IRAK HADAPI SERANGAN BARU

Oleh : Zulharbi Salim*

Keputusan Irak menyetujui kembalinya tim inspeksi PBB (UNMOVIC) tanpa
syarat diumumkan Presiden Saddam Hussein (18/9) setelah lebih dahulu
mengirimkan surat kepada Sekjen PBB, Kofi Annan melalui Menlu Irak Naji
Sabri (16/9), disambut baik di kalangan diplomatik di berbagai penjuru
dunia.

Persetujuan Irak itu muncul di tengah gencarnya ancaman AS akan
menyerang Irak. Tekanan diplomatik terus dilancarkan supaya Irak
menerima kembali tim inspeksi PBB yang diusirnya tahun 1998.

Ketika beberapa anggota partai Demokrat Kongres AS menyampaikan
maksudnya untuk "tidak tergesa-gesa" memberikan persetujuannya kepada
Presiden George W. Bush menyerang Irak, para Menlu Liga Arab di PBB
meminta kepada Baghdad untuk memberikan kesempatan kepada tim inspeksi
PBB (UNMOVIC) kembali memeriksa keberadaan senjata pembunuh massal yang
dituduhkan kepada Irak, sebagai salah satu cara untuk menghindari
serangan AS dan Inggris.

Irak dalam berbagai kesempatan sebelumnya membantah bahwa Irak sama
sekali tidak memiliki senjata "pemusnah massal" yang dituduhkan
kepadanya. Untuk apa lagi AS meributkan kepemilikan senjata berbahaya
tersebut. Sebenarnya Irak telah porak poranda akibat serangan AS dan
sekutunya yang mengorbankan banyak rakyat yang tidak berdosa sejak 10
tahun yang lalu.

Menurut pengamat politik Perancis, Climo Nassau "perang yang amat
berbahaya sedang dicanangkan terhadap Irak oleh para jenderal di
Washington".

Para ahli strategi di Washington sebagian besar menolak membuat
rancangan serangan yang dicanangkan oleh Bush itu. Mereka ingin
menyatakan agar Bush menjauhi serangan ke negara-negara Arab, termasuk
ke Irak. Irak sudah trauma terhadap kebohongan dan serangan AS selama
lebih dari 10 tahun setelah Irak melakukan invasi ke Kuwait tahun 1991.

Akibat terburuk serangan AS dan sekutunya terhadap rakyat Irak adalah
memperparah perekonomian mereka sehingga rakyat yang sudah miskin
semakin menderita. Jadi serangan mendatang akan membuat Irak menjadi
neraka dan bumi hangus, jika hanya untuk menghukum seorang Presiden
yang bernama Saddam Hussein.

Dituduh sarang teroris

Pada hakikatnya kebrutalan Saddam sudah dihukum berat oleh PBB
(dimotori AS tentunya) dengan boikot ekonomi dan mengucilkan Irak dari
dunia internasional. Irak dikaitkan dengan tuduhan sebagai
sarang "teroris" yang dibantah oleh Baghdad dengan tegas. Menurut
Saddam Hussein sebenarnya yang menjadi teroris itu adalah
yang "berkaok" sebagai anti teroris. Tuduhan balik itu dialamatkan
kepada AS dan sekutunya.

Ancaman serangan terhadap Irak merupakan tindakan "teror" baru, seperti
yang dilakukan terhadap Afghanistan dengan dalih mencari pemimpin
Al-Qaida, Osamah Bin Laden yang ternyata sampai sekarang belum
ditemukan.

Pengamat Timur Tengah menilai Irak akan didijadikan ajang neraka baru
seperti Vietnam untuk menjatuhkan Presiden Saddam dari kedudukannya
dengan cara kekerasan. Akibatnya akan menjadikan bangsa Arab dan Timur
Tengah secara keseluruhan menderita dalam kurun waktu yang panjang.

Yang diuntungkan dalam tindakan ini tidak lain adalah Israel. Untuk
membela kepentingan "anak emas" AS ini pulalah Irak diluluh-lantakkan,
karena Irak dalam perang Teluk ke-II tahun 1991 sempat membuat Israel
kecut dengan peluncuran rudal Scud ke Tel Aviv.

Menurut laporan tim inspeksi PBB yang sudah memeriksa Irak menyatakan
sejak perang Teluk tahun 1991, Irak sudah tidak memiliki lagi bunker
senjata "pemusnah massal" yang dituduhkan kepadanya. Sedang AS tidak
mau percaya sama sekali atas laporan tersebut, sampai memasang intelnya
dari FBI dan CIA bergabung dengan tim PBB, namun gagal menemukan bukti
yang sah untuk menyeret penguasa Irak untuk mengakui mempunyai senjata
pemusnah massal.

Sementara itu, DK PBB secara aklamasi sepakat memberi ultimatum kepada
Irak untuk menerima kembali tim inspeksi PBB. Penguasa Irak yang semula
menolak akhirnya menerima tanpa syarat.

Atas ditolaknya tim PBB dua minggu lalu oleh Irak semakin memperkuat
kecurigaan AS untuk segera menyerang Irak, meskipun di kalangan
pembantu Bush sendiri terdapat dualisme antara mendukung dan menunda
maksud Bush itu. Saran Kongres AS, supaya Bush mempertimbangkan kembali
rencana "perang" dengan Irak dapat digugurkan Bush dengan dalih ancaman
keamanan nasional dan internasional. Namun Ketua Kongres Tom Dashel
masih tetap mempertanyakan tentang perlu tidaknya Irak diserang dan
kepentingannya terhadap AS dan dunia internasional. Beberapa anggota
partai Demokrat menolak rencana Bush menyerang Irak karena beresiko
tinggi.

Apakah benar Irak masih menyembunyikan senjata pembunuh massal?
Pertanyaan itu dijawab oleh Irak, dengan mempersilahkan tim PBB datang,
kapanpun mereka mau tanpa syarat. Irak menegaskan bahwa mereka sama
sekali tidak memiliki senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan
selama ini.

Menlu Arab Saudi, Pangeran Saud Al-Faisal menyatakan, Baghdad saat ini
sedang menanti dan berpacu dengan waktu menerima tim PBB dan ancaman
serangan AS. Ancaman serangan AS ditolak semua pemimpin Negara Arab dan
Timur Tengah. "Negara Arab tidak ingin dirugikan lebih banyak lagi".

Dalam perang Teluk tahun 1991, Arab Saudi memberikan dukungan penuh
kepada tentara sekutu untuk menggunakan wilayahnya sebagai pangkalan
militer menyerang Irak. Tetapi sekarang sudah lain, Irak bukan lagi
musuh namun sudah menjadi sahabat setelah Irak mengakui kadaulatan
Kuwait secara penuh.

Berbasis di Qatar

Pergelaran kekuatan militer sudah banyak di wilayah Teluk Arab,
termasuk yang terakhir digelar di depan hidung Irak yang tidak jauh
dari pelabuhan Basra di Teluk Persia.

Konon armada AS dan Inggris sudah siap untuk menyerang Irak kapanpun
diperintahkan. AS sudah sepakat dengan pemerintah Qatar menjadikan
Qatar basis untuk menyerang Irak selain pangkalan AS di Bahrain, Oman
dan Kuwait. Pangkalan NATO di Turki juga sudah disiapkan.

Sikap pemerintah Qatar mengizinkan wilayahnya sebagai pangkalan AS
dikecam berbagai Negara Arab di dalam Sidang Liga Arab di Cairo. Qatar
dituduh telah bermain mata dengan AS untuk kepentingannya sendiri. Arab
Saudi secara tegas menyatakan penolakannya untuk menggunakan wilayahnya
sebagai basis penyerangan ke Irak. Demikian juga Negara Arab beraliran
keras lainnya seperti Syria dan Lybia mengecam tindakan toleransi Qatar
tersebut. Kuwait yang memang telah disiapkan sebagai pusat serangan ke
Irak dengan 30.000 personil AS, sama sekali tidak dapat menolak sebagai
basis penyerbuan ke Irak, karena sudah berutang budi kepada AS.

Pernyataan Menlu Kuwait Sheikh Al-Sabah memperkuat dugaan itu karena AS
dan sekutunya telah membebaskan Kuwait dari serangan Irak dalam perang
Teluk 1991sehingga Kuwait tidak bisa berbuat banyak kecuali menerima
dengan segala risikonya. Sikap Kuwait pada intinya tidak ingin rakyat
Irak yang tidak bersalah menjadi korban keganasan perang baru.
Ibaratnya Kuwait sudah "tergadai" kepada AS dan harus membalas budi
sang raksasa yang menjadi polisi dunia.

Irak siap tempur

Pernyataan Deputi PM Irak Tariq Aziz memperkuat pernyataan Wakil
Presiden Irak, Izzat Ibrahim bahwa dalam keadaan bagaimanapun Irak
sudah siap menghadapi serangan AS dan sekutunya (Inggris).

Serangan AS terhadap Irak selama ini diberlakukan secara mendadak,
dinilai pemerintah Irak tidak lain sebagai serangan "orang yang sudah
berputus asa" untuk menghancurkan kekuatan yang sama sekali tidak
diketahuinya. Irak dalam beberapa tahun terakhir ini sempat membenahi
Angkatan Bersenjatanya, termasuk melatih pilot-pilot tempur di negara
ketiga (Arab tertentu), meskipun tidak lagi mempunyai pesawat tempur.
Pesawat tempur Irak sejak perang Teluk disembunyikan di Negara
tetangganya. Konon, bila Irak diancam untuk berperang, maka pesawat
tempur Irak tersebut bisa diterbangkan ke arena pertempuran.

Deputi PM Irak, Tarik Aziz sehabis bertemu dengan Sekjen PBB, Kofi
Annan dalam kerangka KTT Bumi di Johannesberg menyatakan bahwa Irak
memandang serius ancaman Amerika Serikat (AS). Irak sudah siap
menghadapi segala kemungkinan melawan serangan itu. "Kami siap membela
Negara kami", ucap Tarik Aziz.

Menlu Irak, Naji Sabri setelah kembali dari Moskow menyatakan bahwa
Russia sepenuhnya belum dapat menjanjikan apa-apa kepada Irak, namun
ditegaskannya akan mendukung Irak jika AS memutuskan serangan sepihak.

Tarik Aziz menyampaikan kepada PBB kesediaan Irak menerima kedatangan
tim PBB yang sejak tahun 1998 diusir Irak untuk melanjutkan tugasnya
kembali di Irak. Irak sepenuhnya bersedia bekerjasama dengan PBB dan
tidak dengan AS. "Jika ada jalan yang bisa ditempuh PBB Irak akan tetap
solid dalam melaksanakan kerjasama itu. Irak akan sedia berdiskusi
lebih jauh. Irak telah menderita selama 11 tahun, jangan lagi
diperpanjang dengan aksi militer AS dan sekutunya. Rencana serangan AS
harus dihentikan" pinta Aziz. Azis dengan tegas menyatakan bahwa sikap
AS terhadap Irak sudah keterlaluan dan tidak dapat diterima akal sehat.
Kemarin keterangannya lain, hari ini lain lagi dan besok beda lagi
sehingga AS tetap akan melakukan serangan ke Irak… dan ini tidak dapat
kami terima".

Harian Videomosti Russia yang terbit di Moskow mengomentari kunjungan
dan pembicaraan Menlu Irak, Naji Sabri dan rekannya Menlu Igor Ivanov
yang memperoleh sukses. Russia dapat mengerti posisi Irak saat ini dan
akan berusaha membantu untuk menyelesaikan secara damai tanpa
mengganggu hubungan AS-Russia.

Dubes Irak di Moskow, Abbas Khalaf (17/9) menyatakan bahwa Irak dan
Russia telah menandatangani kesepakatan perdagangan senilai 40 milyar
USD. Moskow mendukung kembalinya utusan khusus PBB dan menolak serangan
AS.

Annan berjanji akan mencari solusi "damai' untuk mencabut embargo
ekonomi terhadap Irak, setelah Irak dapat menerima kembali kedatangan
tim inspeksi PBB sebagai salah satu syarat bagi pencabutan embargo
ekonomi.

Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa untuk pertama kali
menyatakan penolakan atas rencana serangan AS ke Irak, khususnya
Kanselir Jerman dan Presiden Perancis Jack Shirac.

Di Irak akan terjadi apa yang akan terjadi… perang atau damai…! Atau
menyusul Afghanistan kedua..

*) Penulis adalah pemerhati masalah Timur Tengah, tinggal di Cimanggis,
Depok.

--
Posting oleh PONDOK PESANTREN MODERN AL HARBI ke ZULHARBI SALIM BLOG
pada 6/02/2009 08:26:00 PM
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke