Assalamualaikum, Kali ini sedikit kita lupakan bahasan yang berat. Kita bicara tentang sebuah teknik menangkap ikan di sungai. Biasanya yang kita tahu adalah manjalo, manjariang atau mamanah ikan. Ketika manjalo, posisi ketinggian air biasanya berada sebetis atau sepaha sang pencari ikan. Lalu jalo diserakkan. Menjaring biasanya dilakukan oleh dua orang. Satu orang di seberang sana, satu lagi di seberang sini. Lalu mereka bergerak ke hilir. Ikan akan terjaring di sana. Tak jarang mereka dalam posisi berenang. Memanah dilakukan biasanya di lubuk yang dalam. Memakai kacamata khusus, dengan senjata rakitan, ikan ditembak. Malam lebih enak buat mamanah. Ikan akan tertarik dengan cahaya senter yang dibawa oleh pemanah.
Ada cara lain yang unik. Namanya "mandaruah". Ini dilalukan di pinggir sungai dengan menggunakan tangan. Posisinya mirip menangkap ikan ketika malapeh tabek. Ketika air sudah berkurang jauh. Tapi dilakukan di sungai. Mandaruah sangat tergantung waktu. Limited time! Hanya bisa dilakukan ketika hari senja. Sabak malam. Ketika matahari mulai terbenam sampai gelap datang. Kalau mau mandaruah, shalat magrib harus dilakukan di pinggir sungai. Shalat agak dipercepat. Jadi sa'labah dulu untuk hari itu. Mandaruah dilakukan di pinggir sungai. Kita harus merunduk, dengan kedua tangan pada posisi stand by. Lalu kita mulai marasok-rasok batu di pinggir sungai. Kalau bertemu ikan segera ditangkap. Ikan di jam-jam senja hari itu, biasanya akan bergerak ke tepi. Disini kita tangkap ikannya. Mandaruah membuat candu. Banyak orang yang begitu diajak sekali, ingin mengulang lagi di keesokan hari. Sensasinya beda. Menyentuh ikan, lalu sang ikat berkelit melarikan tak terlupakan. Kalau berhasil tertangkap, hati ini sangatlah senang. Kalau ikan lepas, hati ini jadi penasaran bukan main. Tapi harus hati-hati. Kadang bisa yang lain yang tercakau. Anak biawak atau ular air tak jarang terlewat juga. Tapi tenang saja. Tak terlalu berbisa. Cuma siap-siap saja kaget tak kepalang. Mandaruah biasanya dilakukan sepulang bekerja di sawah, sebelum berangkat pulang ke rumah. Jikalau mendapat ikan yang cukup, bisa dibawa pulang perbekal masak di rumah. Dengan penuh optimis, biasanya orang rumah sudah diberi order, "bueklah santan lai, den ka pai mandaruah lai". Terkadang memang bisa saatua ikan yang didapat. Terkadang hanya seekor saja. Kalau sudah begini, gulainya menjadi gulai kantang saja. Wassalam MS/30/jkt/pernah mandaruah dulu di batang sinama Powered by Telkomsel BlackBerry® --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
