HEADLINE NEWS
Kamis, 28 Mei 2009

Hapus Gubernur, Kelola seperti Korporasi

Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi saat menyampaikan pengalamannya
mengelola otonomi daerah, di The Empire Palace, Surabaya, kemarin.

Surabaya, Padek-Penerapan otonomi daerah (otda) yang sudah sepuluh tahun
berjalan ternyata perlu banyak dievaluasi. Banyak ketidaksinkronan antara
kebijakan pusat dan daerah yang menyebabkan daerah terkesan berjalan
sendiri-sendiri. Bahkan, tidak sedikit kebijakan daerah yang berseberangan
dengan pemerintah pusat. Topik tersebut dibahas dalam seminar nasional
bertajuk "Menata Kembali Desentralisasi: Apa Agenda Berikutnya?" di The
Empire Palace Surabaya, kemarin (27/5).

Seminar itu menghadirkan pembicara Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Gubernur
Gorontalo Fadel Muhammad, dan Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan
Fiskal Depkeu Askolani. Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi lebih banyak menyoroti
masalah tidak efektifnya keberadaan gubernur.

Menurut dia, jika ada daerah yang berhasil, bukan karena provinsi yang
berperan besar. Sebab, ada kewenangan bupati dan wali kota yang bersentuhan
langsung dengan masyarakat.  Dia menegaskan, peran provinsi terlalu kecil.
Semua perizinan ada di kabupaten/kota kecuali yang lintaswilayah.

Karena itulah, peran provinsi selama ini hanya mengoordinasikan. Padahal,
menemukan sosok gubernur mengeluarkan biaya yang tidak kecil. "Saya
menyarankan gubernur dihapus saja. Sumbar bisa diberlakukan yang pertama,"
tuturnya yang disambut tepuk tangan peserta. Lebih baik gubernur ditunjuk
presiden, karena undang-undang menyebut gubernur sebagai wakil pemerintah
pusat di daerah.

Wacana itu juga telah disampaikan Gamawan dalam forum Lemhanas tahun lalu.
Ia mengusulkan provinsi menjadi perwakilan pusat di daerah untuk
meminimalkan tumpang tindih kewenangan provinsi dan daerah. Salah satu
contohnya, sekolah internasional menjadi kewenangan provinsi. Tapi, guru di
bawah kendali kabupaten/kota. Selain itu, juga mempermudah verifikasi RAPBD
yang selama ini dilakukan pusat, padahal jumlahnya sangat banyak.
"Sebenarnya itu cukup dilakukan di provinsi, sebagai wakil pusat," katanya. 

Manajemen Perusahaan

Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad mengatakan, ukuran kinerja pemda harus
terlihat. Dia mencontohkan ada gubernur yang mengklaim telah berhasil
membangun daerahnya. Untuk membuktikan hal itu, indikatornya tentu saja
bukan pembangunan gedung dan sebagainya. Menurut dia, seharusnya tolok
ukurnya adalah human development index (HDI). "Kalau tidak ada itu, tidak
ada gunanya," katanya.

Variabel terpenting adalah kapasitas manajemen. Hal itu menyangkut
pengelolaan keuangan, sumber daya aparatur, dan penggunaan teknologi
informasi. Salah satunya pengelolaan keuangan daerah sering tidak maksimal,
baik minimnya penyerapan anggaran ataupun salah sasaran. Meski demikian,
pemerintah pusat tetap mengucurkan dana dengan nilai serupa, bahkan lebih
tinggi pada tahun berikutnya. Menurut Fadel, seharusnya uang itu diberikan
dengan jumlah lebih besar kepada daerah yang benar-benar bisa mengelolanya.
"Seperti manajemen perusahaan.

Kalau laporannya kurang lengkap, dananya dikurangi," ucapnya sembari
menyebut mobil dinas eselon III cukup disewa dari pihak ketiga. Itu bisa
menghemat hingga 60 persen. Sebab, instansi daerah tidak mengurus perawatan
mobil. Desentralisasi perlu membuat arah baru. Salah satunya mengelola pemda
seperti korporasi. Bedanya, kalau korporasi mengeluarkan produk yang dijual
dan mendapat deviden untuk kepentingan pribadi. Sedangkan birokrasi adalah
public service, yang menjual social goods.

Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Askolani
mengatakan, pola belanja anggaran pusat yang dilimpahkan ke daerah lebih
dominan ke konsumsi, bukan investasi. Bahkan, lanjut dia, banyak daerah yang
dananya belum dibelanjakan. Padahal, pusat telah memolakan pembagian dananya
dalam hitungan defisit. Tapi, dana yang ada tidak dioptimalkan untuk
pembangunan. Buktinya, setiap tahun selalu ada surplus. (eko/kum/jpnn)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/37050/1/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke