Sepenggal Balada Seorang "Mata-mata" Antara tahun 1939 sampai tahun 1945, perang dunia kedua pecah. Para pejuang nasional Cina, terpaksa eksodus ke sejumlah negara. Seorang diantaranya, bernama Yu Dafu, memilih melintas ke Singapura, untuk kemudian menetap di Payakumbuh, jantungnya pulau Sumatera.
DI kota kecil yang asimilasi antara etnis Cina dengan warga pribumi berlangsung secara paripurna ini, Yu Dafu menyamar sebagai penjual sofi atau minuman keras sejenis sake, sambil terus membuat propaganda dan menulis cerita sastra. Tapi, serupa dengan kisah bapak republik Indonesia Ibrahim Datuk Tan Malaka, petualangan Yu Dafu tidak berlangsung lama, karena pasukan kompetei Jepang yang kecewa dengan kemerdekaan Indonesia tahun 1945, merenggut nyawanya di jembatan Ratapan Ibuh. Inilah, sepenggal balada seorang 'mata-mata'. Bediri dalam sebuah toko kumuh, di deretan bofet Pergaulan, pasar Payakumbuh, Sabtu (6/6), wanita bernama Yu Meilan nampak tertegun. Chairman Overseas Chinese Association (COCA) atau Wakil Pimpinan Asosiasi Cina, di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat Cina, ini mungkin tidak menyangka, jika enam puluh empat tahun lalu, keluarganya pernah tinggal di ruangan penuh debu itu. Yu Meilan, merupakan tokoh sentral dan cukup berpengaruh di Provinsi Jiangsu, Republik Rakyat Cina. Dia sengaja datang ke Payakumbuh, hanya untuk melacak Yu Dafu (baca Yu Tafu), pejuang sekaligus sastrawan nasional Cina yang merupakan bapak kandungnya. Meski tidak pernah bertemu rupa, karena dua hari setelah Yu Meilan terlahir ke atas dunia, Yu Dafu sudah meninggal dunia. Tapi, Yu Meilan tidak bisa begitu saja melupakan bapanda tercinta. Apalagi, ada pesan dari ibu dan keluarganya, untuk tidak pernah melupakan Indonesia, khususnya Payakumbuh. Karena di kota itulah, sejarah bapaknya dan sejarah keluarganya, berlalu penuh haru. "Bapak saya, selain pejuang juga merupakan sastrawan yang mengarang banyak buku. Tapi, umurnya tidak sampai 50 tahun, karena dibunuh pasukan kompetei Jepang, di jembatan Ratapan Ibuh, Payakumbuh," kata Yu Meilan yang datang ke Payakumbuh bersama pimpinan PT Mulia Knitting Factory Jakarta, seorang warga turunan Cina bergama Islam, bernama H. Max Mulyadi Supangkat. Sayang, Yu Meilan tidak bercerita panjang lebar, tentang ihwal kematian bapaknya. Mungkin dia tidak ingin, memutar kenangan masa lalu yang pahit dan menyakitkan. Meskipun demikian, seorang masyarakat etnis Tiong Hoa yang lahir dan besar di Payakumbuh, bernama Sofian Tamam, 75 tahun, mengaku, tahu persis cerita tentang kematian orang tua lelaki Yu Meilan tersebut. "Yu Dafu, meninggal karena dibunuh pasukan kompetei Jepang. Dia dihabisi karena dianggap Jepang telah mengkhianatinya," ucap Sofian Taman, ketika dihubungi Padang Ekspres di tempat usaha pembuatan gigi-nya, dalam kawasan pecinan Payakumbuh. Menurut Sofian Tamam yang mengenal Yu Dafu dalam usia 11 tahun, Yu Dafu merupakan seorang pejuang Cina yang fasih berbahasa Jepang. Dia datang ke Payakumbuh melalui Singapura, semasa perang dunia kedua pecah. Setiba di Payakumbuh, Jepang masih berkuasa di Indonesia. Kemudian, Yu Dafu ditunjuk sebagai mata-mata atasu spionase Jepang. Tapi, dasar wataknya tidak menerima dengan segala bentuk penjajahan di atas dunia, Yu Dafu bermain mata. "Pria yang menyamar sebagai pembuat sofi atau minuman sejenis sake ini, tidak pernah memberi informasi yang valid kepada Jepang. Sebaliknya, Yu Dafu memberi informasi tentang segala niat Jepang kepada masyarakat Cina dan warga di Payakumbuh," kata Sofian Tamam. Akibatnya, diduga karena sakit hati pada Yu Dafu. Apalagi, Indonesia juga memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Maka pasukan kompetei Jepang di Payakumbuh, langsung menghabisi Yu Dafu yang pernah mengecep bangku kuliah di Universitas Tokyo, dengan cara menjemput malam. "Ketika dijemput malam-malam, Yu Dafu bagaikan seseorang yang tidak bisa diberi ampun. Permintaannnya untuk mengganti piyama, bahkan tidak ditanggapi. Dia langsung di bawa ke atas mobil. Kabarnya dihabisi di jembatan ratapan Ibuah dan jasadnya tidak ditemukan. Tapi ada juga yang menyebut, jasadnya di temukan dan ditanam di Bukittingi," kata Sofian Tamam yang semasa remajanya sudah kenal dengan Yu Dafu. Cerita Sofian Tamam tentang Yu Dafu, juga mirip dengan sejumlah literatur yang diunduh Padang Ekspres dari wikepedia dan www.britannica.com. Dalam situs berbahasa Inggris ini tertulis jelas, bahwa Yu Dafu yang merupakan jebolah Fakultas Ekonomi Universitas Tokyo tahun 1919, merupakan seorang pejuang republik Cina. Dia bersama sejumlah pejuang meninggalkan Cina, ketika negeri Tirai Bambu itu dilanda huru-hara akibat perang kedua. Kemudian, Yu Dafu menyebrang ke Singapura, untuk kemudian menetap di Sumatera, tepatnya di Payakumbuh. Selama berada di kota ini, Yu Dafu tidak menghentikan aktifitas sebagai pejuang nasional Cina, melainkan tetap intens menulis berbagai propaganda dan karya sastra. Hingga akhirnya dibunuh pasukan kompetei Jepang. Untuk mengenang kematian Yu Dafu. Yu Meilan, sengaja datang ke Payakumbuh. Meski tidak bisa lama-lama di kota yang disebutnya mirip betul dengan kota Nantong di Cina ini. Tapi, Yu Meilan menyempatkan diri untuk melihat kediaman orang tuanya, dan jembatan ratapan Ibuh yang menjadi saksi kematian orang tuanya. Kelak, Yu Meilan berniat akan kembali, untuk terus menghidupkan sejarah. (***) http://www.padangekspres.co.id/content/view/37621/107/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
