Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sanang ambo mambaco SMONG, Angku Jepe. Batambah pangatahuan awak dari pangalaman pribadi dari lokasi nan pernah diobservasi senditi. Mudah-mudahan dengan tukar fikiran dan informasi jo angku Masrur Siddik (seorang geologist kito) kito di Lapau dapek manikmati pangalaman-pangalaman lingkungan nan meresap ka tangah-tangah kehidupan kito tapi indak banyak dikatahui umum.
Dahulu, ado anggota Lapau awak angku Fauzy St. Rajo di Langik, mambarikan katarangan-katarangan geologis Pulau Sumatera. Dari baliau kami dapek suluah ilmu manganai Sesar Semangko, masalah permukaan aia Danau-danau di Sumatera dan banyak hubuangannyo jo Gampo. Mungkin dengan kessibukan baliau di Banduang, baliau lah lamo indak ka Lapau. Namun wakatu Tsunami, ambo pun panah bakomunikasi jo baliau dan lai baporowaikkan ka Lapau. Ambo raso Angku Masrur Siddik dakek jo baliau di Banduang. Sakketek lai, mudah-mudahan dengan tabaritonyo gunuang barapi nan sangat gadang di bawah lauik di Barat Laut Sumatera, angku Masrur Siddik, angku St Rajo Dilangik dapek marekrut tenaga-tenaga angkatan muda kito dengan organisasi-organisasi research Perancis dan US bersama LIPI dan sadang asyik mancari tenaga-tenaga piawai untuk karya ilmiah dengan Lingkungan Sumatera ko, di tangah-tangah Kampuang Halaman Awak. Mudah-mudhaan Adidunsanak di lapau dapek maarahkan anak-kamanakan generasi baru di Kapmpuang ka arah bidang-bidan ilmiah na labiah spesifik nan jarang tacelak ka pandangan urang awak. Sabagai tambahan. Memang, pandangan Urang Pulau Gadang ka Pulau Ketek memang ado steeotipnyo. Bak kecek angku Jepe, pandangan ka Pulau Nias jo Mentawai. Mambaco Cangkeh di Semelueu, takana di ambo Pulau Tamang di muko Batahan, Selatan Natal. Disinan ambo partamu kali mancaliak ekspor cangkeh nan sangat baharago tu langsuang dari pulau. Salam, --MakaNgah Sjamsir Sjarif --- In [email protected], "Jupardi" <jupa...@...> wrote: > > "SMONG" KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PULAU SIMEULUE > > > > Assalamualaikum Wr Wb > > > > Bapak Masrur Siddik dan Dunsanak Palanta RN Yang Budiman > > > > Tergelitik juga rasa hati saya ketika Pak Masrur Sddik (saya singkat Pak MS) > bertanya pada saya tentang kearifan local masyarakat Simeulue terutama dalam > menghadapi bencana alam yang sangat Dahsyat yaitu gempa dan tsunami yang > kita sama-sama ketahui terjadi pada tanggal 26 Desember 2006 di Propinsi NAD > yang meluluh lantakan daerah pesisir pantai barat NAD termasuk pulau Pulau > Simeulue secara Administratif Pemerintahan merupakan salah satu Kabupaten > dari Propinsi NAD. > > > > Bencana yang maha dahsyat ini tidak saja meluluh lantak secara fisik tapi > juga mental psikologis dan segala sendi/aspek kehidupan masyarakat yang > tertimpa musibah ini, tentunya segala cerita setelah bencana tsunami dan > gempa telah banyak kita ketahui apakah dengan melihat secara lansung ketempat > musibah dengan berbagai kepetingan mengunjungi daerah korban, membaca berita > dan kisah-kisah setelah peristiwa tersebut yang dibahas atau diungkapkan dari > segala aspek kehidupan dari media cetak, elektronik dan dunia maya maupun > dari cerita lansung dari nara-nara sumber baik yang selamat dari musibah, > tidak tertimpa musibah tapi menyaksikan lansung peristiwa tersebut bahkan > sekedar dari cerita mulut ke mulut secara berantai yang kadang-kadang tidak > berujung berpangkal kebenaran atau fakta sebenarnya yang terjadi. > > > > Pak MS yang baik > > > > Menjawab pertanyaan Bapak atau sekedar saya berbagi cerita apa yang saya > alami ketika bertugas di Simeulue tersebut seputar kearifan local yang Bapak > maksud mungkin juga banyak kita ketahui dari beberapa tulisan/artikel di > Media kenapa masyarakat Simeulue tidak banyak korban jiwa akibat gempa dan > tsunami ini dibandingkan di pesisir pantai NAD (Daratan Sumatera). Cerita > saya tentu hasil saduran atau mendengar lansung dari masyarakat atau tetua > Simeulue sebuah kearifan local yang Bapak maksud tersebut. Hampir sama yang > diceritakan berbagai Media seputar ini. > > > > SMONG > > > > Smong begitu istilah atau ucapan bahasa daerah penduduk Simeulue bisa juga > diartikan air bah dalam kontek bencana ini diartikan gelombang dahsyat yang > terjadi setelah gempa besar dan bahasa globalnya ya Tsunamy tersebut. Kenapa > boleh dikatakan hampir tidak ada masyarakat Simeulue yang menjadi korban > setelah gempa yang diakhiri dengan tsunami tersebut, menurut cerita lansung > yang saya dengan dari masyarakat Simeulue mereka punya kearifan local > mungkin hampir sama dengan kita "Bakaba", sebuah komunikasi lisan turun > temurun dari ninik-ninik mereka dalam menyampaikan berita tentang sebuah > kejadian atau gejala-gejala/fenomena alam yang terjadi terutama menyangkut > aspek-aspek kehidupan (adat budaya, sastera lisan, sejarah ninik moyang dsb > yang disampaikan secara lisan/bakaba). > > > > Menurut cerita penduduk setempat korban jiwa tidak banyak mungkin sekitar > 6-10 orang saja, itupun bukan akibat Tsunami, tapi lebih kepada factor fisik > yaitu para orang tua-tua yang lemah sehingga tidak bisa lari menghindari > bahaya tsunami tersebut setelah gempa terjadi atau alasan-alasan lainnya > seperti tertimpa reruntuhan bangunan akibat Gempa besar sebelum diikuti > gelombang besar atau Smong dalam bahasa daerah Simeulue. Pada intinya mereka > siap dan telah menduga dan tahu persis sehabis gempa ini akan diikuti oleh > Smong. Kenapa mereka bisa memprediksi sehingga siap menghadapi bencana ini > tanpa korban jiwa walau meluluh lantakan bangunan fisik seperti rumah, fasum > dan fasos di desa-desa yang umumnya terletak di bibir pantai pulau Simeulue , > itu tidak lain dan tidak bukan karena tutur lisan atau di ranah kita dikneal > dengan Bakaba dari ninik-ninik mereka, begini kira-kira ceritanya. > > > > > > Sekitar tahun 1912 ? (maaf tahun ini bisa jadi salah tapi intinya jaman > dahulu ketika komunikasi hanya disampaikan dari mulut kemulut belum ada > teknologi komunikasi yang paling sederhana sekalipun seperti sandi morse > misalnya apalagi radio walau di negara barat telah menemukan teknologi > komunikasi gelombang pendek ini) pernah terjadi bencana serupa yaitu Gempa > yang diikuti Smong (Tsunami) yang cukup dahsyat dan tentunya dulu > menghancurkan secara fisik perkampungan mereka yang berada dibibir pantai > juga banyak menelan korban. Nah ninik-ninik mereka yang selamat atas > peristiwa tersebut bertutur secara lisan pada anak-anak dan cucu mereka bahwa > jika terjadi gempa besar akan diikuti oleh gelombang pasang yang dahsyat dari > lautan menghantam daratan yang cukup jauh jangkauannya dari bibir pantai. > > > > Kira-kira begini mereka berkomunikasi dari mulut ke mulut jika terjadi gempa > besar yang berpotensi tsunami (secara ilmiah lebih dari 8 Skala Richter) > penduduk akan berteriak SMONG..SMONG...SMONG...!!!!! artinya tentu akan > datang gelombang pasang yang besar , maka para penduduk punya waktu sebelum > tsunamy datang menyapu kampung mereka, katakanlah 30 menit setelah gempa, > tentunya mereka menyelamatkan jiwa mereka dengan berlari keatas bukit atau > tempat yang tinggi dari kampung mereka. Jika saya kelilingi kampung-kampung > mereka rata-rata daratan yang datar dari garis pantai lalu dibelakang > perkampungan mereka ladang-ladang cengkeh di atas lereng-lereng bukit atau > ketinggian tempat tujuan mereka berlari dan menyelamatkan diri. > > > > Berpijak kepada pengalaman dan kearifan local mereka berkaba ini dari > generasi ke generasi sampai saatnya terjadi gempa dan tsunami yang dahsyat > tersebut pada tanggal 26 Desember 2006 secara otomatis jika terjadi gempa > yang kuat mereka akan berteriak Smong...Smong..sahut menyahut antar penduduk > yang berada dipinggir pantai atau bisa juga dengan memukul bedug-bedug di > mesjid atau mushala kampung, tapi umumnya mereka dalam bahasa yang sederhana > begini kira-kira "Jika terjadi gempa besar, maka secara otomatis tanpa > komando akan segera lari ke tempat yang tinggi untuk menyelamat diri dari > amukan gelombang pasang/smong. > > > > Nah ini ada sedikit cerita "ala lapau" tentang Smong ini, tapi cerita ini > boleh dikatakan bentuk sebuah "kebanggaan" orang Simeulue yang tidak banyak > korban Jiwa dibandingkan penduduk di daratan Sumatera yang begitu banyak > menelan korban. Cerita ini juga dipicu karena factor kecemburuan dan cara > pandang suku Aceh yang sedikit "streotip" atau ber "nada miring" pada > penduduk Simeulue. Suku Aceh (daratan) menyebut mereka "Orang Pulau" boleh > juga diartikan orang terbelakang, belum maju dari segi apapun terutama > pendidikan misalnya, jika dilihat secara demografis memang cukup jauh > terpisah dari daratan pulau Sumatera yang termasuk dalam propinsi NAD, > mungkin hampir sama saja saya pikir bagaimana orang Sumut (baca; Suku Batak) > daratan memandang Orang Nias, bagaimana orang Sumbar (baca : Suku Minang) > daratan memandang orang Mentawai. > > > > Penduduk asli pulau Simeuluepun tidak mau juga atau memang tidak tepat > dikatakan sebagai Suku Aceh hampir sama juga kiranya Penduduk asli Mentawai > tentu tidak mau juga dibilang suku Minang walau secara Administratif > Pemerintahan mereka termasuk kedalam Propinsi NAD dan Sumbar. Lalu apa rasa > bangga mereka cerita "ala lapau" ini.begini kira-kira > > > > Konon menurut cerita orang-orang Simeulue yang merantau ke daratan NAD yang > tertimpa gempa dan tsunami sebut saja di Banda Aceh, Meuloboh dan daerah > lainnya dipesisir pantai barat sumatera, banyak yang selamat jiwanya ketika > bencana terjadi dibandingkan dengan orang-orang suku Aceh.Penduduk Simeulue > yang merantau ini sebenarnya telah mengingatkan penduduk-penduduk suku Aceh > ini. Ketika gempa besar terjadi mereka berteriak "Smong..smong..smong...!!!" > sambil berlari ketempat yang tinggi, tapi bagi suku Aceh, "orang pulau" ini > sudah tidak "beres" lagi berteriak smong..smong..malah mereka mengecek dan > menghina orang Simeulue antar sesama suku Aceh sambil jari telunjuk mereka > diletakan miring di dahi sambil digesekan pelan-pelan tentunya bahasa tubuh > seperti ini jika diterjemahkan menjadi bahasa lisan artinya "Tuh..lihat orang > pulau, sudah gila kali ya' > > > > Tapi "Orang Pulau" yang merantau ini terus saja berlari sambil berteriak > Smong..smong menuju tempat ketinggian, setelah sampai mereka ditempat yang > tinggi jauh dari bibir pantai beberapa saat datanglah gelombang pasang yang > maha dahsyat atau yang dikenal dengan Smong bahasa kearifan local "orang > pulau" menyapu perkampungan di bibir pantai. Orang pulau hanya bisa > menyaksikan suku Aceh yang bertarung meregang nyawa ketika gelombang maha > dahsyat tersebut menerjang perkampungan. Akhirnya banyak suku Aceh yang > berada di seputar bibir pantai menjadi korban baik harta benda maupun nyawa, > sementara "Orang Pulau" Simeulue karena kearifan local "bakaba" dari > ninik-ninik dan tetua mereka tentang sebuah kisah yang saya ceritakan diatas > banyak yang selamat sambil membawa barang-barang berharga yang dapat > ditenteng ketempat yang lebih tinggi dan tidak terjangkau oleh gelombang > pasang atau Smong. > > > > Sekali lagi ini hanya sebuah kisah atau cerita "ala lapau" orang-orang > Simeulue yang saya dengan dikedai-kedai kopi Sinabang, saya hanya menyikapi > terlepas benar atau tidaknya cerita itu hanyalah bentuk sebuah "ketidak > adilan" saja yang mereka rasakan pembangunan dalam segala bidang di Pulau > Simeulue yang masih jauh terbelakang dibandingkan daerah-daerah lain di > daratan yang masuk Propinsi NAD. Tapi dengan dibukanya kran otonomi daerah > dan maraknya pemekaran Kabupaten setiap Propinsi di Indonesia, pulau Simeulue > juga mengambil posisi sebagai salah satu Kabupaten bagian dari Propinsi NAD > sebagaimana Pulau Nias yang menjadi Kabupaten tersendiri secara Adminitrasi > pemerintahan masuk kedalam Propinsi Sumatera Utara, begitu juga Kepulauan > Mentawai yang telah menjadi Kabupaten bagian dari Propinsi Sumatera Barat > > > > Mungkin itu sepotong mozaik kearifan local yang saya dapat di Pulau Simeulue > semoga apa yang Bapak Masrur Siddik tanyakan pada saya , cerita diatas paling > tidak jika memang kisah ini sudah banyak diceritakan oleh media, tapi tentu > ini adalah kisah lansung yang saya dapatkan dari penduduk Simeulue ketika > bekerja disana bukan "katanya-katanya". Banyak kiranya mozaik-mozaik > kehidupan lainnya serta kearifan local di Pulau Simeulue yang saya dapatkan > dan menjadi sebuah kisah hidup saya. Sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan > atau malah saya bayangkan suatu saat saya akan ke sana, tapi begitulah > kadang-kadang jalan hidup ini terlalu sulit kita prediksi mau kemana kaki > kita melangkah kedepan walau kita sudah mempunyai rencana matang. Seperti > kata pepatah "Man Purposes, God Disposes" artinya kita boleh saja punya > rencana dalam hidup ini tapi tetap juga keputusan akhir hanya Allah Swt yang > menentukan setiap langkah kita kedepan. > > > > Wass-Jepe/Pku, 2/06/09 > > > > > > Foto 1. Perkampungan yang hancur ditela > > Gelombangpasang/Tsunami/Smong. Sehabis > > Gempa dengan kekuatan lebih8 SR di salah satu > > Desa Pulau SimeulueSekarang telah ditinggalkan > > Penduduk dan mereka membuat perkampungan > > Baru ditempat yang lebih tinggi rata-rata sekitar > > 100-200 Meter dari bibir pantai > > > > > > > > Foto 3. Pantai Simeulue yang sangat inda > > Berpasir putih dan landai di PulauTeupah yang > > terpisah dari Pulau Simeulue Menghadap lautan > > bebas Samudera IndiaDan di huni penduduk > > (Desa Pulau Teupah)Disini saya yang bekerja > > Dengan NGO Jerman membangun13 Unit Rumah > > Masyarakat yang tersapu Tsunami > > > > Photo saya ambil bulan Agustus 2006 atau lebih dari 1 ½ tahun setelah > terjadinya Gempa dan Tsunamy yang maha dahsyat pada tanggal 26 Desember 2006. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
