apa dan > bagaimana detailnya perjalanan ini, biarlah saya dan yang Maha Di Atas yang > tahu. > > Saat ini banyak sekali beredar rumor tentang Boediono yang katanya adalah > seorang islam abangan alias kejawen. Konon katanya baru hari-hari ini, > Boediono ditemui wartawan menunaikan Shalat Jumat. Banyak yang curiga, ini > lebih kepada pemolesan citra belaka. Kejawenan Boediono banyak digugat. Dan > dijadikan celah untuk menyerang yang bersangkutan. > > Menjadi kejawen buat saya bukanlah sebuah kesalahan. Laku spiritual adalah > hak setiap individu. Harus kita hormati preferensi seseorang dalam proses > penyucian batin. Umar Kayam pernah membahas dalam Novel Para Priyayinya, > tentang seorang kakek yang menganggap puasa ngarab itu cemen. Kurang banyak > tantangannya. Si kakek lebih memilih puasa yang lebih berat. Mungkin > disitulah ia menemui puncak spiritualitasnya dalam berhubungan dengan Sang > Pencipta. Ketika lapar dan letih itu pada puncaknya. > > Menurut saya, kalau memang Boediono seorang kejawen, ia tak perlu bersusah > payah menunjukkan sisi sebaliknya. Lawan politiknya juga tidak perlu menjadi > kejawenan ini sebagai sebuah celah yang harus terus diserang. Lihatlah ia > sebagai seorang makhluk Tuhan dalam hubungannya dengan manusia lain. > Habluminannas. Kejawenan tidak pernah mengajarkan kepada orang lain aturan > semisal: dilarang mengganggu isteri orang, kecual suka sama suka. Kejawen > juga tidak mengajarkan untuk mencuri kecuali terpaksa. Jadi, orang yang > berlaku kejawen tak perlu kita jadi bahan penjatuhan karakter. > > Mari kita kritisi Boediono dalam rekam jejaknya terhadap umat manusia warga > negara Indonesia. Semisal kiprahnya dalam aturan BLBI. Atau, soal privatisasi > dan kebijakan subsidinya. Kejawen atau tidak, bukanlah sebuah soal. > > Wassalam, > > MS/30/Sijunjung/Kampai/Jakarta --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
