Tambahan Info terbaru dari detik.com seputar musibah di kampung kito.
Rabu, 17/06/2009 06:50 WIB Tambang Meledak di Sumbar Depkes: Korban Tewas 17 Orang, 23 Lainnya Tertimbun Indra Subagja - detikNews Pertambangan <http://foto.detik.com/readfoto/2009/06/16/202344/1149000/157/1/pertambangan-batubara-meledak> Batubara Meledak Padang - Korban tambang batu bara yang meledak di Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar) terus bertambah. Tercatat hingga pukul 05.00 WIB, Selasa (17/6/2009) korban telah mencapai 17 orang. "Korban meninggal dunia 17 orang dan 23 lainnya masih belum ditemukan," kata Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Depkes Rustam S Pakaya melalui pesan singkat, Selasa (17/6/2009). Tim evakuasi juga menemukan korban selamat dan tidak menderita luka atas nama Syaiful. Sedang korban luka tercatat 9 orang, dengan perincian 7 dirawat di RSU Sawahlunto, dan 1 orang dirawat di RS Jamil, Padang, dan 1 orang tidak memerlukan perawatan. "Koordinasi masih dilakukan dengan RS Jamil, RSU Solok, dan tim DVI Polda Sumbar. Tidak ada masalah kesehatan," tutup Rustam. (ndr/Rez) Rabu, 17/06/2009 01:03 WIB Walikota Sawahlunto Bantah Lokasi yang Meledak Penambangan Liar Yonda Sisko - detikNews Pertambangan <http://foto.detik.com/readfoto/2009/06/16/202344/1149000/157/1/pertambangan-batubara-meledak> Batubara Meledak Padang - Walikota Sawahlunto Amran Nur membantah aktivitas pertambangan di Bukit Bual, Nagari V Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) yang meledak, Selasa (16/6/2009) pagi illegal atau penambangan liar. “Tidak benar itu pemberitaan yang mengatakan bahwa aktivitas pertambangan disana dilakukan secara liar. Sejak beberapa tahun lalu, kuasa poenambangan di kawasan itu secara resmi berada di bawah PT Dasrat Palawi meski ada juga kelompok masyarakat yang mengklaim kawasan tersebut sebagai ulayat mereka,” ujarnya. Dikatakan Amran, sebelum PT Dasrat mengantongi Kuasa Penambangan (KP) dari pemerintah, memang sudah banyak masyarakat yang melakukan aktivitas penambangan di sana. Ketika PT Dasrat masuk ke kawasan itu maka kompalin dari masyarakat datang bertubi-tubi. “Setelah negoisasi panjang, akhirnya perusahaan itu mengizinkan warga untuk melakukan penambangan di lokasi tertentu dengan syarat harus memenuhi standar keamanan. Tujuannya jelas untuk menghindari konflik berkepanjangan dengan warga,” urainya. Lebih lanjut Amran mengatakan, sebelum terjadinya peristiwa ledakan itu pemerintah kota Sawahlunto sudah memberi peringatan secara resmi melalui surat soal meningkatnya kadar gas metan yang berbahaya untuk aktivitas pertambangan kepada masyarakat dan pihak berkepentingan lainnya. Sayangnya, menurut dia, peringatan tersebut tidak digubris masyarakat. “Kita ingatkan bahwa kadar metan dikawasan tersebut sudah mencapai 2 persen dan itu sangat berbahaya bagi aktifitas penambangan,” katanya. (yon/lrn) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
