Assalammualaikum WR WB dunsanak sapalanta yth. Ini ada kiriman dr bung RA. 
Katanya untuk hadiah ultah bagi yang berbintang gemini karena merasa sebintang 
he he he. Maaf becanda. Salam. Hanifah


----- Original Message -----
Subject: Negeri Di Ujung Tanduk
Date: Wed, 10 Jun 2009 8:34:26
From: [email protected] <[email protected]>
To: hanifah daman <[email protected]>

NEGERI DI UJUNG TANDUK ( I )

by: ricky avenzora

Inilah kisah tentang sebuah negeri yang sedang di ujung tanduk.
Negeri yang indah dan molek serta gemah ripah loh jinawi saat ini sedang di 
pintu kehancuran karena anak negeri sendiri. 
Oleh opa dan oma, oleh papi dan mami, oleh aku dan dia, serta oleh anak-cucu 
kami semua. 
Tidak peduli siapa dia, entah yang merangkak untuk meminta-minta hingga yang 
kaya raya,...entah oboy yang selalu diperintah dan dihina hingga penguasa yang 
selalu terus ingin memerintah dan berkuasa,....entah yang pandir karena narkoba 
hingga profesor yang botak kepalanya. 


Berawal ketika rasa syukur atas hidayah kemerdekaan dari ALLAH hanya mampu 
bertahan 20 tahun saja 
Tujuh anak negeri menjadi korban pada tahun enam puluh lima.
Bahkan setelah itu Sang Proklamator pun harus melengkapi perjuangan nya dengan 
ikut mengorbankan nyawa. 
Kebodohan anak negeri telah menjadikan semua tidak tahu bagaimana untuk menjadi 
merdeka yang sesungguhnya sehingga tak heran mereka menjadi hancur karena diadu 
oleh para domba. 


Ketika datang hidayah ALLAH untuk semua, maka  perjuangan pun dilanjutkan untuk 
membela nusa.
Banyak anak negeri dikirim  bersekolah kemana-mana, termasuk untuk melanjutkan 
sekolah hingga ke Amerika.  
Kecerdasan yang disadari perlu untuk membangun ekonomi anak bangsa, tapi rupa 
nya tidak dilengkapi oleh kuatnya iman di dada.
Entah apa yang mereka lakukan di sana, gelar dibawa pulang rasa bangga pun 
tiada tara.

  
Karena bangga akan gelar di kepala, maka sistem pendidikan Belanda  pun mereka 
ganti dengan sistem dari Amerika.  
Anak negeri yang bernama Doktorandus ataupun Tukang Insinyur yang seharusnya 
bisa langsung menulis disertasi untuk meraih Gelar Doktor semua dibuatnya harus 
merangkak dulu untuk mengambil Gelar S2. 
Dengan dalih untuk modal membangun bangsa maka hutang pun mereka buat 
kemana-mana.
Jika hutang memang telah menjadi permainan hidup di dunia, tapi mengapa mereka 
harus kehilangan logika dalam menghitung bunga dan manfaatnya?


Jika dulu banyak yang bodoh karena negeri terjajah, maka setelah pintar 
ternyata mereka hanya lebih suka onani bersama dengan para penjajah. 
Janganlah Tuan heran ataupun ternganga karena semua itu adalah  bersumber saat  
sekolah dulu mereka terlalu banyak meletakan kedua tangan di kemaluan saat 
bertemu dan berbicara dengan para profesor yang mencuci otak mereka.
Hangatnya tangan di kemaluan membuat mereka lupa untuk bertanya kapankah negara 
para profesor itu mau berhenti untuk menjajah.  
Akibatnya, anak negeri kembali berhasil di adu oleh para domba, sehingga hanya 
dalam waktu 8 tahun dari enam puluh lima maka penyakit malaria pun membakar 
banyak mobil di ibu kota.


Hidayah dari ALLAH datang kembali, kesadaran bela negeri pun ditanamkan NYA di 
dada.
Angkatan bersenjata bergerak seketika, dan diberi ruang untuk menjaga keamanan 
bersama supaya pembangunan bisa dilanjutkan  dan agar anak negeri bisa sejahtera
Negeri  aman dan pembangunan bergerak cepat, semua berpacu mengumpulkan harta 
sehingga kantong penuh badanpun  buncit jadinya.
Perut kenyang matapun menjadi sipit sehingga tidak melihat banyak pagar telah 
melahap tanaman. 


Dua belas tahun kemudian di tahun 85, peringatan ALLAH datang untuk semua, 
krisis ekonomi melanda semesta. 
Mereka yang buncit dan pagar yang suka daun muda pun merevisi strategi mereka, 
serangkaian jilatan pun disiapkan untuk melenakan penguasa yang percaya pada 
para adipatinya. 
Hutangpun ditambah dan berbagai kontrak pun kembali dibuat tanpa mengedepankan 
logika.  
Bahkan para agen propaganda penjajah pun dibiarkan menyusup kemana-mana dengan 
mengibarkan  bendera LSM yang berteriak-teriak menjual nama anak negeri untuk 
memperkaya diri mereka sendiri.  


Delapan tahun kemudian di tahun sembilan puluh tiga, agen propaganda 
penjajahpun telah merajalela kemana-mana. 
Atas nama demokrasi mereka semakin leluasa menggerogoti negeri sendiri, 
sehingga para domba pun bergembira ria melihat anak negeri yang mulai saling 
menikam  saudara sendiri. 
Atas nama demokrasi semua memilih untuk  saling menghina dan mencaci, jangankan 
harga diri sedangkan masa depan anak cucu sendiri pun sudah tidak dipedulikan 
lagi. 
Atas nama demokrasi sang penguasapun diperangkap lagi untuk memimpin negeri. 


Jika awalnya  ada masa 20, masa delapan, masa 12 dan masa delapan lagi, maka 
kini kurun yang terjadi semakin sempit lagi. Empat tahun dari sembilan puluh 
tiga maka negeri kembali diguncang prahara. 
Raja dipaksa turun dari tahta dengan cara yang bukan hanya sangat tidak terpuji 
tapi juga dengan cara yang bodoh sekali. 
Jangan tanya siapa mereka, karena semua sama saja, yaitu suka emosi dan birahi 
karena terlalu banyak onani.  


Rakyat yang memang sudah lama dikangkangi, kembali bisa dibodohi untuk berdemo 
dan membakari Toko Cina.
Para Adipati yang sudah kaya raya karena korupsi sudah lupa akan budi dan jasa 
sehingga merekalah yang duluan mendongkel dia yang telah banyak mebuat tobggak 
pembangunan negeri.
Para pengawal negeri yang sudah lama jarang lari pagi, ternyata sangat mudah 
dipecah belah dan dipecundangi.
Sedangkan para mahasiswa yang belajar menjadi ksatria ternyata mati sia-sia 
karena kebodohan mereka sendiri.

Jangan pula lupa bagaimana para cendikia yang juga berbuat bodoh karena mencari 
muka, termasuk dia yang bergelar doktor dari Amerika. 
Mereka lupa isi buku-buku yang pernah mereka baca tentang bagaimana harusnya 
mengeliminasi kerugian akibat gerakan massa.
Entah karena kepala mereka sebenarnya gak ada isinya, ataukah karena terlalu 
banyak masturbasi bersama, atau entah pula karena mereka adalah penkhianat 
semua.  

Begitupula dengan para alim-ulama, kitab di kepala dan mata hati mereka 
tertutup karena keinginan untuk memakai dasi. 
Bahkan ada mereka yang ingin pula mendirikan negeri sendiri. 
Padahal mereka telah diagungkan dan diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi 
bagi kebaikan dan kemuliaan budi pekerti.
Tapi itu semua tinggal mimpi, karena mereka memilih untuk ikut bernafsi-nafsi.

Sampai di situ, marilah kita baca apa yg terjadi sesungguhnya. 
Ada hidayah kemerdekaan dari Allah yang disertai kesempatan membangun negeri 
kembali berkali-kali.
Tapi semua itu menjadi tidak berarti karena bodohnya anak negeri, karena 
serakahnya semua pribadi, karena pengkhianatan yang tak terpuji, karena cerdik 
cendikia yang tak berhati-hati, karena rakyat yang dihasut hingga marah sekali, 
 dan karena alim ulama yang telah mati hati.  
Agar tidak terlalu penuh halaman ini maka cerita ini kita teruskan nanti.


Dramaga, 10 Juni 2009
Jam 14.30

Salam,
r.a
Powered by Telkomsel BlackBerry®


      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke