KRISIS TELUK ANTARA PRO DAN KONTRA

Oleh : Zulharbi Salim

DARI krisis Teluk dapat diambil kesimpulan bahwa bangsa Arab telah
menjadi bangsa terpecah belah dan tidak bersatu. Solidaritas Arab yang
selama ini berkumandang dan diagung-agungkan sebagai simbol pemersatu
menjadi ompong dan tercampak dari identitasnya. Apa yang disebut
Qaumiyah (nasionalisme) Arab sudah tidak dapat membawakan perannya dan
sudah kehilangan bentuk.

Baghdad sempat menjadi tuan rumah Sidang KTT Arab Istimewa pada tanggal
30 Mei 1990 lalu dan mendapat kesempatan mengorbitkan Saddam Hussein
sebagai pemimpin Arab yang dianggap berhasil mengadakan negosiasi
dengan Iran. Dia berhasil menciptakan status-quo dengan Iran setelah 8
tahun bertempur habis-habisan. Saddam mengumandangkan apa yang
disebutqaumiyah Arab yang mesti dibina dan dijunjung tinggi.

KTT Istimewa tersebut, membahas masalah Palestina atas permintaan
Presiden Palestina/Ketua PLO, Yassir Arafat, dihadiri oleh 19 negara
Arab, Syria dan Libanon absen. Hasil KTT antara lain mengutuk pengungsi
Yahudi Uni Soviet secara besar-besaran ke wilayah Palestina yang
diduduki Israel, membantu perjuangan bangsa Palestina dan intifadah
(revolusi batu). Menyerukan konvesi Taif bagi penyelesaian dalam negeri
Libanon. Mempersatukan gerak dan langkah dalam rangka membina
solidaritas Arab dan membentuk pertahanan bersama Pan Arabian.

Dalam pidato pembukaan KTT tersebut, Saddam Hussein dengan gaya seorang
orator menyatakan ancaman serius yang dialamatkannya kepada Israel dan
Amerika Serikat, yang disebutnya sebagai imperalis modern dengan
mengatakan "jika Israel berani menyerang Irak dengan senjata nuklir,
Irak akan membalas dengan serangan lebih dahsyat dan kami sanggup
menghancurkan Israel, bangsa Arab tidak perlu takut" .

Belum lagi keputusan KTT Baghdad itu direalisir, khususnya mengenai
pembinaan solidaritas Arab dan pertahanan keamanan bersama, dalam
tenggang waktu hanya 2 bulan, pada tanggal 2 Agustus lalu secara
mengejutkan Irak melakukan invasi ke Kuwait. Agaknya bagi pemimpin Irak
antara pesatuan dan solidaritas Arab dengan penyerbuan ke Kuwait
seperti tidak ada kaitan. Sebenarnya Saddam Hussein sudah mendapat
kesempatan mengambil alih kepemimpinan bangsa Arab, ibaratnya " Karena
nila setitik rusak susu sebelanga".

Akibatnya bukan saja merugikan perjuangan bangsa Palestina dan PLO,
tetapi juga dunia Arab sendiri, bahkan menguntungkan Israel disatu
pihak dan Iran dipihak lain. Iran yang selama 8 tahun menjadi musuh
Irak, dapat mengambil manfaat dengan timbulnya krisis Teluk. Iran dapat
menetralisir pertentangannya dengan Irak. Iran dalam hal ini seperti
mendapatkandurian runtuh.. Saddam Hussein secara tidak diduga dan
mengejutkan menarik pasukannya disepenjang perbatasan Shatt Al-Arab
yang selama 8 tahun menjadi ajang sengketa dan pertempuran.

Bukan itu saja, Irak mengembalikan tawanan perang Iran dengan imbalan
agar Iran menyerahkan sekitar 40.000 lebih tawanan Irak di Iran.
Tawanan-tawanan ini begitu tiba di Irak, langsung ditempatkan di Kuwait
dan disepanjang perbatasan Irak-Saudi.

SOLIDARITAS ATAU BENCANA

Masa depan negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah mendapatkan
dampak lebih berat, akibat krisis Teluk Persia. Dampak tersebut
dirasakan di sektor ekonomi dan kegoncangan perdagangan di dalam
negeri. Tidak semua negara Arab penghasil tambang minyak. Yordania
misalnya, sebuah negara terletak diutara Arab Saudi dan di Barat Irak,
60% menggantungkan minyaknya dari Irak yang dibeli Yordania dengan
harga miring. Kini, negara yang luasnya 90.089 km persegi itu. (lebih
luas sedikit dari propinsi Riau) berpenduduk sekitar 7 juta orang
dengan ibukota Amman, adalah negara yang paling miskin tambang minyak,
tetapi negara terbesar dalam hal penampungan pengungsi. Orang-orang
Palestina mengungsi ke Yodania dan kini harus pula menambah dilemmanya
dengan ribuan pengungsi dari Irak dan Kuwait.

Embargo ekonomi terhadap Irak yang ditetapkan DK PBB dengan terpaksa
harus dilaksanakan Yordania, akibatnya 80% hasil pertanian dan industri
Yordania yang selama ini di ekspor ke Irak menjadi terhenti. Harga
tidak terkendali. Para pengungsi menyebabkan Yordania harus mencari
dana tambahan. Arab Saudi tampil segera mensupply Yordania dengan
minyak sebagai pengganti minyak Irak, dengan harga dibawah harga pasar.
AS, Jepang dan MEE menyediakan dana buat menunjang ekonomi Yordania.

Adapun sikap Raja Hussein sendiri dalam krisis Teluk lebih condong ke
Irak, meskipun tetap menyesalkan pencaplokan Kuwait. Raja Hussein absen
dalam KTT Liga Arab di Cairo disebabkan Yordania adalah anggota Dewan
Kerjasama Arab bersama Irak, Mesir dan Yaman. Mesir setelah krisis
Teluk menyatakan menarik diri. Raja Hussein biasanya muncul sebagai
figur yang menonjol dan selalu bersikap netral, tidak dapat
mempertahankan sikap tersebut terhadap Irak. Sebabnya, selain anggota
Dewan Kerjasama Arab juga karena faktor tekanan dari dalam negeri.
Pendukung Saddam cukup potensiil di Yordania, ditambah dengan warga
Palestina yang mencapai 35% penduduk Yordania. Negara ini banyak
mendapatkan bantuan dari Amerika dan Inggris.

Untuk mempertahankan identitas, Raja Hussein berusaha bersikap agresif
dengan mengadakan kunjungan ke Amerika dan Inggris menjelaskan situasi
krisis Teluk. Sebelumnya, Raja Hussein berangkat dulu ke Baghdad.
Tampaknya usaha-usaha tersebut berhasil juga menjadikan status quo di
kawasan Teluk, selain itu Raja Hussein tanggal 20 September 1990
mengadakan KTT terbatas di Rabat dengan Raja Hassan II dan Presiden
Chadli Benjedid. KTT terbatas tersebut mencoba menetralisir situasi
dengan mengemukan berbagai pendapat untuk dapat membantu penyelesaian
krisis dengan negosiasi dan menjauhi global disaster (bencana dunia).
Ketiga pemimpin Arab tersebut mencoba mengajukan semboyan solidaritas
Arab harus dijunjung tinggi.

ANTARA PRO DAN KONTRA

5 Negara Arab yang berada disepanjang Laut Merah, Mesir, Sudan,Yaman,
Djibouti, dan Arab Saudi memiliki potensi arus lalu lintas laut,
ditambah dengan Arab Saudi memiliki pula pelabuhan dan pantai di Teluk
Persia. Arab Saudi khususnya memang menimbulkan iri hati Irak yang sama
sekali tidak mempunyai pantai, selain yang terletak dimulut kota Basra,
muara sungai Efrat dan Tigris. Keinginan memiliki pelabuhan bebas
inilah yang menjadi salah satu sebab pendudukan Irak di Kuwait,
memenuhi ambisi Presiden Saddam.

Menanggapi terjadinya krisis Teluk akibat penyerbuan Irak ke Kuwait,
tampaknya tidak semua negara Arab menentangnya, ada yang
terang-terangan mendukung, ada pula bersikap menahan diri dan absen
disamping ada yang mengutuknya. Antara pro dan kontra ini agaknya
termasuk ciri-ciri khas bangsa Arab. Berikut ini beberapa negara yang
mendukung Irak.

Menjadi pertanyaan bagi pengamat masalah Timur Tengah, kenapa Sudan
bersikap apatis dibawah kepemimpinan Jenderal Omar Basyir? Basyir lebih
condong mengikuti pola-pola pemikiran Saddam dan Gaddafi dan karena itu
pula mendukung tindakan Saddam dan memboikot Sidang KTM dan KTT Liga
Arab membicarakan krisis Teluk. Persoalannya menyangkut jasa baik
Presiden Irak yang memberikan bantuan senjata dan amunisi kepada Sudan
dalam menghadapi pemberontakan John Garang di Sudan Selatan.

Kolumnis harian Asharq Al-Awsat , Sir Sidehmed, edisi 15 September 1990
menulis mengenai sikap Sudan, tidak hadirnya Sudan dalam Sidang KTM
Liga Arab di Cairo membuat posisi negara ini terjepit antara dua
kepentingan. Hubungannya dengan Irak dan hubungannya dengan Arab Saudi.
Ketika Raja Fahd meminta Sudan mengirimkan bantuan pasukan bergabung
dengan pasukan multinasional di wilayah Saudi, ditampik dengan alasan
adanya pasukan Amerika dan sekutunya (asing) di Arab Saudi. Sudan
selama ini mengalami berbagai goncangan di dalam negeri diantara
pemberontakan di Selatan dan percobaan penggulingan kekuasaan. Usaha
kup ini gagal dan 28 perwira menengah Sudan dihukum mati. Kemelut lain
adalah akibat banjir besar tahun lalu menyebabkan ribuan rakyat Sudan
mati kelaparan. Disaat itu, muncullah bantuan sandang dan pangan dari
Raja Fahd. Keadaan ini mestinya dipikirkan oleh pemimpin Sudan.

Sudan yang terletak di Selatan Mesir dan berhadapan langsung dengan
Saudi di Timur (hanya dipisahkan Laut Merah), mempunyai area seluas
2.504.530 km persegi, terluas di Afrika dan termasuk negara ke-9
terluas didunia, berpenduduk sekitar 24. 500. 000 jiwa , ibukotanya
Khartoum.

Sudan berpenduduk berlainan suku, di utara Arab dan di selatan Negro
perbedaan suku sering menimbulkan kerusuhan rasial telah
memporak-porandakan negara itu, berbagai pemberontakan timbul,
guling-menggulingkan kekuasan berjalan terus dan ekonomi semakin parah.
Presiden Jaafar Numeiri yang menjadi Presiden tahun 1971 dapat
memperbaiki ekonomi dalam negeri secara bertahap tetapi menjalankan
kekuasaan tangan besi. Korupsi dimana-mana. Dia digulingkan Jenderal
Abdurrahman Siwareddahab tanggal 6 April 1971, Numeiri lari ke Mesir.
Pemerintahan Siwareddahab dapat menetralisir keadaan dalam negeri dan
mengembalikan kehidupan politik dengan memunculkan kembali
parpol-parpol.

Kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Presiden terpilih Sadiq Al-Mahdi
tahun 1986. Tampaknya kehidupan partai di Sudan tidak membawa
perobahan, muncullah Jenderal Omar Basyir menggulingkan Mahdi tahun
1989.

Sikap pemerintah Sudan terhadap krisis Teluk tampaknya lebih condong
memihak Irak, karena ada unsur-unsur kesamaan pemikiran antara Jenderal
Basyir dengan Presiden Saddam Hussein. Salah satu pers Barat
mengungkapkan adanya Radar dan Rudal Irak ditempatkan di wilayah Sudan
menghadap ke Timur (Arab Saudi), cukup membuat Raja Fahd berang.

YAMAN
Yaman dahulunya terdiri dari Yaman Utara dengan ibukota Sanaa dan Yaman
Selatan dengan ibukota Aden. Peta Yaman berobah sejak Nopember 1989
dengan pernyataan kedua pemimpin negara itu, menjadikan Yaman negara
kesatuan. Keanggotaan Yaman di Liga Arab dan di PBB serta lembaga
internasional lainnya hanya membawa nama satu Yaman, tanpa Utara dan
Selatan. Presidennya adalah Kolonel (sekarang Jenderal) Ali Abdullah
Saleh, sedangkan wakilnya mantan Presiden Yaman Selatan, Ali Al-Baidh.

Luas Yaman (setelah digabung) 481.740 km persegi, berpenduduk sekitar
10 juta jiwa, berpenghasilan katun dan hasil pertanian. Semula di Yaman
tidak ditemukan tambang minyak, namun 1984 perusahaan Hunt Oil dari
Dallas, Amerika menemukana sumber minyak di Yaman Utara, tetapi belum
memadai.

Berbicara mengenai Yaman, meskipun telah bergabung dibawah satu bendera
Yaman, harus diklasifikasikan karena adanya pandangan politik berbeda
sebelumnya. Andaikata Yaman belum berfusi, barangkali sikap Yaman Utara
lebih banyak condong mendukung blok Arab Saudi ketimbang Yaman Selatan
yang sempat diwarnai dengan faham sosialis pro Soviet. (Vide artikel
penulis dalam majalah Panji Masyarakat No. 246, tahun ke XIX, tanggal 1
Mei 1978).

Mengenai sikap Yaman terhadap krisis Teluk, kiranya dapat dimengerti
kenapa lebih condong berpihak mendukung Irak. Selain Yaman menjadi
anggota Dewan Kerjasama Arab, pengaruh kepemimpinan Saddam cukup besar
bagi Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh. Bantuan minyak Irak bagi Yaman
(baca: Selatan) cukup potensil, ditambah bantuan penasehat militer dan
senjata. Konon, di Yaman juga ada pangkalan rudal Irak, dan praduga ini
harus dibuktikan lebih jauh, sebelum mengklaimnya. Mana tahu hanya
sekedar isu menakuti-nakuti saja.

Hubungan Yaman dengan Arab Saudi selama ini cukup akrab, khususnya
sikap serba toleransi Arab Saudi kepada Yaman (baca: Utara).
Pekerja-pekerja Yaman mendapatkan kemudahan di Arab Saudi dan dapat
tinggal tanpa batas. Bantuan di sektor ekonomi, jalan raya, pembangunan
irigasi dan pertanian di Yaman cukup besar. Arab Saudi membiayai
beberapa proyek di Sanaa. Bukan saja Arab Saudi, negara-negara Teluk
(termasuk Kuwait) juga banyak memberikan bantuan keuangan memperbaiki
ekonomi Yaman.

Negara Arab lain yang bersikap mendukung adalah Meuritania, sebuah
negara di pantai Barat Arfika, seluas 1.085.210 km persegi, berpenduduk
sekitar 2,2 juta jiwa, ibukotanya Nouakchoot. Meuritania bertetangga
dengan Maroko dan Aljazair, sebuah negara berpadang pasir. Penduduknya
kebanyakan bangsa Arab Berber yang suka hidup mengembara dan
berpindah-pindah sebagai pengembala ternak dari suatu tempat ketempat
lain. Negera ini terkenal dengan sengketanya dengan Maroko mengenai
Sahara Barat dibawah Front Polisario. Meskipun negara ini tidak banyak
muncul dalam percaturan politik dunia Arab, tetapi diperhitungkan juga
sebagai anggota Liga Arab.

Palestina dibawah pimpinan Yasser Arafat jelas-jelas mendukung sikap
Irak dalam menghadapi krisis Teluk. Yasser Arafat adalah teman baik
Saddam Hussein, bahkan agak dekat. Dalam konteks ini pula Yasser Arafat
terus terang menyatakan bahwa kepentingan bangsa Palestina tersangkut
kepada bantuan Irak, Diatas sudah dikemukakan bahwa Baghdad menjadi
tuan rumah KTT Arab khusus membahas masalah Palestina. Sikap Arafat ini
memperkuat posisi Saddam Hussein dalam meneruskan invasinya di Kuwait.

Dengan sikap Yasser Arafat yang pro Irak, hubungannya dengan negara
Arab lain dikecam pedas, andil dunia Arab bagi manifestasi perjuangan
bangsa dan rakyat Palestina cukup besar, termasuk andil Kuwait. Di
Kuwait sebenarnya banyak pengungsi Palestina bermukim, ada juga yang
sudah menjadi warga negara Kuwait bahkan mendapat posisi penting dalam
pemerintahan. Sayangnya, Kuwait secara umum memperlakukan warga
Palestina penduduk kelas II yang dianggap tidak lebih dari seorang
pelarian yang meminta suaka politik. Dapat juga dimengerti, kenapa
beberapa hari setelah serbuan Irak ke Kuwait, sejumlah rakyat Palestina
dimana-mana unjuk rasa memberikan dukungan kepada Irak.

Yassir Arafat pernah mengusulkan supaya Kuwait dijadikan Monaco kedua
di Teluk Persia dibawah koordinator Irak. Usul ini membuat dunia Arab
semakin berang kepada Arafat dan membuat kewibawaan, kepemimpinan, dan
pamornya merosot pudar.

Tunisia, sebuah negara Arab lain di pantai laut Tengah, sejak semula
bersikap absen. PLO dan pemerintahan sementara Palestina berpusat
disana. Presiden Zainal Abidin Ali, ketika diundang Presiden Mubarak
menghadiri KTT Istimewa tanggal 10 Agustus lalu di Cairo, ditampiknya
dengan alasan tidak cukup waktu bagi mempersiapkan pembahasan krisis
Teluk, untuk itu Presiden Tunisia meminta jadwal Sidang ditunda
beberapa hari, yang akhirnya ditolak. Tunisia sama sekali absen dalam
KTT tersebut, Buntutnya Sekjen Liga Arab asal Tunisia, Chadli Klibi
diminta mengundurkan diri dari Liga Arab setelah 11 tahun dijabatnya.
Luas wilayah 164.206 km persegi, berpenduduk sekitar 10 juta jiwa.

Semula Aljazair dan Lybia bersikap kontra terhadap invasi Irak ke
Kuwait, tetapi kemudian tampaknya kedua negara itu bersikap lebih
netral dan sangat hati-hati. Gaddafi berusaha menetralisir keadaan
dengan mengemukakan usul supaya Irak dan Kuwait berunding langsung,
kalau perlu untuk mengembalikan kedaulatan Kuwait yang sah harus
mengorbankan dua pulau kecil kaya minyak yaitu Bubyan dan Warba kepada
Irak atau mengabulkan permintaan hak sewa Irak.

Aljazair dan Lybia tampaknya begitu hati-hati mengambil sikap, karena
berdasarkan kepada pengalaman perjuangan kedua negara tersbut.

KONTROVERSIAL

Dengan kehadiran pasukan Amerika dan sekutunya (bukan pasukan Arab dan
beberapa negara Asia), di Arab Saudi menimbulkan masalah yang
kontroversial. Praduga semula tentang kehadiran pasukan AS erat sangkut
pautnya dengan mempertahankan kepentingan minyak di kawasan Teluk dari
sekedar hanya menghadapi invasi Irak ke wilayah Arab Saudi. Dan ini
pula yang menjadi alasan kuat bagi Presiden Saddam Hussein untuk tidak
melepaskan Kuwait. Jangankan bersedia menarik pasukannya dari Kuwait,
berundingpun brlum bersedia. Sikap Irak tetap tegar menolak semua
tuntutan Arab dan PBB buat meninggalkan Kuwait tanpa syarat.

Arab Saudi terus mempesiapkan segala sesuatu untuk mempertahankan
kedaulatannya dari ancaman Irak. Teluk Arab kini ramai dengan pasukan
asing dan multinasional yang belum dapat dipastikan sampai kapan
keberadaannya di kawasan.

Status-quo sekarang ini menjadikan pihak-pihak terkait berusaha
mengkonsolidasikan diri menghadapi setiap kemungkinan. Keadaan ini
tampaknya memang disengaja atau dengan kata lain sudah ada dalam
skenario.

Negara-negara Arab yang mengecam invasi Irak Kuwait adalah semua negara
Teluk Persia yang terdiri dari Arab Saudi, Bahrain, Uni Persatuan
Emirat, Oman, Qatar dan Kuwait sendiri. Keenam negara ini adalah
anggota Dewan Kerjasama Teluk semacam ASEAN. Berikutnya, Mesir, Suriah,
Libanon, Somalia, Djibouti, Somalia dan Maroko.

Yang mengirim pasukan multinasional ke Arab Saudi adalah Mesir, Maroko
dan Suriah.

Perpecahan dikalangan pemimpin Arab tampaknya semakin terus meruncing
dan entah kapan selesainya, hanya waktulah yang menentukan dan Tuhan
Yang Maha Tahu.***

Riyadh, 22 September 1990.

Note : Artikel ini dimuat Harian :
ANGKATAN BERSENJATA, edisi No. 8527, Thn XXVI, tgl 8 Oktober 1990.

--
Posting oleh PONDOK PESANTREN MODERN AL HARBI ke ZULHARBI SALIM BLOG
pada 6/06/2009 08:29:00 PM
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke