Selasa, 09 June 2009 Solo, Singgalang Semua bule berdiri serempak dan bertepuk tangan panjang, seolah takkan berhanti. Lalu hening. Kemudian bule-bule itu manggaduru ke belakang pentas. Mereka mencari koreografer Nan Jombang dan para penarinya.
Peristiwa ini terjadi acara International Performance Art Mart 7 Juni di Solo, Jawa Tengah. Jerman, Inggris dan Singapura langsung memboking grup itu. Memang, dalam pementasan itu, Nan Jombang pimpinan Eri Mefri membawakan sebuah tari berjudul "rantau Berbisik or Whisper Origin (Waeung Nasi Padang), sebuah kisah anak rantau. Bagaimana menangguhkan sebuah pengakuan tulus, yang mau tak mau sarat bermuatan kekaguman. Ketika seorang seniman sederhana, yang sehari hari biasa dilihat "entah mengapa ngapa saja" di Taman Budaya, Padang, malam sehabis pertunjukan (7/6) itu diberi standing applause yang panjang seperti takkan berhenti (tepuk tangan sambil berdiri dari duduk, yang nilai kekagumannya di atas rata-rata) oleh ratusan duta duta seni mancanegara. Bahkan "bule- bule" mengangkat salut karena kupuasannya. Mereka langsung memburu ke belakang pentas mencari penari dan koreografernya. Ah. Bagimana menahan keharuan yang demikian? Sungguh, saya sangat beruntung berkesempatan menyaksikan gelar seni dalam event berharga IPAM (Internasional Performing Art Mart) di Solo (3-7 Juni 2009). Betapa tidak, hanya grup-grup kesenian yang dinilai berstrata dunia yang dibiarkan "main." Payah saya menahan kebanggaan yang nyaris meluap luap di dada saya, ketika di daerah Sumatra, hanya Sumatra Barat yang dianggap (diakui) oleh penyelenggara "berkelas dunia" tari-tarinya. Itu tercermin dalam pidato pengantar panitia penyelenggara. Oke. Tapi ketidaktahanan ini menjadi terbusai sudah. Soalnya, grup tari yang diakui mendunia itu tak lain dan tak bukan adalah Grup Nan Jombang, yang dipimpin 'paja boleang gila' Eri Mefri, yang di Taman Budaya Padang biasa biasa saja, seperti terabai, tak dianggap istimewa apa-apa. Entah apa dan siapa saja yang benar-benar diakui hebat oleh orang-orang di Taman Budaya ini ? Mau pula saya bertanya. Rantau berbisik Apa yang disuguhkan Nan Jombang dimalam yang mengesankan itu ? Judulnya cukup mencolek sisi hati kita. "Rantau Berbisik." Eri Mefri sang kreografer membisikkan pesan, "rang rantau" yang bergulat di perantauan baru dianggap berarti, apabila dia sudah mampu memberi. Kalau belum demikian, jangan ditanya tanya apa apa lagi Derita si kaki lima.Ah. Lagu tentang luka lama orang awak di rantau. Ya.Bagaimana mereka mempertaruhkan keringat dan air mata. Berpantang atau tak mau merengek ke kampung sehela nafaspun juga. Pahit dan manis hujan dan panas, tertungkup tertelantang, adalah air mandi, yang orang di kampung tak sempat memperhatikan apalagi diajak mengerti. Eri Mefri dalam karya barunya ini, perlu mengusung gerobak kaki lima segala, seperti meja dan kursi kursi ke atas pentas. Bahkan piring pring dan gelas, seperti halnya drama atau sandiwara lama. Setahu saya, sekali ini baru, Eri menari pakai kursi dan meja. Sungguh ! Akan tetapi, hal itu digarapnya sedemikian rupa. Sehingga kesan "mengada ada" terhalau oleh kepiawaian Angga sang primadona dan anak anak Nan Jombang berimprofisasi. Justru yang terangkat adalah sebuah terobosan yang berani. Saya paling malas memuji-muji. Malu saya. Apalagi "paja boleang" (Eri Mefri) yang masih muda dari saya ini, kalau bicara ceplas ceplos, tak suka berbasa basi. Tapi, mau apa saya ? Dengan "berakal" membiayai diri sendiri, diam-diam saya berangkat ke Solo dengan Rizal Moenir anggota DPRD Sumbar mengintai acara yang bergengsi ini. Agak mahal memang. Tapi, dengan berhasil menyaksikan kesukesan "si boleang gila" yang adalah juga orang kampung awak, sedemikian rupa memperlihatkan kemampuannya, saya tidak rugi mengeluarkan biaya keberangkatan ini. Bukan mengecilkan arti keberadaan Mentri Pariwisata Jerowacik dan Mentri Perdagangan Marrie Pangestu yang terpaku nanap menyaksikan pertunjukan Nan Jombang. Tapi bulu remang saya merinding melihat ratusan bule, India, Cina, Jepang mendecak kagum dan terpesona. Dalam bahasa Inggris saya yang terbatas dan terbata bata, saya layani ungkapan puji yang mereka utarakan. Karena sedang berada di sisi Eri Mefri, saya tersanjung dianggapnya "sata" pula bekerja di grup Nan Jombang. Yes.,Iyess. Ya. Iyalah ya Cuma, yang teringat oleh saya kini, adalah tentang penghargaan orang-orang yang mengurus kesenian di Sumatra Barat. Di negeri orang, tak usah jauh jauh di luar negri, seperti di Jawa sajalah, pejabat yang mengurus kesenian, betul-betul memperhatikan, menghargai dan menempatkan karya seni dan seniman setara dengan kualitasnya. Di kampung awak ? Tanya pada "si Boleang" ini, atau seniman lain. Bagaimana mereka mencari dana , walau sekedar untuk latihan saja. Tangan harus di bawah terus. Awak harus menekur. Mata harus dilindapkan, agar orang hiba. Maka berbahagialah kalian Grup Nan Jombang. Yang sebentar lagi akan diundang oleh pentas-pentas dunia. Jadilah kalian duta yang mengabarkan, tentang budaya di Sumatra Barat ini memang demikian tingginya. Tapi jangan ceritakan rahasia kita, bahwa perhatian pemerintah seperti diantara ada dan tiada saja. Jangan ya. Soalnya, seperti nyata-nyata yang saksikan malam itu. Paling kurang tiga negara Jerman, Inggris, Singapura, duta duta seninya langsung antre membuat jadwal untuk Nan Jombang. Selamatlah "boleang." Makin gilalah berkarya. Salut kami pada Anda. (Alwi Karmena) http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=2014 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
